Missing The Youngest

Missing The Youngest
BAB 20



"Kenapa kalian diam saja. Mana Azka? Kenapa Azka tidak bersama kalian?" tanya Cintami selaku Bibi kesayangan Azka.


"Andrew. Bukankah kau sudah berjanji pada Paman untuk membawa Azka pulang. Lalu Azka mana?" tanya Adelard.


"Kalian tenanglah. Azka ada diluar bersama Diaz dan Zayan," ucap Andrew.


"Kenapa Azka diluar, Drew? Kenapa Azka tidak masuk?" tanya Dhava.


"Itu.. Azka tidak berani untuk menatap wajah kalian. Dikarenakan ingatan Azka telah kembali dan Azka telah ingat tentang masa lalunya. Dan ditambah lagi Azka juga sudah mengetahui statusnya di keluarga Adhinatha. Jadi, Azka beranggapan bahwa dirinya tidak pantas berada ditengah-tengah kalian," jawab Andrew.


DEG!!


"Azka," batin mereka semuanya.


Saat Adelard melangkahkan kakinya menuju pintu keluar, berniat ingin menjemput keponakannya itu. Pintu tersebut terlebih dahulu dibuka oleh seseorang sehingga membuat Adelard menghentikan langkahnya.


CKLEK!!


Mereka semua yang ada di dalam ruangan tersebut melihat kearah pintu. Dan dapat mereka lihat tiga pemuda memasuki ruangan dengan posisi Azka berada di tengah-tengahnya. Terukir senyuman manis di bibir mereka masing-masing saat melihat sosok orang yang mereka rindukan beberapa hari ini.


"Azka," panggil mereka secara bersamaan.


Diaz dan Zayan melepaskan gandengan tangan mereka ditangani Azka lalu mereka membiarkan Azka sendiri.


GREP!!


Adelard langsung memeluk tubuh keponakan kesayangannya itu. "Terima kasih sayang. Terima kasih Azka sudah mau pulang. Paman sangat merindukan Azka."


"Hiks.. Hiks." Tangisan Azka pecah di pelukan sang Paman. Adelard merasakan tubuh keponakannya yang bergetar, dirinya makin mengeratkan pelukannya. Memberikan kenyamanan pada keponakannya itu.


Adelard melepaskan pelukannya dan menatap wajah tampan Azka. Lalu tangannya menghapus air mata Azka.


CUP..


CUP.. CUP..


Adelard memberikan ciuman di kening dan di kedua pipi Azka "Paman merindukanmu."


"Hiks.. Pa.. Hiks.. man," isak Azka.


"Mari." Adelard membawa Azka mendekati ranjang Dhava.


Dan lagi-lagi air mata Azka tumpah saat melihat wajah tampan ayahnya. "Dad-daddy."


Dhava tersenyum gemas melihat wajah putranya saat sedang menangis. Lalu Dhava membuka kedua tangannya bermaksud ingin dipeluk oleh putra kesayangannya itu.


GREP!!


Azka langsung menghambur ke dalam pelukan sang ayah. Dan tangisannya kembali pecah. "Hiks.. Daddy.. Daddy.. Hiks."


Mereka yang mendengar tangisan Azka benar-benar merasakan sesak di dada mereka masing-masing. Baru kali ini mereka melihat Azka menangis seperti ini. Biasanya Azka tidak pernah menangis seperti ini. Tangisan Azka kali ini adalah tangisan kerinduannya pada Ayahnya.


"Daddy merindukanmu, nak.... CUP!" Dhava mencium pipi Azka.


"Maafkan aku..Hiks.. Daddy. Maafkan aku," isak Azka.


"Azka tidak salah, sayang! Putra Daddy ini adalah putra yang baik. Sangat baik," puji Dhava.


Azka melepaskan pelukannya dari sang Ayah. Lalu menatap wajah tampan Ayahnya itu. "Aku sangat merindukan, Daddy! Aku menyayangi, Daddy! Selamanya!!"


