
Jalanan begitu sepi, Tiara melihatnya dari atap gedung Mall yang mulai ramai. Malam minggu adalah waktu sakral untuk mereka yang berpacaran.
"Apakah kamu hanya mempermainkan aku?" tanya Tiara sembari melihat bintang yang tinggi. Berkelipan indah seolah mereka sedang sangat bahagia.
"Apakah kamu merindukan aku?" tanya Dave.
"Om enggak punya kaca ya, kita aja baru ketemu, ngapain juga rindu sama Om-om mesum," geram Tiara.
Sebenarnya Tiara sudah ratusan kali mengusir pria yang kekeh ingin berada disampingnya. Sungguh malam ini Tiara enggan pulang apalagi bertemu Banyu.
Ada sayatan yang mulai terbuka ketika dia mengingat bahwa masa bahagianya bersama Banyu telah berakhir.
Tiara menitikkan airmata yang sejak tadi dia bendung, "aku mulai mempunyai rasa padamu, nyatanya kamu mendua dengannya, menjalin hubungan bahagia bahkan terang-terangan di depanku."
Dave terdiam sejenak," kadang kamu harus merasakan kehilangan untuk tau seberapa berharganya dia," gumam Dave.
Tiara mengerutkan keningnya, "bahkan aku tidak akan pernah menyia-nyiakan dia, namun kenapa aku masih terluka," sanggah Tiara.
"Kau lupa bagaimana sikap sesungguhnya yang dia miliki, bisa jadi kali ini dia sedang menahan amarah karena kau belum juga kembali."
Ucapan Dave membuat Tiara tersenyum hambar. Bagaimana mungkin seorang Banyu menyesal dengan apa yang dia lakukan, bahkan Tiara sangat yakin bahwa Banyu akan bahagia bersama Hany.
"Pulanglah... orang yang kamu sayang akan datang dengan segenggam setia," gumam Tiara mengalihkan pembicaraan.
"Aku akan mengantarmu ke hotel," ucap Dave.
"Aku tidak punya cukup uang untuk menginap, bahkan aku yakin mereka tidak akan menerimaku dengan layak," ucap Tiara. Senyumnya yang datar terlihat sangat hambar.
"Lupakan saja dia, akan ada banyak Pria yang mau bersamamu," ucap Dave.
"Sepertinya banyak pria tidak cocok untukku, atau mungkin bisa di ganti dengan 'aku'," sanggah Tiara. Membuat Dave tertawa. Lesung pipitnya terlihat begitu manis.
"Apakah aku tampan?" pertanyaan itu membuat Tiara menggeleng cepat.
"Kau hanya baik," gumam Tiara.
"Tapi kau sangat cantik," bisik Dave.
Tiara menghela napas. "Baiklah, antarkan aku ke hotel Banyu," ucap Tiara dengan santai.
"Aku juga punya hotel, jika kau ingin menginap gratis," ucap Banyu.
"Boleh," jawab Tiara lalu berjalan mengikuti Dave menuju mobilnya.
'Banyu...apa kau melupakan aku dan anakmu, hingga seharian kau bahkan tidak mencariku, apakah kau terlalu sibuk dengan Hany, aku tau dia adalah pemegang sebuah rahasia besar perusahaanmu, tapi aku adalah masa depanmu,' Teriak hati Tiara.
Sesekali Tiara mengingat beberapa hal yang bahkan dirinya tidak tau apa yang terjadi. Apa yang dia ycapkan bahkan apa yang pernah dia lihat. Bahkan beberapa hari ini dia sering melihat sebuah mimpi, tentang hubungan erat antara Hany dan Banyu.
Setelah sampai di hotel yang Dave maksud, Tiara langsung mengikutinya dan meminta Dave untuk melupakannya.
"Kenapa?" pertanyaan Dave, mengejutkan lamunan Tiara.
"Karena aku sudah punya suami dan aku sedang mengandung anaknya," gumam Tiara.
"Suami jika menyayangimu dia akan mencarimy, dan aku yakin dia telah kehilanganmu semenjak tadi pagi," ucap Dave. Membuat Tiara tersentak. Membenarkan ucapan Dave dalam hati.
Dengan meneguk Saliva pelan Tiara tidak mampu bergeming.
"Dia sedang ke luar negeri," gumam Tiara dengan nada lemah.
"Pergilah, aku ingin mandi lalu terlelap," usir Tiara. Dengan pelan Dave pergi, namun sebelum itu dia memesan beberapa baju rumahan untuk di kenakan Tiara.
