
Azka saat ini sudah berada di rumah keluarga kandungnya. Kini Azka duduk di sofa ruang tengah. Tubuhnya saat ini benar-benar lelah. Bukan hanya tubuhnya saja yang lelah, melainkan pikirannya juga ikut lelah bahkan pusing.
Azka menyandarkan kepalanya di kepala sofa. Dan detik kemudian, Azka memejamkan matanya.
Disisi lain dimana semua anggota keluarga Hanendra yang tadinya sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, kini telah selesai. Kemudian mereka semua bergegas menuju ruang tengah. Mereka kesana untuk menunggu kepulangan kesayangannya.
Namun ketika mereka sudah berada di ruang tengah. Mereka semua dikejutkan dengan kesayangannya yang tertidur disana.
"Lah! Sudah pulang kesayangannya Mami!"
"Sejak kapan anaknya Papi disana?"
Mereka semua duduk di sofa dengan senyuman manis masing-masing menatap Azka yang sedang tertidur.
Karina yang duduk di samping putra bungsunya langsung mengusap lembut kepala putranya itu. Kemudian Karina memberikan ciuman sayang di keningnya.
Seketika kedua matanya Azka terbuka ketika mendapatkan sentuhan dan ciuman di kepala dan keningnya.
"Mami."
Karina tersenyum ketika melihat putranya terjaga akan ulahnya. Apalagi ketika mendengar sapaan dari putranya itu. Begitu juga dengan Bagas, Farraz, Kaivan dan Aryan.
"Mami ganggu ya. Maafkan kami ya sayang."
Azka langsung menggelengkan kepalanya atas pertanyaan dari ibunya itu.
"Tidak, Mi! Mami nggak ganggu. Aku tadi hanya sedikit lelah tadi dan kepalaku juga pusing, makanya aku bawa tidur sebentar."
Mendengar ucapan dari Azka seketika membuat Karina terkejut. Begitu juga dengan Bagas, Farraz, Kaivan dan Aryan. Mereka menatap khawatir Azka.
"Sekarang bagaimana sayang? Apa masih pusing kepalanya?" tanya Bagas dengan nada khawatirnya.
"Sudah tidak lagi Papi. Pusingnya sudah mendingan," jawab Azka jujur.
Ketika Azka dan anggota keluarganya sedang mengobrol di ruang tengah, tiba-tiba ponsel milik Azka berbunyi menandakan panggilan masuk.
Azka yang mendengar bunyi ponselnya langsung mengambil ponselnya di saku celananya.
Kini ponselnya sudah di tangannya. Tatapan matanya menatap kearah layar ponselnya. Disana tertera sebuah nomor yang tak dikenali oleh Azka sama sekali.
Dengan rasa penuh penasaran. Akhirnya Azka memutuskan untuk menjawab panggilan tersebut. Sedangkan anggota keluarganya memilih diam dan mendengarkan apa yang dibicarakan oleh Azka dengan seseorang di telepon.
"Hallo."
"Apa benar ini tuan Azka?"
"Iya, saya Azka. Anda siapa? Dan tahu dari mana nama saya?"
"Saya Dokter Anand. Saya menghubungi anda karena ingin memberitahu anda tentang ibu anda yang bernama Danisa."
Deg..
Seketika Azka berdiri dari duduknya ketika seseorang yang mengaku dokter di seberang telepon mengatakan tentang ibunya.
Melihat Azka yang tiba-tiba berdiri dan ditambah lagi dengan wajahnya yang terlihat terkejut membuat Karina juga ikut berdiri. Begitu juga dengan Bagas, Farraz, Kaivan dan Aryan.
"Apa maksud anda?"
"Ibu anda yaitu Nyonya Danisa ada di rumah saya. Saya dan istri saya membawa pulang ke kediaman kami karena nyawa beliau dalam bahaya. Ditambah lagi beliau sudah dua kali mengalami kecelakaan."
"Anda jangan berbohong kepada saya. Bagaimana bisa saya memiliki dua ibu dengan nama dan wajah yang sama? Anda mengatakan bahwa ibu saya bersama anda. Lalu perempuan yang bersama dengan saya, siapa?!" teriak Azka.
