
"Awas kau ya." Azka langsung berdiri ingin memberikan pelajaran pada Nathan, namun niatnya terhenti saat mendengar ponselnya berbunyi.
DRTT... DRTT...
"Aiissshhh." Azka berucap kesal.
"Hahahahaha." Nathan tertawa puas.
BUGH..
Azka melempari bantal kearah Nathan. Dan lemparan Azka tepat sasaran.
"Makan tuh bantal. Hahahahaha!" teriak Azka disertai tawanya yang keras.
Para saudara-saudaranya yang lainnya tersenyum gemas dan juga geleng-geleng kepala, terutama Farraz, Kaivan dan Aryan. Mereka begitu bahagia melihat kebahagiaan yang tersirat di wajah adik kesayangannya.
DRTT... DRTT...
Ponsel Azka kembali berbunyi.
"Siapa sih? Mengganggu saja," kesal Azka.
"Makanya angkat, dodol!" teriak Nathan.
Karena rasa penasarannya, Azka pun akhirnya menjawab panggilan yang sama sekali tidak diketahui dari siapa.
"Hallo."
"Hallo, Azka Ahza Adhinatha."
Azka menautkan kedua alisnya saat mendengar ucapan dari orang tersebut. Sementara para saudara-saudaranya memperhatikan wajah Azka seksama.
"Siapa dia? Kenapa dia tahu namaku?" tanya Azka di dalam hatinya.
"Siapa kau? Dari mana kau mengetahui namaku?"
"Kau tidak perlu tahu siapa aku dan dari mana aku mengetahui namamu. Yang jelas tujuanku menghubungimu karena ingin memberitahu soal ibumu. Lebih tepatnya ibu angkatmu, Danisa Aurelia Mahendra."
DEG..
Azka terkejut saat mendengar penuturan dari orang itu sehingga tampak sadar tubuhnya sedikit limbung ke belakang.
Melihat Azka yang hampir limbung ke belakang, Attala dan Alman yang kebetulan berada tidak jauh dari Azka langsung berdiri dan menahan tubuh Azka.
"Azka" teriak mereka khawatir.
"Apa yang kau ketahui tentang ibuku?"
"Saat ini ibumu, Danisa Aurelia Mahendra berada di rumahku. Aku dan keluargaku yaitu Paman dan Bibiku yang telah menyelamatkannya. Aku akan membawanya ke Jakarta dan mempertemukannya dengan anggota keluarganya. Tapi sebelum itu, kau harus mengabulkan satu permintaanku. Jika kau sanggup mengabulkannya, maka aku akan membawanya pulang ke rumah keluarga Adhinatha."
Azka terdiam sejenak. Dirinya memikirkan apa permintaan yang akan diajukan oleh orang itu. Jika dirinya salah mengambil keputusan, bukan dirinya saja yang akan bersedih, tapi keluarga Adhinatha juga.
Azka memejamkan kedua matanya. "Apa yang harus aku lakukan?" batin Azka.
Para saudara-saudaranya yang masih menatapnya menjadi makin khawatir. Bahkan mereka memikirkan hal-hal lain dalam pikiran mereka.
"Kenapa dengan Azka."
"Apa ada masalah?"
"Siapa yang menghubungi Azka?"
"Barusan Azka menyebut nama Bibi Danisa. Apa Bibi Danisa berhasil ditemukan?"
Seperti itulah pikiran-pikiran mereka saat melihat Azka yang sedang berbicara dengan seseorang di telepon.
"Bagaimana Azka Ahza Adhinatha? Kau bersedia mengabulkan satu permintaan untukku. Anggap saja sebagai hadiah untukku dan keluargaku karena sudah menyelamatkan nyawa ibu angkatmu."
"Apa yang kau mau?"
"Gampang! Aku hanya ingin kau pergi meninggalkan keluarga Adhinatha untuk selamanya. Jadi ketika ibu angkatmu kembali, kau sudah tidak ada lagi di rumah itu."
Mendengar permintaan dari orang tersebut, air mata Azka mengalir begitu saja membasahi wajah tampannya.
"Semua keputusan ada di tanganmu, Azka Ahza Adhinatha. Aku akan menunggu telepon darimu. Jika kau menghubungiku dan mengatakan bahwa kau bersedia pergi meninggalkan keluarga itu, maka aku pun langsung membawa pulang ibu angkatmu. Jika kau tidak percaya dengan omonganku, aku akan kirim foto ibu angkatmu itu kepadamu."
Setelah mengatakan hal itu, orang itu langsung mematikan panggilannya.
Lalu detik kemudian, terdengar sebuah notifikasi.
TING..
