
Aryan, Randy, Pandy, Alfan, Alman dan Attala beserta teman-temannya sedang berjalan memasuki halaman kampus. Seluruh mahasiswa dan mahasiswi menatap kagum kearah mereka semua.
"Hei, lihatlah. Mereka semua tampan-tampan ya."
"Iih. Aku iri sama cewek yang bakal jadi pacar mereka."
"Kalau mereka menyatakan cinta padaku, aku langsung menerimanya."
"Wajah mereka benar-benar tampan."
"Ada satu dari mereka yang lebih tampan. Bukan tampan saja, melainkan wajah imut nya itu loh."
"Siapa?"
"Siapa lagi kalau bukan Azka Ahza Adhinatha. Sudah tampan, baik, manis, cantik, imut dan menggemaskan lagi."
"Iya, benar itu. Tapi dimana Azka sekarang ya? Kenapa tidak bersama mereka?"
"Apa kalian tidak tahu?"
"Orang tuanya Azka kan habis kecelakaan. Ayahnya koma dan Ibunya hilang saat kecelakaan itu."
"Apa?"
"Yang benar?"
"Iya, benar."
"Dan aku dapat informasi baru. Kalau ternyata Azka itu putra pemilik kampus ini. Lebih tepatnya putra tunggal dari Nyonya Danisa Aurelia Mahendra."
"Haaaaaaaa."
"Selama ini Azka meminta pada Rektor, Dekan dan Dosen untuk merahasiakannya dari kita semua. Jadi tidak ada yang tahu siapa Azka sebenarnya?"
"Jadi tolong, kalian jangan sebarkan berita ini. Bisa-bisa Azka akan marah pada Rektor dan ujung-ujung beribas kekita. Cukup kita saja yang tahu."
"Baiklah."
^^^
"Aish. Apa mereka tidak punya kerjaan lain ya selain ngomongin orang?" tanya Aryan.
"Hobi sekali bergosip," ucap Pandy.
"Apa itu tujuan mereka datang ke Kampus?" ujar Attala.
"Ya, sudahlah! Ngapain juga dipikirkan. Mereka seperti itu karena melihat kita," sela Azri.
"Selama ucapan-ucapan mereka masih baik-baik saja. Biarkan saja," sahut Varo.
"Oh ya. Apa kalian mendengar salah satu mahasiswi itu mengatakan sesuatu?" tanya Alman.
"Iya. Aku dengar. Salah satu mahasiswi itu mengatakan bahwa Azka adalah putra dari pemilik Kampus ini," jawab Fahri.
Ngomong-ngomong bicara soal Azka. Kita sedari tadi tidak melihat Azka. Apa Azka masuk Kuliah hari ini?!" tanya Randy.
"Aku rasa Azka tidak masuk hari ini. Pasti Azka saat ini ada di rumah sakit," ucap Aarav
"Kasihan Azka," ucap Farrel.
"Kalau aku jadi Azka dan berada di posisinya, belum tentu bisa sekuat dirinya," kata Leon.
"Nanti sepulang dari Kampus kita ke rumah sakit. Kalau perlu kita bergantian nginap di rumah sakit menemani Azka," usul Luis.
"Ide bagus itu," jawab mereka bersamaan.
Saat mereka sedang memikirkan Azka. Henry melihat sosok yang sedang mereka bicarakan.
"Hei, lihatlah disana!" seru Henry sembari menunjuk kearah Azka yang tengah duduk sendiri.
Mereka semua pun mengalihkan pandangan melihat kearah jari telunjuk Henry.
"Azka," ucap mereka bersamaan.
Tanpa pikir panjang lagi. Mereka semua menghampiri Azka yang tengah duduk sendirian di lobi utama.
^^^
[Lobi Depan Kampus]
Mereka semua sudah berada didekat Azka. Sedangkan Azka belum menyadari kehadiran mereka. Azka sedang menyenderkan punggung dan kepalanya nya di sofa dan memejamkan matanya sejenak. Lalu terdengar suara yang memanggil namanya.
