Missing The Youngest

Missing The Youngest
Isak Tangis Azka



Azka saat ini berada di kampus. Dirinya tengah duduk sendirian di sebuah sofa yang tersedia di lobi depan kampus.


Azka tengah memikirkan kedua orang tua angkatnya, terutama ibunya. Azka sudah sangat merindukan ibunya itu.


Ketika Azka sedang sendirian dan sedang memikirkan kedua orang tua angkatnya, Aryan dan yang lainnya datang menghampirinya.


Baik Aryan maupun sahabat-sahabatnya yang lain sedari tadi memperhatikan Azka. Mereka semua menatap sedih Azka yang saat ini, terutama Aryan.


Kini mereka semua sudah duduk di sofa. Dan tatapan mata mereka menatap wajah senduh Azka.


Arga berpindah duduk di samping Azka. Dan detik kemudian, Arga mengusap lembut bahu Azka sehingga membuat Azka terkejut.


Azka melihat ke samping. Dan dapat dilihat olehnya kakak sepupunya tengah menatap dirinya.


"Kakak Arha," ucap Azka.


Arga tersenyum ketika mendengar ucapan dari Azka. Begitu juga dengan yang lainnya.


"Ada apa, hum? Mau cerita?" tanya Azka.


Seketika air mata Azka jatuh membasahi wajah tampannya.


Melihat Azka yang tiba-tiba menangis membuat mereka juga ikut menangis.


Grep..


Arga menarik tubuh Azka dan membawanya ke dalam pelukannya. Dan seketika tangis Azka pun pecah.


"Hiks... kakak... kakak Arga. Aku merindukan Daddy dan Mommy. Aku merindukan mereka... Hiks," isak tangis Azka di pelukan Arga.


Mendengar isak tangis Azka dan juga kerinduan Azka terhadap kedua orang tua angkatnya membuat hati Arga sesak. Begitu juga dengan yang lainnya, terutama Aryan dan para sepupunya.


Flashback On.


Arga saat ini dalam perjalanan menuju ke kediaman Dava. Sebelum pergi ke kampus, Arga menyempatkan dirinya untuk berkunjung ke kediaman Paman dan Bibi kesayangannya itu.


Sejak kepulangan bibinya itu. Ini adalah hari kedua Arga untuk bertemu dengan Bibinya itu.


Setelah menempuh perjalanan selama satu setengah jam. Arga akhirnya tiba di depan gerbang rumah Paman dan Bibinya.


Seseorang membukakan pintu gerbang untuknya. Melihat pintu gerbang dibuka, Arga membawa mobilnya masuk ke perkarangan rumah Paman dan Bibinya.


Arga keluar dari dalam mobil. Setelah itu, Arga langsung melangkah masuk ke dalam rumah.


Setiba di dalam rumah, Arga melihat sang Bibi tengah tertawa bahagia bersama pemuda yang telah menolongnya. Arga menatap sedih pemandangan itu.


"Bibi Danisa kelihatan bahagia bersama pemuda itu. Bahkan Bibi Danisa sama sekali tidak ingat dengan Azka, putra kesayangannya. Bahkan cara Bibi Danisa memperlakukan pemuda itu seperti memperlakukan putranya sendiri." Arga berucap di dalam hatinya sembari matanya terus menatap keduanya.


Setelah beberapa detik memperhatikan sang Bibi dan pemuda tersebut, Arga pun menghampiri keduanya.


"Bibi Danisa," panggil Arga.


Baik perempuan yang bernama Danisa maupun pemuda itu sama-sama melihat kearah Arga.


"Siapa kamu? Ngapain kamu datang ke rumah saya?" tanya perempuan yang bernama Danisa.


Deg..


Arga terkejut ketika mendengar perkataan dari sang Bibi. Dirinya tidak menyangka jika Bibinya akan berbicara seperti padanya.


"Bibi Danisa Ini aku Arga, keponakan Bibi."


"Saya nggak kenal kamu. Lebih baik kamu pergi dari sini. Saya nggak butuh siapa pun selain putra saya dan suami saya."


"Putra?" tanya Arga berpura-pura tidak tahu maksud dari perkataan bibinya.


"Iya, putra. Ini putra saya Hendru. Hendru Adhinatha!"


"Apa Bibi tidak salah bicara? Putra Bibi Danisa itu adalah Azka Ahza Adhinatha. Bukan Hendru Adhinatha," sahut Arga.


"Jangan asal bicara kamu. Saya tidak memiliki putra bernama Azka Ahza Adhinatha. Nama putra saya itu adalah Hendru Adhinatha!" teriak Danisa.


Mendengar perkataan dan teriakan dari sang Bibi membuat Arga terkejut. Dan seketika tubuhnya terhuyung ke belakang.


Bagi Arga, ini adalah pertama kalinya sang Bibi membentaknya dan juga berteriak di depannya. Dan ini juga pertama kalinya sang Bibi berbicara seperti ini. Sebelumnya sang Bibi selalu berkata lembut.


