
Setelah mengatakan hal itu, Darius pergi meninggalkan ruang rawat Azka. Tapi sebelum pergi, Darius melihat kearah Dhava.
"Jaga si kelinci nakal itu. Jangan sampai si kelinci nakal itu melakukan hal itu lagi."
Dhava yang mendengar ucapan Darius hanya tersenyum sembari menganggukkan kepalanya. Setelah itu, Darius pun pergi meninggalkan ruang rawat Azka.
"Aish! Kenapa Paman Darius menjadi makin menyebalkan sekarang ini?" ucap sekaligus tanya Azka.
"Sudah! Marahnya nanti saja. Sekarang kamu istirahat ya," ucap lembut Cintami sang Bibi.
Azka tidak menjawabnya. Tapi Azka tetap mematuhi perintah dari Bibinya itu.
Mereka semua tersenyum bahagia saat melihat Azka yang kembali cerewet, kembali menjadi manja walau sifat dingin dan ketusnya masih tetap bertahan.
***
KEDIAMAN KELUARGA ADHINATHA
1 Minggu Kemudian....
Azka sudah berada di rumahnya. Keadaan Juga sudah jauh lebih baik. Seluruh anggota keluarganya tampak begitu bahagia saat kesayangan mereka semua telah kembali pulang ke rumah.
Saat ini keadaan rumah Madhava Ahza Adhinatha tampak ramai. Bagaimana tidak ramai. Dari mulai keluarga besar Dhava dan keluarga besar Danisa, serta keluarga besar Karina Agnia Pramudya dan keluarga besar Bagas Sadana Hanendra.
Mereka semua berkumpul di ruang tengah. Sementara Azka mengurung diri di dalam kamar.
"Akhirnya satu masalah selesai!" seru Celena
"Ya! Kau benar Celena. Satu masalah selesai. Arga sudah menerima Azka menjadi adiknya. Ditambah lagi kedua keluarga sekarang sudah menjadi satu," sahut Cintami.
"Hei, kau salah Cintami!" Aisha sang kakak ipar yang tak lain istri dari Adelard menyela.
Cintami menatap kakak iparnya itu bingung. "Salah dari mananya, kak?
Aisha tersenyum. "Barusan kamu bilang dua keluarga telah menjadi satu?"
"Iya. Terus? Dimana letak salahnya, kak?" tanya Cintami.
"Letak salahnya itu adalah kamu itu gak menyertai keluarga Mahendra dan keluarga Pramudya!" seru Aisha.
"Keluarga Mahendra? Keluarga Pramudya!" tanya Cintami.
Mereka semua yang melihat Cintami yang melupakan keluarga Mahendra dan keluarga Pramudya hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Yak, Bibi! Apa Bibi benar-benar melupakan keluarga kami?" tanya Raymond kesal.
PUK..
Bima sang suami menepuk pelan bahu istrinya. "Sayang. Kau melupakan keluarga Mahendra dan keluarga Pramudya. Keluarga Mahendra adalah keluarga dari pihaknya kak Danisa. Dan keluarga Pramudya adalah keluarga dari pihak keluarga kak Karina, Ibu kandungnya Azka!"
Mendengar penjelasan dari sang suami, akhirnya Cintami pun mengingatnya. Seketika Cintami tersenyum, lalu kemudian terkekeh.
"Hehehehe.. maaf Bibi lupa," ucap Cintami disertai kekehannya.
"Hah!" Mereka hanya bisa menghela nafas pasrahnya.
"Dasar lola," ledek Dito.
"Maklum lah faktor usia." Nathan ikut meledek sang Bibi.
"Hei! Jangan bawa-bawa usia ya. Gini-gini Bibi kalian ini masih terlihat cantik dan seksi," ujar Cintami.
Gara dan Dzaky hanya bisa menepuk jidat mereka saat melihat kelakuan Ibunya.
Tiba-tiba Dito berdiri dari duduknya. Anggota keluarganya yang melihat Dito berdiri seketika terkejut.
