
Tujuh hari lebih, Tiara di rawat intensif selama ini beberapa kali dirinya mengalami kejang, dan juga sakit kepala berlebihan. Bahkan hampir dua kali pingsan. Dokter memang melarang Banyu untuk menjelaskan apa yang terjadi padanya. Namun beberapa kali Banyu hampir kelepasan menjelaskan bahwa dirinya adalah anak dari saudara kembarnya.
"Bagaimana?" tanya Banyu.
"Lebih baik, anda jangan pernah menemuinya dulu, dari pada nanti terjadi hal fatal yang membuatnya benar-benar dalam bahaya," jelas Dokter dengan pelan.
"Baiklah, aku akan pergi ke korea untuk beberapa bulan, mungkin tidak lebih dari dua bulan," jelas Banyu.
"Kamu mau ninggalin aku!" teriakan itu membuat Banyu dan Dokter terkejut.
"Tiara," gumam Banyu dan dokter hampir bersamaan.
"Sayang... kamu mau ninggalin aku di rumah sakit sendirian," gerutu Tiara dengan memoyongkan bibirnya.
"Aku harus ke Korea untuk rapat penting sayang," bisik Banyu.
"Aku enggak mau, pokoknya aku ikut," bisik Tiara. Tangannya menggelayut manja pada lengan Banyu.
"Sayang... kondisimu sangat belum memungkinkan, apalagi penerbangannya cukup lama," jelas Banyu.
"Pokoknya aku ikut," kekeh Tiara.
"Sayang...," Banyu, belum selesai mengatakan sesuatu. Tiara langsung melumat bibirnya.
Dokter yang melihatnya dengan cepat mengalihkan pandangannya.
"Sayang, please aku ikut ya," gumam Tiara dengan suara parau.
Banyu dengan cepat mengangkat tubuh Tiara keluar dari ruangan dokter.
"Jangan salahkan aku," bisik Banyu.
Tiara sedikit binggung dengan apa yang akan banyu lakukan.
"Apa yang akan kamu lakukan, sayang," bisik Tiara dengan suara lebih parau lagi.
"Kau sangat lihai menggoda rupanya," bisik Banyu.
"Tidak... kau yang menggodaku," sanggah Tiara.
Banyu membuka pintu ruangannya dengan siku, membuat Tiara terkekeh pelan. "Apakah kau akan tega meyiksaku," bisik Tiara.
"Aku hanya ingin kau istirahat, seharusnya kau memang berada di sini," bisik Banyu.
"Di mana?" tanya Tiara yang kebingungan.
"Ada di dalam dekapanmu," gumam Banyu. Kemudian dirinya memejamkan mata.
Tangan Tiara menelusuri sudut-sudut wajah Banyu, rahang tegas, wajah tampan, semburat senyum datar yang sering mengejek, dua mata sedikit menghitam akibat kurang tidur.
"Kau sangat tampan, suamiku," bisik Tiara.
"Kau sangat cantik, istriku," balas Banyu, membuat Tiara sedikit mengerutkan keningnya.
"Kau punya seorang asisten?" Tanya Tiara.
Banyu mengangguk pelan.
"Kenapa perutku sepertinya melilit ya," bisik Kiara membuat Banyu bangkit dari posisinya.
"Apakah sakit?" tanya Banyu. Mengelus perut Tiara dengan pelan.
"Dia merindukanmu," bisik Tiara.
Banyu diam sesaat, memandang Tiaea dengan memicingkan sebelah matanya.
"Baiklah... aku harus pergi ke korea besok," gumam Banyu.
Tiara menghela napas.
"Baiklah... mari sayang, kita cari ayah baru" bisik Tiara sambil memgelus perutnya yang rata.
Tiara bangkit, membenarkan ikatan rambutnya, dengan santai memakai sandal. Lalu berjalan sembari berdendang ria.
"Hentikan," geram Banyu.
"Aku ingin mencari suami baru," jawab Tiara dengan santai.
"Eh tunggu, aku butuh uang, mobil dan rumah," ucap Tiara.
Menodongkan tangannya ke arah Banyu.
Dengan santai Banyu bangkit dari duduknya dan menyilangkan tangannya.
"Cari aja suami yang mau menerimamu apa adanya," ucap Banyu dengan tenang.
Tangan Tiara bergerak pelan meraih gagang pintu.
"Tunggu!" teriak Banyu.
"Apa... jangan mencegahku, pokoknya aku mau ikut ke korea, kalau belum boleh juga baiklah, aku akan pergi," ucap Tiara tanpa memandang wajah banyu. Yang hampir tertawa lepas.
