Missing The Youngest

Missing The Youngest
Isak Tangis Kebahagiaan Azka Dan Arga



"Azka," panggil Arga.


"Iya, kak!"


"Apa benar ini rumahnya?" tanya Arga dengan tatapan matanya menatap ke dalam gerbang yang mana terlihat rumah yang tampak luas.


"Seperti yang sudah dijelaskan oleh Dokter itu ketika mengirimkan alamatnya kepadaku. Ditambah lagi, bukankah kita sempat bertanya kepada beberapa orang di jalan tentang alamat tersebut? Dan dari jawaban mereka. Inilah alamatnya," jawab Azka.


Azka menjawab pertanyaan dari Arga dengan tatapan matanya menatap kearah rumah besar di hadapannya. Begitu juga dengan Aryan, Alfan, Randy, Attala, Alman dan Pandy.


"Eh, itu lihat! Ada yang kemari!" seru Pandy.


Seorang pria berpakaian security berjalan menghampiri kearah gerbang dimana pria itu melihat ada sekitar delapan pemuda diluar gerbang.


"Maaf lama menunggu! Siapa diantara tuan-tuan yang bernama Tuan Azka?"


"Saya, tuan!" Azka langsung menjawab pertanyaan dari pria tersebut. "Mereka ini adalah kakak-kakak saya."


Setelah mendapatkan jawaban dan juga kejelasan tentang pemuda-pemuda yang ada di samping pemuda yang bernama Azka membuat security itu langsung membuka pintu gerbang tersebut.


"Silahkan masuk, tuan! Dokter Anand sudah menunggu di dalam. Nanti akan ada security yang lain untuk membawa Tuan dan Tuan-tuan yang lain untuk menemui Dokter Anand."


"Baiklah tuan. Terima kasih!"


Azka, Aryan, Arga, Alfan, Randy, Attala, Alman, dan Pandy menjawab bersamaan.


^^^


Kini Azka, Aryan, Alfan, Randy, Attala, Alman, Pandy dan Arga sudah bersama dengan seorang pria dan juga wanita di ruang tengah. Keduanya menyambut dengan hangat kedatangan Azka dan ketujuh kakak-kakaknya.


"Perkenalkan saya Dokter Anand. Dan ini istri saya Liliana. Kalau saya boleh tahu siapa diantara tuan-tuan yang bernama tuan Azka?"


"Saya," jawab Azka.


Dokter Anand dan istrinya Liliana langsung melihat kearah Azka. Mereka tersenyum karena akhirnya mereka dipertemukan dengan putra dari wanita yang mereka tolong.


"Lalu siapa tuan-tuan yang bersama tuan Azka?" tanya Liliana ingin memastikan.


"Mereka kakak-kakak saya," jawab Azka.


"Baiklah."


Dokter Anand seketika langsung berdiri. Diikuti oleh Liliana. Begitu juga dengan Azka, Arga, Aryan, Alfan, Randy, Attala, Alman dan Pandy.


"Mari ikut kami. Kamu akan antarkan kalian menemui Nyonya Danisa."


Setelah itu, Dokter Anand melangkah menuju kamar dimana Danisa berada bersama istrinya dan diikuti oleh Azka, Arga, Aryan, Alfan, Randy, Attala, Alman dan Pandy.


^^^


Mereka saat ini sudah berada di sebuah kamar. Kamar yang ditempati oleh Danisa.


Dan detik kemudian..


Deg..


Azka seketika terkejut ketika melihat wanita yang wajah ibunya sedang terbaring di tempat tidur dengan alat medis menempel pada tubuhnya, tangang dan wajahnya.


Bukan hanya Azka saja yang terkejut. Arga, Aryan, Alfan, Randy, Attala, Alman dan Pandy juga sama terkejutnya dengan Azka. Bahkan Arga sudah menangis. Di dalam hatinya sangat yakin jika wanita yang terbaring di tempat tidur itu adalah Bibinya yang asli.


"Azka, kakak sangat yakin wanita yang terbaring di tempat tidur itu adalah Mommy kamu yang asli. Bibi kesayangan kakak!" seru Arga.


Mendengar seruan dari salah satu kakak dari Azka membuat Dokter Anand dan Liliana terkejut dan juga bingung.


Sementara Azka masih belum merespon dan memberikan tanggapan atas apa yang dia lihat sekarang ini.


"Mom! Apa benar Mommy adalah ibuku. Jika Mommy adalah ibuku yang asli, lalu siapa perempuan yang wajahnya mirip dengan Mommy yang sudah kembali ke keluarga Adhinatha?" Azka bertanya entah kepada siapa dengan tatapan matanya menatap kearah wanita yang wajahnya mirip ibunya disertai air matanya mengalir membasahi pipinya.