"Azka," sapa Alfan yang kini sudah duduk di samping kiri Azka dan Aryan di samping kanan Azka.
Azka berlahan membuka kedua matanya dan mengangkat kepalanya lalu memandangi satu persatu wajah tampan teman-teman barunya itu.
"Kalian. Maaf aku tidak menyadari kedatangan kalian," lirih Azka.
"Tidak apa-apa, Azka! Kami mengerti kok," jawab Farrel.
"Apa ada yang sakit, hum?" tanya Alfan.
Azka menggelengkan kepalanya. Lalu tersenyum. Dia tidak mau sisi lemah diketahui oleh orang lain. Mereka yang melihat senyuman manis itu merasa gemas. Kalau saja saat ini Azka dalam keadaan baik-baik saja, tuh pipinya sudah jadi bahan bully mereka semua.
"Tapi kenapa wajahmu pucat, Azka?" tanya Aryan.
"Mungkin aku sedikit lelah karena kurang tidur," jawab Azka.
"Kau harus banyak istirahat. Bagaimana pun kau harus jaga kesehatanmu," nasehat Varo kepada Azka.
"Iya. Kami mengerti. Tapi bagaimana pun kau harus menjaga kesehatanmu dan jangan sampai jatuh sakit? Kalau kau sampai sakit, otomatis kau tidak bisa menjaga Daddy mu." Alman berucap dengan menatap iba waja Azka.
"Kau harus tetap kuat dan semangat. Kami disini ada untukmu," kata Aarav.
^^^
[Halaman Kampus]
Ada empat pemuda tampan yang sedang melangkahkan kaki menyelusuri halaman kampus. Mereka adalah Andrew Barnaby, Harris Barnaby dan Diaz Robert, Zayan Robert.
Mereka sengaja pulang hanya untuk bertemu dengan Azka adik kesayangan mereka. Dan mereka akan kuliah di Kampus yang sama dengan Azka.
Ya! Mereka memutuskan untuk pindah kuliah demi adik kesayangan mereka seimut Azka. Mereka kembali ke Jakarta kemarin dan sengaja tidak langsung menghampiri adik kesayangan mereka. Biar jadi kejutan untuk Azka kata mereka.
Mereka terus melangkahkan kaki mereka menyelusuri setiap sudut Kampus dan berakhir kaki mereka di lobi utama Kampus. Mata mereka melihat ke sekeliling lobi Kampus yang dipenuhi oleh mahasiswa dan mahasiswi.
Seketika tatapan mata Harris fokus ke salah satu mahasiswa tampan. Lebih tepatnya sesosok makhluk yang sangat dirindukannya.
"Azka!" seru Harris.
Andrew, Diaz dan Zayan melihat kearah yang dilihat olehnya Harris. Mereka tersenyum bahagia bisa melihat wajah itu lagi setelah lima tahun tak bertemu.
Mereka berempat pun memutuskan untuk menghampiri Azka.
"Azka Ahza Adhinatha," panggil mereka secara bersamaan.
^^^
[Lobi Depan Kampus]
Azka melihat keasal suara dan saat mengetahui siapa yang memanggilnya, Azka berlahan bangkit dari duduknya dan menatap wajah-wajah yang selama ini ia rindukan.
Azka tak beranjak dari posisinya. Matanya tetap terus memperhatikan wajah keempat pemuda yang berdiri tak jauh dari hadapannya.
Melihat adiknya yang tak kunjung menyadari kehadirannya, Andrew pun melangkah mendekatinya. Disusul oleh ketiganya.
"Apa kau akan diam saja seperti ini, Azka Ahza Adhinatha?" tanya Andrew sembari mengacak-acak rambut Azka.
"Apa kau tidak mau memeluk kami, kakak-kakakmu ini, hum?" Itu suara Diaz tangannya mencubit lembut pipi gembilnya.
"Apa kau tidak merindukan kami?" tanya Zayan lalu mencubit hidup mancung Azka.
"Aish, kau tidak asyik Azka Ahza Adhinatha! Beginikah caramu menyambut kepulangan kami, hum?" ucap dan tanya Harris sambil memukul pelan lengan kiri Azka.
