Me And Daddy

Me And Daddy
Episode 17



Banyu melangkah pergi meninggalkan Tiara. Amarahnya memang sangat sulit untuk di kontrol apalagi mengingat kisah masalalu keluarganya yang kelam. Karena sebuah peristiwa.


Hany berjalan mendekati Tiara, lalu dengan keras mencengkram  rahang Tiara hingga meninggalkan bekas memerah hampir sama dengan tamparan Banyu.



Pagi datang lebih cepat dari perkiraan, Banyu sedang terlelap dengan Hany yang ada di pelukannya. Dia bahkan terlihat tenang, tidak pernah menyesali apa yang dia perbuat semalam.


Minah sedang hendak membuka jendela atas terkejut dengan Tiara yang tergeletak di pinggir kursi.


"Nyonya!" teriak Minah sambil mengguncang pelan tubuh Tiara.


Namun sia-sia, panas tubuh Tiara meninggi, kedua pipinya yang memerah. Serta beberapa kali Tiara memanggil nama seseorang.


"Dave... dave...," desis Tiara.


Minah yang khawatir dengan cepat memanggil Minem dan Tejo.


Mereka akhirnya membaringkan tubuh Tiara di atas sofa lalu mengompresnya.


"Bagaimana ini?" tanya Minah.


"Tuan belum bangun," ucap Minem.


"Jangan bangunkan, kita sadarkan Nyonya dulu," gumam Tejo, memberi saran. Karena pernah Tejo hampir kehilangan pekerjaan karena menganggu ketenangan Tuan Banyu.



Dave tampak sedikit gelisah, entah apa yang sedang terjadi, Dave bahkan tidak menyadari.


"Apakah anda menyesal melakukannya semalam," ucap Andi.


"Menyesal? Apakah ada dalam kamus penguasa sepertiku rasa menyesal?" tanya Dave.


"Aku ingin menemui Tiara, sepertinya dia sedang dalam masalah besar," gumam Dave.


"Apakah kamu tau rumahnya?" Tanya Andi.


"Tidak."


"Apakah kamu punya nomor hpnya?"


"Tidak."


"Lalu apa yang kamu punya?"


"Aku tidak punya apa-apa."


"Astaga? Kenapa masih ada juga manusia bodoh yang enggak peka sama sekali, kalau udah kenalan terus jatuh cinta, masa enggak tau alamat atau paling enggak nomor teleponnya."


"Diam kau Andi!"


"Aku tidak bisa, kalau sudah selesai aku bisa mengurus surat pengunduran diriku."


"Apakah kau memiliki izin untuk mengundurkan diri, bagaimana dengan Hany?"


"Hany? Dia masih saja mengincar Banyu dan aku ingin segera menemukan istrinya Tiara."


"Tiara? Apakah mungkin kedua sosok yang kamu panggil itu adalah satu orang?"


"Mana mungkin Banyu menyia-nyiakan gadis secantik Tiara yang aku temui, yang pasti kali ini aku akan memberi dia sedikit kejutan. Terlalu membahagiakan jika membiarkan Hany tertawa," gumam Dave.


"Hany tertawa? Bukankah ibunya baru saja meninggal?" tanya Andi.


"Kamu pelupa akut, ibunya Hany meninggal atas kemauan Hany sendiri namun banyak yang membantu Hany menutupi kesalahannya, profokasi dan juga pihak terkait bungkam."


Penjelasan Dave membuat Andi sedikif terkejut.


"Apakah ada anak setega itu?" Ucap Andi.


"Apaan sih... kamu belum mengenal siapapun Hany, dia adalah dalang semua kejadian, sebenarnya Bella, Sony dan Sonya sudah masuk ke dalam perangkapnya." Ucap Dave.


Dave berjalan meninggalkan Andi, "mau kemana Tuan?" tanya Dave.


Perlahan Dave memperlambat langkah kakinya.


"Jika mau ikut, lebih baik," gumam Dave. Kemudian melangkah pergi. Andi yang mengerti akan ucapan Tuannya langsung berjalan menuju belakang Dave.


Verari biru yang di kendarai melaju dengan kecepatan rata-rata.  Dave terdiam, ada banyak rencana yang pastinya akan menghancurkan rencana Hany. Gadis yang dahulu pernah menjatuhkannya, membuat dirinya kehilangan Tiara untuk beberapa saat.


"Apakah ini rumahnya?" tanya Dave. Saat menyadari bahwa rumah Banyu berada di tengah hutan.


"Semalam kami mendapatkan alamatnya di sini, apa salahnya jika kita coba untuk mencari tau," ucap Andi. Dave hanya mengangguk pelan.


