
"Saya senang nyonya Danisa selamat dalam kecelakaan itu. Selama nyonya Danisa tidak ada, tuan Azka melakukan tugas-tugasnya dengan sangat baik. Kampus ini makin maju," ucap Andrean Palavi sang Rektor.
Mendengar perkataan dari sang Rektor membuat Danisa dan pemuda yang duduk di sampingnya yaitu Hendru menatap tak suka Andrean.
"Sudahlah Arean. Kau tidak perlu berbicara bertele-tele atau sekedar basa-basi. Seperti yang sudah aku katakan sejak awal kedatanganku bahwa aku ingin kau berhenti memimpin Kampus ini. Dan posisimu akan aku berikan kepada putraku."
Mendengar perkataan dari Danisa membuat Andrean terkejut. Dirinya tidak menyangka jika Danisa sang pemilik Kampus akan berbicara seperti itu. Bahkan sang pemilik Kampus memberhentikan dirinya tanpa tahu kesalahannya.
Andrean juga berpikir negatif terhadap Danisa ketika pemilik Kampus itu salah menyebut namanya. Ditambah lagi cara berbicara Danisa.
Andrean tahu bahwa selama ini Danisa sang pemilik Kampus selalu berkata lembut. Sang pemilik Kampus tidak pernah mengatakan kata 'Kau' atau 'Aku' dengan lawan bicaranya. Sang pemilik Kampus selalu menyebut kata 'Saya' dan kata 'Kamu' ketika berbicara dengan lawan bicaranya. Dan sang pemilik Kampus juga tidak pernah salah setiap menyebut namanya atau nama-nama orang terdekatnya.
Namun kali ini dan hari ini Danisa sang pemilik Kampus menyebut kata 'Kau' kepadanya. Bahkan sang pemilik Kampus dengan kejamnya memecatnya tanpa tahu kesalahannya apa. Padahal dulu jelas-jelas sang pemilik Kampus telah memberikan hak penuh padanya untuk terus memimpin Kampus ini sampai putra kesayangannya menyelesaikan kuliahnya.
Dari situlah keputusan selanjutnya akan diambil. Apakah dia akan terus menjadi Rektor atau Azka yang akan mengambil alih kepemimpinan Kampus tersebut.
"Bagaimana bisa anda berbicara seperti itu, Nyonya! Bukankah....?"
"Itu sudah menjadi keputusan saya. Dan kau harus mematuhinya," jawab Danisa.
Sementara Hendru tersenyum bahagia karena sebentar lagi Kampus ini akan menjadi miliknya sepenuhnya.
CKLEK..
Pintu ruang Rektor dibuka. Dan setelah itu, masuklah beberapa orang ke dalam ruangan tersebut.
Andrean, Danisa dan pemuda yang bernama Hendru langsung melihat kearah beberapa pemuda yang masih berdiri di hadapannya.
"Tuan Azka, Tuan Arga!" sapa Andrean.
"Eemm.. jadi dia yang bernama Azka," batin Hendru.
Azka menatap sendu kearah Danisa. Dia benar-benar merindukan perempuan yang saat ini tengah duduk di sofa bersama seorang pemuda.
Sementara Danisa menatap Azka hanya bersikap biasa saja. Tidak ada rasa rindu di tatapan matanya itu. Dan hal itu membuat Azka merasakan sakit di dadanya.
"Oh, jadi pemuda itu yang telah menyelamatkan Bibi Danisa," batin Andrew dan Aryan.
Arga mendekatkan wajahnya ke telinga Azka, lalu membisikkan sesuatu disana.
"Pemuda itu bernama Hendru."
Azka menatap dengan tatapan dingin dan datar kearah pemuda yang bernama Hendru tersebut.
Setelah itu, Azka melangkahkan kakinya menuju sofa dan diikuti oleh Arga, Aryan dan Andrew di belakangnya.
Sementara untuk yang lainnya menunggu diluar ruangan Rektor. Dari luar mereka juga bisa mendengar apa yang akan dibicarakan oleh Rektor kepada Azka.
Kini Azka, Arga, Aryan dan Andrew telah duduk di sofa dengan tatapan matanya menatap kearah Danisa dan Hendru.
Namun seketika Aryan, Arga dan Andrew memberikan tatapan tajam kepada Hendru. Mereka benar-benar marah dan jijik melihat tampang Hendru saat ini. Apalagi ketika melihat senyuman yang diberikan oleh Hendru. Mereka dapat menyimpulkan bahwa senyuman itu adalah senyuman mengejek.
Azka mengalihkan tatapan matanya dari sang ibu ke sang Rektor.
"Ada apa anda memanggil saya kemari?" tanya Azka.
Ketika Andrean ingin membuka mulutnya untuk berbicara. Danisa sudah langsung mengeluarkan kata-katanya yang membuat Azka, Arga, Aryan dan Andrew terkejut. Begitu juga dengan yang lainnya yang berada di luar ruangan.
"Aku datang kemari bersama putra kesayanganku untuk meminta agar Rektor ini mundur dari jabatannya. Dan jabatannya itu akan aku berikan kepada Hendru Adhinatha putra kesayanganku," ucap Danisa tanpa beban sama sekali. Justru terlihat senyuman manis di bibirnya ketika selesai mengatakan hal itu.
