
[Di Rumah Sakit]
Masih suasana di rumah sakit. Dan mereka semua masih menunggu dengan sabar, rasa panik dan khawatir. Terutama Azka.
"Azka," panggil Adelard," sang Paman.
Adelard adalah kakak pertama Madhava Ahza Adhinatha diikuti oleh Alisha Nuria Adhinatha sang istri dan kedua putranya Farzan Agra Adhinatha dan Gading Agra Adhinatha. Beserta Bibi dan Paman kesayangannya yaitu Cintami Azkiya Adhinatha dan Leroy Melvin Adhinatha bersama suami Bima Nufail Pramudita dan istri Celena Elaine Jerolin beserta kedua putra-putranya yaitu Gara Nufail Pramudita, Dzaky Nufail Pramudita dan Arga Melvin Adhinatha, Lian Melvin Adhinatha.
"Tuan," sapa Bibi Hanna.
"Paman, Daddy!" Azka berucap lirih.
"Iya. Paman tahu sayang. Azka yang kuat ya. Ada Paman disini. Azka tidak sendiri," hibur Adelard lalu menarik tubuh keponakannya ke dalam pelukannya
"Lalu bagaimana pencarian terhadap Danisa? Apa mereka berhasil menemukan keberadaannya?" tanya Adelard pada Bibi Hanna.
"Belum ada kabar, Tuan. Mereka belum mengetahui dimana keberadaan Nyonya," Jawab Bibi Hanna.
"Apa sudah dihubungi kepala polisi Ariel?" tanya Adelard.
"Justru beliaulah bertindak duluan, Tuan!" Hanna menjawab pertanyaan dari Adelard.
"Ach, syukurlah kalau begitu." Adelard dan yang lainnya sedikit lega.
Lalu terdengar suara pintu ruang operasi dibuka.
Cklek!!
Dan keluarlah seorang dokter dari ruangan tersebut dengan wajah lelahnya. Mereka pun berdiri dan menghampiri dokter tersebut.
"Bagaimana keadaan adikku dok?" tanya Adelard.
"Keadaan pasien sangat kritis saat ini. Dan pasien mengalami koma," tutur Dokter itu.
"Apa? Koma?" ucap Adelard dan Azka bersamaan
"Kapan kapan adikku akan sadar, dok?" tanya Adelard.
"Saya belum bisa memastikannya. Tapi saya akan terus memantau keadaannya," jawab Dokter itu.
Azka yang mendengar ucapan Dokter tersebut tersulut emosi. Lalu Azka bangkit dari duduknya dan menghampiri sang dokter tersebut.
Bugh!!
Azka memukul keras wajah dokter itu. "Gampang sekali kau bicara ya, dok! Setelah beberapa menit waktu yang kau buang untuk Daddyku. Sekarang kau seenak mengatakan Daddy ku koma dan tidak tahu kapan Daddy Ku akan bangun. Daddy ku seperti ini itu juga kesalahanmu dan kelalaianmu. Dan gara-gara prosedur sialan mu itu. Seandainya saja pihak rumah sakitmu ini segera langsung menangani Daddy ku. Sudah dipastikan kondisinya akan baik-baik saja. Dan Daddy ku tidak akan sampai koma. Pokoknya aku tidak mau tahu, Daddy ku harus sembuh. Kalau tidak akan aku hancurkan rumah sakitmu ini. Ingat itu!" Azka berucap dengan penuh penekanan dan juga ancaman.
Adelard menarik tubuh Azka ke dalam pelukannya. Dia berusaha untuk menenangkan keponakannya itu.
^^^
[Ruang Rawat]
Azka sudah berada di ruang rawat ayahnya. Ditemani oleh Paman dan Bibinya beserta teman kampusnya.
Azka menggenggam tangan Dhava lalu memberikan kecupan sayang di kepalanya dengan air mata yang masih setia mengalir. "Daddy. Ini aku Azka putra Daddy. Bukalah mata Daddy dan lihat aku sekarang. Aku janji. Aku akan menjadi anak yang baik untuk Daddy asal Daddy mau membuka mata Daddy," tutur Azka.
Azka memeluk tubuh ayahnya. "Daddy. Bangunlah dan jangan tinggalkan aku!"
Adelard menghampiri Azka dan menarik tubuh keponakannya itu dan memeluknya. "Azka. Daddy kamu itu orang yang kuat. Dia akan baik-baik saja. Yakinlah sayang!!"
"Tapi aku takut, Paman. Aku takut Daddy akan menyerah," isak Azka di pelukan Adelard.
"Dhava. Kakak mohon. Bertahanlah demi putramu," batin Adelard.
Bibi Hanna sudah merasa sedikit khawatir dengan kondisi Azka. Takut-takutnya rasa sakit di kepala majikannya itu kambuh kembali. Begitu juga dengan teman-teman kampusnya. Mereka juga ikut khawatir terhadap Azka. Terutama Aryan. Ntah kenapa dia merasakan ada kedekatan antara dirinya dengan Azka.
