Me And Daddy

Me And Daddy
Episode 3



Mataku terbuka, sayup-sayup aku mendengar suara shower yang menyala dari kamar mandi.


"Siapa itu!" teriakku.


"Pagi sayang,"


Daddy mendekatiku lalu melumat bibirku pelan.


"shit! Apa yang kamu lakukan!" teriakku sambil menggeram.


"Jangan marah-marah, aku makin sayang deh," bisik Daddy, sembari menghembuskan napas panas ditelingaku.


"Hmmm," geramku.


Tanpa menunggu aba-aba Daddy mendekapku dari belakang.


"Lepasin," gumamku.


"Kamu lupa tadi malam bahwa kita bermain dengan bahagia," bisik Daddy.


Dengan cepat Daddy mengikat tanganku dengan dasi lalu mengaitkannya ke kepala ranjang. Lalu tak lupa kakiku juga di ikatnya pada bagian bawah ranjang yang memang ada tiangnya.


"Daddy... hentikan!" teriakku.


"Jika kamu ingin berhenti, jangan mendesah," gumam Daddy. Mengambil viberator lalu menyalakan.


Mulai meletakkan pada kedua putingku, dengan getaran yang pelan namun penuh gairah nan menggiurkan,sekuat tenaga aku diam tidak menuruti keinginan tubuhku yang hampir di kuasai nafsu. Daddy mengernyitkan keningnya,  hingga ternyata daddy memasang satu lagi ke titik pusat sensitifku.


"Aku ini anakmu Daddy!" teriakku


"Dan aku mencintaimu semenjak dahulu," ucap Daddy. Menjilat telingaku bahkan leher dan perutku yang rata.


"Aaahhhh...ahhh...ahhh...oohhh.. yes...yes... fuck..." ucapku tak tahan dengan kenikmati yang menjalar hingga ubun-ubun.


Daddy dengan cepat memasukkan kejantanannya dalam tubuhku, hingga aku merasa ada cairan yang tumpah meleleh dari bawah tubuhku.


"Ternyata kamu jalang," ucap Daddy.


"Please... fuck me...fuck me," ucapku dengan lantang.


Benar... aku kehilangan ke sadaran bahwa seharusnya aku menjaga diriku. Sekarang aku menyerahkan keperawananku pada ayahny sendiri. Apakah aku masih bisa di sebut anak?


Pergumulan panas itu terjadi lagi dan lagi tanpa henti. Entah berapa kali Daddy menumpahkan cairan cintanya ke dalam tubuhku. Bahkan aku sama sekali tidak bisa menolak karena sedang berada dalam kenikmatan surga.


Aku terlelap hingga malam menjelang.


"Sayang... makan dulu," bisik Daddy membangunkanku.


"Aku lelah," gumamku, memejamkan mataku erat-erat.


"Kamu sama sekali tidak lelah sayang... kamu memikmati permainan kita," bisik Daddy.


Sontak aku terbangun, terngiang betapa rendahnya aku mengemis kepuasan hanya untuk nafsu sesaat yang menggiurkan dan merugikan diriku sendiri.


"Sial!" teriakku.


"Kenapa sayang?" tanya Daddy.


"Kau masih bertanya kenapa?"


"Yah."


"Kau menyetubuhi putrimu sandiri Daddy!"


"Ini keadaan darurat, jika nafsumu tidak tersalurkan kau akan mati."


"Biarkan aku mati,"


"Aku tidak bisa."


"Kenapa? Kenapa kamu tidak bisa? Sementara kamu bisa melukai mommy? Orang yang melahirkan dan membesarkanku!"


"Kamu lebih percaya padanya?"


"Padahal aku ingin menjelaskan bahwa yang menikah dengan mommymu dua puluh tahun yang lalu adalah saudara kembarku dan aku bukan Daddy-mu."


Mataku menatap tanpa bisa aku alihkan lagi. Sama sekali bukan diriku jika mudah percaya padanya. Aku lagi dan lagi di permainkan. Beberapa hari yang lalu sahabatku juga mempermainkanku.


Flashback...


Tiara duduk di taman belakang, menghitung rupiah yang berhasil dia kumpulkan dengan pelan dan susah payah. Datangkan Raina sahabat barunya menghampirinya.


"Hay... tiara, apakah memuaskan?" tanyanya.


"Ah... enggak... aku enggak apa-apa kok, hanya ada sedikit masalah,"' ucap Raina.


"Ada yang bisa aku bantu?" tanyaku.


"Aku butuh banyak uang, untuk biaya rumah sakit bunda," ucapnya.