"Kau boleh melupakan hubungan lalu kita, namun aku tidak mau kehilanganmu untuk kedua kalinya, cukup dahulu, demi berjuang mensejahterakan perusahaan aku meninggalkanmu. Dan kali ini aku akan mendapatkanmu kembali."
Dave berjalan santai, senyum manis tidak lepas dari sudut bibirnya. Membuat beberapa pelayan yang melihatnya terpesona.
Tiara telah selesai membersihkan diri, bersiap untuk terlelap dan besok mulai mencari tau apa yang Banyu lakukan. Apakah mereka akan menikah karena Tiara tidak pernah menuruti perintah Banyu. Dan Banyu bosan, sangat tidak suka penolakan.
"Siapa?" tanya Tiara.
"Layanan hotel," jawab seorang wanita dari luar.
Tiara dengan pelan menuju ke arah pintu.
"Aku sepertinya tidak memesan apapun," ucap Tiara.
"Ini adalah layanan istimewa dari kami," ucap wanita itu menyerahkan pada Tiara sekotak besar kardus.
"Terima kasih," ucap Tiara. Dengan cepat menutup pintunya lalu meletakkan kotak itu di atas meja. Dan kemudian terlelap.
Hany terlelap, terpaksa Banyu mengajaknya tinggal di rumah dekat hutan dengan penjagaan ketat dan juga alat canggih yang mulai dia pasang di berbagai sudut.
Ibunya Hany telah di makamkan siang tadi, namun Hany masih terlihat sangat terpukul hingga Banyu tidak tega meninggalkannya sendirian.
Malam ini Minah dan Minem sedang membereskan kebun. "Katanya Nyonya suka kebun, kok semenjak datang tadi Nyonya belum kembali," gumam Minem.
"Iya nih Nem, pasti seru kalau kita bantu nyonya menanam bunga," ujar Minah.
"Tapi kenapa Non Hany shock gitu ya," sanggah Minem.
"Sini deh aku kasih tau," ucap Minah dengan suara sangat kecil.
"Apaan," bisik Minem.
"Hany adalah kunci dari sebuah pintu rahasia, di mana disana tersimpan kekayaan tuan Bayu yang hanya di pasrahkan pada Hany, makannya tuan Banyu takut kehilangan Hany," bisik Minah.
"Apa... seberapa banyak hartanya?" tanya Minem.
"Entahlah, tapi Nona Hany telah jatuh cinta pada Tuan Banyu, namun Tuan Banyu hanya menjaga perasaan Hany selama ini, sesekali Tuan terlihat parau jika Hany menginap di sini," jelas Minah.
"Alahhh.... kamu bohong ya," ejek Minem.
"Iya bener Nem, aku sendiri sering memergoki Hany yang ingin mencium Tuan," ujar Tejo.
"Hoalah Jo... Tejo, namanya juga orang kaya, biasalah di kejar-kejar banyak cewek, tapi aku suka Tuan sama Nyonya," bisik Minem.
"Bagaimana kamu tau?" tanya Tejo.
Berita banyak beredar bahwa yang menyelamatkan Tuan Banyu dari kegilaan sony adalah Nyonya sedangkan Hany hampir saja di hamili oleh mereka.
"Kenapa enggak buat aku aja," gumam Tejo.
"Hoalah jo... tejo kalau menghayal jangan tinggi-tinggi, jatuhnya sakit patah kaki lagi," ucap Minah. Membuat Minem tertawa.
Banyu yang tidak sengaja mendengarnya tersenyum. "Ya... aku tidak salah pilih menghamilinya, karena kelembutan Tiara hanya milik Banyu seorang," gumam Banyu sebelum akhirnya pergi menjauh dari tempat persembunyiannya.
Banyu kini terlelap di sofa ruang tengah, membuat Hany yang terbangun tengah malam mencarinya.
"Sayang... kok tidur sini... aku ketakutan, sepertinya penjahat itu mengincarku," ucap Hany. Bergelayut manja di lengah Banyu.
Banyu membuka matanya yang terasa sangat berat.
"Tenanglah di sini sangat aman," bisik Bany menenangkan.
"Aku takut," gumam Hany.
"Baiklah... aku temenin kamu tidur di kamar ya," ucap Banyu.
Hany mengangguk dengan cepat.
'kali ini kau akan menjadi milikku dan melupakan Tiara beserta anaknya untuk selamanya.teriak hati Hany.