Drtt!!
Drtt!!
Terdengar bunyi ponsel milik Adelard. Azka pun melepaskan pelukan dari sang Paman dan Bibi Hanna langsung mendekati Azka.
"Paman angkat telepon dulu ya," ucap Adelard sembari mengelus rambut Azka lalu pergi meninggalkan ruang rawat adiknya Dhava.
"Tuan muda Azka tidak apa-apa? Apa ada yang sakit? Katakan pada bibi?" tanya Bibi Hanna.
"Aku tidak apa-apa, Bi." Azka menjawab pertanyaan dari Bibi Hanna, walau nyatanya dirinya tidak dalam keadaan baik-baik saja. Bibi Hanna tahu itu.
"Tuan Dhava pasti akan baik-baik saja. Bibi yakin itu," hibur Bibi Hanna sembari memberikan kecupan di kening majikannya.
"Bi."
"Ya, tuan muda!!"
"Bagaimana pencarian, Mommy? Apa Paman Ariel dan anak buahnya sudah berhasil menemukan keberadaan Mommy?" tanya Azka.
"Belum tuan muda. Belum ada kabar dari Tuan Ariel," jawab Bibi Hanna.
"Mommy," lirih Azka.
Bibi Hanna membawa Azka untuk duduk di sofa. Setelah mereka duduk Azka langsung menjatuhkan kepalanya di bahu Bibi Hanna dan berlahan memejamkan matanya.
Lima belas menit kemudian, masuklah Adelard. Dapat dilihat olehnya, Azka yang sudah tertidur bersandar di bahu Adelard mendekati Azka lalu mencium keningnya.
"Bibi Hanna, saya titip Azka ya. Jaga dia dan jangan sampai Azka drop. Saya mau ke kantor polisi dulu. Barusan Ariel menghubungi saya. Memberi kabar tentang kecelakaan yang menimpa Dhava dan Danisa," tutur Adelard.
"Baik tuan."
"Kalau ada apa-apa jangan lupa langsung hubungi saya," pungkas Adelard.
"Pasti Tuan."
Tinggallah Bibi Hanna, Azka dan teman-teman kampusnya.
^^^
Drtt!!
Drtt!!
"Bi. Tolong pegangan ponselku. Kalau ada yang menghubungiku, Bibi angkat aja. Kepalaku pusing," ucap Azka pelan tapi masih bisa didengar oleh Bibi Hanna dan teman-temannya.
"Baik Tuan muda," jawab Bibi Hanna lalu menerima ponsel majikannya tersebut.
Azka kembali menyenderkan kepalanya di bahu Bibi Hanna.
Lima detik kemudian, terdengar lagi bunyi suara ponsel milik Azka.
Drtt!!
Drtt!!
Bibi Hanna pun menjawab panggilan tersebut.
"Hallo, Azka!" sapa orang di seberang telepon.
"Tuan muda Andrew," batin Bibi Hanna.
"Hallo, Tuan muda Andrew. Ini Bibi Hanna. Tuan muda Azka nya sedang tidur karena kepalanya pusing."
"Tuan muda Andrew? Siapa dia? Ada hubungan apa dengan Azka?" batin Aryab dan yang lainnya.
"Bagaimana keadaan Azka, Bi?"
"Tuan muda Azka untuk saat ini baik-baik saja. Walau beberapa jam yang lalu sempat kambuh sakit kepalanya."
"Bi. Bisa aku bicara dengannya? Tolong bangun Azka nya, Bi!"
"Baiklah. Tunggu sebentar!"
Bibi Hanna pun membangunkan Azka. "Tuan muda. Tuan muda," panggil Bibi Hanna sembari menepuk pelan pipi Azka
Azka berlahan membuka kedua matanya. Sebenarnya Bibi Hanna tidak tega. Tapi tuan muda Andrew ingin sekali berbicara dengan tuan muda Azka.
"Ada apa, Bi?"
"Ada yang ingin berbicara dengan tuan muda."
"Siapa?"
"Tuan muda Andrew."
"Kak Andrew," batin Azka dan seketika raut wajahnya berubah sendu.
"Bilang padanya jangan menghubungiku lagi," sahut Azka.
Sedangkan Andrew yang berada di seberang telepon sana merasa kecewa karena Azka tidak mau berbicara dengannya.
"Hallo, Tuan muda Andrew. Tuan muda Azka nya....!!"
Ucapan Bibi Hanna terpotong karena Andrew sudah terlebih dahulu berbicara.
"Bibi Hanna loundspeaker panggilanku ini agar Azka bisa dengar suaraku."
"Baik." Bibi Hanna langsung meloundspeaker panggilan dari Andrew dan mendekatkan kearah Azka.