Sesaat aku melihat jelas airmata yang tumpah, berulang kali aku menekankan bahwa diriku harus membayar banyak tagihan yang sudah menunggak beberapa bulan yang lalu. Biasanya aku bisa menyisihkan banyak uang, namun karena banyak kebutuhanku dan usaha untuk menghindari Daddy. Membuat biaya membengkak tanpa bisa ku tahan lagi,


"Berapa?" tanyaku pelan.


"30 juta untuk pertama kali operasi," ucap Rania.


"Apah... aku mana punya uang banyak gitu," ucapku.


"Aku sudah meminjam uang pada perusahaan 20 juta," gumam Raina.


"Ehm... ehm... aku kayaknya enggak bisa," jawabku.


"Tolonglah," bisik Raina.


"Heheheh maaf ya gajiku hanya lima juta dan aku juga membutuhkannya," ucapku.


"Uangmu itu bisalah aku pinjam, katanya kita sahabat, masa kamu enggak mau mengorbankan uang itu untukku sahabatmu."


Aku diam seketika.


Skak mat


Tamat


Padahal aku sendiri susah. Memang ada uang ATM penuh. Kiriman dari Daddy. Namun pantangan terbesarku adalah menerima bantuan darinya.


"Baiklah tapi bisakah secepatnya kamu menggembalikan, ini adalah uang hidupku selama sebulan," ucapku.


"Besok ayahku kirim uang dan aku akan mengembalikannya," ucapnya.


Aku memberikannya tanpa ada rasa sedih. Berharap bahwa secepatnya aku mendapatkan uang untuk sekedar makan sore ini.


Naas nyatanya masih menimpaku.


"Raina... mana uangku?" tanyaku ketika berhasil menemuinya di sebuah Mall terkenal.


"Uang apa?" Tanya Raina.


"Uang untuk apa? Aku bahkan tidak pernah kesulitan untuk mendapatkan uang," ucap Raina.


Sontak Aku terkejut... bagaimana tidak dia sendiri yang mengatakan bahwa keluarganya kesulitan untuk mendapatkan uang, biaya pengobatan ibunya.dan sekarang sedang berbelanja banyak barang mewah bersama seorang pria yang lebih mirip ayahnya.


"Siapa sayang," suara yang begitu aku kenal menghampiri Raina.


"Cukup sekali Raina... cukup sekali aku mengatakan padamu bahwa kau penghianat berkedok sahabat," gumamku lalu pergi meninggalkan  Raina yang aku yakini sedang bermain gila dengan ayahku.


Semenjak kejadian itu aku tepuruk, apartemen menunggak hingga empat bulan, hutang warung banyak dan juga hutang pada perusahaan sistem potong gaji.


Flashend.


"Terima kasih untuk selama ini, namun sepertinya aku harus mengatakan kembali bahwa aku sama sekali tidak berniat kembali ke rumahmu," gumamku.


"Cukup mommy saja yang kau permainkan bersama saudara kembarmu yang tidak pernah mengerti hati wanita,"


"Aku pergi... tolong jaga dirimu baik-baik dan jangan mengangguku lagi," gumamku.


Aku masuk ke dalam kamar mandi, membersihkan diriku, lalu mengganti bajuku, pantas saja dia begitu membenci Mommy ternyata aku dan Mommy bukanlah bagian dari keluarganya.


"Aku akan mencari pekerjaan dan bahagia tanpa bayangan Mommy yang sama butanya dengan cinta," gumamku.


Aku keluar dengan mengenakan baju dres simpel yang cukup terbuka.


" terima kasih telah memberiku penjelasan yang amat berharga," ucapku pamit keluar dengan menenteng beberapa koper besar yang berisikan bajuku.


"Baiklah jika itu pilihanmu, atau kau mau bertahan di sini bersamaku?" tanyanya.


"Tidak... aku sama sekali tidak tertarik untuk mengenalmu lagi," gumamku.


Aku berjalan meninggalkan rumah, sepertinya aku lebih mirip gembel yang hanya punya baju tanpa tempat tinggal. Rumah mommy sudah aku jual dan beberapa aset kecil telah aku musnahkan menjadi uang. Sungguh nasib buruk baru saja aku mulai. Tapi menyerah bukan alasan utamaku menjalani hidup yang tidak pernah adil ini. "Mommy semoga kau tenang bersama Daddy," gumamku.


Tiba-tiba saja perutku terasa melilit. Yah... aku lupa sejak kemarin aku belum makan dan aku sama sekali tidak memiliki uang. Dengan gerakan lemah aku memaksa kakiku untuk duduk di halte bus.


"Aku harus kuat,"'gumamku, sambil memegang kuat-kuat.