Dokter Anand dan Liliana seketika akhirnya mengerti maksud dari perkataan salah satu kakak dari Azka. Mereka berpikir jika ada perempuan yang wajahnya mirip dengan Nyonya Danisa sudah kembali kepada mereka.


"Silahkan, tuan! Dekatilah ibu anda dan ajaklah ibu anda bicara. Dari situ anda akan tahu, apakah dia adalah ibu anda atau bukan. Seorang ibu tidak akan melupakan anaknya. Sekali pun dia mengalami Amnesia, jika hatinya nyaman, maka dia akan bersikap lembut dan tidak takut terhadap orang yang tidak dia ingat." Dokter Anand berkata lembut sembari memberikan keyakinan kepada Azka.


"Ayo, lakukanlah!"


Berlahan kaki Azka melangkah mendekati tempat tidur yang ditiduri oleh Danisa. Dan diikuti oleh Arga, Aryan, Alfan, Randy, Attala, Alman dan Pandy.


Kini Azka telah duduk di samping tempat tidur ibunya. Tatapan matanya menatap sayu kearah wajah pucat ibunya.


Azka kemudian menyentuh tangan ibunya yang terbebas dari infus. Awalnya mengusap-usapnya dengan lembut, kemudian Azka menciumi punggung ibunya itu.


"Mom," panggil Azka dengan suara lirihnya. "Apa Mommy dengar suaraku? Aku disini, Mom!"


"Bibi, ini aku Arga. Apa Bibi juga mendengarku?" air mata Arga tak henti-hentinya mengalir. Dia benar-benar bahagia bisa bertemu dengan Bibi aslinya. Dia sudah sangat yakin jika wanita yang ada di hadapannya ini benar-benar Bibi aslinya.


Detik kemudian..


Azka merasakan tangannya digenggam oleh ibunya langsung melihat kearah tangannya. Seketika Azka tersenyum ketika dia melihat langsung tangan ibunya yang menggenggam tangannya.


"Mom!"


"Bibi!"


Berlahan Danisa membuka kedua matanya. Dan berusaha untuk melihat ke sekelilingnya.


Air mata Azka berlomba-lomba jatuh membasahi pipinya ketika melihat kedua mata ibunya terbuka. Dia begitu bahagia dengan hal itu.


"Mom," panggil Azka dengan suara yang bergetar.


Danisa yang mendengar seseorang yang sudah buat hidupnya lengkap dan sempurna langsung melihat keasal suara tersebut.


Tes..


Seketika Danisa menangis ketika melihat wajah putranya ada di hadapannya. Dirinya seakan-akan mimpi tengah bertemu dengan putranya itu.


"Mom," panggil Azka lagi. Dan kali ini disertai genggaman kuat di tangan ibunya.


"Az-azka." Danisa berucap menyebut nama putranya dengan terbata. "Azka Ah-za Adhi-na-tha!"


Azka tak bisa membendung tangisannya. Seketika tangis Azka pun pecah ketika wanita yang mirip ibunya langsung mengenali dirinya. Azka menangis histeris. Begitu juga dengan Arga. Arga tak kalah histeris ketika mendengar Bibinya yang mengenali putranya.


"Bibi Danisa," panggil Arga dengan suara bergetarnya.


Danisa yang mendengar suara lain yang memanggilnya langsung melihat keasal suara. Seketika Danisa tersenyum kecil di dalam maskernya.


"Ar-arga," ucap Danisa.


"Bibi! Kau Bibiku. Aku sudah sangat yakin bahwa kau adalah Bibiku," ucap Arga disela tangisannya.


Alman dan Pandy berusaha memberikan ketenangan dengan mengusap punggung dan bahu Arga.


Danisa berlahan mengangkat tangannya hendak menyentuh pipi putih putranya itu. Azka yang paham langsung membantu ibunya.


Danisa kembali menangis ketika tangannya berhasil menyentuh pipi putih putranya.


"Mom-my kangen ka-mu, nak! Bagai-mana ka-bar kamu?"


"Aku juga kangen Mommy. Aku baik, Mom! Keadaanku sekarang sudah jauh lebih baik."


"Da-daddy ka-mu bagaimana?"


"Daddy juga dalam keadaan baik-baik saja. Setiap hari Daddy selalu merindukan Mommy."


"Azka."


"Iya, Mom!"


"Mommy mau pu-lang. Mommy sudah sangat merindu-kan Daddy ka-mu."


Mendengar ucapan sekaligus permintaan dari ibunya membuat Azka tidak langsung menjawabnya. Azka langsung melihat kearah Arga, Aryan, Alfan, Randy, Attala, Alman dan Pandy.


Setelah itu, mereka melihat kearah Dokter Anand dan istrinya. Mereka ingin penjelasan dari keduanya.