"Terima kasih, sayang! Terima kasih sudah mau kembali," ucap Dhava.


Mereka semua tersenyum bahagia melihat adegan antara Dhava dan Azka. Mereka semua berharap tidak ada lagi yang mencoba memisahkan mereka.


Beda dengan Aryan dan kelima kakak sepupunya. Hati mereka saat ini benar-benar hancur saat melihat adik kesayangan mereka begitu mengistimewakan keluarga Adhinatha. Mereka benar-benar merasakan kecemburuan pada keluarga Adhinatha. Azka begitu menyayangi keluarga Adhinatha dan membenci keluarga kandungnya sendiri hanya karena sebuah kesalahpahaman.


"Azka. Kami keluarga kandungmu," batin Aryan.


Aryan tidak sanggup melihat kemesraan Azka bersama ayah angkatnya.


CKLEK!!


BLAM!!


Aryan pergi begitu saja meninggalkan ruang rawat Dhava dengan perasaan hancur dan juga rasa cemburunya.


"Aryan," panggil Alfab. Lalu Alfab langsung pergi menyusul Aryan diikuti oleh Randy, Attala, Alman dan Pandy.


Semua yang ada di ruangan itu terkejut melihat kejadian itu. Mereka semua melihat kepergian Aryan dan kelima saudaranya. Terutama Azka.


Azka menatap sedih kepergian kakak-kakaknya itu. Dan lagi-lagi air matanya mengalir membasahi pipinya.


"Kak Ayan," gumam Azka.


Mereka semua menatap wajah sedih Azka, terutama Andrew, Harris, Diaz dan Zayan. Mereka berempat sangat tahu bahwa saat ini Azka menyimpan begitu besar kerinduan untuk kakak kandungnya yaitu Aryan Sadana Hanendra. Azka ingin sekali memeluk kakaknya itu dan bermanja-manja dengannya.


Tapi dikarenakan egonya yang terlalu tinggi membuat dirinya mengurungkan niatnya sehingga menyakiti perasaannya sendiri.


Adelard menatap wajah Andrew, Harris, Diaz dan Zayan yang saat ini sedang menatap wajah Azka. Adelard menaruh kecurigaan terhadap mereka, terutama saat keenam pemuda yang Adelard ketahui dari Bibi Hanna bahwa mereka adalah sahabatnya Azka yang tiba-tiba saja pergi meninggalkan ruang rawat Dhava tanpa pamit sama sekali.


"Andrew," panggil Adelard.


"Iya, Paman."


"Bisa ikut Paman keluar sebentar. Ada yang ingin Paman bicarakan padamu."


"Baiklah, Paman."


Dan akhirnya Andrew dan Adelard pergi meninggalkan ruang rawat Dhava.


^^^


[Luar Ruang Rawat]


Saat ini Andrew bersama dengan Adelard diluar.


"Ada apa, Paman Adelard?"


"Ceritakan kepada Paman apa yang kau ketahui tentang Azka. Semuanya dan jangan ada yang terlupakan sedikit pun?"


"Huuufffff!" Andrew menghembuskan nafas kasarnya. "Baiklah, Paman!" jawab Andrew.


"Mereka yang barusan pergi meninggalkan ruang rawat Paman Dhava adalah saudara-saudaranya Azka. Pemuda yang pertama keluar itu bernama Aryan Sadana Hanendra. Aryan itu adalah kakak kandungnya Azka. Dan kelima pemuda yang menyusulnya itu adalah kakak-kakak sepupunya Azka. Nama asli Azka adalah Nayazka Sadana Hanendra."


"Azka bisa sampai berpisah dengan keluarga kandungnya, karena sebuah kesalahan yang dilakukan oleh salah satu anggota keluarganya."


Flashback On


"Itu Alfan dan saudara-saudara nya datang!" seru Deva saat melihat kedatangan Alfab dan kelima adik-adiknya.


"Tumben telat. Kompak lagi."


Alfan dan kelima adik-adiknya langsung duduk dengan wajah ditekuk.