Tiba-tiba air matanya jatuh membasahi wajah tampannya. Ya! Azka tiba-tiba menangis! Andrew dengan sigap menghapus air matanya itu dan langsung menarik tubuh adiknya ke dalam pelukannya.
"Kakak merindukanmu. Sangat amat merindukanmu Azka. Maaf telah meninggalkanmu saat itu," lirih Andrew.
"Ooh, jadi mereka ini adalah sahabat-sahabatnya Azka sekaligus kakak bagi Azka yang pergi keluar negeri itu," batin Aryan dan yang lainnya.
"Andrew, Diaz," panggil Azri.
Andrew dan Diaz melihat kearah Azri. Mereka berpikir sejenak.
"Azri!" seru Andrew dan Diaz bersamaan.
"Iya. Ini aku Azri."
Diaz dan Azri pun berpelukan. Sedangkan Andrew masih enggan untuk melepaskan Azka.
"Yak! Kakak Andrew. Lepaskan Azka. Memangnya hanya kau saja yang ingin memeluk Azak. Kami juga mau," protes Sung Harris dan Zayan sembari menarik tubuh Andrew.
Mereka yang melihat aksi perebutan Azka hanya tersenyum. Paling tidak Azka bisa sedikit melupakan kesedihannya.
"Kalian semua pasti bingung kan. Kenapa aku mengenal dua curuk ini?" tanya Azri sembari menunjuk kearah Andrew dan Diaz.
Mereka semua kecuali Andrew dan Diaz mengangguk.
"Dua curut ini teman dan juga sahabatku ketika di SMP dan SMA," jawab Azri.
"Sialan kau. Dasar keturunan lucifer," kesal Diaz.
"Lepaskan aku!" teriak Azka yang memberontak dalam dekapan Andrew.
Dan hal itu membuat mereka semua terkejut. Tak terkecuali Andrew.
"Kenapa kalian kembali?" tanya Azka ketus.
"Karena kami merindukanmu, Azka!" jawab Harris dan Zayan.
"Bohong!" teriak Azka lagi.
"Azka," lirih Andrew, Harris, Diaz dan Zayan.
"Kalian kembali dikarenakan mendapat kabar tentang kecelakaan kedua orang tuaku. Dan kalian mendapat kabar itu pasti dari ayah-ayah kalian. Seandainya kejadian itu tidak terjadi, aku sangat yakin kalian tidak akan kembali kesini dan menemuiku," sahut Azka.
Mereka terdiam mendengar ucapan Azka. Andrew memegang bahu Azka dan menatap kearah mata bulat Azka.
"Azka. Dengarkan kakak. Lima tahun yang lalu kakak dan ketiga kakakmu yang lain pernah melakukan kesalahan dengan pergi meninggalkanmu untuk kuliah diluar negeri. Padahal saat itu kau sangat membutuhkan kami. Dan saat kami mendengar tentang kecelakaan yang menimpa Paman dan Bibi, kami merasakan kesedihan yang mendalam sama sepertimu. Dan saat itu juga kami memutuskan untuk pulang. Kami ingin berada di sampingmu, menjagamu, menyayangimu, merangkulmu dan mendukungmu." Andrew berucap dengan suara lirih dan diangguki oleh Harris, Diaz dan Zayan.
"Lalu setelah semuanya berakhir. Setelah semuanya kembali normal. Kalian akan kembali pergi meninggalkanku," lirih Azka.
"Dari pada hal itu terjadi lagi. Lebih baik kalian menjauh dariku. Jangan memberikan harapan apapun padaku," ucap Azka lalu tangan mengambil tas yang berada di sofa kemudian pergi meninggalkan semua orang yang berada disana.
Mereka menatap sendu kepergian Azka. Terutama keempat pemuda tersebut. Azri menepuk pelan bahu Andrew.
"Sudahlah. Jangan terlalu dipikirkan ucapan Azka. Saat ini Azka hanya takut. Takut akan kehilangan orang-orang yang dekat dengannya."