
[BINUS UNIVERSITY]
Saat ini kelompok BRAINER tengah berkumpul di LOBI depan Kampus. Disana juga sudah ada Andrew, Harris, Diaz dan Zayan.
"Aku sudah berulang kali menghubungi Azka. Tapi ponselnya tidak aktif," ucap Harris.
"Pasti saat ini Azka sedang sedih dan tertekan. Karena kan Azka sudah tahu siapa dia sebenarnya dikeluarga Adhinatha?" kata Zayan.
"Kakak. Kita harus pikirkan sesuatu untuk menghibur Azka. Kita tidak bisa membiarkan Azka menghadapi masalahnya sendiri," ujar Harris.
"Itu sudah pasti, Harris. Kita semua disini untuk Azka. Kita tidak akan membiarkan Azka merasa sendiri," kata Azri dan diangguki oleh yang lainnya.
"Itu Alfan dan saudara-saudara nya datang!" seru Deva saat melihat kedatangan Alfan dan kelima adik-adiknya.
"Tumben telat. Kompak lagi," ledek Luis.
Alfan dan kelima adik-adiknya langsung duduk dengan wajah ditekuk.
"Hei! Kenapa dengan wajah kalian itu, hah?" tanya Varo.
"Jelek amit sih," goda Leon.
"Hei! Ayolah! Kenapa dengan kalian? Tidak biasanya," kata Farrel.
"Aku sudah menemukan adikku yang hilang." Aryan menjawab perkataan dari teman-temannya, walau masih menunjukkan wajah sedih dan kusut
"Wah! Benarkah? Siapa? Dimana dia?" tanya Fahri sumringah
"Tapi kenapa wajah-wajah kalian seperti tidak bahagia seperti itu? Seharusnya kalian bahagia dong, karena telah berhasil bertemu dengan adik kalian lagi. Terutama kau Aryan!" kata Azri.
"Bukan aku tidak bahagia, Azri. Siapa sih yang tidak bahagia bisa bertemu kembali dengan adik yang telah belasan tahun terpisah?" kata Aryan.
"Lalu kenapa? Kenapa kau dan saudara-saudaramu ini bersedih dan tak bersemangat seperti ini?" tanya Luis.
"Dia pergi lagi. Adikku pergi lagi meninggalkan kami semua."
"Apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa adik kalian malah pergi lagi?" tanya Leon.
"Adik kami salah paham pada kami semua," jawab Alfan.
"Waktu itu adikku masih duduk dikelas lima SD. Saat itu kedua kakakku benar-benar lupa untuk menjemputnya di sekolah. Ditambah lagi, adikku tidak mengetahui alamat rumah, nomor ponsel kami. Karena memang saat itu kami belum memberikan fasilitas apapun padanya, dikarenakan adikku masih kecil. Kedua kakak-kakakku yang secara bergantian menjemputnya dan mengantarkannya ke sekolah. Bahkan kami juga lupa untuk mengingatkan agar menjemput Aka di sekolah," tutur Aryan.
"Jadi nama adikmu, Aka?" tanya Diaz.
"Itu nama panggilan sayang kami untuknya. Nama aslinya adalah Nayazka. Nayazka Sadana Hanendra," ucap Aryan.
"Wah! Nama yang bagus!" seru Aarav.
"Lalu apa yang terjadi pada Aka saat kalian lupa menjemputnya di sekolah?" tanya Andrew.
"Ibuku yang menjemputnya," jawab Pandy dan seketika air matanya sudah mengalir.
"Yak, Pandy! Kenapa menangis?" tanya Azri.
"Karena penyebab Aka hilang, itu ulah dari ibuku!" jawab Pandy.
"Saat ibuku menjemput Aka. Ibuku sampai mengarang cerita pada Aka dan mengatakan bahwa Aka bukan putra kandung dari Paman dan Bibi. Ibuku mengatakan pada Aka, bahwa Aka hanya anak angkat di keluarga Hanendra. Itulah yang membuat Aka kabur dari ibuku!" jawab Pandy yang sudah menangis sedari tadi.
Alfan seketika merangkul bahu Pandy dan mengelus-elus punggung Pandy.
"Kami belum tahu alasan kenapa ibu kami sampai berbuat seperti itu," sahut Randy.
