
"Kalau menurut saya jangan dulu. Biarkan Nyonya Danisa disini dulu. Kita harus memastikan kondisi Nyonya Danisa benar-benar pulih seratus persen. Secara Nyonya Danisa mengalami musibah dua kali," ucap Dokter Anand menjelaskan.
"Musibah dua kali," batin Azka, Arga, Aryan, Alfan, Randy, Attala, Alman dan Pandy.
"Nanti akan saya jelaskan diluar," sahut Dokter Anand yang langsung mengerti kebingungan dari Azka, Arga, Aryan, Alfan, Randy, Attala, Alman dan Pandy.
Azka melihat kearah Ibunya. Dirinya tersenyum menatap wajah cantik dan pucat ibunya. Berlahan Azka mendekati wajahnya kearah wajah ibunya. Dan detik kemudian, Azka mencium kening ibunya itu.
Sama halnya ketika bersama dengan ibu kandungnya ketika dirinya mendapati ibunya itu menatap wajahnya ketika dia tertidur di sofa. Ibunya memberikan sentuhan-sentuhan hangat dan lembut di kepala dan di kedua pipinya.
Mendapatkan sentuhan tersebut dari ibunya, Azka memberikan dua kecupan di pipi ibunya itu sebagai hadiah atas perhatian ibunya padanya.
"Mommy mau dengarin kata-kataku nggak?"
Danisa menganggukkan kepalanya pelan sebagai jawabannya.
"Mommy mau pulangkan?"
"I-iya."
"Kalau Mommy mau pulang. Itu tandanya Mommy harus sudah dalam keadaan sehat. Bagaimana kondisi Mommy saat itu pergi meninggalkan aku. Seperti itu juga Mommy ketika pulang."
"Ap-apa yang ha-rus Mommy la-kukan agar ce-pat sembuh?"
Azka tersenyum. Begitu juga dengan Arga, Aryan, Alfan, Randy, Attala, Alman dan Pandy. Termasuk Dokter Anand dan istrinya.
"Mommy harus tetap disini agar Dokter Anand bisa memantau terus kondisi Mommy."
Danisa seketika diam. Dia memikirkan keinginan dari putranya itu.
"Mom," panggil Azka ketika tidak mendapatkan jawaban dari ibunya.
"Hanya sampai sembuh, Nyonya! Jika Nyonya sudah benar-benar sembuh. Nyonya akan pulang dan bertemu dengan semua anggota keluarga Nyonya!" seru Dokter Anand.
"Iya, Mom. Kalau Mommy nurut. Aku akan selalu datang kesini mengunjungi Mommy. Begitu juga dengan kak Arga."
"Baiklah. Mommy akan ikuti kemauan kamu asal kamu selalu datang mengunjungi Mommy bersama Arga."
"Baiklah."
"Bagaimana dengan kami, Bi?" tanya Aryan.
Danisa melihat kearah Aryan, Alfan, Randy, Attala, Alman dan Pandy bergantian.
"Ka-lian si-siapa?"
"Kami teman-temannya Azka dan Arga, Bi!" Aldan menjawab pertanyaan dari Danisa. Mereka tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya kepada Danisa.
Danisa tersenyum. "Ka-lian bo-leh kesini me-ngunjungi Bibi. Itu pun jika ka-lian tidak merasa di-repotkan."
"Tidak sama sekali!" Aryan, Alfan, Randy, Attala, Alman dan Pandy menjawab bersamaan.
Sementara Dokter Anand dan istrinya menatap Azka, Arga, Aryan, Alfan, Randy, Attala, Alman dan Pandy dengan tatapan bingung dan penasaran. Beberapa menit yang lalu Azka mengatakan kalau pemuda-pemuda itu kakak-kakaknya. Sekarang salah satu pemuda itu mengatakan bahwa dia serta yang lainnya adalah teman-temannya Azka dan pemuda yang bernama Arga di hadapan Nyonya Danisa.
