
"Bagaimana?" tanya Suster dengan nada ragu.
"Kamu mau mati ngelawan manusia ular itu?" tanya Dokter. Dia berulang kali membenarkan letak kacamata, sesekali menghapus airmata yang hampir jatuh. Penyesalan tidak akan ada ujungnya bahkan sampai lupa bagaimana cara mengembalikan tanpa maaf yang berlebihan.
"Iya... Tapi kita dosa tau enggak sih, mana tau nanti kita bisa menyelamatkan dia dan dia enggak mau kita di penjara," ucap Suster.
"kamu bodoh apa tolol, perusahaan Banyu aja sudah jatuh ditangannya, bagaimana kita yang hanya butiran debu lolos dari mautnya," jelas dokter membuat suster mengangguk pelan.
"Lagian kurir serumnya belum datang," gumam Suster.
"Iya... Tumben biasanya sudah datang," ujar Dokter. Clingukan ke sana kemari dengan sedikit mengerutkan keningnya.
"Ini udah hampir tiga jam kita nunggu," gumam Suster. Melihat jarum jam yang ada di tangannya.
"Sabar saja, selangkah lagi kita bebas, walaupun kita ingin menyelamatkan, namun apalah daya kita yang miskin selalu kalah dengan uang dan kuasa," gumam Dokter. Menepuk pundak suster dengan pelan.
Ada orang yang diam- diam masuk melalui jendela, lalu memasukkan sesuatu langsung dari infus bagian bawah. Suster dan dokter sedang berjalan ingin memasuki kamar Tiara.
"Ayo kita lihat bagaimana kondisinya," ucap Dokter.
"Baiklah," ucap Suster.
Saat tangannya menyentuh gagang pintu, mata si penyusup itu terus memandang gagang pintu yang menurun.
Tit
Tit
Tit
Tit
Tit
Tit
Suara detakan nadi Tiara terdengar sangat teratur dan tenang.
Tiara bernapas seperti biasa.
"apa yang kau lihat?" tanya Dokter. Ketika melihat suster sangat terkejut.
"Tidak...," ucap Dokter.
Dokter merasa ada seseorang yang menepuknya pelan. Tanpa memalingkan wajahnya, Dokter hanya diam bagai patung, seluruh tubuhnya kaku karena ketakutan yang berlebihan.
"Segera suntikkan serum ini, sebelum semuanya berakhir," bisik seseorang yang memakai penutup mata. Seperti ninja.
Dokter hanya mengangguk pelan.
"Suster... Siapkan alatnya," Ucap dokter.
Suster hanya mengangguk.
Sebentar lagi semua berakhir, mungkin itulah mantra yang mereka ucapkan hingga mereka berhasil menancapkan jarumĀ suntik ke selang infus yang langsung menuju ke darah.
Laappp
Lampu mati seketika, membuat tubuh Tiara mengejang.
"Apa yang terjadi?" tanya dokter dan suster langsung berlari menuju pintu meninggalkan Tiara sendirian.
"Inilah yang aku takutkan, penunggu rumah sakit marah karena kebodohan kita," ucap Suster.
Dokter dan Suster bergandengan menjauh dari rumah sakit. Mereka ingin menyelamatkan diri dari maut.
Saat mereka sampai di depan rumah sakit entah kenapa mereka masih berlari dan sesampainya di trotoar.
Ada lampu silau yang menerpa mereka.
Ciiitttt
Bruaaakkkk
Tubuh Suster dan Dokter itu terpental jauh. Dengan darah yang mengalir dari kepala dan mulut. Hanya hitungan detik. Untuk menyaksikan kematian mereka.
####
Dave begitu heran dengan apa yang terjadi. Bagaimana rumah sakit besar milik Banyu bisa mati lampu? Ada banyak gengset dan sekarang menit ke 30 tidak ada tanda-tanda mereka menyalakan lampunya kembali.
"Ada apa ini Andi?" tanya Dave.
"Rumah sakit Banyu, bagaimana? Biasanya tidak ada keteledoran yang terjadi," ucap Andi.
Dave mengangguk pelan.
"Segera temukan kesalahannya, aku ingin tau apa yang terjadi sebenarnya. Jika terjadi sesuatu dengan Tiara pastikan dokter dan suster yang merawatnya tidak pergi," gumam Dave.
Dave terlihat sangat khawatir. Belum lagi keberadaan Banyu, bahkan perusahaannya pun mengalami penurunan yang teramat sangat jauh.
"Cepatlah kalian bangun dan jangan libatkan aku lagi, bahkan selama hampir dua minggu aku belun menikmati tubuh para budak nafsuku," gumam Dave.
