Missing The Youngest

Missing The Youngest
BAB 6



"Kalian sudah datang?!" seru Azka yang  datang menghampiri teman-teman kampusnya yang sudah duduk anteng di ruang tengah


Mereka melihat kearah Azka dan tersenyum. "Maaf kalau kami mengganggu," ucap Alfan.


"Tak masalah. Santai saja," jawab Azka dan langsung menduduki bokongnya di sofa


"Sebenarnya kamu sakit apa, Azka?" tanya Aarav.


"Hanya demam kecil. Seharusnya sudah sembuh. Tapi....." ucapan Azka terhenti.


"Tapi kenapa?" tanya Alfan.


"Karena kedatangan kalian ke rumahku membuat demamku makin bertambah," jawab Azka.


Mereka yang mendengar ucapan Azka langsung menunjukkan wajah bersalah dan menyesal. Azka yang melihat wajah teman-teman kampusnya tersenyum kecil. Dirinya berhasil menjahili mereka.


"Aish. Kenapa dengan wajah kalian itu? Wajah kalian persis seperti bayi yang kehausan minta susu. Aku hanya bercanda dengan ucapanku tadi. Aku benar-benar tidak apa-apa. Aku hanya flu saja, Mommy dan Daddy ku saja yang berlebihan kalau melihatku sakit. Sampai kuliah pun dilarang," tutur Azka.


Mereka semua bernafas lega setelah mendengar penuturan Azka. "Haaaaa."


"Terima kasih kalian sudah mau datang," ucap Azka.


Mereka semua tersenyum. "Sama-sama, Azka. Kamu kan teman kami. Jadi sudah kewajiban kami untuk datang menjengukmu," jawab Alman.


"Iya, itu benar." ucap Rico.


"Kenapa setiap aku melihat wajah Azka. Wajahnya itu mengingatkanku pada seseorang?" batin Pandy.


"Oh iya, Azka. Daddy dan Mommy kamu kemana? Dari tadi kami tidak melihat mereka?" ucap dan tanya Fahry.


"Dassy lagi di kantor. Sedangkan Mommy ku lagi di butik. Sore nanti mereka pulang," jawab Azka.


"Jadi kau sendirian?" tanya Dylan.


"Kalau aku sendiri di rumah. Lalu yang membukakan pintu untuk kalian tadi siapa? Hantu?" tanya Azka kesal.


"Hehe. Bukan itu maksudku. Kau itu anak tunggal atau memiliki saudara?" bantah Dylan.


"Aku anak tunggal. Tapi bukan berarti aku tidak punya saudara. Aku memiliki saudara sepupu dari pihak Daddy dan pihak Mommy. Hubungan kami sangat baik. Dua minggu sekali mereka menginap disini selama seminggu. Dan mereka juga sering menghubungi via telepon. Bahkan kami sering chat." Azka menjawa pertanyaan dari Dylan.


"Azka," panggil Alfan.


Azka melihat kearah Alfan. "Iya."


"Boleh kakak bertanya sesuatu padamu?" tanya Alfan.


"Maaf kalau pertanyaan ini menyinggungmu," ucap Alfan lagi


"Tak apa. Tanyakan saja," sahut Azka.


"Begini. Kenapa kau menutup diri dan lebih memilih sendiri? Kenapa kau tidak mau berteman atau menjalin suatu hubungan? Seperti misalnya memiliki sahabat?" tanya Alfan.


Hening..


Tidak jawaban dari Azka. Mereka yang menyadari keterdiaman Azka menjadi tidak enak.


"Maafkan kakak, Azka! Kalau kau tidak mau menjawabnya, tidak apa-apa. Jangan dipaksakan," ucap Alfan yang melihat raut wajah Azka berubah sedih.


"Tidak apa-apa. Aku akan memberitahu kalian alasan kenapa aku tidak mau menjalin suatu hubungan. Aku tidak mau terlalu dekat dengan orang lain selain keluargaku sendiri. Aku akan bergaul dengan seseorang kalau menyangkut urusan kuliah. Aku dulu memiliki sahabat. Sahabat yang baik, sahabat yang selalu ada saat aku dalam masalah. Begitu juga sebaliknya aku selalu ada untuknya. Semenjak kejadian itu. Aku bersumpah tidak akan mau mengenal lagi apa itu sahabat," tutur Azka.


"Apa yang terjadi Azka?" tanya Alman.


"Aku memiliki tiga sahabat. Salah satu dari kami berkhianat. Demi sejumlah uang, dia rela menyakiti sahabatnya sendiri. Saat itu kami pergi jalan-jalan ke suatu tempat. Tiba-tiba di tengah jalan kami dihadang beberapa pengendara motor. Kami dipaksa keluar dari dalam mobil. Dan terjadilah perkelahian antara kami. Yang mengakibatkan kami kalah saat itu dan tak sadarkan diri. Saat aku sadar, aku sudah berada di rumah sakit. Mommy dan Daddy bilang aku tidak sadarkan diri dua hari. Dan saat aku menanyakan tentang ketiga sahabatku Mommy dan Daddy hanya diam. Akhirnya mereka mau memberitahuku karena ancaman dariku. Mommy dan Daddy mengatakan padaku bahwa dua sahabatku meninggal di tempat dan satunya berada di dalam penjara. Jadi saat aku tahu kebenarannya kalau kecelakaan yang menimpa kami itu sudah direncanakan oleh salah satu sahabatku yang bernama Melky Sander." Azka bercerita dengan air matanya yang sudah jatuh membasahi wajah tampannya.


