
[Lobi Depan Kampus]
Mereka masih berada di lobi kampus. Andrew, Harris, Diaz dan Zayan menatap sendu kepergian Azka.
Azri menepuk pelan bahu Andrew dan Diaz. "Sudahlah. Jangan dipikirkan. Berikan waktu untuk adik kalian itu. Mungkin saja saat ini yang ada dipikirannya adalah rasa takut. Takut kehilangan seseorang," hibur Azri.
"Ya. Kau benar Azri. Aku tahu bagaimana sifatnya Azka. Azka itu anak yang baik, mudah bergaul dan mudah berteman dengan siapapun. Dia tipe pemuda yang setia. Dulu saat-saat Azka bersama sahabat-sahabatnya, hubungan persahabatan mereka sangat harmonis layaknya seperti saudara. Mereka selalu bersama-sama, baik itu di sekolah maupun di luar rumah. Mereka selalu menghabiskan waktu bersama. Semenjak Azka dikhianati oleh salah satu dari sahabatnya itu sehingga membuatnya kehilangan sahabatnya yang lain. Sejak itulah hidup Azka berubah. Ditambah dengan sikap kami berempat yang pergi kuliah keluar negeri dan meninggalkan Azka. Padahal saat itu Azka memohon pada kami untuk tidak pergi dan meminta kami kuliah di Jakarta saja. Tapi justru kami tetap pada keputusan kami," ucap Andrew dengan nada lirihnya.
"Kalau kami boleh tahu. Apa alasan kalian memilih kuliah diluar negeri dan meninggalkan Azka?" tanya Deva.
Saat Andrew ingin membuka suara. Tiba-tiba ada yang berteriak dan berlari kearah kelompok BRAINER.
"Kak Azri!" teriak seorang mahasiswa yang berlari kearah mereka.
"Ada apa?" tanya Azri.
"Itu.. itu!" Nafas mahasiswa tersebut terengah-engah.
"Hei, tenang!" kata Randy.
"Itu kak. Itu Azka. Azka Ahza Adhinatha. Kelompok COBRA mengganggu Azka lagi. Mereka sekarang berada di halaman kampus."
Tanpa pikir panjang lagi. Mereka semua berlari menuju halaman kampus
^^^
[Halaman Kampus]
"Mau apa lagi kau, Arga? Tidak puaskah selalu menggangguku?" tanya Azka ketus.
"Aku tidak akan pernah puas sebelum melihatmu pergi jauh," jawab Arga.
"Apa maksudmu?" tanya Azka.
"Kau itu bodoh atau pura-pura bodoh. Pergi dan tinggalkan keluarga Adhinatha. Termasuk Paman Dhava," jawab Arga.
"Gila. Dia itu Daddy ku. Bagaimana bisa kau menyuruhku pergi meninggalkannya? Tidak ada seorang anak pun yang ingin pergi meninggalkan Ayahnya yang sedang sakit. Kecuali anak itu sudah gila!" bentak Azka.
"Hahahaha! Seharusnya kau itu sadar Azka. Kau itu bukan siapa-siapa nya Paman dan Bibiku? Kau hanya orang lain dan tidak ada hubungan apa-apa dengan keluarga Paman Dhava dan Bibi Danisa," ucap Arga.
DEG!!
"Apa? Apa maksud Arga?" batin Azka.
"Kau itu buk..........!"
"Hentikan Arga!" teriak Andrew yang datang bersama kelompok Brainer.
"Andrew! Kau sudah kembali ternyata. Apa di Amerika sana membosankan sehingga kau kembali ke Jakarta? Atau...!! Kau pulang hanya demi anak pungut itu, huh?!" bentak Arga.
Azka membelalakkan matanya saat mendengar penuturan dari Arga. "Apa? Anak pungut?" batin Azka.
"Arga!" bentak Diaz.
"Jaga ucapanmu, brengsek!" bentak Harris.
Andrew menghampiri Azka. "Azka. Jangan dengarkan kata-katanya Arga. Dia hanya ngelantur. Kau tahu sendirikan, otaknya nggak waras."
"Sialan kau Andrew," umpat Arga.