"Jelek amit sih."


"Hei.. Ayolah! Kenapa dengan kalian? Tidak biasanya?"


"Aku sudah menemukan adikku yang hilang," ucap Aryan yang masih menunjukkan wajah sedih dan kusut.


"Wah!! Benarkah? Siapa? Dimana dia?"


"Tapi kenapa wajah-wajah kalian seperti tidak bahagia seperti itu? Seharusnya kalian bahagia dong, karena telah berhasil bertemu dengan adik kalian lagi. Terutama kau Aryan!"


"Bukan aku tidak bahagia. Siapa sih yang tidak bahagia bisa bertemu kembali dengan adik yang telah belasan tahun terpisah?" kata Aryan.


"Lalu kenapa? Kenapa kau dan saudara-saudaramu ini bersedih dan tak bersemangat seperti ini?"


"Dia pergi lagi. Adikku pergi lagi meninggalkan kami semua."


"Apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa adik kalian malah pergi lagi?"


"Adik kami salah paham pada kami semua."


"Waktu itu adikku masih duduk dikelas lima SD. Saat itu kedua kakakku benar-benar lupa untuk menjemputnya di sekolah. Ditambah lagi, adikku tidak mengetahui alamat rumah, nomor ponsel kami. Karena memang saat itu kami belum memberikan fasilitas apapun padanya, dikarenakan adikku masih kecil. Kedua kakak-kakakku yang secara bergantian menjemputnya dan mengantarkannya ke sekolah. Bahkan kami juga lupa untuk mengingatkan agar menjemput Aka di sekolah."


"Jadi nama adikmu, Aka?"


"Itu nama panggilan sayang kami untuknya. Nama aslinya adalah Nayazka Sadana Hanendra."


"Wah! Nama yang bagus!"


"Lalu apa yang terjadi pada Aka saat kalian lupa menjemputnya di sekolah?"


"Ibuku yang menjemputnya," jawab Pandy dan air matanya sudah mengalir.


"Yak, Pandy! Kenapa menangis?"


"Karena penyebab Aka hilang itu ulah dari Ibuku."


"Saat ibuku menjemput Aka. Ibuku sampai mengarang cerita pada Aka dan mengatakan bahwa Aka bukan putra kandung dari Paman dan Bibi. Ibuku mengatakan pada Aka bahwa Aka hanya anak angkat di keluarga Hanendra. Itulah yang membuat Aka kabur dari dari ibuku." Pandy sudah berlinang air mata ketika menjelaskan kejadian yang sebenarnya.


Melihat Pandy yang sudah menangis. Alfan merangkul dan mengelus-elus punggung Pandy.


"Kami belum tahu alasan kenapa ibu kami sampai berbuat seperti itu," sahut Randy.


"Sebaiknya kalian tanyakan baik-baik pada ibu kalian. Siapa tahu ibu kalian mempunyai alasan tertentu sampai melakukan hal itu?"


Flashback Off


"Begitulah, Paman! Jadi sampai saat ini anggota keluarganya Azka belum mengetahui apa alasan Bibinya itu melakukan hal itu. Menurut pengakuan Aryan bahwa Bibinya itu sangat menyayangi Azka. Jadi kemungkinan besar ada sesuatu hal yang membuat Bibinya melakukan hal itu."


"Apa Randy dan Pandy sudah bertanya langsung pada Ibu mereka?" tanya Adelard.


"Belum," jawab Andrew.


"Kenapa?" tanya Adelard.


"Karena Ibu mereka pergi saat kejadian dimana seluruh anggota keluarga mengetahui kebenaran bahwa dirinya adalah dalang hilangnya Azka. Mereka marah besar padanya, termasuk suami dan ketiga putra-putranya. Ibunya pergi karena merasa bersalah dan berdosa telah memisahkan seorang anak dari keluarganya." Andrew menjawab pertanyaan dari Adelard


"Dari mana kau tahu kalau Ibunya Randy dan Pandy pergi?"


