
Azka mengingat semua tentang awal mula dirinya berpisah dengan keluarga kandungnya. Dan penyebab perpisahan dirinya dengan anggota keluarganya adalah sang Bibi, perempuan yang begitu disayang dan dihormati oleh Azka.
"Aku benar-benar kecewa dan marah pada kalian semua. Aku benci kalian. Aku benci kalian."
"Hiks.. Hiks.. Hiks." Akhirnya tangis Azka pecah.
Tanpa Azka sadari, ada sepasang mata yang memperhatikannya. Orang itu merasakan kesedihan yang mendalam saat melihat kondisi Azka. Seseorang itu sudah menyadari kebodohannya karena telah memusuhi Azka selama ini.
"Azka. Maafkan Kakak. Maafkan kakak. Kakak berjanji mulai sekarang dan seterusnya kakak akan menjadi temanmu dan sekaligus kakakmu," kata orang itu tulus.
Setelah beberapa menit berada di halaman depan kampus, Azka pun memutuskan untuk masuk ke dalam menuju kelasnya.
Baru beberapa langkah, tiba-tiba ada suara seorang perempuan memanggilnya.
"Nayazka!"
^^^
[Lobi Kampus]
Para kelompok BRAINER sedang berada di lobi Kampus, termasuk Aryan, Alfan, Randy, Attala, Alman dan Pandy. Andrew, Harris, Diaz dan Zayan juga ada disana.
"Baru kemarin Azka sudah mulai dekat dengan kita. Sekarang Azka malah menjauh lagi," ucap Henry.
"Kita sudah susah payah merebut hatinya. Sekarang hatinya balik lagi kayak semula," ucap Dylan.
"Berarti butuh energi tambahan untuk merebut hati Azka lagi," sahut Azri.
"Plus kesabaran untuk mendapatkannya," sela Varo.
"Dan siapkan lagi mental dan telinga kita saat mendengar ucapan yang ketus dan dingin dari Azka," ujar Deva.
"Aish. Adikku tidak seperti itu juga kali," protes Aryan kesal.
"Aryan," panggil Diaz.
"Iya, kak!"
"Kakak tahu perasaanmu. Kamu yang sabar ya. Kakak yakin suatu saat nanti Azka pasti akan kembali padamu dan memanggilmu dengan panggilan sayangnya," ucap Diaz sembari menghibur Aryan.
"Iya, kak. Aku akan menunggu saat itu tiba," jawab Aryan semangat.
"Tapi aku minta satu hal darimu dan keluargamu." Kini Andrew yang berucap.
Aryan menatap wajah Andrew. "Apa itu kak?"
"Jika suatu saat nanti Azka sudah mau memaafkan kalian dan menerima kalian. Aku harap kamu dan keluarga besarmu tidak memaksakan Azka untuk kembali tinggal bersama kalian dan meninggalkan keluarga Adhinatha. Bagaimana pun keluarga Adhinatha yang telah merawat dan menjaga Azka sampai tumbuh menjadi pemuda yang tampan? Keluarga Adhinatha yang selalu ada di sampingnya, bukan keluarga Hanendra. Biarkan Azka yang menentukan dimana dia mau tinggal. Azka yang sekarang bukanlah Nayazka yang dulu. Dia adalah Azka Ahza Adhinatha. Dan aku yakin Azka pasti akan bisa bersikap adil pada kalian. Karena kalian adalah Keluarganya. Dan Azka sangat menyayangi keluarganya." Andrew berbicara sembari menatap wajah Aryan dan para sepupunya.
"Aku setuju apa yang dikatakan kakak Andrew. Azka memiliki dua keluarga sekarang ini. Keluarga kandung dan keluarga angkat. Azka pasti tidak akan bisa memilih salah satunya. Bagi Azka, keluarga adalah nomor satu dalam hidupnya. Jadi aku mohon kalian jangan memaksa Azka untuk kembali tinggal bersama kalian. Pikirkan juga kondisi Azka. Kesehatan Azka saat ini tidak bisa dikatakan baik-baik saja. Sedikit saja Azka tertekan dengan masalahnya, Azka akan langsung down. Seperti yang kita lihat saat kita menemukannya di kamar hotel. Azka tidak sadarkan diri dengan suhu tubuhnya yang panas." Harris berbicara sembari mengingat kondisi terakhir Azka ketika di kota Tangerang.