Azka menepis tangan Andrew yang ada di bahunya. Lalu matanya menatap tajam Arga. "Katakan padaku apa yang tidak aku ketahui? Dan apa maksudmu dari anak pungut?"
"Azka. Kakak mohon. Jangan lakukan itu," mohon Diaz.
"Kenapa? Atau jangan-jangan kalian mengetahui sesuatu yang tidak aku ketahui, huh?!" teriak Azka yang menatap tajam kearah keempat kakak-kakaknya.
Andrew, Diaz Harris dan Zayan hanya diam dan tak tahu harus bicara apa. Mereka memang tahu siapa Azka sebenarnya. Tapi mereka tak memusingkan masalah itu. Di hati mereka, mereka benar-benar tulus menyayangi Azka.
Melihat keempat kakak nya diam. Azka menatap tajam kearah Arga.
"Katakan padaku brengsek. Apa maksud dari ucapanmu itu? Kenapa kau menyebutku anak pungut, huh?!"
"Kau yakin ingin tahu semuanya, huh!" bentak Arga.
"Katakan saja. Tidak perlu berbelit-belit, sialan!"
"Kau itu....!"
"Arga!" teriak Andrew. "Berani kau mengatakan hal itu. Kau akan menerima akibatnya," ancam Andrew.
"Diam dan jangan ikut campur. Ini urusanku dengan Arga!" teriak Azka.
"Katakan padaku sekarang juga, Arga Zahir Adhinatha!" teriak Azka.
"Apa? Arga Zahir Adhinatha? Jadi Arga itu masih sepupunya Azka," kata Aarav pada Pandy.
"Aku Juga dengar Arga mengatakan kalau Azka bukan siapa-siapanya Paman dan Bibinya? Apa maksudnya? Kenapa Arga bicara seperti itu?" tanya Attala.
"Cepat katakan, brengsek!" bentak Azka.
"Kau itu bukan putra kandung dari Paman Dhava dan Bibi Danisa. Kau hanya diangkat anak oleh mereka," ucap Arga.
DEG!!
Sontak hal itu membuat tubuh Azka melemah dan hampir terhuyung ke belakang kalau tidak ditahan oleh Harris dan Zayan di belakang. Setetes air mata turun membasahi wajah tampannya. Terlebih lagi para kelompok Brainer. Mereka semua terkejut mendengar penuturan Arga.
"Mereka menemukanmu dijalan lengkap dengan seragam sekolah yang masih menempel di tubuhmu. Saat itu kau masih duduk dibangku SD. Kau ditabrak mobil lalu Paman dan Bibiku menolongmu dan membawamu ke rumah sakit. Saat kau sadar, kau memanggil Paman dan Bibiku dengan sebutan Mommy dan Daddy!" teriak Arga.
Arya tiba-tiba kakinya melemah. Kata-kata Arga mengingatkan pada adiknya Nayazka yang hilang saat pulang sekolah.
"Aryan," panggil Randy yang kebetulan berdiri di dekatnya.
"Kak. Apa Azka itu?" tanya Aryan.
"Kakak tidak tahu, Aryan. Tapi kakak berharap iya," jawab Randy.
Tubuh Azka diam membeku di tempat. Tatapan matanya yang kosong. Air matanya terus berjatuhan.
"Azka... Azka!" panggil Andrew dan Diaz. Sedangkan Azka tidak merespon panggilan dari Andrew dan Diaz.
"Azka, sadarlah!" teriak Diaz sambil menggoyang-goyangkan bahunya.
Tiba-tiba terlintas bayangan kecelakaan dua belas tahun yang lalu. Ditambah bayangan seorang perempuan yang menjemputnya di sekolah.
"Bibi kesini mau menjemputmu."
"Menjemputku? Tapikan yang akan menjemputku kak Kaivan?"
"Nanti bibi jelaskan semuanya di mobil. Sekarang Nayazka masuk dulu ke dalam mobil."
"Sekarang katakan padaku, Bi! Kenapa bibi yang menjemputku?"
"Bagaimana ya? Bibi bingung harus mulai dari mana? Ini sebuah Rahsia besar keluarga dan tidak boleh dibeberkan. Termasuk padamu, Nayazka Karena ini akan membuatmu terluka dan sakit hati."
