Missing The Youngest

Missing The Youngest
BAB 18



Disisi lain Andrew, Diaz, Harris, Rayan, Aryan dan Kelima saudara sepupunya sudah berada di Daegu. Kini mereka telah sampai di lokasi dimana Azka berada.


"Apa kau yakin ini tempatnya, Drew?" tanya Diaz.


"Aku yakin. Arahnya sesuai di ponselku," jawab Andrew.


"Hei, lihat itu!" tunjuk Pandy.


Mereka semua melihat kearah tunjuk Pandy. "Bukankah itu nama hotel yang ada di ponselmu, kak Andrew," ucap Harris.


Mereka semua menatap ponsel Andrew dan benar, nama hotelnya sama. Tanpa pikir panjang lagi. Mereka semua pun menghampiri hotel tersebut


"Ayoo!" Ajak Andrew.


"Semoga kau ada di dalam, Azka!" batin Andrew, Harris, Diaz dan Zayan.


"Semoga kau tidak kabur lagi, Azka!" batin Aryan, Alfan, Randy, Attala, Alman dan Pandy.


^^^


Kini mereka telah berada di hotel. Dan mereka pun menghampiri meja resepsionis.


"Permisi," ucap Andrew.


"Ya. Ada yang bisa saya bantu, Tuan!" jawab wanita resepsionis itu.


"Kami datang kesini bertemu mencari seseorang," jawab Andrew.


"Seseorang itu adalah adik kami," sahut Aryan.


"Kami mendapatkan informasi kalau adik kami menginap di hotel ini," ucap Zayan.


"Ini foto adik kami," ucap Diaz dengan menunjukkan foto Azka pada wanita itu.


Saat wanita itu melihat foto Azka. Wanita itu pun langsung mengangguk. "Oh iya. Pemuda ini memang benar menginap disini. Dia menginap di salah satu kamar di hotel ini beberapa hari yang lalu. Bahkan pemuda itu memboking kamar hotel untuk satu minggu ke depan."


Mereka semua tersenyum bahagia mendengar penjelasan dari wanita itu. "Kalau kami boleh tahu. Adik kami itu berada di kamar berapa?" tanya Randy.


"Mari ikut saya. Saya akan mengantar kalian ke kamarnya. Dan ini kunci cadangannya," ucap wanita itu.


Kemudian wanita itu pun pergi menuju kamar Azka dan diikuti oleh Andrew dan yang lainnya di belakang.


"Ini kamarnya, Tuan!" ucap wanita itu.


"Terima kasih," balas mereka semua.


"Kalau begitu saya permisi." Lalu wanita itu pun pergi meninggalkan Andrew dan yang lainnya.


Andrew membuka pintu kamar Azka. Setelah pintu kamar tersebut terbuka. Mereka semua melangkah masuk. Dapat mereka lihat Azka yang sedang tertidur di tempat tidur dengan posisi membelakangi mereka semua.


Mereka pun menghampiri Azka. Aryan langsung naik ke atas tempat tidur. Kemudian Aryan berlahan membelai rambut Azka adik yang dia rindukan selama ini. Saat tangannya menyentuh kening Azka. Aryan seketika terkejut.


"Astaga! Badannya Azka panas sekali!" teriak Aryan.


Kemudian Aryan membalikkan tubuh Azka agar dirinya bisa melihat wajah sang adik. Hati Aryan benar-benar sakit dan sesak saat melihat wajah pucat Azka.


"Aka.. Hiks!" Aryan mengangkat kepala Azka dan meletakkannya di atas pahanya, lalu mencium keningnya. "Aka. Ini hyung. Kakak Ayan. Kenapa jadi begini, hum??


Alfan, Randy, Attala, Alman dan Pandy menghampiri Aryan. Mereka berusaha menghibur Aryan. "Yan. Lebih baik kita bawa Aka ke rumah sakit. Aka butuh perawatan," ucap Randy.


"Angkat Azka ke punggungku!" seru Alfan.


Andrew dibantu oleh Alman mengangkat tubuh Azka dan meletakkan di atas punggung Alfan. Setelah itu mereka pun pergi meninggalkan hotel tersebut menuju rumah sakit yang ada di Tangerang.


***


[RUMAH SAKIT]


Kini mereka semua sudah berada di rumah sakit. Mereka saat ini menunggu dengan wajah panik dan khawatir didepan pintu ruang UGD. Aryan yang sedari tadi tak henti-hentinya menangis.