"Hallo, Azka adik kesayangan kakak. Apa kabar? Apa Azka masih marah, hum? Apa yang harus kakak lakukan agar Azka tidak marah lagi dengan kakak?"
Tidak ada jawaban apapun dari Azka. "Kakak Andrew," batin Azka dan air matanya pun mengalir begitu saja membasahi wajah tampannya. Hal itu membuat Bibi Hanna dan teman-temannya khawatir.
Azka mengambil ponsel miliknya yang ada di tangan Bibi Hanna. "Tidak usah pedulikan aku. Urusi saja urusanmu diluar negeri sana. Kau ingin tahu keadaanku kan? Keadaanku baik-baik saja. Tidak kurang dari satu apapun. Aku tidak mau dengar apapun darimu. Aku kecewa, aku benci dan aku tidak mau bertemu denganmu lagi!" teriak Azka dan langsung mematikan panggilan tersebut.
Pip!!
"Hiks.. Hiks!"
Bibi Hanna langsung memeluk tubuh majikannya itu dan memberikan ketenangan padanya. "Sabar tuan. Tuan muda jangan seperti ini. Kalau sakit kepalanya kambuh, bagaimana?"
"Aku kecewa dengan mereka, Bi! Disaat seperti ini mereka sama sekali tidak berniat untuk pulang menemuiku. Mereka hanya menghubungiku melalui telepon saja. Apa mereka benar-benar tidak ingin kembali lagi kesini? Apa aku tidak akan pernah bertemu dengan mereka lagi? Kakak Andrew, kakak Harris, kakak Diaz, kakak Zayan. Aku merindukan mereka, Bi!"
"Bibi mengerti, tuan. Tuan muda yang sabar ya," ucap Bibi Hanna sembari mencium keningnya.
^^^
Hari ini adalah hari kedua Dhava koma. Hari kedua juga Danisa belum diketahui keberadaannya. Azka duduk di samping ranjang pesakitan dimana sang ayah terbaring. Tangannya menggenggam lembut tangan ayahnya dan tak lupa menciumnya.
"Dad. Kapan Daddy akan bangun? Apa Daddy tidak merindukanku. Daddy sudah tidur selama dua hari. Mommy juga tidak pulang selama dua hari. Apa kalian sudah tidak menyayangiku lagi. Dad, bangunlah!"
CKLEK!!
Pintu dibuka oleh seseorang. Dan masuklah beberapa orang ke dalam ruangan tersebut. Salah satu dari mereka mengelus rambut Azka.
Azka menolehkan wajahnya melihat orang tersebut. "Paman Adelard, Bibi Cintami, Paman Leroy."
"Paman, Bibi. Tolong bicara pada Daddy. Suruh Daddy bangun. Siapa tahu saat mendengar suara Paman dan Bibi. Daddy akan langsung membuka kedua matanya, " ucap lirih Azka.
Cintami yang mendengar penuturan keponakannya tidak bisa menahan tangisnya. Air matanya mengalir begitu saja. Cintami mendekati ranjang yang ditempati oleh kakak laki-lakinya itu. Lalu kemudian mencium keningnya. "Kak Dhava. Aku mohon bukalah matamu. Kami semua merindukanmu. Terutama putra tampanmu Azka."
***
[KAMPUS]
ACH NATIONAL UNIVERSITY merupakan salah satu kampus terbaik di Jakarta. Universitas tersebut mendapatkan peringkat pertama di Jakarta. Dalam situs QS TOP Universities, SNU tercatat pada peringkat 35 di seluruh dunia dan tercatat masuk 10 besar di Asia. Itulah mengapa banyak mahasiswa asing ingin berkuliah di kampus ini. Selain itu, letaknya di Jakarta pusat juga menjadi daya tarik tersendiri bagi para mahasiswa asing.
Kampus ini memiliki lobi utama di sisi selatan. Tempat ini selalu ramai oleh kumpulan mahasiswa dan mahasiswi ACH National University!! Sementara itu, mereka menunggu kelas sambil berdiskusi atau mengadakan pertemuan dengan seluruh anggota organisasi, karena lobi ini memiliki ruang yang cukup luas.
Dan saat ini Azka berada disana. Pikirannya kacau. Banyak yang dipikirkannya saat ini. Ayahnya yang koma, Ibunya yang hilang saat kecelakaan, kepalanya yang sering kambuh dan rasa rindunya terhadap empat orang sahabatnya yang sudah dianggap kakak olehnya. Ditambah lagi dirinya yang harus mengurus semua tugas-tugas Ibunya, termasuk Kampus milik Ibunya yaitu Ach National University.
Niat awalnya Azka tidak ingin masuk kuliah. Dirinya ingin menjaga Ayahnya di rumah sakit. Dikarenakan ada perdebatan panjang antara Azka, Bibi Hanna, Paman dan Bibinya. Akhirnya Azka pun pasrah dan berakhirlah sekarang berada di kampus.