"Maafkan bibi, sayang!!"
"Katakan, Bi!! Aku siap dan aku akan menerima apapun yang terjadi."
"Kau.. Kau bukan putra kandung dari keluarga Hanendra. Mereka menjaga dan merawatnya selama ini hanya untuk menepati janji mereka pada orang tua kandungmu. Disaat usiamu dua puluh tahun, mereka akan mengembalikanmu pada keluargamu. Karena keluargamu akan datang menjemputmu. Mereka adalah Paman dan Bibimu, adik dari ibu kandungmu. Bibi sempat mendengar pembicaraan mereka. Bibi dengar semuanya. Kalau mereka tidak benar-benar sayang padamu. Mereka melakukan itu semua padamu karena janji mereka saja, tidak lebih dari itu, Nayazka. Dan satu hal yang harus kamu tahu. Kedua orang tuamu sudah meninggal. Dan keluarga Hanendra sudah mengetahuinya. Tapi mereka tak peduli akan hal itu. Mereka tetap pada perjanjian awal. Mereka harus mengembalikanmu pada orang tua kandungmu."
"Turunkan aku disini."
"Tapi ini tempat sepi, sayang!"
"Aku bilang turunkan aku disini!"
Seketika Azka berteriak ketika bayangan-bayangan tersebut berputar-putar di kepalanya.
"Aarrgghh!" teriak Azka sembari menarik rambutnya.
"Azka!" teriak Andrew, Diaz, Harris, Rayan, Aryan, para sepupu Aryan dan Kelompok BRAINER.
"Azka. Kau kenapa?" tanya Rayan.
"Apa kepalamu sakit lagi?" tanya Harris khawatir.
"Aka jelek .. Aka jelek," ejek Aryan.
"Diam kau alien gosong, tengil."
"Kakak."
"Kakak disini, Aka. Kakak tidak akan pernah meninggalkan Aka. Kakak selamanya menyayangimu, Aka!" ucap Farraz.
Azka berusaha untuk kuat. Dirinya berusaha menahan sakit di kepalanya. Lalu matanya menatap kearah Arga. Tapi kali ini tatapannya berbeda. Tatapan kosong.
"Kau benar, Arga. Apa yang kau katakan itu benar? Aku bukan siapa-siapa di keluarga Adhinatha. Aku bukan putra kandung mereka."
"Mereka yang bukan kedua orang tua kandungku. Begitu peduli, begitu sayang padaku. Beda dengan keluarga kandungku. Mereka membuangku. Aku diopor dari keluarga yang satu ke keluarga yang lain. Dan berakhir masuk ke keluarga Adhinatha."
"Kau dengar aku baik-baik, Arga! Aku akan penuhi keinginanmu. Asal kau juga memenuhi keinginanku," tantang Azka.
"Apa?!" bentak Arga.
"Kau harus menjaga dan merawat Daddy sampai sembuh. Dia adalah malaikatku. Kau harus menyayanginya seperti aku menyayanginya selama ini. Dan kau jangan pernah membuatnya menangis, apapun alasannya. Kau harus jaga kesehatannya dan jangan sampai dia jatuh sakit. Kalau sampai aku mengetahui, kau gagal melakukan tugas ini. Malah justru sebaliknya, kau membuat malaikatku sedih, menangis dan makin terpuruk. Aku akan kembali dan menghajarmu habis-habisan. Atau kalau perlu aku akan membunuhmu. Mengerti!" tantang Azka dengan tatapan tajam dan mata yang merah.
"Aku tidak main-main dengan ucapanku ini. Satu tetes saja air matanya jatuh membasahi pipinya, sepuluh kali aku akan menghajarmu. Kau hitung sendiri. Apabila Daddy meneteskan air matanya sebanyak dua puluh kali? Berapa kali aku akan menghajarmu," tegas Azka.
Setelah mengatakan hal itu, Azka memutuskan pergi meninggalkan kampus dalam keadaan kacau.
"Azka," panggil mereka semua.
Azka tidak menghiraukan panggilan dari teman-temannya dan juga kakak-kakaknya. Azka tetep melangkah kakinya untuk pergi dari kampus.