Dave benar-benar harus bekerja ekstra, perusahaan Banyu tidak boleh gulung tikar. Sekalipun Dave harus benar-benar tidak tidur untuk beberapa hari.
Banyu terlihat begitu tenang, bak pangeran tidur yang mengharap putri raja mau menciumnya untuk bangun.
Dalam mimpi Banyu, dirinya hanya menyebut nama Tiara.
Dalam mimpi Banyu.
Tiara sedang tersenyum bahagia, memetik banyak bunga untuk hiasan rumahnya.
"Tiara... Tiara... Apakah kau tidak ingin membangunkanku?"
Banyu berteriak memanggilnya.
"Tidak... Aku sama sekali tidak mau kehilanganmu," teriak Banyu.
Melihat Tiara pergi membawa sekeranjang Bunga untuk di rangkai menjadi hiasan indah yang menawan.
"Kenapa kau tidak mau mendengarkan aku, apakah aku sejahat itu hingga kau lebih cepat lupa tentang aku!"
Banyu semakin terpuruk akhirnya terlelap. Menikmati mimpi dalam gelap, biarlah... Biarkan semua berakhir tanpa kejelasan yang pasti.
####
Fenzo dengan santai menyuruh anak buahnya mengikuti rencana yang dia susun semalam. Tidak akan ada yang tau bahwa insiden rumah sakit Banyu adalah ulah Fenzo. Dengan pelan dia meminta anak buahnya untuk memberikan serum kepada gadis yang dia ketahui bernama Tiara. Dia juga meminta pembantunya memberi serum obat keguguran pada Hany.
"Bagaimana dengan Hany?" tanya Fenzo.
"Obatnya mulai bereaksi Tuan, beberapa kali Nyonya Hany berlari cepat ke kamar mandi," gumam Pembantunya.
"Bagus, aku tidak ingin dia mengotori nama baikku dan keluargaku dengan mengatas namakan anak yang bukan anakku," gumam Fenzo.
Sebenarnya Fenzo meminta detail hasil visum kandungan Hany, hingga dia mengetahui usia kandungan Hany hampir dua bulan. Sungguh miris bukan, di luaran sana ada yang rela di madu demi mendapatkan keturunan dan disini, hamil harus digugurkan karena bukan anaknya.
Segerombol orang datang dengan menggendong seorang gadia yang sama sekali tidak berdaya.
"Kau kembali sayang," bisik Fenzo dengan pelan.
"Bawa ke kamar istimewa dan panggil dokter secepat mungkin," ucap Fenzo.
Tanpa menunggu lama Fenzo mengurus semuanya dengan sangat rinci, tidak ada jejak apapun. Bahkan anak buahnya berhasil membunuh kedua orang biadap suruhan Hany.
"Kau akan mendapatkan ganjarannya Hany," gumam Fenzo.
Berjalan cepat menuju kamar Hany.
Tok tok tok
"Hany," panggil Fenzo.
"Arrgghhh... Iya...," jawab Hany sembari menahan sakit teramat sangat.
"Apa yang terjadi?" tanya Fenzo, dengan senyum manis yang tulus.
"Bisa tolong panggilkan dokter?" pinta Hany.
"Baiklah," ucap Fenzo.
Dokter datang dengan cepat Fenzo memerintahkan untuk menangani gadis yang diculik anak buahnya.
Sedangkan Hany, mengerang kesakitan teramat sangat, kemaluannya mengeluarkan darah yang cukup banyak.
"apakah aku keguguran?" tanya Hany.
Setengah jam kemudian Hany tidak sadarkan diri, dengan keringat dingin yang terus berkucuran deras.
"inilah akibatnya jika kau melukai orang yang tidak tau apa-apa," gumam Fenzo. Yang datang bersama dokter.
"Berikan dia infus, tambah darah dan obat tidur, usahakan dia istirahat untuk beberapa hari," gumam Fenzo.
###
Dave terkejut ketika rumah sakit milik Banyu lampunya menyala. Ternyata Tiara tidak ada di ruangannya. Tidak ada yang tau di mana keberadaannya.
"Kau di mana lagi? Astaga! Bagaimana Banyu bisa hidup lagi tanpa kamu? Karena kamu adalah alasannya untuk ceroboh dan keyakinanku besar bahwa kamu alasannya untuk bangun," gumam Dave.
" Tuan... Hany hamil kemudian keguguran," ucap Andi.
Dave sama sekali tidak perduli.
Hayoloh hayoloh.... Authornya makin gajekan.... Jangan lupa komennya yah