
Di kediaman keluarga Madhava saat ini tampak hening. Hanya beberapa pelayan sedang sibuk dengan kegiatannya masing-masing termasuk Bibi Hana. Saat ini Bibi Hana tengah menyiapkan sarapan pagi untuk majikannya.
"Apa kau sudah mendapatkan kabar dari putraku, Hana?" tanya Dava yang tiba-tiba datang bersama dengan seorang wanita cantik dan seorang pemuda tampan.
Hana yang mendengar suara dan juga pertanyaan dari majikannya itu langsung menghentikan kegiatannya sejenak.
"Belum, Tuan. Ponsel tuan muda Azka masih belum aktif," jawab Hana.
"Coba kau hubungi lagi putraku itu. Siapa tahu kali ini ponselnya sudah aktif," pinta Dava sembari menundukkan pantatnya di kursi dan diikuti oleh wanita dan pemuda itu.
Sementara wanita dan pemuda itu menatap tak suka Dava ketika menyebut Azka.
"Baik, Tuan!"
Setelah mengatakan itu, Hana pun langsung mengambil ponselnya dan menghubungi majikan kesayangannya itu. Jujur, Hana sangat merindukan majikan mudanya itu. Sudah dua hari majikannya itu tidak ada kabar.
Terakhir Hana mendapatkan kabar dari Andrew bahwa Azka sedang berada di kota Tangerang dengan beberapa mahasiswa dan mahasiswi lainnya. Andrew mengatakan bahwa kampusnya Azka sedang menyelenggarakan sebuah acara disana.
Mendapatkan kabar tersebut, Hana antara percaya dan juga tidak. Hana sangat tahu bagaimana sifat dan tipikal tuan mudanya. Selama ini tuan mudanya selalu memberi kabar padanya dan selalu meminta izin padanya. Namun kali ini dan untuk pertama kalinya, tuan mudanya sama sekali tidak bicara apapun kepadanya.
***
Di kediaman keluarga Hanendra tampak ramai dimana seluruh anggota keluarga tengah berkumpul. Baik keluarga dari pihak Karina maupun keluarga dari pihak Bagas. Saat ini mereka semua sudah berada di meja makan, termasuk Azka.
Bagas, Karina ketiga anak-anaknya dan anggota keluarga lainnya begitu sangat bahagia, karena mereka sarapan pagi bersama dengan kesayangannya.
"Makan yang banyak ya sayang," ucap Karina kepada putra bungsunya sembari memasukkan beberapa potong nugget dan satu potong ayam goreng ke dalam piring putra bungsunya.
Azka melihat ke arah ibunya dengan sedikit tersenyum. Mereka yang melihat senyuman itu sebisa mungkin untuk tersenyum. Mereka semua tahu senyuman yang mereka lihat saat ini adalah senyuman palsu. Mereka juga tahu bahwa kesayangannya tengah bersedih.
Aryan yang duduk di samping adiknya langsung mengangkat tangannya, lalu mengusap-ngusap lembut kepala belakang adiknya dengan penuh sayang.
Merasakan sentuhan di kepalanya. Azka mengalihkan perhatiannya menatap Aryan yang duduk di sampingnya.
"Kakak menyayangi kamu," ucap Aryan. Azka membalas dengan senyumannya.
Setelah itu, mereka pun memulai menikmati sarapan paginya dengan penuh kebahagiaan.
Ketika mereka tengah menikmati sarapan paginya, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara dering ponsel. Dering ponsel itu adalah milik Azka.
Azka yang mendengar ponselnya berdering. Seketika menghentikan sarapannya dan kemudian mengambil ponselnya yang ada di saku celananya.
Sementara anggota keluarganya hanya menyaksikan sembari mendengar apa yang akan dibicarakan oleh Azka dengan si penelpon itu.
Azka seketika diam membeku di tempat dengan tatapan matanya menatap ke arah layar ponselnya.
Dan detik kemudian...
TES..
Setetes air mata Azka jatuh membasahi wajah tampannya.
Melihat Azka yang tiba-tiba menangis membuat Bagas, Karina, Farraz, Kaivan, Aryan dan anggota keluarga lainnya menatap Azka khawatir.
"Kenapa Azka menangis?"
"Apa terjadi sesuatu?"
"Apa orang itu lagi yang menghubungi Azka?"