"Sebaiknya kalian tanyakan baik-baik pada ibu kalian. Siapa tahu ibu kalian mempunyai alasan tertentu sampai melakukan hal itu," usul Diaz.
"Atau karena paksaan atau ancaman seseorang. Kita kan tidak tahu," sela Deva menambahkan.
"Iya. Aku setuju dengan perkataan Diaz dan Deva. Ada baiknya kalian bicaralah baik-baik pada ibu kalian. Dan tanyakan apa alasannya sampai tega melakukan hal itu," kata Azri.
Randy dan Pandy mengangguk. "Baiklah!"
"Oh iya! Kalau kami boleh tahu. Siapa sih adik kalian itu, kak?" tanya Henry penasaran.
"Apa kami mengenalinya? Apa dia juga kuliah disini?" tanya Dylan.
Alfan dan kelima adik-adiknya tersenyum. "Kalian semua sudah melihatnya dan sudah dekat dengannya," sahut Attala.
"Hah!!" Mereka semua melongo. "Siapa?" tanya mereka bersamaan. Mereka saling melirik.
"Azka!" jawab Alfan dan kelima adik-adiknya bersamaan.
"Apa? Azka?"
***
[RUMAH SAKIT]
[Ruang Rawat Dhava]
Sudah satu minggu Dhava Koma. Selama satu minggu pula pihak keluarga selalu setia menemani dan menjaganya. Terutama kakak tertuanya Adelard.
Saat ini ketiga saudara-saudaranya dan keponakan-keponakannya berada di rumah sakit, kecuali Azka. Sudah dua hari keberadaan Azka tidak diketahui. Azka menghilang bak ditelan bumi.
"Kak Dhava. Kapan kakak akan bangun? Kami semua merindukanmu, kakak!" ucap Cintami sembari menggenggam tangan sang kakak.
"Oh iya! Sudah dua hari ini Azka tidak datang ke rumah sakit melihat ayahnya?" tanya Bima.
"Iya, yah! Aku juga baru menyadarinya sekarang. Biasanya Azka itu yang selalu menemani ayah," sela Celena.
"Aku akan menghubungi Azka sekarang!" seru Adelard.
Adelard kemudian mengambil ponselnya kemudian menekan nama Azka keponakannya. Lalu terdengar suara 'Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada diluar area'
"Bagaimana kak?" tanya Cintami.
"Ponselnya Azka tidak aktif," jawab Adelard.
"Kamu dimana sayang?" batin Adelard.
CKLEK!!
Pintu ruang rawat Dhava dibuka. Dan masuklah wanita paruh baya yaitu Hanna. Kepala asisten rumah tangga sekaligus pengasuh Azka.
"Tuan.. Nyonya!" sapa Hanna.
"Kenapa Bibi Hanna datang sendiri?? Azka mana, Bi?" tanya Leroy.
"Maaf Tuan, nyonya. Itu.. anuu." Hanna bingung harus menjawab apa.
"Itu.. Anu apa, Bi?" tanya Adelard.
"Tuan muda Azka tidak pulang dari kemarin tuan, Nyonya. Ponselnya juga tidak bisa dihubungi," jawab Hanna.
"Apa?!" Adelard, Aisha, Cintami, Bima, Leroy dan Celena terkejut ketika mendengar perkataan dari Hanna.
"Apa Azka punya masalah?" tanya Cintami.
"Tidak biasanya Azka seperti ini," sahut Leroy.
"Kenapa juga mikirin anak yang tidak tahu terima kasih itu Pa, Ma, Paman, Bibi?!" sela Arga.
"Arga!" bentak Farzan dan Gara bersamaan.
"Mungkin saja Azka lagi ada urusan dengan teman-temannya, makanya tidak pulang!" sela Dzaky.
***
[KAMPUS]
Saat ini kelompok BRAINER, Andrew, Diaz, Harris dan Zayan berada di lobi depan kampus.
"Kami tidak menyangka dan sekaligus tidak percaya kalau Azka itu adik kandungmu, Aryan!" seru Deva.
"Eem. Benar!" seru Allan.
"Apa kalian yakin Azka itu adik kalian yang hilang selama ini?" tanya Azri.
"Kami yakin," jawab Randy.
"Kami membawa Azka pulang ke rumah, saat Azka jatuh pingsan di Taman Kota," sahut Alman.
