
[Perusahaan DA'Nisa]
Adrian saat ini tengah sibuk dengan pekerjaannya di ruang kerjanya. Beberapa menit yang lalu dia baru saja berbicara dengan Azka di telepon.
Seketika Adrian menghentikan kegiatannya dan dia termenung sembari menyandarkan punggungnya di kursi kebesarannya sembari mengingat ucapan demi ucapan dari Azka.
[Mommy akan datang ke perusahaan bersama dengan bajingan itu. Tujuan Mommy kesana untuk merubah semuanya dan juga akan menjadikan bajingan itu sebagai pemimpin perusahaan]
"Apa benar Nyonya Danisa akan melakukan hal itu? Bukankah perusahaan ini sudah diwariskan kepada Azka secara sah. Bahkan disaksikan tiga notaris dan tiga pengacara ternama," ucap Adrian.
"Tapi aku yakin pasti telah terjadi sesuatu terhadap Nyonya sehingga membuat Nyonya melakukan hal tersebut," ucap Adrian lagi.
Seketika Adrian pun mengingat tentang isi flashdisk yang mana sang pemilik perusahaan mengatakan sesuatu. Dengan kata lain memberikan amanah padanya dan juga Azka.
[Adrian, apapun yang terjadi. Jika saya melakukan hal-hal buruk. Maka kau harus tetap melakukan apa yang kau lakukan selama ini untuk perusahaan ini. Bantu Azka. Jangan biarkan dia sendiri untuk mengelola perusahaan ini. Bagaimana pun Azka tidak boleh kelelahan!]
Setelah mengingat ucapan dari atasannya itu membuat Adrian memutuskan untuk mendengarkan apa yang diinginkan oleh atasannya itu ketika berbicara dalam flashdisk tersebut. Dan hari ini dan sebentar lagi dia akan bertemu dengan atasannya setelah beberapa bulan menghilang dalam kecelakaan.
Ketika Adrian sedang memikirkan apa yang harus dia lakukan ketika bertatap muka dengan sang atasan, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu di luar ruangan kerjanya.
Tok..
Tok..
Tok..
"Masuk!" teriak Adrian dari dalam.
Cklek..
Pintu dibuka oleh seseorang yang berstatus sebagai sekertaris sekaligus asistennya di perusahaan DA'Nisa Corp. Kemudian sekretarisnya itu berjalan mendekati meja kerja atasannya itu.
"Ada apa, Wendy?" tanya Adrian lembut.
"Itu... Itu Bos. Di luar saya dan juga para karyawan melihat kedatangan Nyonya Danisa. Nyonya datang bersama dengan seorang pemuda."
"Dimana sekarang mereka?"
"Ada di lobi, Bos! Tapi....!"
"Tapi kenapa?" tanya Adrian menatap penasaran sekertarisnya itu.
"Nyonya Danisa marah-marah sambil berteriak. Bahkan Nyonya menampar salah satu karyawan wanita yang ingin membantunya."
"Baiklah. Kita kesana sekarang!"
Setelah mengatakan itu, Adrian pun beranjak dari duduknya. Kemudian kakinya melangkah menuju pintu ruang kerjanya dan diikuti oleh Wendy sang sekretarisnya di belakangnya.
^^^
"Mana Direktur kalian?! Apa begini cara kalian menyambut kedatangan saya di perusahaan sendiri!" bentak Danisa dengan tangannya menunjuk kearah para karyawan yang saat ini telah berkumpul di lobi perusahaan.
"Maaf Nyonya. Bukan maksud kami lancang. Saya serta yang lain tadi hanya ingin membantu Nyonya saja," ucap karyawan wanita itu.
Plak..
"Aakkhh!" Danisa langsung memberikan tamparan keras di wajah wanita itu.
"Lancang kamu! Kamu pikir kamu itu siapa?! Kamu hanya karyawan rendahan yang bekerja di perusahaan saya. Jika saya mau saya bisa memecat kamu dari perusahaan ini!" bentak Danisa.
"Ma-maafkan saya, Nyonya!"
Sementara karyawan dan karyawati lainnya semuanya menundukkan kepalanya karena takut. Mereka semua bahkan tidak menyangka jika atasan mereka yang dulunya lemah lembut sekarang berubah menjadi kasar. Bahkan sudah berani main tangan.
Beberapa detik kemudian..
"Ada apa ini ribut-ribut?!"
Seketika semuanya melihat keasal suara, termasuk Danisa dan Hendru. Mereka melihat kedatangan Adrian bersama sekretarisnya.
"Nyonya!" sapa Adrian.
"Siapa kau?!" bentak Danisa.
Deg..
