Me And Daddy

Me And Daddy
Episode 26



Dengan langkah berat akhirnya Tiara menjauh dari Fenzo, "Kamu berhak bahagia, tanpa aku Fenzo, sudah cukup aku adikmu yang merebut kasih sayang kedua orangtua kita, walaupun karena dendammu dulu aku kehilangan mereka, aku yakin mereka akan bahagia selamanya," gumam Tiara.


Akhirnya malam ini Tiara berjalan kaki menuju rumah Dave, hanya Dave satu-satunya orang yang mampu menyatukan dirinya dengan Banyu.


Blleedaarrrr


Petir menyambar


Kilatan mengerikan datang bersama angin kencang.


'Rupanya Rumah Fenzo berada di daerah sini, Kota  Menteng pusat sangat dekat dengan rumah Banyu yang ada Cikini Raya,' gumam Tiara dalam hati.


Tiara berjalan menembus hujan, angin malam juga kegelapan sama sekali tidak menggoyahkan hatinya.


####


Fenzo yang menyadari bahwa Tiara pergi langsung mencarinya, semua bodyguardnya berpencar hingga akhirnya Fenzo memutuskan untuk keluar rumah karena CCTV menunjukkan Tiara berhasil keluar melalui pintu depan rumahnya.


"Tiara... Kamu di mana?" tanya Fenzo dengan khawatir.


Fenzo mengendarai mobil di bawah guyuran hujan yang semakin deras, Fenzo sebenarnya sangat menyesal karena Tiara tau bahwa dirinya bukanlah pria yang ingin menjaganya. Dia adalah pria bodoh yang mau dipermainkan dendam kadang Fenzo sempat berpikir, apa bedanya aku dengan Hany? Jika Fenzo sendiri mempunyai bara dendam yang siap untuk saling menyakiti.


"Tiara!" Panggil Fenzo dari jendela mobil yang terbuka sebagian.


Sudah dua jam Fenzo mencarinya, dia melalui jalan besar karena sistem satu arah berlaku, sedangkan Tiara melewati arah yang berlawanan.


Tiara terlihat mengigil, dua jam dia tiba di Cikini namun kenapa tiba-tiba dirinya lupa rumah Banyu.


"Sayang... Kuatkan bunda ya," bisik Tiara.


"Sayang... Kuatkan Bunda ya," gumam Tiara lagi dan lagi. Bagai mantra penghilang lelah dan dingin.


Ciiitttt


Tiba-tiba Tiara dikejutkan dengan dengan decitan suara mobil yang berlawanan arah.


"Jalan pakek mata kenapa!" teriak Tiara spontan.


Keluar sosok pria yang langsung memeluk Tiara.


"Akhirnya aku menemukanmu," bisik Pria itu.


"Fenzo... Bantu aku please, tolong... Bantu aku menemukan Banyu," bisik Tiara.


"hiks...hiks...hiks aku sudah memaafkannya tolong... Temukan dia," desis Tiara.


Fenzo terdiam.


"Mari kita pulang," ucap Fenzo.


"Aku enggak mau," ucap Tiara.


"Kita pulang dulu ya," bisik Fenzo.


Tiara melepaskan pelukan Fenzo.


"Aku ingin bertemu Banyu, dan kau tidak berhak melarangmu," ucap Tiara.


"Kita pulang... Ganti baju, lalu istirahat besok kita cari Banyu sama-sama," jelas Fenzo dengan suara sangat lembut. Fenzo terlihat sangat kesulitan untuk menahan emosinya.


Plaaakkkk


Tiara yang lepas kontrol langsung menampar Kenzo.


"Apa yang kau harapkan dari Banyu yang berbuat sesuka hatinya, meninggalkanmu setelah puluhan tahun mempermainkanmu!" teriak Fenzo.


"Banyu yang sudah merenggut keperawananmu bahkan sebelum usiamu genap 20 tahun."


"Banyu yang tidak pernah menginginkan kehadiranmu, karena menginginkan Hany, seharusnya kau bersyukur aku masih menganggapmu saudara! Seharusnya kamu senang memiliki keluarga yang kaya raya sepertiku."


Ucapan Kenzo membuat Tiara semakin deras mengeluarkan airmata.


"Aku mencintainya," desis Tiara.


"Cintamu terlalu buta hingga tidak bisa membedakan mana yang sempurna mana yang hanya mencari penyempurna!"


"Aku tidak perduli!"


"Bohong kalau kau tidak perduli, bohong jika kamu tidak sakit hati," ucap Fenzo.


Tiara terdiam. Membiarkan air hujan menutup matanya dengan ribuan embun.


"Dave... Dave akan membantuku," gumam Tiara.


"Dave mantan tunanganmu yang telah kau hianati apakah masih mau menampungmu, wanita hamil yang tidak tau diri," geram Fenzo.


"Aku tidak akan berhenti," gumam Kenzo.