Mereka yang mendengar cerita Azka menjadi tidak tega dan menyuruh Azka untuk menghentikan ceritanya.


"Sudah, Azka! Jangan dilanjutkan lagi. Kami tidak tega melihatmu seperti ini. Seharusnya kedatangan kami menghiburku. Tapi kami malah membuatmu sedih," tutur Deva.


"Apa mereka menepati janji mereka padamu, Azka?" tanya Randy.


"Iya. Mereka menepati janji mereka padaku. Setiap hari mereka tidak pernah absen untuk mengabariku. Mereka selalu menanyakan keadaanku. Tapi bagiku semua itu tak cukup untukku. Setiap mereka bertanya bagaimana keadaanku, aku akan menjawab aku baik-baik saja. Tapi kenyataannya tidak sama sekali. Makanya kenapa sampai saat ini, aku lebih memilih untuk sendiri. Aku tidak mau menjalin hubungan dengan orang lain. Karena aku tidak percaya yang namanya sahabat. Karena semua itu hanya kepalsuan. Maafkan aku kalau selama ini sikapku tidak baik terhadap kalian. Sekarang kalian sudah tahukan kenapa aku selalu menolak menjalin hubungan persahabatan dengan kalian?" ucap dan tanya Azka.


"Ya. Kami mengerti sekarang, Azka! Kami juga ingin meminta maaf padamu," ucap Alfan mewakili yang lainnya.


Aryan yang sedari tadi hanya diam. Matanya selalu memandangi wajah Azka. "Kenapa setiap aku memandangi wajahnya, seakan-akan aku memandangi wajah adikku Nayazka."


Tiba-tiba Aryan berdiri dan berpindah duduk di samping Azka. Lalu tangannya menarik pelan tubuh Azka ke dalam pelukannya. Sedangkan Azka sama sekali tidak menolaknya.


"Menangislah. Tumpahkan semua kesedihanmu, rasa rindumu selama ini!" ucap Aryan.


"Hiks.. Aku merindukan mereka. Aku sangat merindukan mereka.. Hiks," isak Azka.


"Kenapa hatiku sangat sakit mendengar isakan seorang Azka. Dan perasaanku begitu nyaman saat memeluknya," batin Aryan.


"Kau tidak sendirian. Ada kakak disini. Kakak akan selalu ada untukmu," ucap Aryan.


"Kata-kata itu sepertinya pernah aku dengar. Tapi... Tapi dimana?" batin Azka.


"Aarrgghh..!!" erangan Azka.


Mereka yang mendengar erangan Azka sontak kaget dan khawatir.


"Azka. Kau kenapa? Apa yang sakit? Katakan pada kami!" tanya Pandy dan Attala bersamaan saat melihat Azka yang meremas rambutnya.


"Bibi!" panggil Aarav


Dan yang dipanggil pun datang. "Astaga. Tuan muda kau kenapa?" tanya Bibi Hanna panik.


"Kepa-laku sa-kit Bi," adu Azka kepada Bibi Hanna.


"Obatnya dimana? Biar bibi ambilkan," ucap dan tanya Bibi Hanna.


"Tidak usah. Antarkan aku ke kamar saja," pinta Azka.


"Biarkan kakak membantumu ya," ucap Aryan dan dibantu oleh Pandy.


Mereka pun membawa Azka ke lantai atas menuju kamarnya diikuti oleh Bibi Hanna dan yang lainnya di belakang.


Mereka pun sampai di kamar Azka. Dan Azka sudah di atas tempat tidur.


"Ini minum obatnya, Tuan muda!" kata Bibi Hanna menyodorkan satu pil obat dan segelas air minum.


Azka menerimanya dan langsung meminumnya. "Jangan beritahu Daddy dan Mommy kalau sakit kepalaku kambuh, Bibi!" mohon Azka.


"Baiklah. Bibi tidak akan memberitahu Tuan dan Nyonya," jawab Bibi Hanna.


Azka merebahkan tubuhnya di kasur. Detik kemudian Azka pun terlelap. Mereka memandangi wajah damai Azka saat tertidur.


"Wajah yang begitu imut dan menggemaskan seperti anak kecil usia 4 tahun," ucap mereka bersamaan.


"Oh iya, Bibi. Kalau begitu kami langsung pamit saja. Dikarenakan Azka sudah tertidur! "seru Deva.


"Baiklah. Terima kasih kalian sudah datang menjenguk Azka. Kalian lah orang pertama yang datang ke rumah ini setelah lima tahun lamanya tuan muda Azka menutup dirinya pada orang-orang diluar sana," ucap Bibi Hanna.


"Apa kami boleh sering-sering main kesini, Bi?" tanya Aarav.


"Dengan senang hati," jawab Bibi Hanna.


"Kalau begitu kami pamit, Bi!" ucap mereka bersamaan.


Lalu mereka melangkahkan kaki menuruni anak tangga. Diikuti oleh Bibi Hanna di belakang.


Mereka telah pergi. Sekarang tinggal Bibi Hanna di ruang tamu. Dan Bibi melangkahkan kakinya menuju dapur untuk mengecek tugasnya.