Me And Daddy

Me And Daddy
Extra part 5



Tiara sedang sibuk memasak di dapur, Banyu berulang kali melarangnya namun tetap saja kalah dengan dua buah hati mereka. Bryan dan Tania, Bryan kini berusia 7 tahun sedangkan Tania berusia 6 tahun. Setelah pergumulan panas malam itu, dua bulan kemudian Tiara hamil, dan enam bulan setelahnya Tiara melahirkan Tania.


"Pagi sayang," sapa Banyu.


"Pagi," jawab Tiara.


"Di mana mereka?" tanya Banyu, yang clingukan mencari mereka.


"Itu, lagi main sama Verra dan juga Uncle Dave," jawab Tiara.


"Kenapa enggak ditemani, biarkan pembantu yang masak," ucap Banyu.


Tiara menghentikan aktifitas masak memasaknya lalu menatap Banyu dengan tajam.


Dengan helaan napas kasar, Tiara memutar bola matanya, "Pak Tua! Jika aku membiarkan mereka masak? Mau Bryan enggak makan atau Tania merajuk? Astaga apakah kau lupa, Hei! Jangan kabur pak Tua!" teriak Tiara.


Sungguh itulah yang terjadi semenjak mereka hidup satu atap, banyak kejadian yang menyenangkan terjadi. Bahagia memang tidak selalu harus direncanakan dengan matang, tapi bahagia seringkali datang dari hal biasa yang tiba-tiba saja ada.


Banyu menggeleng pelan,"Pak Tua?" gumamnya.


Usia mereka memang terpaut hampir 20 tahun, membuat Tiara selalu memanggilnya 'Pak Tua' kala Banyu dengan tidak pekanya mengkritik apa yang sedang dia kerjakan.


Sebenarnya Banyu mengerti bahwa Bryan hanya mau makan dari masakan Ibunya yang bahkan jauh dari kata enak, sekarang jauh lebih baik dibandingkan beberapa waktu yang lalu.


"Pak Tua selalu saja pikun," ucap Tiara sembari memasukkan ayam ke minyak panas untuk di goreng.


Banyu yang berkumpul dengan kedua buah hati, Fenzo, Hany, Verra (anak Fenzo dan Hany), Dave bersama calon istrinya Diva. Keluarga bahagia yang terbentuk begitu saja, siapa yang menyangka bahwa ikatan awal yang rumit kini mulai terurai menemukan titik temu yang terang.


"Kenapa Tiara?" tanya Hany.


"Kau lupa, nenek sihir selalu saja ngomel," gumam Fenzo.


"Iya, hahaha, kau tau berapa mengerikan kala nenek sihir mulai ngomel," sanggah Banyu.


"Tapi dia selalu istimewa," sangkal Dave.


"Iya... Istimewa karena hanya milik Banyu," gumam Banyu.


Dave, Fenzo, Hany dan Diva terkejut dengan ungkapan anak kecil Bryan.


Lalu mereka tertawa.


Bryan datang menemui Bundanya.


"Bunda?" panggil Bryan.


"Ya sayang," jawab Tiara yang sedang menata hidangan di atas meja makan.


"Ayah jahat, masa aku bilang kalau bunda milik Bryan, mereka langsung tertawa," desis Bryan.


'Astaga jangan sampai anakku ketularan gila kuasa seperti ayah dan pamannya,' Batin Tiara.


"Jangan diambil hati, ayah cuma bercanda sama temennya, jangan ikut campur urusan orang dewasa," bisik Tiara.


Bryan hanya mengangguk lalu pergi menuju kamarnya, biasanya dia akan merenungkan perkataan Tiara lalu keluar jika moodnya sedang kembali.


"Ada apa sayang?" tanya Banyu yang heran karena Tiara berulang kali melihat tangga.


"Jagoan kita lagi merenung, plin-plan kek kamu kayaknya," gumam Tiara.


"Apakah kamu masih ragu akan cintaku? Padahal kita telah berjalan beriringan selama hampir 7 tahun," ujar Banyu.


Tiara mengangguk, "Kau tidak bisa mengerti Bryan padahal kalian sama," gumam Tiara.


Banyu tersenyum, memang benar Bryan sangat mirip dengannya sedangkan Tania begitu mirip dengan Tiara.


Keseharian mereka menjadi berwarna dengan kehadiran berbagai cerita kedua buah hatinya. Bahagia, mereka berjuang untuk selalu bahagia. Saling dewasa mengatasi masalah dan berharap cinta mereka abadi hingga akhir hayat.


End


Komen dong, oh iya habis ya extra partnya author mau lanjutkan yang lain. Semoga tidak mengecewakan😊😊