"Hei, bocah! Mau kemana?" tanya Lutfi.
"Mau ke kamarnya kak Azka. Kalau aku disini dan mendengar obrolan kalian para orang tua, lama-lama aku bisa ketularan tua juga seperti kalian!" Dito berbicara sarkas.
Setelah mengatakan hal itu, Dito langsung pergi meninggalkan ruang tengah menuju kamar Azka.
Sementara semua anggota keluarga yang ada di ruang tengah membelalakkan kedua matanya dan mulut yang terbuka saat mendengar ucapan sarkas dari Dito.
"Yak, bocah sialan! Kami ini masih muda dan belum tua!" teriak para kakak-kakaknya.
Mereka semua pun beranjak dari duduknya dan pergi menyusul Dito. Sedangkan para orang tua hanya bisa geleng-geleng kepala melihatnya.
^^^
Kini para kakak-kakaknya, Dito sang adik sepupu, Dzaky, Caleb, Raymond dan Nathan sudah berada di kamar Azka. Baik dari saudara-saudara dari keluarga kandungnya maupun saudara-saudara dari keluarga angkatnya.
Ketika mereka masuk ke dalam kamar Azka. Mereka semua melihat Azka dalam keadaan tidur tengkurap di lantai yang beralaskan karpet bulu.
"Sepertinya Azka habis mengerjakan tugas-tugas kuliahnya," ucap Farzan.
"Iya. Lihatlah itu!" tunjuk Gara.
Mereka semua melihat beberapa buku yang berada disekitar Azka, lengkap dengan laptopnya.
"Bahkan laptopnya saja belum dimatikan," kata Sandy.
Mereka semua melangkah mendekati Azka. Mereka tersenyum gemas melihat wajah Azka ketika sedang tertidur.
Dzaky membereskan buku-buku pelajaran Azka. Sementara Aryan mematikan laptopnya.
Farraz membelai lembut rambut adik bungsunya, lalu kemudian mencium sudut keningnya.
"Nayazka pasti lelah ya," ucap Farraz pelan.
"Nayazka memaksakan dirinya mengerjakan semua tugas-tugas kuliahnya. Apa itu tidak mengganggu kesehatannya? Kan Nayazka baru sembuh dari pasca operasi beberapa hari yang lalu," ucap Kevin.
Mereka semua menatap khawatir Azka. Mereka tidak ingin kesayangan mereka jatuh sakit lagi.
"Sudahlah. Kalian tidak perlu khawatir. Kita disini untuk Azka. Kita akan menjaga Azka bersama-sama atau secara bergantian," ucap Lian.
"Hm!" Mereka semua mengangguk.
Lalu tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara ponsel milik Azka.
"Hei, itu ponselnya Azka berbunyi!" seru Dhafin.
Pandy mengambil ponsel Azka dan melihat nomor asing di layar ponsel milik Azka.
"Siapa, Pandy?" tanya Attala.
"Tidak kenal, kak Attala. Hanya nomor saja yang tertera," jawab Pandy.
"Apa perlu aku angkat?" tanya Pandy dengan menatap para saudara-saudaranya.
"Kakak rasa, jangan. Takutnya Azka marah lagi dengan kita. Bagaimana pun itu privasi Azka dan kita tidak berhak untuk mengetahuinya?" sahut Kaivan.
"Kita bangunkan saja, Azka nya!" usul Nevan.
"Biarkan aku saja yang membangunkan Azka!" seru Nathan.
Nathan mendekati Azka, lalu kemudian membangunkan sepupunya itu.
"Azka.. Azka. Bangunlah!"
"Eeemmm." Azka hanya bergumam sembari membalikkan wajahnya ke sebelah kanan.
"Yak!" seru Nathan.
Sementara yang lainnya tersenyum gemas melihat Azka yang makin lelap dalam tidurnya.
Kemudian Nathan tersenyum evil. Setelah itu Nathan mendekat wajahnya ke telinga Azka dan membisikkan sesuatu disana.