"Apa? Azka pingsan di Taman Kota?!" teriak mereka semua.
"Aku dan adik-adikku mengikuti Azka sampai ke Taman Kota. Dan kami mendengar semua yang diucapkan oleh Azka. Saat Azka jatuh pingsan kami membawanya pulang ke rumah. Dan Azka mengenali kami semua," jawab Alfan.
"Lalu bagaimana reaksi Azka?" tanya Varo.
"Awalnya reaksi Azka bahagia. Terlihat dari wajahnya, walau sedikit sedih dan kecewa. Tapi saat Azka melihat Bibi Adelia. Raut wajah Azka berubah menjadi benci. Terlihat dari sorot matanya," jawab Alman.
"Bibi Adelia mengatakan pada Azka kalau Azka bukan putra kandung kedua orang tuaku. Azka hanya berstatus putra angkat," ucap Aryan.
"Kasihan sekali Azka!" ucap Aarav, Dylan, Henry dan Rico bersamaan.
"Lalu apa yang terjadi?" tanya Diaz.
"Azka pergi meninggalkan rumah. Kedua kakakku gagal mengejarnya," jawab Aryan. "Dan ternyata......" perkataan Aryan terhenti
"Ternyata apa?" tanya Varo.
"Azka tidak pulang ke rumah setelah pergi dari rumah keluarga Hanendra," jawab Aryan.
"Apa?!" teriak Andrew, Diaz, Harris dan Zayan bersamaan.
"Kau serius, Aryan?" tanya Andrew khawatir.
"Ya! Bibi Hanna pengasuhnya Azka menghubungiku. Katanya Azka tidak pulang ke rumah semalaman. Sampai detik ini ponselnya tidak bisa dihubungi," kata Aryan.
"Brengsek!! Ini semua gara-gara Arga." Andrew berucap penuh emosi.
"Bajingan itu yang sudah membuat Azka pergi." Diaz juga sudah tersulut emosi.
"Bagaimana ini?? Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Allan.
"Kita harus cari Azka. Kita tidak bisa berdiam seperti ini. Ditambah lagi kondisi kesehatan Azka lagi tidak baik," kata Harris.
"Ya, sudah! Untuk saat ini kita ke rumah sakit dulu. Masalah Azka nanti kita pikirkan lagi," sela Azri.
Semuanya mengangguk tanda setuju.
***
[RUMAH SAKIT]
Semua menatap Arga. Mereka tak habis pikir atas perkataan Arga tersebut.
"Paman lihat sendirikan. Keponakan kesayangan Paman itu tidak ada disini. Pasti saat ini Azka pasti sedang bersenang-senang," ucap Arga.
"Tuan muda Arga jangan bicara sembarangan. Tuan muda Arga tahu sendiri kan. Kalau tuan muda Azka tidak pernah dekat dengan siapa pun sejak lima tahun ini. Tuan muda Azka tidak akan pergi bersenang-senang dengan teman-temannya disaat tuan Dhava sedang sakit. Tuan muda Azka lebih memilih menjaga tuan ataupun nyonya dari pada pergi bersama teman-temannya," sahut Bibi Hanna membantah perkataan Arga.
"Mungkin saja saat ini Azka sudah bosan mengurus Paman Dhava. Makanya Azka pergi. Sudahlah, Bibi Hanna!! Bibi tidak perlu membela anak yang tak tahu diri itu," ucap Argam
PLAAKKK!!
"Aaakkkhhhh!"
"Hanna!" teriak Celena saat putranya ditampar oleh Hanna.
Bibi Hanna tak menghiraukan teriakan dari Celena. Tatapan matanya tetap fokus menatap wajah Arga. "Tolong jaga ucapan tuan muda Arga. Jangan bicara yang tidak-tidak untuk tuan muda Azka. Bibi yang menjaga tuan muda Azka dari kecil. Bibi sangat tahu seperti apa sifat dan karakter tuan muda Azka? Tuan muda Azka itu amat sangat menyayangi tuan dan nyonya. Tuan muda Azka tidak akan mungkin pergi meninggalkan tuan. Kalau pun tuan muda Azka sampai pergi. Itu semua gara-gara tuan muda Arga!" bentak Bibi Hanna dengan menunjuk kearah Arga dan jangan lupakan setetes air matanya yang mengalir di pipinya.