Itulah kata-kata yang mereka ucapkan di dalam hati mereka masing-masing. Mereka semua benar-benar akan kesehatan Azka. Mereka tidak ingin Azka jatuh sakit lagi.
"Bibi Ha-hana," ucap Azka lirih dan pelan.
Mendengar Azka menyebut nama Hana membuat mereka langsung paham dan mengerti. Mereka sangat mengerti bagaimana sayangnya Azka terhadap Hana. Begitu juga Hana terhadap Azka. Hana ikut andil dalam menjaga Azka dari kecil.
Dengan tubuh yang bergetar, Azka memberanikan dirinya untuk menjawab panggilan dari orang yang telah menjaganya sejak kecil.
Sementara Kaivan dan Aryan yang masing-masing duduk di samping kiri dan kanan mengusap lembut punggung dan kepala belakangnya.
"Ha-hallo BiBi Hana."
Terdengar helaan nafas lega dari seberang telepon. "Syukurlah. Akhirnya tuan muda menjawab panggilan dari Bibi. Tuan muda ada dimana? Kapan tuan muda kembali dari Tangerang! Tuan muda Andrew mengatakan pada Bibi bahwa tuan muda saat ini berada di kota Tangerang sedang acara kampus. Apa itu benar tuan muda?"
Air mata Azka makin deras mengalir membasahi wajah tampaknya ketika mendengar ucapan dari Hana.
Akza memang meminta kepada Andrew, Harris, Diaz, Zayan dan Arga untuk berbohong kepada anggota keluarga Adhinatha tentang keberadaannya saat ini. Maka dari itulah kenapa Andrew mengatakan bahwa dirinya saat ini berada di kota Tangerang.
"Iya, Bi. Aku memang saat ini berada di kota Tangerang. Ada acara besar disini. Acara tahunan kampus milik Mommy." Azka menjawab pertanyaan dari Bibi Hana dengan air mata yang terus mengalir.
Mereka yang melihat keadaan Azka saat ini merasakan sesak dan sakit di hati masing-masing, terutama Bagas, Karina, Farraz, Kaivan dan Aryan.
Aryan mengusap-ngusap punggung adiknya. Hatinya benar-benar hancur ketika melihat adiknya menangis. Apalagi ketika mendengar jawaban yang keluar dari mulut adiknya itu.
"Kapan tuan muda kembali? Tuan Dava sangat merindukan tuan muda."
"Belum tahu Bi kapan pulangnya. Disini aku dan mahasiswa mahasisiwi lainnya sangat-sangat sibuk sekali. Bagaimana keadaan Daddy?"
Mendengar ucapan dari Hana membuat tubuh Azka seketika menegang. Jujur, Azka belum siap mendengar kabar yang akan disampaikan oleh Hana kepadanya. Walau dirinya tahu kabar apa yang akan disampaikan oleh Hana, Bibi kesayangannya itu.
"Kabar apa Bi apa?"
"Begini tuan muda. Nyonya Danisa sudah kembali. Nyonya kembali dengan seorang pemuda. Menurut pengakuan Nyonya bahwa pemuda itu yang telah menyelamatkan nyawa Nyonya dan telah merawat Nyonya beberapa bulan ini."
DEG..
Azka terkejut mendengar jawaban dari Bibi Hana yang mengatakan bahwa ibunya telah kembali.
"Turuti perintahku, maka aku akan tepati janjiku dengan membawa kembali ibumu ke keluarga Adhinatha."
"Bagaimana Mommy, Bi?"
Mendengar pertanyaan dari Azka membuat seluruh anggota keluarganya terkejut. Mereka semua menatap Azka.
"Bibi Danisa sudah kembali," batin Aryan.
"Jadi Bibi Danisa sudah kembali," batin Alfan.
"Si penelpon itu benar-benar melakukan apa yang sudah direncanakannya," batin Randy.
"Kasihan Azka. Pasti hatinya benar-benar hancur saat ini karena tidak bisa bertemu dengan ibunya, karena ancaman bajingan itu." Pandy berucap dalam hatinya dengan matanya menatap sedih adik sepupunya.
"Nyonya dalam keadaan baik-baik saja, tuan muda. Makanya segera selesaikan urusan tuan muda di Tangerang agar tuan muda bisa kembali dan bertemu dengan Nyonya."