"Hei, Azka. Jika kau tidak bangun sekarang. Maka kau akan melihat semua isi kamarmu aku berantakin."
Seketika kedua mata Azka langsung terbuka. Azka menduduki tubuhnya dengan mata yang setengah terbuka. Azka masih mengantuk. Dirinya terpaksa bangun karena mendengar seseorang membisikkan sesuatu dengan nada mengancam. Sedangkan yang lainnya melihat Azka yang masih setengah sadar memekik gemas. Wajah Azka benar-benar lucu seperti anak laki-laki usia 4 tahun.
"Nathan, aku tahu itu kau. Jika kau berani mengacak-acak isi kamarku, maka kau akan tinggal nama. Aku akan menggantungkan kamu di pohon kelapa dengan kepala di bawah!" ucap Azka.
Nathan yang mendengar ucapan dan ancaman dari Azka seketika menelan ludahnya kasar. Mereka yang melihat reaksi Nathan seketika tersenyum.
"Hahahaha." mereka semua tertawa.
Mendengar suara tawa yang keras membuat Azka membuka kedua matanya dengan sempurna. Seketika rasa kantuknya hilang.
Azka memperhatikan sekitarnya. Dapat dilihat olehnya para saudara-saudaranya sudah ada di kamarnya.
"Kenapa kalian semua berada di kamarku? Kalian pikir kamarku ini tempat penampungan!" teriak Nayazka dengan menatap horor semua saudara-saudaranya.
PLAAKK..
Dzaky menggeplak kepala belakang Azka sehingga membuat Azka meringis.
"Aakkkhhhh." Azka meringis sembari mengelus kepalanya.
Azka menatap tajam kearah Dzaky. "Yak, jangkung sialan! Kenapa kau memukul kepalaku? Apa kau ingin membuatku anemia, hah?!" teriak Azka.
"Jangan lebay, Azka Ahza Adhinatha! Lagian aku memukul kepalamu tidak terlalu keras. Kau saja yang terlalu drama," ejek Dzaky.
"Dan lagian mana ada jika kepala dipukul, seseorang itu akan anemia. Yang ada itu amnesia kali." Raymond ikut meledek Azka.
"Hei, Azka. Semenjak kau di operasi, otakmu makin korslet. Apa saat di operasi, Paman Darius mengambil 50% kecerdasanmu?" tanya Lutfi.
"Hahahaha." Nathan tertawa keras. "Kau benar, kak Lutfi. Bisa jadi Paman Darius mengambil sebagian otaknya Azka, lalu membuang otaknya ke tempat sampah."
Mendengar penuturan dari Nathan, mereka semua tertawa. "Hahahahaha."
Azka merengut kesal akan sikap para saudara-saudaranya.
"Nathan, kau benar-benar menyebalkan!" teriak Azka melengking.
Mereka semua menutup telinganya saat mendengar teriakan Azka. Bahkan teriakannya kedengaran sampai ke bawah dimana para orang tua mereka berada.
"Baru tahu ya? Selama ini kau kemana saja, kelinci gembul," ejek Nathan.
Mendengar penuturan dari Nathan, para saudara-saudaranya tertawa sembari menutup mulut mereka masing-masing. Mereka tidak ingin Azka mendengar suara tawa mereka semua.
"Kau benar-benar cari mati, Nathan. Apa kau sudah bosan hidup, hah?!" teriak Azka melengking.
"Peduli amat. Jika aku mati di tanganmu, aku akan membalasmu dengan cara menggentayangimu setiap malam. Wleeeee! jawab Nathan dengan menjulurkan lidahnya kearah Azka.
Para saudara-saudaranya yang melihat peperangan antara Azka dan Nathan hanya bisa menjadi penonton yang setia. Bahkan mereka rela bersabar demi keduanya. Mereka tidak melarang atau pun membela. Dalam pikiran mereka, jika keduanya merasa lelah. Pasti kedua akan berhenti dengan sendirinya.