Me And Daddy

Me And Daddy
Eposide 24



Detuman jam menuai angka perlahan menjadikan malam, berubah pagi yang cerah dengan cuitan burung yang begitu bahagia. Menyambut matahari yang tenang menyinari dunia dari ufuk timur sana.


Tiara membuka mata untuk pertama kali selama hampir dua bulan lamanya terlelap. "Aku di mana? Kenapa ruangan ini begitu berbeda?"


"Aku di mana?" tanya Tiara dengan pelan.


"Kau sudah bangun sayang," suara itu mengejutkan Tiara.


Membuat Tiara menatap ke arah di mana orang itu berada. Menyipitkan pandangannya karena cahaya yang menyilaukan matanya. Terlalu cerah, hanya putih dan sedikit warna gelap.


"Pergi.... Pergi! Kamu siapa! Pergi...! Jangan mendekat!" teriak Tiara histeris.


Fenzo sedikit kecewa menghentikan langkahnya.


"Pergi! Aku tidak mau bertemu denganmu! Kau menamparku! Kau lebih memilih Hany dari pada aku yang mengandung anakmu!" teriak Tiara terus melempari Fenzo dengan bantal guling yang ada.


Fenzo dengan cepat menahannya. "Tenang... Tenangkan dirimu, kau akan baik-baik saja berada disini," bisik Fenzo yang berhasil mendekati Tiara.


Plaaaakkkk


Tiara menampar  Fenzo dengan cukup kuat,   Fenzo dengan pelan menyentuh wajahnya sendiri.


"Sialan... Selama ini belum ada seorang perempuan yang berani menamparku," gumam Fenzo dengan rahang menegang.


"aku sudah bilang jangan mendekat! Kenapa kau secepat kilat mendekatiku!" teriak Tiara. Tidak terima dengan makian Fenzo.


Akhirnya Fenzo memilih pergi dalam diam, jika dia masih tetap bertahan mungkin saja Fenzo tidak akan mampu menahan emosi yang memuncak hingga ubun-ubun.


Saat Fenzo keluar dia mendengar teriakan.


"Arrrggghhhh," teriak Hany.


Fenzo tersenyum singkat lalu berjalan pelan menuju kamarnya.


"Ada apa sayang?" tanya Fenzo.


"pergi kau pembunuh! Jangan pernah dekati aku! Pergi! Aku tidak sudi melihat wajahmu lagi," teriak Hany dengan histeris.


Anak yang dia kandung memang bukan anak Kenzo karena dirinya sendiri tidak tau. Berapa pria yang yang menidurinya selama ini. Saat mencapai titik kepuasan yang kadang membuat Hany lupa segalanya, bahkan dia tidak sadar ada beberapa yang sering melepas kondom demi mencapai titik membahagiakan saat berhubungan seks.


"Baiklah... Kau boleh pergi dari sini, tetapi kau tidak boleh membawa barang yang aku berikan," ucap Fenzo.


Hany keluar dari kamar menenteng koper yang penuh dengan barang miliknya. Saat berada diatas tangga, Hany berhenti sejenak karena perutnya sakit. Mendadak ada yang mendorongnya. Namun beberapa saat kemudian ada yang menahannya.


"Kenapa kau tidak membiarkan dia mati?" geram Fenzo.


Plaaakkkkk


"KAU PRIA BAJINGAN YANG SAMA SEKALI TIDAK PUNYA NURANI, ANAKNYA KAU GUGURKAN DEMI LARI DARI TANGGUNGJAWAB DAN SEKARANG KAU INGIN MEMBUNUHNYA KARENA RASA TIDAK TERIMA ATAS HINAANMU, BIADAB!" teriak Tiara dengan kata-kata yang begitu faseh penekanannya.


Hany mau tidak mau harus memandang Tiara lalu terkejut. "Hany?" ucap Tiara.


"Tiara? Bagaimana...?" belum sempat Hany menanyakan bagaimana dia bisa sampai di sini. Fenzo dengan cepat menggendong Tiara.


"Babby kecil... Kasihan anak dalam kandungannya marah-marah," bisik Fenzo saat Tiara masih ada dalam gendongannya.


"Bodoh! Kau menjijikkan," gumam Tiara.


Tiara dengan pelan mengelus Bayi dalam kandungannya yang berdetak cukup kencang. "Sepertinya anakku sangat membencimu jadi aku harap kamu pergi dari sini," ucap Tiara.


"ini rumahku," sanggah Fenzo.


"baiklah... Aku akan secepatnya pergi," gumam Tiara.


"Jangan," tahan Fenzo.


"jadi cowok yang berani ngambil resiko napa, mau berbuat harus mau bertanggung jawab!" teriak Tiara.


Fenzo menggaruk kepalanya bahkan ketika tidak ada yang gatal sekalipun. Berulang kali dia ingin menjawab namun melihat muka serius Tiara semuanya berubah. Dia bungkam tanpa suara.


Tiara berjalan masuk kedalam kamar lalu menguncinya dari dalam.


Tubuhnya luruh, kakinya terasa berat menopang tubuhnya.


"Aku di mana? Daddy... Banyu... Dave kalian tidak mencariku? Aku di mana?" ucap Tiara.


"Kenapa Hany masih ada di sini? Bukankah seharusnya Hany bersama Banyu? Lalu bagaimana Banyu? Kenapa saat aku menyebut namanya hatiku langsung gelisah," gumam Tiara.


"Aku sudah tidak berharga lagikah untuk mereka... Hiks... Hiks... Hiks," Tiara menangis.