Deg..
Azka dan yang lainnya tidak menyangka jika Danisa akan mengatakan hal itu.
"Kenapa Mommy...."
Perkataan Azka terhenti karena Danisa langsung memotongnya.
"Jangan panggil aku Mommy. Aku tidak mengenali kau. Kau bukan putraku. Inilah putraku, Hendru Adhinatha!"
Tes..
Setetes air mata jatuh membasahi wajah tampan Azka ketika mendengar perkataan kejam dari perempuan yang dia rindukan beberapa bulan ini. Hati Azka benar-benar sakit mendengar kata itu.
Aryab yang duduk di samping Azka langsung mengusap-usap lembut punggung adiknya.
"Apa Bibi sadar atas perkataan Bibi barusan? Azka ini putra Bibi. Putra kesayangannya Bibi. Apa Bibi tidak ingat?" tanya Arga yang juga sudah menangis ketika mendengar perkataan kejam dari Danisa yang ditujukan untuk Azka.
"Diam kau! Jangan ikut campur. Sudah berapa kali aku bilang. Jangan panggil aku dengan sebutan Bibi. Aku tidak memiliki siap pun di dunia ini selain suami dan putraku Hendru Adhinatha!" bentak Danisa.
Mereka semua terkejut mendengar perkataan dan juga bentakan dari Danisa. Mereka semua tidak menyangka jika perempuan yang begitu mereka hormati dan perempuan yang begitu disayang oleh Azka dan Arga berubah menjadi perempuan kasar.
Azka berusaha untuk menahan tangisnya dan juga emosinya. Matanya menatap lekat tepat di manik hitam sang ibu. Azka dapat melihat perbedaan dari tatapan mata tersebut. Azka berpikir jika di hadapannya ini bukanlah ibunya.
Azka menarik nafasnya secara berlahan. Hal itu bisa dilihat oleh saudara-saudaranya dan sahabat-sahabatnya yang menunggu diluar yang kini tengah mengintip dari jendela.
"Maaf sebelumnya, Nyonya Danisa yang terhormat! Sepertinya keputusan anda meminta Rektor untuk mundur dari jabatannya tidak terpenuhi." Azka berbicara dengan tatapan matanya menatap intens tepat di manik matanya Danisa.
"Bicara yang sopan, kau!" bentak Hendru.
Azka langsung membalas perkataan dari Hendru. Dan jangan lupa tatapan matanya yang tajam kearah Hendru. Begitu juga dengan Arga, Aryan dan Andrew.
"Kenapa? Apa kau berani melawan padaku, hah?!" bentak Danisa.
"Aku tidak bermaksud untuk melawan anda, nyonya! Hanya saja, saya melakukan apa yang seharusnya saya lakukan. Kampus ini milik saya. Atas nama saya. Dan hanya saya yang bisa memecat Rekor Andrean Palavi. Anda tidak memiliki hak apapun di Kampus ini." Azka berbicara dengan wajah dingin dan tatapan matanya yang tajam.
"Tapi ini Kampus milikku! Dan kau tidak berhak atas kampus ini!" bentak Danisa.
"Kampus ini memang milik anda. Tapi sayangnya, anda sudah mewariskan Kampus ini kepadaku. Jadi Kampus ini sudah sah secara resmi dan secara hukum menjadi milikku. Apa anda lupa nyonya Danisa?"
Mendengar perkataan dari Azka membuat Danisa dan Hendru terkejut. Mereka tidak menyangka jika Kampus terkenal ini sudah sah menjadi milik Azka.
"Aku tidak peduli. Pokoknya yang aku mau hari ini Rektor itu sudah pergi meninggalkan kampus ini. Dan putra kesayanganku yang akan menggantikannya," ucap Danisa.
"Hal itu tidak akan pernah terjadi selama aku masih hidup." Azka berbicara dengan menatap sedih, terluka, kecewa dan amarah terhadap Danisa. "Selama aku masih hidup. Selama itu pula, Rektor Andrean Palavi akan terus memimpin Kampus ini sampai aku menyelesaikan kuliahku."
Azka menatap tajam Danisa dan Hendru secara bergantian. Begitu juga dengan Arga, Aryan dan Andrew.
Hendru ingin membuka suara dan mengeluarkan kata-katanya bertujuan seolah-olah ingin membela Danisa yang disakiti oleh putranya.
"Maaf, Azka! Kau.....?"
Perkataan Hendru terhenti karena Azka langsung memotongnya.
"Aku tidak ingin mendengar kata-kata menjijikkan apapun dari anda, saudara Hendru! Aku sudah mengabulkan permintaanmu untuk menjauh dari keluarga Adhinatha. Bahkan aku juga sudah tidak tinggal bersama keluarga Adhinatha lagi. Tapi untuk yang satu ini, aku minta maaf. Aku tidak akan pernah melepaskannya. Semua aset kekayaan pribadi milik nyonya Danisa sudah resmi menjadi milikku. Dan aku tidak akan memberikan kepada siapa pun. Termasuk padamu!"