Mereka semua terdiam. Saat ini di dalam pikiran mereka adalah Azka.
"Aku mengerti. Aku tidak akan memaksa adikku untuk tinggal bersamaku dan keluarga kandungnya. Dengan aku memaksanya tinggal bersama keluarga kandungnya, itu sama saja aku menyakitinya. Karena seorang kakak tidak akan mau menyakiti adiknya. Justru sebaliknya. Seorang kakak akan selalu menjaganya, melindunginya dan membuatnya tersenyum." Aryan berucap dengan penuh ketulusan dan dewasa.
Mereka semua yang mendengar penuturan dari Aryan tersenyum bangga. Terutama Alfan, Randy, Attala, Alman, dan Pandy.
"Itu baru adiknya kakak," puji Alfan.
"Kakak bangga padamu," kata Randy.
Saat mereka sedang asyik membahas tentang kelinci kesayangan mereka. Tiba-tiba mereka dikejutkan suara-suara para mahasiswa dan mahasiswi sembari berlarian ke halaman depan kampus.
"Mereka kenapa?" tanya Pandy dan Leon bersamaan
"Hei, kalian. Kemarilah!" panggil Farrel.
Lalu dua mahasiswi itu pun menghampiri kelompok BRAINER. "Ada apa, kak?" tanya salah satu mahasiswi tersebut.
"Itu semua mahasiswa dan mahasiswi pada berlarian ke halaman depan Kampus. Memangnya apa yang terjadi?"
"Ach, itu kak. Informasi yang kami dengar. Ada seorang wanita paruh baya yang menghampiri Azka. Lalu tiba-tiba wanita itu langsung menjatuhkan dirinya dan bersimpuh tepat di hadapan Azka. Wanita itu juga menangis."
Sontak mereka semua terkejut mendengar penuturan dari salah satu mahasiswi tersebut. Randy dan Pandy memikirkan perkataan dari mahasiswi tersebut.
[Ada seorang wanita paruh baya yang menghampiri Azka. Lalu tiba-tiba wanita itu langsung menjatuhkan dirinya dan bersimpuh tepat di hadapan Azka. Wanita itu juga menangis]
"Mami!" sahut Randy dan Pandy bersamaan.
Melihat Randy dan Pandy berlari. Mereka semua pun menyusul keduanya.
^^^
Randy, Pandy, Alfan, Alman, Attala dan Aryan beserta kelompok BRAINER telah berada di halaman Kampus. Randy, Pandy, Alfan, Alman, Attala dan Aryan dapat melihat Ibu dan Bibi mereka yang saat ini telah bersimpuh di hadapan Azka. Begitu juga para mahasiswa dan mahasiswi lainnya.
"Apa yang anda lakukan, hah?! Jangan coba-coba untuk membuat namaku buruk di kampus ini. Berdiri dan pergilah dari sini!" teriak Azka.
"Nayazka, Bibi mohon. Untuk kali ini dengar Bibi. Setelah itu Bibi janji tidak akan mengganggumu lagi," ucap Adelia yang sudah menangis.
Azka hanya diam dan menatap tajam kearah Adelia.
"Bibi akui kalau Bibi salah. Dan kesalahan Bibi tidak akan bisa dimaafkan. Tapi Bibi melakukan itu semua karena terpaksa. Kau adalah Nayazka Sadana Hanendra. Kau adalah putra bungsu dari keluarga Hanendra. Kau adalah putra kandung dari Bagas Sadana Hanendra dan Karina Agnia Hanendra. Kau adalah adik kandung dari Farraz Sadana Hanendra, Kaivan Sadana Hanendra dan Aryan Sadana Hanendra. Bibi berbohong saat itu padamu. Bibi berbicara seperti itu padamu karena paksaan dari seseorang. Dan Bibi tidak punya pilihan lain saat itu." Adelina menangis ketika mengungkapkan kebenaran di hadapan Azka.