"Yan. Berhentilah menangis. Jangan seperti ini. Aka akan baik-baik saja. Percayalah!" ucap Alfan sembari menghibur Aryan.


CKLEK!!


Terdengar suara pintu dibuka. Dan keluar seorang dokter.


"Bagaimana keadaan adik kami, Dok!" tanya Diaz.


"Untuk saat ini keadaan kesehatan adik kalian menurun dratis. Pola makan tidak teratur, banyak pikiran, tertekan dan kurang tidur. Saya sudah memberikan suntik penurun panas padanya. Saya mohon pada kalian. Kalau kalian benar-benar sayang dan peduli padanya, tolong pantau kondisi kesehatan adik kalian. Hindari adik kalian dari masalah!" Dokter itu berucap menjelaskan kondisi Azka.


"Pasti, Dokter. Kami akan melakukan apapun untuknya," jawab Andrew dan diangguki oleh yang lainnya.


"Oh iya! Kalau saya boleh tahu. Apa adik kalian sering mengalami sakit kepala?"


"Iya, Dokter. Adik kami memang sering mengalami sakit kepala. Untuk masalah itu sudah diketahui oleh pihak keluarga. Dan adik kami juga sudah ditangani dan diperiksa oleh Dokter pribadi keluarga kami," jawab Andrew.


"Syukurlah kalau begitu. Kalian boleh melihatnya saat setelah kami membawanya keruang rawatnya. Kalau begitu saya permisi dulu.." Ucap Dokter tersebut


"Terima kasih Dokter.." Ucap mereka bersamaan


______


[Ruang Rawat]


Mereka semua sudah diruang rawat Azka. Mereka menangis saat melihat kondisi Azka saat ini. Tangan kirinya yang tertancap infus. Hidungnya yang terpasang selang Canula.


"Aka sayang. Ini kakak Ayan," lirih Aryan sembari membelai lembut rambut Azka dan mencium keningnya.


"Azka. Kenapa jadi begini? Kenapa kau menyiksa dirimu seperti ini? Apa ini hukuman untuk kami karena kami telah meninggalkanmu dulu?" tanya Andrew sambil tangannya mengelus-elus lembut tapak tangan Azka yang tertancap infus.


"Maafkan kakak. Maafkan kakak yang telah pergi meninggalkanmu disaat kau membutuhkan kakak. Kini kakak kembali untukmu. Dan kakak tidak akan pernah meninggalkanmu lagi."


Sedangkan yang lainnya secara bergantian memberikan ciuman sayang di seluruh wajah tampan Azka. Mulai kening Azka, kedua pipi Azka dagu Azka dan hidung mancung Azka sembari mengumandangkan kata 'maaf' dari bibir mereka.


"Kami menyayangimu Azka," batin Andrew, Harris, Diaz dan Zayan.


"Kami menyayangimu, Aka!" batin Aryan, Alfan, Randy, Attala, Alman dan Pandy.


***


[PLADYS HOSPITAL]


[Ruang Rawat Dhava]


Dhava masih dirawat di rumah sakit. Anggota keluarganya masih setia menemaninya, terutama kakak tertuanya yaitu Adelard.


Saat ini mereka sangat bahagia, Dhava sudah membuka kedua matanya. Tapi kebahagiaan itu tidak sepenuhnya mereka rasakan, dikarenakan rasa takut yang masih menggerogoti pikiran mereka. Mereka takut hal yang buruk akan dialami oleh Dhava. Karena pasalnya, putra kesayangannya tidak berada di sampingnya.


"ka-kakak Adelard," panggil Dhava.


"Ada apa, Dhava? Apa kau haus? Apa ada yang sakit, hum?" tanya Adelard pada adiknya.


"Azka. Putraku Azka, kemana? Kenapa putraku tidak ada disini?"


DEG!!


Mereka semua terkejut atas ucapan Dhava. Mereka benar-benar bingung harus menjawab apa.


Dikarenakan tidak mendapatkan jawaban dari sang kakak. Dhava mengalihkan pandangannya menatap Hanna, orang yang dipercayai oleh istrinya Danisa untuk menjaga dan merawat Azka.


"Hanna!"


"Ya-ya, Tuan!"


"Putraku mana? Tolong suruh putraku datang kesini. Aku ingin bertemu dengannya dan membicarakan sesuatu padanya."