Flashback Off


Mengingat kejadian tersebut membuat hati Arga sakit. Seketika air matanya mengalir begitu deras membasahi wajahnya.


Sedangkan Aryan dan yang lainnya yang melihat Arga memeluk Azka seketika terkejut melihat Arga yang menangis.


Arga melepaskan pelukannya dan kemudian matanya menatap wajah basah Azka.


"Azka," panggil Arga.


Azka langsung melihat kearah Arga. Dapat Azka lihat bahwa Arga juga tengah menangis.


"Ada apa, kak Arga?" tanya Azka.


"Jika kakak katakan sesuatu tentang Bibi Danisa, Mommy kamu. Apa kamu bakal percaya?" tanya Arga.


"Kenapa kakak bertanya seperti itu?" tanya Azka.


Arga memegang kedua bahu Azka dan sedikit merematnya.


Azka yang merasakan rematan di bahunya langsung melihat wajah Arga.


"Ada apa, kak Arga?"


"Lebih baik kamu tidak usah bertemu dengan Mommy kamu dulu," ucap Arga.


Seketika Azka membelalakkan kedua matanya ketika mendengar perkataan dari Arga. Begitu juga dengan yang lainnya.


"Arga!" teriak Aryan dan yang lainnya bersamaan.


Azka menatap Arga intens. "Kenapa kakak Arga bicara seperti itu?" seketika air mata Azka kembali jatuh.


"Dengarkan kakak, Azka! Kakak tidak bermaksud untuk menyakiti kamu dengan melarang kamu bertemu dengan Mommy kamu. Kakak.... Kakak melakukan ini juga karena kakak tidak ingin kamu terluka!"


"Maksud kakak, apa?"


"Kamu mungkin nggak percaya. Tapi ini adalah kenyataannya. Bibi Danisa yang sekarang bukanlah Bibi Danisa yang dulu. Cara berbicara dan sikapnya berubah. Dulu Bibi Danisa tidak pernah membentak. Bibi Danisa selalu bersikap lembut. Tapi sekarang...."


Arga seketika menghentikan perkataannya. Dan lagi-lagi, air matanya mengalir membasahi wajahnya.


"Bibi Danisa yang sekarang berubah jadi kasar."


Mendengar perkataan dari Arga membuat Azka terkejut dan juga syok. Begitu juga dengan yang lainnya. Mereka semua tidak menyangka jika perempuan yang disayangi oleh Azka berubah menjadi kasar.


"Arga," panggil Andrew.


Arga melihat kearah Andrew. "Iya, Drew!"


"Apa itu benar? Kamu lagi nggak bohongkan, Arga?"


"Apa di mataku terlihat aku tengah berbohong? Aku yang mengalaminya sendiri, Drew! Sebelum aku berangkat ke kampus. Aku menyempatkan diri untuk mampir ke rumah Bibi Danisa dan Paman Dava."


"Saat aku tiba disana, aku disambut dengan pemandangan yang benar-benar membuatku sesak. Bibi Danisa tertawa tanpa beban bersama pemuda yang telah menolongnya itu. Bahkan Bibi Danisa mengusirku ketika aku kesana. Dan Bibi Danisa...."


Arga menatap wajah Azka dengan air matanya mengalir membasahi wajahnya. "Bibi Danisa melupakanmu. Bibi Danisa tidak menganggapmu putranya lagi. Bahkan Bibi Danisa menganggap pemuda itu sebagai putranya satu-satunya."


Arga berbicara dengan suara bergetarnya. Matanya menatap wajah Azka dengan air matanya masih mengalir.


"Hiks... Hiks... Mommy... Mommy... Hiks," isak Azka ketika mendengar perkataan dari Arga.


Grep..


Arga kembali memeluk tubuh Azka. Kali ini pelukannya begitu erat. Baik Azka maupun Arga, keduanya sama-sama terluka akan sikap dan perubahan dari perempuan yang begitu mereka sayangi dan hormati.


"Azka," panggil seorang mahasiswa.


Mendengar suara seseorang yang memanggil Azka. Semua yang ada di lobi itu melihat ke asal suara tersebut, termasuk Azka dan Arga.


Azka menghapus air matanya, lalu bertanya kepada mahasiswa itu.


"Iya, Ada apa?"


"Kamu dipanggil Rektor ke ruangannya."


"Sekarang?"


"Iya, Azka! Kata Rektor ada hal yang sangat penting. Bahkan di ruangan Rektor itu ada nyonya Danisa, Mommy kamu."


Deg..


Baik Azka, Arga, Aryan, Alfan, Randy, Attala, Alman, Pandy, Andrew, Harris, Diaz, Zayan dan para sahabat-sahabatnya terkejut ketika mendengar bahwa ibunya Azka ada di ruangan Rektor.