Ada harum melati yang membuat tenang, namun mawar selalu memberikan kesan kesayangan. Dave memang menyukai bunga semenjak dahulu pernah mengenal Tiara.


"Kamu tunggu di luar, aku akan masuk," ucap Dave.


Andi hanya mengangguk mengerti.


Dave bukan orang yang baik ketika nyalinya sedang di uji. Dia akan melakukan apapun dan keberadaan Andi di luar adalah cara tepat untuk secepatnya bisa melarikan diri tanpa harus bersusah payah.


Tok tok tok


Tok tok tok


Dave mengetuk pintu pelan, masih pukul 7 pagi, memang tidak sepantasnya bertamu sepagi ini.



"Lama banget sih, Tejo ngambil teh anget aja," ucap Minem.


"Coba cek dulu," ucap Minah.


"Kamu berani aku tinggal sendirian?"


"Aku sebenarnya takut... tapi mau gimana lagi, kalau Nyonya sadar kita harus segera ngasih minum teh hangat."


Minem hanya mengangguk lalu pergi turun ke bawah.


Dalam rumah itu, tidak ada yang berani memanggil dokter, apalagi membangunkan Banyu, singa tidur yang lebih sering kelaparan.


"Tejo! Lama banget jalannya, kayak orang takut sunat aja," celetuk Inem


Tejo hanya meringis tidak karuan.


Tok tok tok


Ketukan pintu yang terdengar buru-buru, sontak membuat Minem dan Tejo terkejut.


"Siapa yang bertamu pagi buta gini? Biasanya Tuan tidak memberi alamat jika tidak ada keperluan," ucap tejo.


"Udah buka aja, aku akan pergi ke atas," gumam Minem. Berjalan tanpa memperhatikan raut ketakutan yang di tunjukkan Tejo.



Lima menit Dave berdiri di sana, tidak ada tanda bahwa pintu akan segera di buka.


Tok tok tok


Sekali lagi Dave mengetoknya.


Cekleeekkk


Ada suara orang membuka pintu.


"Maaf Tuan cari siapa?" Pertanyaan itu muncul saat pintu terbuka.


"Aku sudah buat janji dengan Banyu, apakah benar ini rumahnya?" tanya Dave.


"Iya... tapi Tuan Banyu sedang tidak bisa di ganggu," ucap tejo.


"Aku masih bisa menunggu," gumam dave.


Tejo dengan sopan menyuruh Dave masuk ke dalam rumah.


Di lantai atas terdengar sayup-sayup orang yang memanggil namanya.


"Arrrrgggggghhhh," teriakan itu menggema hingga lantai bawah.


Dave segera menaiki tangga, Tejo yang khawatir dengan apa yang di lakukan Dave langsung mengikutinya.


Dave memutar tubuhnya, mencari sumber teriakan yang begitu memilukan.


"Apa yang terjadi?" tanya dave dengan suara pelan.


"Arrrrgggghhhttt," teriakan itu terdengar dari mulut Tiara.


Seribu sakit yang dia rasakan bercampur dengan perihnya luka sayatan pada jiwanya.


Dave dengan cepat mengangkat Tiara.


"Tuan... jangan bawa Nyonya," cegah Minah dan Minem bersamaan.


"Tiara... dia sahabatku," gumam Dave.


"Tapi Tuan akan marah besar," ucap Tejo.


"Dia tidak akan marah selama kalian menjelaskan apa yang sedang terjadi," gumam Dave.


Dengan langkah cepat menuruni tangga.


"Sayang... apakah sangat sakit?" Bisik Dave.


"Dave... bawa aku pergi... dia sudah benar-benar mencampakkan aku," bisik Tiara.


"Tenanglah... kita akan mengobati seluruh lukamu dan lihat bagaimana aku membayarnya dengan impas, pria plin-plan yang tidak punya pendirian waktunya hancur."


Tiara akhirnya pingsan lagi tanpa tau apa penyebabnya. Dave hanya merasa betapa tingginya panas tubuh Tiara, jika berlanjut dan kejang mungkin kematian adalah alamat tepat untuknya. Namun takdir selalu berkata lain. Selalu ada orang baik yang menolong, kala kita menerbarkan kebaikan pada orang yang menjahati kita. Itulah prinsip hidup Tiara. Hingga saat ini.


 


 


 


 


 


 


 


 


Nb :  maaf author hanya mengingatkan akan update ketika berbuka, karena berbeda jam jadi lebih baik lihat malam aja ya... karena saling menghargai itu baik, jangan pedulikan balasannya.  Lope you All SFAUTHOR