"Aku hanya ingin mengatakan, jangan lupa tutup pintunya," ucap Banyu.
Tiara mendengus kesal, tangannya merogoh saku, ada lima lembar uang ratusan hasil mencopet Banyu beberapa jam yang lalu.
"Baiklah," gumam Tiara dengan santai. Tanpa ada keraguan Tiara menutup pintu lalu berjalan menuju Lift, yang menuju ke lantai dasar.
"Aku ingin makan mie ayam," gumam Tiara dengan semangat.
Kaki Tiara berjalan menapaki jalan raya depan rumah sakit, untuk mencari Mie ayam yang membuat perutnya keroncongan tidak karuan.
"Pak... mie ayam bakso pak... dua mangkuk, sama segelas es jeruk ya," pesan Tiara saat masuk ke warung Mie Ayam tak jauh dari rumah sakit.
Dengan lahap Tiara menyantap dua mangkuk mie ayam hingga tandas tak tersisa lagi.
"Kenyang," ucap Tiara dengan perasaan puas.
"Berapa pak?" tanya Tiara.
"20 ribu neng," ucap pak Mie ayam.
"Ini pak," ucap Tiara dengan tenang. Menyerahkan uang seratus ribu.
"Terima kasih," ucap Tiara setelah menerima uang kembalian.
Gelegar gemuruh terdengar, tak lama rintikan hujan mulai turun. Tiara yang melihatnya tersenyum dengan penuh kebahagiaan.
"Akhirnya, aku keluar di waktu yang tepat," ujar Tiara. Dengan yakin melangkahkan kaki. Membiarkan hujan turun, membasahi tubuhnya.
"Terima kasih hujan," gumam Tiara.
Dengan senang, menari-nari di bawah guyuran Shower alam yang begitu deras, beberapa kali kilatan petir muncul di ikuti gelegar suara yang membuat siapapun enggak turun.
Jam menunjukkan pukul 8 malam. Banyu sedang mempersiapkan apa yang dia butuhkan besok. Bella maupun Sony sudah dia bereskan dengan gampang.
Banyu mendengar gelegar beberapa kali namun mengabaikannya. Hingga suara Hp berbunyi nyaring.
"Hallo, siapa?" jawab Banyu dengan nada datar, sambil tangannya membereskan beberapa baju yang belum sempat dia susun ke dalam koper.
"Apakah Nyonya kabur?"
Pertanyaan itu membuat Banyu terdiam sesaat.
"Nyonya?" tanya Banyu.
"Huum, gadis yang sedang menari bahagia di bawah rintikam hujan."
Banyu dengan cepat menuju jendela kamarnya, matanya mencari di mana dan siapa orang yang menghubunginya.
"Tiara," geram banyu langsung berjalan keluar dengan langkah cepat.
Tanpa menunggu waktu lama Banyu yang telah sampai di halaman rumah sakit, menembus derasnya hujan, untuk mencari Tiara.
Tiara yang tertawa sambil menatap langit bahkan tidak menyadari, pemilik rahang tegas itu menatap dirinya dengan rasa khawatir.
"Apakah sudah dapat suami?"
Pertanyaan itu sontak mengejutkan Tiara yang sedang asik menatap langit.
"Aku masih menikmati hujan, yang lebih berharga di bandingkan seorang suami yang hanya mementingkan ego sendiri," ucap Tiara.
"Aku hanya ingin kau mengerti bahaya berada di sisiku," gumam Banyu.
Tiara berulang kali mengerjapkan matanya.
Dunianya seperti berputar, kian lama, bumi yang di pijaknya turut bergetar.
Hingga suara Banyu tidak mampu dia dengar lagi.
"Tu kan... kamu enggak bisa kelelahan," gumam Banyu saat berhasil menangkap tubuh Tiara yang limbung kemudian pingsan.
Dengan langkah cepat, Banyu membawa Tiara masuk ke dalam lift langsung menuju ruangan pribadinya. Dengan sabar, Banyu membilas tubuh Tiara, lalu dengan pelan menggenakan baju Tiara.
"Kenapa kau selalu saja ceroboh, seperti Mommymu, mungkin jik dirinya tidak ceroboh, dia tidak akan kehilangan kesempatan untuk berada di sampingmu," ucap Banyu.
Setelah membaringkan tubuh Tiara dan menyalakan penghangat ruangan, Banyu ikut terlelap di sofa panjang kesayangannya.