Adrian seketika terkejut mendengar bentakan untuk pertama kalinya dari atasannya itu. Tatapan mata Adrian menatap sedih kearah atasannya.
"Apa kau tidak dengar, hah?! Ibuku barusan bertanya padamu!" bentak Hendru pada Adrian.
"Apa? Ibu?" batin Adrian dengan tatapan matanya menatap kearah pemuda yang berdiri di samping atasannya. Begitu juga dengan para karyawan dan karyawati. Mereka semua terkejut ketika mendengar ucapan dari pemuda itu.
"Adrian, Direktur perusahaan ini!"
"Oh! Kau Direkturnya ternyata. Kebetulan! Mulai hari ini putraku Hendru yang akan memimpin perusahaan ini. Sementara posisimu sebagai Direktur disini sudah tidak dibutuhkan lagi."
Deg..
Mendengar ucapan yang begitu kejam menurut Adrian membuat Adrian terkejut dan syok. Dia tidak menyangka jika atasannya itu akan berbicara seperti itu padanya.
Beberapa detik kemudian, Adrian merubah mimik wajah kembali seperti biasa. Dia seketika mengingat perkataan Azka bahwa ibunya sedang sakit. Jadi sikapnya sedikit berubah.
"Maafkan saya, Nyonya. Apapun keputusan Nyonya saat ini, saya tidak akan mematuhinya. Saya tetap pada posisi saya sebagai Direktur perusahaan ini," ucap Adrian dengan lembut namun kata-katanya mengandung maksud lain.
"Lo hanya sebagai Direktur disini, tapi lagak lo udah seperti pemilik perusahaan! Sadar diri!" bentak Hendru.
Seketika Adrian tersenyum di sudut bibirnya ketika mendengar ucapan sekaligus ejekan dari pemuda di samping atasannya itu.
"Masih mending saya. Sementara anda yang bukan siapa-siapanya Nyonya ingin sekali memimpin perusahaan ini. Yang seharusnya sadar diri itu anda. Sampai kapan pun anda tidak berhak atas perusahaan ini!" bentak Adrian.
Mendengar ucapan demi ucapan dari Adrian membuat Hendru mengepal kuat tangannya. Namun detik kemudian, Hendru mengangkat tangannya hendak menampar wajah Adrian.
Sreekk..
Adrian dengan cepat langsung menahan tangan pemuda itu dan bahkan Adrian mencengkeram kuat pergelangan tangannya sehingga membuat pemuda itu meringis kesakitan.
"Lo nggak ada hak buat nampar gue."
Setelah mengatakan itu, Adrian melepaskan tangan pemuda itu dengan cara menghempaskannya dengan kuat.
"Maaf Nyonya jika saya kurang sopan. Apapun keputusan Nyonya untuk perusahaan ini itu sama sekali tidak berlaku. Saya dan semua karyawan dan karyawati akan tetap pada keputusan yang lama, cara kerja yang lama dan metode yang lama. Tidak akan ada perubahan apapun yang terjadi di perusahaan ini. Jika pun ada perubahan, maka hanya ada satu orang yang merubahnya. Orang itu adalah Azka Ahza Adhinatha, putra kesayangan Nyonya dan Tuan Dava!"
"Satu hal lagi Nyonya! Perusahaan ini sudah menjadi milik Azka Ahza Adhinatha, karena Nyonya sendiri yang mewariskan perusahaan ini padanya.
Mendengar ucapan demi ucapan dari Adrian membuat Danisa marah. Dia menatap tajam kearah Adrian. Begitu juga dengan Hendru. Dia tidak terima jika perusahaan atau dengan kata lain kekayaan milik Danisa tidak berhasil dia rebut.
Ketika suasana sedang tegang-tegangnya, tiba-tiba salah satu karyawan wanita melihat kedatangan Azka. Kemudian karyawan wanita itu berteriak bermaksud memberitahu kedatangan Azka.
"Bos, Tuan Azka datang!"
Seketika semuanya melihat kearah tunjuk karyawan wanita itu. Dan benar! Mereka semua melihat kedatangan Azka dengan pakaian kantornya.
Azka berjalan menghampiri para kerumunan dengan tatapan matanya tak lepas dari sosok ibunya.
Kini Azka sudah berdiri di samping Adrian dengan tatapan matanya menatap kearah Danisa.
"Apa yang terjadi, kak?" tanya Azka dengan tatapan matanya menatap Danisa.
"Sesuai yang kamu katakan ketika kamu menghubungi kakak," jawab Adrian tanpa mengalihkan pandangannya menatap kearah Danisa dan Hendru.