"HENTIKAN!" teriak Tiara, menutup telinganya sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


"AKU TIDAK AKAN BERHENTI!" teriak Fenzo.


"Fenzo kau memang kejam," geram Tiara.


"Aku memang kejam apakah kau menyesal mempunyai saudara kejam sepertiku, bahkan kedua tanganku mampu membunuh siapapun yang melukaiku," ucap Fenzo.


"Psicopat," geram Tiara.


"Aku tanggungjawab dengan apa yang kau perbuat," ucap Fenzo.


"Kau lupa? Apa tidak ingat cara berpikir yang benar! Kau membunuh anak Hany! Kau mengambil haknya sebagai seorang ibu dan kau menghentikan harapannya untuk melihat dunia," ucap Tiara.


"Itu masalah lain," ucap Fenzo.


"Masalahmu adalah egois," ucap Tiara.


"Sebenarnya masalahku adalah antagonis," gumam Fenzo mengakui kesalahannya.


Tiara berulang kali melawan pusing yang berlebihan, pandangannya buram. Ada bunyi nyaring di telinganya, dan juga napasnya hampir tercekik.


"Tiara... Tiara!" panggil Fenzo.


"Aku...a...ku...mo...mo...hon....pertemukan... Tolong... Pertemukan aku... Se...se...seka...li...sa...ja.... De...dengan Ban...yu," ucap Tiara terbata-bata lalu tubuhnya luruh ke atas aspal. Untung dengan sigap Fenzo menahan pinggangnya. Jika tidak mungkin saja perut Tiara akan terbentur trotoar dan keguguran.


"Tiara... Tiara... Astaga demammu sangat tinggi," ucap Fenzo dengan khawatir.


Tanpa menunggu lagi Fenzo menaiki mobil dengan kecepatan Tinggi, cara menyetirnya yang zig zag dengan cepat menyelinap dari mobil satu ke mobil lainnya untuk menghindari kemacetan.


"Banyu... Banyu," gumam Tiara.


"Sebentar ya sayang, kita akan kembali ke rumah dan kau akan secepatnya sembuh," gumam Fenzo.


"Banyu... Banyu... Please kembalilah," ucap Tiara.


Fenzo menyetir dengan bruntal, dia sangat khawatir karena mendadak wajah Tiara memucat dengan sudut matanya mengeluarkan airmata.


"Banyu, Banyu," Tiara terus mengumandangkan nama itu, padahal dirinya dalam keadaan yang buruk.


Sesampainya dirumah Kenzo langsung menyuruh bik Siem untuk mengganti bajunya.


"Dokter datang ke sini segera," ucap Fenzo.


Hany yang penasaran dengan apa yang terjadi langsung keluar kamar dan berjalan menuju sumber suara.


Fenzo dengan baju basah kuyup, membuat hati Hany tersayat. "Fenzo... Tidak sebaiknya kau ganti baju lagi," gumam Hany.


"Diam kau jalang!" teriak Fenzo.


"Apa yang terjadi dengan Tiara?" tanya Hany.


"Itu bukan urusanmu jalang," gumam Fenzo.


"Aku tau memang kau pantas membenciku, tapi ketahuilah bahwa Banyu keadaan sangat mengkhawatirkan," ucap Hany. Duduk di kursi yang jauh dari tempat Fenzo.


"mengkhawatirkan?" tanya Fenzo.


Hany mengangguk.


"kecelakaan merenggut nyawanya, masih dalam keadaan koma, semenjak Tiara pergi meninggalkannya atau tepat usia pernikahan kita lamanya," ucap Hany.


Fenzo mengangguk, " Pria pecundang itu memang tidak pantas mendapatkan adikku," gumam Fenzo kemudian.


"Apakah kau tidak akan menyesal dengan keputusanmu? Aku takut penyesalan yang kamu derita membangkitkan jiw jahat Tiara," ucap Hany.


"Apakah aku menyuruhmu berargument denganku, dari awal aku sudah menduga bahwa Banyu adalah ayah dari anak itu dan juga paman dari Tiara, salah... Hubungan ini salah," ucap Fenzo.


Dokter keluar dengan wajah tenang yang hanya mengecoh Fenzo.


"Bagaimana keadaannya," tanya Fenzo.


"Dia butuh banyak istirahat peperangan batinnya sungguh besar sehingga mampu mempengaruhi sebagian besar kesadarannya," jelas Dokter.


"Lalu?" tanya Fenzo.


"Apakah tidak sebaiknya anda mempertemukan mereka, Banyu... Hanya nama itu yang dia sebut bahkan beberapa kali dia menangis," ucap Dokter.


"Ini adalah jalan terbaik, aku tidak ingin melukainya lagi," ucap Fenzo. Lalu berjalan menuju kamar meninggalkan Dokter. Pria keras kepala dengan otak batu yang kaku memang sulit di rubah jika sudah berkata tak jemu.