
[KEDIAMAN HANENDRA]
Kaivan saat ini berada di kamarnya. Saat di meja makan, tangan kanannya mengirimkan sebuah pesan yang mana pesan itu berisikan kalau tangan kanannya itu sudah mendapatkan informasi mengenai pria yang ada di foto tersebut.
Kaivan mengetik nomor ponsel tangan kanannya di layar ponselnya. Tujuannya adalah Kaivan ingin menghubungi tangan kanannya itu untuk menanyakan secara detail keadaan pria yang berstatus ayah angkat adik kesayangannya.
"Hallo, Bos!"
"Katakan apa yang kau ketahui tentang Paman Dava, ayah angkat adikku!"
"Begini, Bos! Tuan Dava beberapa hari dalam keadaan tak baik-baik saja. Dalam artiannya adalah tuan Dava merasa tak bahagia sejak kepulangan istrinya. Tuan Dava merasa bahwa istrinya itu bukanlah istrinya, walau tuan Dava bersama istrinya. Bukan itu saja, tuan Dava juga sangat merindukan tuan Azka. Tuan Dava bahkan mencurigai tentang kepergian tuan Azka ke Tangerang. Tuan Dava mencurigai bahwa tuan Azka menyembunyikan sesuatu darinya."
Deg..
Mendengar ucapan demi ucapan sekaligus penjelasan dari Tangan kanannya yang mengatakan tentang kondisi, kerinduan dan kecurigaan Madhava akan keadaan sekitarnya membuat Kaivan terkejut.
"Baiklah. Terus awasi kediaman Paman Dava. Oh iya! Awasi juga istrinya dan juga seorang pemuda yang membawa pulang istrinya itu. Aku curiga dengan pemuda itu."
"Baik, Bos!"
Pip..
Setelah mengatakan itu, Kaivan langsung mematikan panggilannya. Kemudian Kaivan beranjak dari duduknya. Dia melangkah menuju pintu kamarnya. Kaivan hendak meninggalkan kamarnya untuk menuju lantai bawah.
***
[KEDIAMAN ADHINATHA]
Di meja makan Danisa dan Hendru sudah berkumpul. Begitu juga dengan Dava. Mereka akan melaksanakan sarapan pagi bersama.
Ketika hendak memulai sarapan paginya, tiba-tiba Dava berdiri dari duduknya sehingga membuat Hana, Danisa dan Hendru terkejut. Yang lebih terkejut disini adalah Hana.
"Tuan!"
"Kalian makanlah. Aku langsung berangkat ke kantor!" seru Dava menatap kearah Danisa dan Hendru.
"Baiklah," jawab Danisa langsung.
Deg..
Mendengar jawaban langsung dari istrinya membuat hati Dava sakit. Dalam pikiran Dava, istrinya tidak pernah bereaksi seperti ini. Istrinya akan langsung memberikan pelototan padanya jika dia tidak menghabiskan atau tidak sarapan sebelum berangkat ke kantor.
"Nyonya, kenapa Nyonya menjawab seperti itu? Selama ini Nyonya tidak akan membiarkan tuan Dava tidak sarapan sebelum berangkat ke kantor. Bahkan Nyonya akan marah jika tuan tidak sarapan," batin Hana.
"Aku berangkat dulu."
"Tuan, sarapan dulu. Paling tidak sedikit saja juga tidak apa-apa," mohon Hana.
"Saya sudah terlambat Hana. Saya sarapan di kantor saja."
"Kalau begitu saya siapkan bekal saja untuk tuan, bagaimana?"
Dava tersenyum. "Terima kasih Hana. Tapi tidak perlu. Kamu jaga rumah baik-baik. Dan kamu juga harus baik-baik selama saya di kantor. Jangan biarkan siapa pun datang ke rumah ini kecuali anggota keluarga saya dan anggota keluarga istri saya. Begitu juga dengan anggota keluarga dari putra saya. Selama saya tidak ada, maka semua keputusan ada ditangan kamu. Kamu bebas melakukan apa saja."
"Baik, tuan. Saya mengerti! Hati-hati di jalan, tuan!"
"Terima kasih, Hana!"
Setelah mengatakan itu, Dava pun langsung pergi meninggalkan ruang makan untuk segera berangkat ke perusahaan miliknya. Dia lebih memilih pergi buru-buru ke kantor hanya untuk menghindari istrinya dari pada hatinya makin sakit jika terus bersama istrinya.
Setelah kepergian Dava. Danisa makan begitu lahap tanpa beban dan rasa bersalah sama sekali. Begitu juga dengan pemuda yang bernama Hendru. Hana yang melihat seketika menangis. Majikan yang dia lihat seakan-akan bukanlah majikan yang selama ini dia layani.
"Apa kegiatan Mami pagi ini?" tanya Hendru.
"Mami berencana akan mendatangi perusahaan Mami. Setibanya disana, Mami akan melakukan perubahan besar-besaran. Dan Mami akan angkat kamu menjadi pimpinan perusahaan di perusahaan Mami itu."
"Benarkah, Mi?"
"Iya. Kamu putra Mami. Jadi sudah semestinya kamu memimpin perusahaan Mami."
"Maaf, Nyonya. Bukannya perusahaan Nyonya sudah Nyonya berikan kepada tuan muda Azka. Tuan muda Azka adalah putra Nyonya. Kenapa sekarang Nyonya memberikan perusahaan Nyonya kepada orang lain?" ucap dan tanya Hana.
"Diam kau! Kau hanya pelayan disini. Jadi jangan ikut campur urusanku!" bentak Danisa.
Deg..
Hana seketika terkejut ketika mendengar ucapan dan juga bentakan dari Danisa. Bagi Hana ini adalah untuk pertama kalinya Danisa bersikap kasar padanya.
"Aku harus menghubungi tuan muda Azka dan memberitahu tuan muda Azka tentang rencana Nyonya ingin menyerahkan kepemimpinan perusahaan kepada pemuda itu," batin Hana.
Hana kemudian pergi meninggalkan ruang makan untuk kembali ke dapur. Setibanya di dapur, Hana pun menghubungi Azka dan menceritakan semuanya kepada Azka.