To : 0988xxxxxxxx
Ini adalah foto kedua orang tua angkatmu, bukan? ayah angkatmu selamat dari kecelakaan dan kini kondisinya sudah jauh dari kata baik. Sekarang tinggal bagaimana caranya kau bisa membawa pulang ibumu."
"Aku tunggu keputusan dari mu, Azka Ahza Adhinatha. Pikirkan Keluarga Adhinatha. Jangan hanya memikirkan dirimu sendiri."
Azka tanpa sadar menjatuhkan ponselnya. Dan setelah itu, Azka pun menangis saat setelah melihat foto kedua orang tua angkatnya.
Para saudara-saudaranya yang melihatnya Azka menangis langsung berdiri dan menatap makin khawatir Azka.
"Azka" panggil mereka bersamaan.
BRUUKK...
"Azka" teriak mereka semua. Mereka semua berhamburan mendekati Azka.
Azka jatuh terduduk. "Hiks.. Hiks.. Mommy.. Mommy.. hiks." tangis Azka akhirnya pecah.
Farraz yang sudah tidak tahan melihat adik bungsunya langsung memeluk tubuh adiknya itu. Dirinya berusaha untuk menenangkannya.
Arga mengambil ponsel Azka yang sempat jatuh dari tangan Azka. Kemudian Azka membuka ponsel tersebut. Kebetulan ponsel Azka tidak dikunci sehingga Arga bisa melihat pesan yang diterima oleh Azka.
Saat Arga membaca isi pesan tersebut. Arga seketika menjadi marah.
"Brengsek! Siapa dia?"
"Kak Arga, ada apa? tanya Dzaky dan Raymond.
"Ini kalian baca sendiri." Arga memberikan ponsel Azka kepada Dzaky dan Raymond.
Dzaky dan Raymond mengambil ponsel Azka ditangan Arga, lalu mereka pun membacanya.
"Apa-apaan ini. Dari mana orang ini tahu tentang kecelakaan yang menimpa Paman dan Bibi?" teriak Raymond emosi.
"Dan apa maksudnya ini. Apa maksud orang itu menunggu keputusan dari Azka?" ucap dan tanya Dzaky.
Aryan menggenggam tangan adiknya. "Nayazka," lirih Aryan.
Azka tiba-tiba melepaskan pelukannya dari Farraz. Setelah itu, Azka berdiri dan langsung melangkah keluar dari kamarnya. Keadaannya benar-benar kacau saat ini.
Mereka yang melihatnya menjadi sangat khawatir. Mereka takut jika Azka jatuh sakit lagi.
"Azka!" mereka semua menyusul Azka keluar.
^^^
Azka sudah berada di bawah, tepat kini Azka tengah menatap kearah ruang tengah dimana para orang tua sedang berkumpul dan mengobrol.
Sementara para saudara-saudaranya menatapnya dengan tatapan sendu.
Azka berlahan berjalan menghampiri orang tua, Paman dan Bibinya.
"Daddy," panggil Azka.
Mendengar suara Azka. Baik Dhava, Bagas dan yang lainnya melihat kearah Azka. Dapat mereka lihat wajah Azka yang terlihat sedih.
Dhava dan Bagas sama-sama berdiri dan mereka juga sama-sama ingin melangkah, namun tiba-tiba Dhava menghentikan langkahnya saat melihat Bagas juga ikut melangkah.
Bagas yang melihat Dhava memilih mengalah, pada akhirnya memutuskan untuk berhenti. Dirinya tidak jadi untuk menghampiri putra bungsunya.
"Daddy."
Azka kembali memanggil ayahnya disaat tidak ada satu dari mereka yang menghampirinya.
"Dhava. Sepertinya Azka memanggilmu. Lihatlah tatapan matanya menuju kearah kamu. Apalagi Azka memanggil kamu Daddy bukan Papi," Adelard.
Dhava melihat kearah putranya itu, lalu Dhava pun menghampiri putranya.
GREP..
Azka langsung memeluk tubuh Ayahnya dan menangis disana.
"Hiks.. hiks.. Dad.. hiks.. Daddy.. hiks.. Dad.."
Dhava dan anggota keluarga lainnya terkejut saat mendengar isakan pilu yang keluar dari mulut Azka. Mereka semua berdiri dari duduknya, lalu menghampiri Azka dan Dhava. Begitu juga para saudara-saudara Azka. Mereka semua ikut menghampiri Azka dan sang Paman.
"Ada apa, sayang? Kenapa kamu tiba-tiba menangis? Apa ada masalah? Apa ada yang mengganggu pikiran kamu?" tanya Dhava sembari mengeratkan pelukannya.
Setelah puas memeluk tubuh Ayahnya. Azka pun kemudian melepaskan pelukannya. Azka menatap wajah tampan sang Ayah.