"Lebih baik kita bicara diluar. Jangan bicara disini. Bisa-bisa keadaan kak Dhava akan bertambah parah," sela Bima. Lalu mereka semua pergi keluar.
"Bibi Hanna. Tolong jelaskan pada kami. Apa maksud Bibi Hanna barusan yang menyalahkan Arga, putraku atas kepergian Azka?" tanya Leroy lembut.
"Tuan muda Azka sudah mengetahui semua tentang jati dirinya," jawab Bibi Hanna.
"Apa?" Mereka semua terkejut.
"Mak-maksud Bibi Hanna, Azka sudah tahu kalau Dhava dan Danisa bukan orang tua kandungnya?" tanya Adelard.
"Iya, Tuan!"
"Bagaimana bisa?" tanya Aisha.
"Dari mana Azka tahu dan siapa yang sudah berani memberitahu Azka masalah ini?" tanya Cintami.
"Tuan muda Arga," tunjuk Bibi Hanna. "Tuan muda Arga yang sudah membocorkan semuanya pada tuan muda Azka. Tuan muda Arga memberitahu semuanya pada tuan muda Azka saat di kampus dan didepan semua mahasiswa dan mahasiswi," sahut Bibi Hanna.
Adelard dan yang lainnya menatap wajah Arga. Adelard sudah terlihat emosi. "Arga!" seru Leroy menatap marah kearah putranya.
"Tidak, Pa! Itu tidak benar. Aku tidak mengatakan apapun," elak Arga. "Bibi Hanna. Bibi jangan menuduhku. Jangan mentang-mentang Bibi dekat dan sayang ama Azka, jadi bibi mengkambing hitamkan aku," kata Arga.
"Bibi tidak mencari kambing hitam disini. Apa yang bibi katakan itu fakta adanya. Bibi tahu dari teman-teman barunya tuan muda Azka. Mereka semua yang memberitahu tahu bibi masalah ini," ucap Bibi Hanna.
"Pa, Ma!! Aku tidak melakukan hal itu. Kalian percayakan?" tanya Arga memohon.
"Apa yang dikatakan oleh Bibi Hanna benar?!" teriak Andrew yang datang bersama anggota lainnya.
Adelard dan yang lainnya melihat kearah Andrew dan teman-temannya. "Andrew. Kau kapan pulang dari Amerika?
"Dua hari yang lalu, Paman!" Andrew menjawab pertanyaan dari Adelard.
"Paman, Bibi. Apa yang dikatakan oleh Bibi Hanna benar? Azka pergi karena Arga yang menyuruh Azka pergi. Dan Arga juga yang sudah membocorkan tentang jati diri Azka yang sebenarnya kepada Azka," ucap Diaz.
"Kalau Paman dan Bibi tidak percaya. Aku punya rekamannya," sela Harris yang kebetulan saat itu diam-diam merekam kejadian tersebut.
"Mana rekamannya?" tanya Cintami. Lalu Harris memberikan ponselnya pada Cintami.
Adelard, Leroy, Cintami dan yang lainnya melihat rekaman tersebut.
DEG!!
Mereka benar-benar terkejut saat melihat rekaman tersebut.
PLAAKK..
Adelard seketika menampar wajah Arga dengan sangat keras. "Berani sekali kau membocorkan masalah ini pada Azka. Dimana otakmu, Arga?! Apa kau tidak memikirkan adikku, Dhava?! Saat ini hanya Azka yang bisa membuat Dhava sadar dari koma. Tapi kau sudah membuat Azka pergi meninggalkan Dhava. Paman selama ini diam dan membiarkanmu membenci Azka. Paman tahu kau tidak menyukai kehadiran Azka. Kau cemburu Dhava dan Danisa mengadopsi Azka dan memberikan perhatian lebih pada Azka. Paman tidak menyangka efek dari ketidaksukaanmu pada Azka membuatmu tega membocorkan masalah ini!"
"Ingat Arga. Kalau sampai adikku Dhava kenapa-kenapa. Paman tidak akan memaafkanmu. Ingat itu!" ucap Adelard dengan penuh penekanan.
Tanpa mereka sadari. Di dalam ruang rawat, Dhava telah tersadar dari komanya dan mendengar semua apa yang mereka ucapkan.
"Azka! Azka Ahza Adhinatha, pu-traku!" lirih Dhava.