"Pasti telah terjadi sesuatu sehingga membuat mereka tidak bisa berkata jujur di hadapan Nyonya Danisa.
Danisa menganggukkan kepalanya sebagai jawabannya. Dan tak lupa Danisa yang berusaha tersenyum.
Azka kembali memberikan ciuman di kening ibunya itu sebagai tanda bahwa dia akan pulang. Begitu juga dengan Arga.
***
Azka, Arga, Aryan, Alfan, Randy, Attala, Alman dan Pandy sudah berada diluar. Mereka memutuskan untuk langsung pulang ke rumah.
"Apa perlu kita kasih tahu Paman Dava?" tanya Randy kepada adik sepupunya.
"Jangan dulu," jawab Azka.
"Kenapa? Bagaimana pun Paman Dava berhak tahu," ucap dan tanya Attala.
"Iya, aku tahu itu," sahut Azka.
"Terus?" tanya Alman.
"Kalian tidak melupakan perempuan yang mengaku sebagai Mommy dan juga pemuda itu?" tanya Azka.
"Lalu apa rencana kamu, sekarang?" tanya Aryan.
"Biarkan saja seperti ini dulu untuk beberapa hari. Kita lihat sampai dimana kedua manusia busuk itu menipu keluarga Adhinatha terutama Daddy. Disini yang buat aku curiga adalah kenapa perempuan itu memiliki wajah begitu mirip dengan Mommy? Bibi Dalila selaku kakak tertua Mommy mengatakan bahwa Mommy tidak memiliki saudari kembar ketika dilahirkan. Jadi bagaimana bisa ada orang yang miripnya sudah seperti saudara kembar. Jika pun ada orang yang mirip di dunia ini, kemiripan tersebut tak terlalu mirip" Azka berucap sembari memberikan alasan dibalik dia melarang memberitahu anggota keluarga tentang ibunya.
"Dan aku juga mencurigai bahwa ada seseorang yang sejak dulu memang sudah mengincarku. Dia tidak membiarkan aku hidup bahagia. Sudah terbukti sekarang."
Mendengar ucapan demi ucapan dari Azka membuat mereka semua terdiam. Di dalam hati mereka masing-masing membenarkan apa yang dikatakan oleh Azka.
"Kira-kira siapa orang yang kau curigai?" tanya Arga.
"Aku belum mendapatkan petunjuknya. Tapi kita bisa mendapatkannya dari....." Azka menjawab pertanyaan dari Arga dengan tatapan matanya menatap kearah Randy dan Pandy.
"Kenapa menatap kami seperti itu?" tanya Randy dan Pandy bersamaan.
"Kita bisa mengorek informasi dari Bibi Adelia."
"Lah! Apa hubungannya dengan Mami?" tanya Pandy.
Azka tersenyum ketika mendengar pertanyaan dari Pandy. "Kakak Pandy tidak lupakan atas apa yang telah dilakukan oleh ibunya kakak itu padaku, hum?!" Azka bertanya kepada Pandy sembari menaik turunkan kedua alisnya.
Mendengar pertanyaan serta melihat wajah Azka yang meledek sekaligus menyindir Pandy sambil memainkan kedua alisnya itu membuat Arga, Aryan, Alfan, Randy, Attala, Alman tersebut gemas.
"Jadi maksud kamu kalau kita akan menanyakan siapa yang telah menyuruh Mami untuk membawa kamu pergi jauh dari keluarga Hanendra. Begitu?!"
"Yup! Tepat sekali!" Azka langsung menjentikkan kedua jarinya di hadapan Randy.
"Kakaknya ternyata lebih pintar dari pada adiknya," ejek Alfan.
"Ternyata bukan tubuh saja yang pendek. Ternyata otaknya juga. Cetek," ucap Azka menambahkan.
"Hahahaha." Arga, Aryan, Alfan, Randy, Attala dan Alman seketika tertawa keras.
Sementara Pandy mengeluarkan semua nama-nama kebun binatang untuk adiknya. Dia benar-benar kesal saat ini.