"Lebih baik Mommy pulang. Jangan buat keributan di perusahaan ini. Sekalian ajak putra kesayangan Mommy itu dari sini," ucap Azka dengan tatapan datar dan dinginnya.
Mendengar ucapan serta pengusiran yang dilakukan oleh Azka membuat Danisa marah. Dia tidak terima diusir dari perusahaan miliknya.
"Ini perusahaanku. Dan kau bahkan kalian semua tidak bisa mengusirku dari sini!" bentak Danisa.
"Aku tidak peduli. Ini perusahaanku. Aku yang memiliki wewenang disini. Sekarang, silahkan Mommy pulang dan bawa putra Mommy itu!"
"Kau tidak bisa seenaknya mengusir kami disini. Bagaimana pun.....?"
"Diam!" bentak Azka sembari menunjuk kearah wajah Hendru. "Kau bukan siapa-siapa disini. Jadi jangan ikut campur. Urusan kita sudah selesai. Bukankah kau memintaku untuk keluarga dari keluarga Adhinatha dengan iming-iming kau akan membawa pulang ibuku. Kau sudah membawa pulang ibuku dan aku sudah keluar dari keluarga Adhinatha. Dan aku tidak tinggal disana lagi. So! Urusan kita selesai hari itu juga!" ucap Azka dengan penuh penekanan disetiap kata.
Danisa dan Hendru terkejut ketika mendengar ucapan demi ucapan yang begitu kejam dari Azka, terutama Hendru. Dia tidak menyangka jika Azka akan berbicara seperti. Bahkan tatapan matanya begitu tajam dan mengerikan.
Plaakk..
Danisa seketika memberikan tamparan keras di wajah Azka sehingga menimbulkan bekas disana.
Sedangkan Azka yang mendapatkan tamparan keras untuk pertama kalinya dari ibunya tidak bergeming. Azka memejamkan matanya sejenak, merasakan sakit dan panas di pipinya.
Setelah itu, Azka membuka kembali matanya dan menatap marah kearah Danisa.
"Sudah puas? Apakah anda ingin menampar sebelahnya lagi? Ini saya berikan kesempatan anda untuk menampar saya kembali." Azka berucap sembari memberikan pipi kanannya kearah Danisa untuk ditampar.
Ketika Danisa hendak melakukannya, seketika Adrian langsung menahan tangan Danisa agar tangan tersebut tidak menyentuh pipi Azka.
"Sudah cukup Nyonya. Silahkan Nyonya pergi dari sini dan bawa putranya itu," usir Adrian setelah melepaskan tangan Danisa.
"Mau pergi secara baik-baik atau diseret?"
Dan pada akhirnya Danisa dan Hendru pun pergi meninggalkan perusahaan DA'Nisa Corp dengan amarah membuncah.
Sementara Azka seketika jatuh terduduk di lantai dengan posisi kedua lututnya sebagai tumpuan. Dan detik kemudian, air matanya lolos begitu saja membasahi pipinya dengan tatapan matanya menatap kepergian ibunya.
"Mommy," ucap Azka dengan nada bergetar.
Melihat Azka yang seketika terduduk di lantai dengan kedua lututnya sebagai tumpuan sembari menangis membuat semua karyawan dan karyawati ikut merasakan kesedihan. Mereka juga ikut menangis melihat atasannya.
Grep..
Adrian menyamakan posisinya tubuhnya dengan Azka. Kemudian Adrian menarik dan membawa tubuh Azka ke dalam pelukannya. Dan detik itu juga, isak tangis Azka pecah seketika.
"Hiks... Kak... Hiks. Aku sayang Mommy. Aku salah kak. Aku telah berkata kasar sama Mommy... Hiks. Aku seharusnya tidak bersikap buruk terhadap Mommy."
"Kamu melakukan semua itu hanya semata-mata untuk melindungi perusahaan ini agar Mommy kamu itu tidak memberikannya kepada bajingan itu. Kamu sudah melakukan hal yang benar, Azka!"
"Tapi aku sudah jahat sama Mommy, kak! Seharusnya aku tidak berkata seperti itu tadi."
"Apapun yang kamu lakukan itu semua demi kebaikan kamu, Mommy kamu dan keluarga Adhinatha. Jadi kakak minta kamu jangan pernah menyalahkan diri kamu."
"Ayo, berdirilah." Adrian membantu Azka untuk berdiri. "Sekarang kakak akan antar kamu ke ruangan Mommy kamu."
Adrian dan Azka pun pergi meninggalkan Lobi untuk menuju ruang kerjanya Danisa yang sekarang ini ditempati oleh Azka.
Sementara para karyawan dan karyawati seketika membubarkan diri untuk kembali melanjutkan pekerjaannya masing-masing.