Azka berbicara dengan penuh penekanan di setiap kata. Bahkan tatapan matanya menatap tajam dan penuh amarah kearah Hendru.
"Saat ini Nyonya Danisa sedang sakit. Beliau tidak ingat padaku putranya. Jadi, selama Nyonya Danisa sakit dan Amnesia. Selama itu pula semua kekayaan pribadi miliknya aku yang pegang. Bagaimana pun akulah orang yang dipercayai oleh Nyonya Danisa. Jika nanti Nyonya Danisa sembuh. Nyonya Danisa ingat kembali padaku dan kembali padaku seperti dulu, maka aku akan mengembalikan semua kekayaan tersebut padanya."
Mendengar ucapan demi ucapan dari Azka membuat Hendru menatap dengan tatapan marah kearah Azka.
"Brengsek! Kalau seperti ini sama saja bohong. Aku sengaja membawa wanita sialan ini untuk mengelabui Azka agar aku bisa menguasai semua kekayaan Danisa Adhinatha. Tapi ternyata anak angkat dari Danisa Adhinatha benar-benar sangat pintar," batin Hendru.
"Jika sudah selesai. Silahkan tinggalkan ruangan ini," ucap Arga dengan menatap tajam Hendru dan tatapan sendu kearah Danisa.
"Apa mau aku antar?" tanya Andrew menyindir.
Danisa seketika berdiri dari duduknya dan tatapan matanya menatap penuh benci kearah Azka.
"Dasar anak tidak tahu diri!" bentak Danisa.
Setelah mengatakan itu, Danisa pun pergi meninggalkan ruangan Rektor dan diikuti oleh Hendru. Dan masuklah Aldan, Randy, Atalla, Alman, Pandy dan kelompok BRAINER ke dalam ruangan Rektor.
Setelah kepergian Danisa dan Hendru. Seketika tangis Azka pun pecah. Azka menangis terisak ketika mengingat kata-katanya yang begitu kasar terhadap ibunya.
"Hiks... Hiks," isak Azka.
Grep..
Aryan langsung memeluk tubuh bergetar adiknya. Dia tahu bahwa saat ini hati adiknya benar-benar hancur karena beberapa menit yang lalu habis berdebat dengan ibunya.
Aryan juga tahu bahwa adiknya itu berusaha kuat ketika berhadapan dengan sang ibu. Bahkan adiknya itu juga terpaksa mengatakan kata-kata yang tak mengenakan untuk ibunya demi menjaga milik ibunya agar tidak jatuh ketangan orang lain. Begitu juga dengan Andrew dan Arga. Keduanya juga tahu alasan Azka sampai melakukan semua itu.
"Kakak... Kakak Ayan... Hiks," isak Azka.
Beberapa detik kemudian, Azka melepaskan pelukan kakaknya itu. Kemudian Azka menatap wajah kakaknya itu dan wajah orang-orang yang ada di dalam ruangan tersebut.
"Apa aku salah berbicara seperti itu kepada Mommy?" tanya Azka.
"Tidak, Azka!" Arga langsung menjawab pertanyaan dari Azka.
Azka melihat kearah Arga yang juga menatap dirinya.
"Apa yang kau lakukan sudah benar. Kau melakukan semua itu demi melindungi dan menjaga semua milik Bibi Danisa. Begitu juga dengan milik Paman Dava. Kau adalah putra mereka secara hukum. Kau bagian keluarga Adhinatha. Jadi, jika terjadi sesuatu terhadap Paman Dava dan Bibi Danisa. Secara otomatis, semua kekayaan milik mereka menjadi milikmu."
Mendengar perkataan tulus dari Arga membuat Azka tersenyum. Begitu juga dengan yang lainnya.
"Kenapa kakak Arga bisa berbicara seperti itu?" tanya Azka.
Arga tersenyum mendengar pertanyaan dari Azka.
"Saat itu kakak tidak sengaja mendengar pembicaraan Paman Dava dan Bibi Danisa. Mereka membicarakan tentang kekayaan pribadi mereka dan juga kekayaan bersama setelah mereka menikah. Mereka mengatakan akan menyerahkan dan mewariskan semua kekayaannya. Baik kekayaan pribadi mereka masing-masing maupun kekayaan setelah mereka menikah kepadamu."
Mendengar perkataan dari Arga. Azka seketika terdiam. Pikiran langsung tertuju pada momen-momen dimana kedua orang tuanya pernah mengatakan hal yang sama seperti yang dikatakan oleh Arga.
Azka juga mengingat ucapan demi ucapan dari ibunya ketika menyaksikan sebuah video rekaman yang dibuat oleh ibunya bersama Adrian selaku Direktur di Perusahaan milik ibunya beberapa hari yang lalu.
Puk..
Aryan menepuk pelan bahu adiknya itu sehingga membuat adiknya itu tersadar dari lamunannya.
Azka menatap wajah kakak kesayangannya itu lalu Azka memberikan senyuman manisnya di hadapan kakaknya itu.
Melihat senyuman manis di bibir adiknya membuat hati Aryan merasakan kenyamanan. Begitu juga dengan yang lainnya.