"Aku tidak akan pernah kembali lagi ke rumah keluarga Adhinatha, Bi!" Azka membatin.
"Iya, Bi! Aku dan yang lainnya akan segera menyelesaikan urusan kami di Tangerang agar bisa kembali ke Jakarta. Aku sudah sangat merindukan Mommy."
Mendengar jawaban dari majikan mudanya, Hana tersenyum. Dirinya juga tidak sabaran untuk melihat bagaimana reaksi majikan mudanya itu ketika melihat sosok ibunya yang beberapa bulan ini di rindukan.
"Oh iya! Apa tuan muda Arga, tuan muda Aryan dan tuan muda lainnya ikut bersama tuan muda ke Tangerang?"
"Kakak Arga tidak ikut, Bi. Hanya kak Ayab dan kakak-kakak yang lainnya saja yang ikut."
"Oh begitu. Boleh Bibi bicara dengan salah satu kakak-kakaknya tuan muda?"
"Baiklah. Bibi bicaralah dengan kak Ayan."
Setelah itu, Azka langsung memberikan ponselnya kepada Aryan.
Aryan menerima ponsel adiknya dan langsung berbicara dengan Bibi Hana.
Sementara Azka, seketika tangis Azka pecah. Azka tidak bisa lagi menahan kesedihannya. Hatinya benar-benar hancur saat ini. Hancur karena tidak bisa menyambut kepulangan ibunya.
"Hiks... Hiks... Hiks," isak tangis Azka.
GREP..
Farraz berdiri dari duduknya, lalu langsung memeluk tubuh adiknya dari belakang. Hati Farraz benar-benar sakit melihat keadaan adiknya saat ini.
Mendapatkan pelukan dari kakak tertuanya membuat tangis Azka makin keras.
Mendengar tangis Azka yang makin keras membuat Bagas, Karina, Kaivan, Aryan yang sudah selesai berbicara dengan Hana dan anggota keluarga lainnya juga ikut menangis.
"Kakak... Hiks... Kakak... Kakak."
Farraz memeluk tubuh adiknya erat. Hatinya sakit mendengar ucapan dan isakan dari adiknya itu.
Karina berdiri dari duduknya, lalu melangkah mendekati putra sulung dan putra bungsunya. Karina sudah tidak tahan melihat keadaan putra bungsunya.
Ketika sudah berada di dekat putra sulung dan putra bungsunya. Karina mengambil alih tubuh putra bungsunya itu. Karina memeluk erat tubuh putra bungsunya dan tak lupa memberikan kecupan-kecupan sayang di pucuk kepala putra bungsunya.
"Mami... Mami... Hiks... Aku merindukan Mommy... Hiks. Aku juga merindukan Daddy... Hiks," isak Azka di pelukan ibu kandungnya.
Air mata Karina jatuh membasahi wajah cantiknya ketika mendengar rentetan kerinduan putra bungsunya terhadap kedua orang tua angkatnya. Hatinya benar-benar sakit saat ini.
Karina melepaskan pelukannya, lalu tangannya mengusap wajah dan menghapus air mata yang membasahi wajah tampan putra bungsunya. Setelah itu, Karina memberikan kecupan sayang di kening mulusnya itu.
"Ada Mami disini. Mami tidak akan pergi kemana-mana. Mami menyayangimu."
"Hiks... Aku menyayangi Mami."
Karina tersenyum mendengar jawaban dari putra bungsunya, lalu Karina kembali memberikan kecupan di kening putra bungsunya itu.
"Papi juga menyayangimu, sayang!" seru Bagas tersenyum tulus menatap putra bungsunya.
Mendengar seruan dari ayahnya. Azka langsung melihat ke arah ayahnya itu. Dapat dilihat oleh Azka bahwa ayahnya tengah tersenyum ke arah dirinya.
"Aku juga menyayangi Papi. Dan aku juga menyayangi kakak. Tapi hanya kakak kandungku saja."
Setelah mengatakan itu, Azka kembali memeluk ibunya. Dirinya tidak peduli dengan para kakak-kakak sepupunya yang kini tengah memberikan tatapan horor kepadanya, karena mendengar ucapannya.
Sementara Bagas, Karina, Farraz, Kaivan dan Aryan serta Paman dan Bibinya tersenyum melihat sifat manja Azka kepada ibunya dan ucapan kejam Azka untuk para kakak sepupunya.