Flashback On
[BANANA TREE CAFE]
Mereka sekarang sudah di cafe. "Apa yang kau inginkan dariku, hah?!" bentak Adelia.
"Tenang. Jangan marah-marah seperti itu. Kau tidak mau cepat tuakan?" ucap perempuan itu santai.
"Aku tidak punya waktu. Sekarang katakan apa maumu?"
"Baiklah. Aku ingin kau membuat perempuan yang bernama Karina Agnia yang tidak lain adalah kakak iparmu sendiri kehilangan salah satu putranya," tutur perempuan itu.
"A-apa?!" teriak Adelia. "Kau gila," ucap Adelia marah.
"Terserah apa tanggapan tentangku. Yang aku mau kau harus melakukannya. Atau video itu akan aku sebarkan," ancam perempuan itu.
"Baiklah."
Perempuan itu tersenyum kemenangan. "Aku mau kau membawa pergi salah satu putranya. Bawa pergi sejauh-jauhnya dari kehidupan keluarganya." perintahnya sambil mengeluarkan sebuah foto di atas meja.
Adelia terkejut saat melihat foto keponakannya. "Na-nayazka!"
"Aku mau dia berpisah dengan keluarganya. Dan buat dia membenci keluarganya sendiri."
Adelia terdiam memandangi foto keponakannya. Dia bingung harus melakukan apa? Disatu sisi dia sangat amat menyayangi keponakannya. Disisi lain dia tidak mau perempuan gila yang ada di depannya ini menyebarkan videonya.
"Kenapa? Kau tidak mau melakukannya, hah?! Apa kau mau video itu tersebar dan suamimu beserta putra-putramu melihatnya," ucap perempuan itu dengan penuh ancaman.
"Baiklah! Akan aku lakukan! Tapi hanya setelah semuanya selesai. Aku mau kau menghapus video itu."
"Kau bisa pegang kata-kataku."
"Aku akan tunggu hasil kerjamu, Adelia!" seru perempuan itu lalu pergi meninggalkan Adelia sendirian.
"Maafkan Bibi, Nayazka!" batin Adelia.
Flashback Off
Mendengar cerita dari sang Bibi membuat Nayazka tampak syok. Air matanya yang sedari ditahan akhirnya meluncur dengan deras. Seketika tubuhnya limbung ke belakang. Seseorang datang dan langsung menahan tubuhnya
"Azka," ucap Arga.
"Mami."
Randy dan Pandy berlari kearah Adelia bersama Aryan, Alfan, Attala dan Alman serta para kelompok BRAINER. Begitu juga dengan Andrew, Harris, Diaz dan Zayan.
"Mami!" Randy dan Pandy langsung memeluk ibu mereka.
"Randy, Pandy. Maafkan Mami. Maafkan Mami."
"Tidak Mami. Mami tidak salah. Mami melakukan semua ini karena terpaksa. Kami tidak pernah membenci Mami," sahut Pandy.
"Kami menyayangimu, Mami!" ucap Randy.
Randy dan Pandy membantu ibunya untuk berdiri. Lalu kemudian Adelia menatap wajah tampan keponakannya yaitu Aryan. Tangannya mengelus lembut wajahnya.
"Maafkan Bibi, Aryan!. Maafkan Bibi," ucap Adelia dengan berurai air mata.
"Aku sudah maafin Bibi. Bagaimana pun Bibi adalah Bibi kesayanganku. Aku tidak akan bisa membenci Bibi," sahut Aryan. Hal itu sukses membuat Aryan dan para saudara sepupunya tersenyum hangat padanya.
Adelia kembali menatap keponakan manisnya. Keponakan kesayangannya yaitu Nayazka Sadana Hanendra.