"Mereka sendiri yang mengatakannya padaku dan pada yang lainnya. Karena Pandy menemukan surat di kamar orang tuanya. Surat dari Ibunya."


^^^


[TAMAN RUMAH SAKIT]


Kini Aryan sedang duduk di bangku taman rumah sakit. Pikiran kini tertuju pada kenangan dimana dirinya bermain-main dengan adik kesayangannya.


Flashback On


"Aka." Aryan datang lalu mengejutkan adiknya.


"Aish, kak Ayan. Kakak mengagetkanku saja. Kalau aku mati karena serangan jantung bagaimana?" Nayazka mempoutkan bibirnya.


Aryan tersenyum gemas melihat wajah merengut adiknya itu. "Lebay!!"


"Aka, ngapain?"


"Kakak kan bisa liat sendiri. Kenapa harus nanya lagi?"


TAK!!


"Aww... kakak! Kenapa kakak menjitakku?" kesal Nayazka. "Kalau aku amnesia, bagaimana? Apa kakak mau aku melupakan kakak?"


"Aish. Kau ini terlalu banyak nonton drama. Dikit-dikit pake perasaan. Masih kecil, tapi bicara sudah seperti orang dewasa."


"Aku memang masih kecil. Tapi otakku pintar dan dewasa. Nggak kaya kakak. Udah dewasa, tapi masih kayak anak kecil. Tambah lagi otaknya kakak otak dangkal dan mesum."


Aryan yang mendengar penuturan dari adiknya itu membelalakkan matanya. Saat Aryan ingin membalasnya. Nayazka sudah terlebih dahulu berlari meninggalkannya.


"Kakak Ayan itu otak mesum. Makhluk jadi-jadian. Mahkluk luar angkasa yang nyasar ke bumi!" teriak Nayazka.


"Yak, Aka! Awas kau. Tunggu kakak!" teriak Aryan dan berlari mengejar Nayazka.


"Hahahaha." Nayazka tertawa keras.


"Aka!" teriak Aryan.


Flashback Off


"Hiks.. Hiks.. Hiks.. Aka. Kakak merindukanmu. Kenapa saat kakak sudah bertemu denganmu, hati kakak makin sakit?? Apa segitunya kau membenci kakak, Papi, Mami dan kak Farraz dan kak Kaivan!" isak Aryan.


PUK!!


Alfan menepuk pelan bahu Aryan. Alfan datang bersama saudara-saudaranya yang lain. Lalu mereka duduk di samping dan di hadapan Aryan.


Alfan menghapus air mata Aryan. "Yan. Kakak mengerti perasaanmu saat ini. Kakak harap kau bisa bersabar. Kakak yakin, Nayazka pasti akan memanggilmu dengan sebutan kak Ayan. Percayalah!"


"Apa yang dikatakan oleh kak Alfan benar, Yan? Nayazka butuh waktu saja untuk menyelesaikan masalahnya ini. Kau harus mengerti posisinya saat ini. Nayazka memiliki dua keluarga sekarang. Dan kita tidak bisa memaksa Nayazka untuk kembali dengan kita keluarga kandungnya. Disini Nayazka yang akan tersakiti," ucap Attala.


"Kalau kau sayang dengan Aka. Kau harus tetap berada di sampingnya. Kakak yakin lambat laun, Nayazka akan membuka hatinya untukmu dan untuk kita," sahut Alman


"Baiklah. Demi Aka. Aku akan selalu berada di sampingnya. Aku akan berusaha membuat adikku nyaman saat bersamaku," ucap Aryan mantap.


Alfan, Randy, Attala, Alman dan Pandy tersenyum bahagia mendengar penuturan dari Aryan.


"Nah, itu baru namanya Aryan Sadana Hanendra!" seru mereka bersamaan.


"Ya, sudah. Kalau begitu kita pulang," ajak Alfan.


Mereka semua pun mengangguk lalu beranjak dari kursi taman untuk menuju mobil.