Mendengar ucapan dari Azka membuat Bagas, Karina, Farraz, Kaivan dan Aryan terkejut. Mereka beranggapan bahwa seseorang yang menghubungi Azka mengatakan tentang ibu angkatnya.
"Saya akan video tentang kondisi ibu anda. Dan saya akan langsung kirimkan kepada anda, hari ini juga!"
Tuttt..
Tutt..
Setelah mengatakan itu, Dokter Anand langsung mematikan panggilannya.
"Sayang, ada apa?" tanya Karina sembari mengusap lembut kepala putra bungsunya.
Ting..
Azka langsung melihat dan membukanya. Dia penasaran akan video yang dikirimkan oleh orang yang mengaku sebagai dokter Anand.
Di layar ponselnya terlihat sebuah pesan video. Kemudian Azka menekan tanda segitiga putih disana.
Detik kemudian..
Deg..
Seketika Azka terkejut ketika melihat adegan demi adegan di dalam video itu. Di dalam video itu terlihat seorang wanita paruh baya yang sedang tak baik-baik saja di tempat tidur. Di dalam video itu juga terlihat seorang wanita paruh baya lainnya sedang membersihkan tubuh dari wanita yang sedang tidur di tempat tidur dengan beberapa alat medis.
Tes..
Air mata Azka jatuh begitu saja membasahi pipinya ketika melihat perempuan yang begitu dia rindukan.
Karina yang berdiri di sampingnya juga ikut terkejut ketika melihat seorang wanita yang terbaring di tempat tidur dengan beberapa alat medis di sekitarnya.
Bagas melangkah mendekati istri dan putra bungsunya. Begitu juga dengan Farraz, Kaivan dan Aryan.
"Mami... Hiks... Ini... Ini benar-benar wajah Mommy." Azka seketika terisak.
Aryan langsung melihat kearah layar ponsel adiknya. Dan tatapan matanya seketika membulat ketika melihat wajah ibu angkatnya Azka.
"Aka, dia Bibi Danisa?! Lalu yang di rumah keluarga Adhinatha siapa?" tanya Aryan yang benar-benar terkejut.
Drrttt..
Drrttt..
Ponsel Azka kembali berbunyi menandakan panggilan masuk dari nomor yang sama. Melihat itu, Azka langsung menjawabnya.
"Bagaimana tuan? Apa tuan percaya sekarang? Saya mendapatkan nomor tuan ini dari Nyonya Danisa sendiri karena beliau sudah sedikit bisa diajak berbicara. Dua hal yang disebut oleh Nyonya. Pertama, nama tuan. Dan kedua Nyonya menyebut satu persatu secara berlahan nomor ponsel tuan kepada saya dan istri saya. Setelah lengkap, saya pun memutuskan menghubungi tuan."
"Mommy!" Azka tiba-tiba berteriak sembari menyebut nama ibu angkatnya.
"Saya akan mengirimkan alamat rumah saya kepada tuan. Datanglah kesini. Siapa tahu dengan kedatangan tuan, Nyonya bisa segera pulih."
Setelah mengatakan itu, Dokter Anand pun langsung mematikan panggilannya. Dia akan mengirimkan alamat rumahnya kepada Azka.
Ting..
Ponsel Azka kembali berbunyi. Sebuah pesan WhatsApp masuk ke ponselnya.
...Pesan WhatsApp...
Dokter Anand :
Ini alamat rumah saya :
Jalan Flamboyan Raya No.12 Blok D4
Bandung
Setelah membaca pesan tersebut, Azka mematikan ponselnya.
"Aku akan kesana," sahut Azka dengan penuh keyakinan.
"Kakak ikut dengan kamu," ucap Aryan dengan menatap wajah adiknya.
"Hm!" Azka berdehem sembari menganggukkan kepalanya tanda setuju.
"Ajak Alfan, Randy, Attala, Alman dan Pandy!" usul Bagas.
"Baik, Pi!"
"Aku akan hubungi kakak Arga. Dia harus ikut!" seru Azka.
Setelah itu, Azka pun menghubungi kakak sepupunya itu dan memintanya datang ke kediaman keluarga Hanendra.