Fenzo yang mendengarnya begitu iba. "Kau milikku, bagaimana mungkin kau tidak mengingatku, mereka jahat padamu, membuatmu membenci Mommy dan Daddy yang berjuang mati-matian untuk menyelamatkan hidupmu," ucap Fenzo.


"Arrrggghhh... Awww," teriak Tiara merintih kesakitan.


Tok tok tok


"Tiara...Tiara... Apa yang terjadi?" tanya Fenzo panik.


"Tiara... Tiara!" teriak Fenzo. Tidak ada jawaban.


"Gina! Siem! Kesini bawa kunci cadangan!" teriak Fenzo yang kepanasan karena khawatir.


"Baik Tuan!" teriak Bik Siem.


Dengan langkah tergopoh-gopoh, Siem menaiki tangga bersama Gina asisten pribadi Fenzo, Gina menenangkan Tuannya.


"Tenang... Tiara akan baik-baik saja," ucap Gina.


"Aku tidak mau kehilangannya, dia yang selama ini aku cari!" teriak Fenzo panik.


"Tuan... Nanti ada pesta di rumah Dave untuk memperingati kejayaan kerja sama kita," ucap Gina.


"Gina! Batalkan semua jadwal hari ini," ucap Fenzo.


"Tapi pak... Kita sudah menantinya dengan sangat lama," ucap Gina.


"Aku akan mendapatkan kesempatan besar esok hari," gumam Fenzo.


Cklik


Akhirnya pintu terbuka sempurna, ternyata Tiara duduk di atas tempat tidur sambil melamun.


"Kenapa sayang?" tanya Fenzo yang berjalan mendekat.


"Pergi kau Arrogant!" teriak Tiara.


"Apa? Arrogant?" tanya Fenzo.


"Anggryboy," sambung Tiara.


" Apa yang terjadi denganmu," tanya Fenzo.


"aku akan menjelaskan ketika kamu melakukan jadwalmu hari ini dan jangan usir Hany, biarkan dia bahagia bersamamu, aku tidak mau, karena aku ada di sini Hany menderita," ucap Tiara.


Gina menghela napas.


Fenzo menggeleng kepala tidak mengerti.


"Jangan lupa tutup pintunya dan tinggalkan aku sendiri, aku akan meminta penjelasan setelah kau berhasil melewati harimu," ucap Tiara.


Dengan pelan membaringkan tubuhnya. Lalu menyelimuti pelan dan memejamkan mata.


Fenzo akhirnya mengalah, membiarkan Gina membatalkan konfirmasi pengunduran jadwal. Dan turun dengan stelan jas lengkap menghampiri Hany.


"Kau masih boleh tinggal disini, sampai tubuhmu benar-benar pulih, serum samalam hanya mengambil janinmu bukan kesehatanmu," jelas Fenzo. Tanpa menunggu jawaban dia langsung pergi meninggalkan Hany


"Kenapa kamu masih baik sama aku? Padahal aku sudah jahat, aku menyiksamu, aku hampir menggugurkan kandunganmu," ucap Hany.


"Karena aku tau rasanya kehilangan orang yang paling aku sayangi, jadi jangan pernah berharap aku membencimu, sebenarnya mudah teramat mudah namun aku berusaha memahami kehilangan adalah alasan balas dendam yang pas," gumam Tiara. Yang ternyata berada di lantai Dua. Setelah mengatakan itu Tiara pergi.


"Karena jika aku membalasmu, maka aku akan mendapatkan balasan yang sama, jika aku baik padamu maka aku akan mendapatkan kebaikan yang sama," ucap Tiara.


"Nyonya, silahkan makan dulu," ucap Bik Siem.


"Siapkan juga untuk Hany, jangan lupa beri segelas susu hangat dan buah-buahan, tubuhnya butuh banyak asupan karena kehilangan kekuatan," gumam Tiara.


Bik siem hanya mengangguk, lalu berjalan ke dapur mempersiapkan makanan untuk Hany. Tiara berjalan menjauhi tangga, membiarkan Hany terpaku diam, memikirkan apa saja kesalahan yang dia perbuatan.


"Apakah Banyu baik-baik saja, aku tadi salah menamparnya," gumam Tiara.


Dia ingat benar apa yang terjadi tadi pagi, Tiara memakan sedikit lalu meninggalkannya.


"Lebih baik aku jalan-jalan sebentar," ucap Tiara.


Langkahnya pelan menuju taman bagian depan.


"Nyonya! Jangan keluar!" teriak Bi Siem.


"Kenapa?" tanya Tiara.


"Bukan masalah itu, tapi Tuan Fenzo tidak memberi anda izin keluar dari rumah ini, jangan sampai anda melanggar, karena anda tidak tau seberapa gila Tuan Fenzo," jelas Bik Siem.


Tiara mengangguk.


"Bagaimana kondisi Hany?" tanya Tiara.


"Belum bisa memastikan, Fenzo kehilangan akal membunuh bayi itu," gumam Bi Siem.


"Aku sudah mencegahnya," ucap Tiara.


"Tapi terlambat, Hany mengalami guncangan hebat mungkin karena kehilangan anaknya," jelas Bi Siem.


Tiara duduk di kursi mengacak rambutnya. " Aku harus memberi dia sedikit pelajaran," gumam Tiara.


"Jangan, atau hany yang akan menjadi umpan yang nikmat," ucap Bi Siem.


Bi siem kemudian pergi, membiarkan Tiara sendirian, sedangkan Tiara merasa aneh pada tubuhnya, rasa lemah dan juga ingin memakan sesuatu. Namun sesuap saja cukup untuk mulutnya.


like and Coments