Bibi Hanna tidak bisa menjawab pertanyaan dari majikannya itu. Kepalanya menunduk. Bibi Hanna sudah menangis. "Hiks.. maafkan saya, tuan.. maafkan saya."


"Ada apa, Hanna? Ke-napa kau menangis dan kenapa kau meminta maaf pada-ku?"


Hanna mengangkat kepalanya dan memberanikan diri untuk melihat wajah majikannya itu. "Tuan muda Azka per... per...." Ucapan Hanna terhenti.


"Pergi..." jawab Dhava. "Pu-traku Azka pergi. Itukan yang kau maksud, Hanna?"


DEG!!


Mereka semua terkejut mendengar ucapan Dhava.


"Dhava," panggil Adelard.


"Ka-kakak. Aku sudah tahu kalau putraku pergi. Putraku pergi meninggalkan keluarga Adhinatha. Putraku pergi meninggalkanku," lirih Dhava.


"Dhava." Adelard memeluk tubuh adiknya itu.


"Aku ingin putraku kembali, kak! Suruh putraku kembali. Dan bawa dia kemari."


"Kakak.. Hiks.. kakak Dhava jangan khawatir, oke! Andrew, Diaz, Harris, Rayan dan teman-temannya Azka saat ini sedang berusaha untuk


membawa Azka pulang. Mereka berada di Tangerang sekarang."


Dhava melihat kearah keponakannya yaitu Lee Mark. "Arga," panggil Dhava.


Arga yang merasa dipanggil pun menolehkan wajahnya melihat kearah sang Paman. "Ya, Paman!"


"Kemarilah!" dan Arga pun menghampiri sang Paman.


Dhava menggenggam tangan Arga. "Sebelumnya, Paman ingin meminta maaf padamu."


Arga mengerutkan keningnya tidak mengerti atas ucapan Pamannya itu. "Kenapa Paman meminta maaf padaku? Memangnya Paman salah apa padaku? Setahuku Paman tidak pernah melakukan kesalahan apapun padaku."


"Apa kau yakin jika paman tidak pernah melakukan kesalahan padamu..??" Dong Wook tersenyum melihat wajah bingung keponakannya itu


"Aku yakin. Paman tidak punya kesalahan apapun padaku."


"Bagaimana kalau ternyata kesalahan Paman itu adalah saat Paman membawa Azka ke dalam keluarga Adhinatha. Dan menjadikan Azka putra Paman dan Bibimu?"


DEG!!


Arga terkejut saat mendengar penuturan dari sang Paman. Dan Arga pun langsung menundukkan kepalanya. Dirinya tidak berani menatap wajah pamannya itu.


Dhava makin mempererat genggaman tangannya pada tangan Arga. "Paman tahu apa yang sudah terjadi antara dirimu dan Azka. Paman juga tahu selama ini kau cemburu dengan Azka. Selama ini Paman juga tahu kau tidak menyukai kehadirannya. Tapi Paman mengerti akan hal itu. Dan Paman sama sekali tidak marah padamu," ucap Dhava. "Arga," panggil Dhava.


Arga mengangkat wajahnya dan menatap wajah pamannya itu. "Ma-maaf."


"Sekarang jawab pertanyaan Paman. Apa selama ini Paman pernah melupakanmu? Apa selama ini Paman pernah acuh dan mengabaikanmu? Apa selama ini Paman tidak peduli denganmu?"


"Hiks.. maafkan aku Paman. Maafkan aku. Tidak.. Paman tidak pernah melakukan semua itu. Justru.. Justru Paman selalu ada untukku, walau sudah ada Azka di samping Paman," jawab Arga terisak. Baik Dhava mau pun anggota keluarga lainnya tersenyum mendengar jawaban dari Arga.


"Apa Paman boleh meminta satu hal darimu, Arga?"


"Silahkan, Paman. Paman Dhava mau meminta apa dariku?"


"Berdamailah dengan Azka, putra Paman. Bagaimana pun Azka sudah menjadi putra Paman. Dan Azka sudah menjadi bagian anggota keluarga Adhinatha. Selamanya!"


"Baiklah, Paman. Aku.. aku akan berusaha berdamai dengan Azka"


"Terima kasih sayang." Dhava tersenyum. "Sebenarnya kau itu anak yang baik. Hanya karena kecemburuanmu pada Azka membuatmu menjadi seperti ini. Paman menyayangimu," ucap Dhava.