
Tiara tidur dalan dekapan Banyu. Matanya terpejam, namun entah kenapa hatinya berdebug dengan kencang.
"Suamiku pergi... maukah kau menikahiku, anggap saja aku temanmu, jangan sakiti aku sepertinya yang begitu kaku," gumam Tiara dalam tidurnya.
Banyu tersenyum datar. Dengan pelan mengecup pucuk kepala Tiara.
"Aku akan menyayangimu, hingga sisa usiaku," ucapnya dengan yakin.
Tiara kembali terlelap, memeluk Banyu. Pelukan yang hangat dan penuh kerinduan, tanpa sengaja Tiara menikmatinya. Persetan dengan omongan orang, cinta memang gila, segila-gilanya cinta dia hanya punya dua kepastian, yaitu terluka atau bahagia. Sesekali mereka harus merasakan bahagia di tengah ribuan luka dan merasa terluka saat mereka bahagia.
Pagi ini mendung, Tiara belum juga bangun, sementara Banyu telah stand by di depan laptop menyala. Wajahnya yang tegas, seksama mengamati seluruh berita yang ada. Banyak hal negatif yang terpampang jelas dalam berita itu, mengenai dirinya dan Sony. Bella benar-benar telah merencanakan semuanya dari awal. Rapi namun belum tentu mendapatkan hasil yang memuaskan.
"Apakah ada perkembangan," ucap Banyu.
"Belum," jawab Hany, yang duduk tak jauh dari tempat Banyu.
Sesaat Banyu mengalihkan pandangannya, ke langit luas yang ada di sampingnya. Awan yang dengan riang saling berkejaran, bahkan beberapa tersenyum ramah menyambut matahari yang enggan datang. Mereka masih setia menciptakan kebahagiaan, berharap matahari iri lalu keluar dengan sendiri dan ikut menari.
"Bella... dia begitu berani melakukan banyak hal dan sekarang menghilang," gumam Banyu. Sambil melihat hasil rekaman perusahaannya.
"Kabar terakhir mengatakan bahwa Sony menyelamatkan Bella dari kecelakaan maut yang Bella buat sendiri, namun saya yakin Pak. Bahwa Bella memutar balikkan fakta menjadikan Anda dalang dari semuanya."
Banyu hanya diam dia enggan mengatakan apapun, fakta tentang Bella sudah terkuak meski terlambat, namun antisipasi yang telah Banyu siapkan hampir berhasil.
"Kemudian, Sony akan menghasut seluruh rekan bisnis anda, untuk mengingkari bersamaan dan menghancurkan Anda seketika."
Banyu tersenyum.
"Kita akan lihat siapa yang setia, dan penipunya," gumam Banyu.
"Oh iya, semalam Anda meminta saya untuk mengosongkan Villa, Banyu HappyHouse Jeju," jelas Hany.
"Iya," gumam Banyu.
"Sesampainya di sana Anda bisa menggunakannya," ucap Hany.
Hany mendekati Banyu, menatap tajam mata Banyu, lalu pelan-pelan tubuhnya bergeser tepat berada di samping Banyu.
"Pak... apakah saya tidak cantik?" tanya Hany. Pipinya terlihat bersemu merah.
Banyu sontak mengerutkan keningnya. Apakah semua wanita yang ada di dekatnya akan terperangkap dalam cinta dan ketampanannya.
Hany dengan lembut mengelus paha Banyu, dengan baju berbelahan dada rendah, Banyu bisa melihat buah dada sedang milik Hany ingin keluar. Namun dengan cepat Banyu mengalihkan pandangannya. Ah, pelacur lagi, itulah yang terlintas dalam pikiran Banyu.
"Apakah Bapak tidak tertarik dengan saya?" bisik Hany. Dengan sedikit menghembuskan napasnya ke leher Banyu.
Dengan pelan, kepala Hany mendekati Banyu. Tangan Hanya mengalung di leher Banyu.
Dan...
.
.
.
.
.
.
.
Cup.
Hany melumat ganas bibir Banyu. Sedangkan Banyu berusaha menolak, membuat Hany dengan gencar menciummnya. Benar-benar pemandangan yang spektakuler, Bella baru saja terlepas dari genggaman Banyu dan sekarang Hany juga akan sama, dia akan memikat Tuannya.
Tiara yang sejak tadi telah bangun, membatu di dekat pintu. Apakah yang mereka lakukan? Haruskah aku marah? Haruskah aku membencinya? Yah dia adalah pamanku? Adik dari ayahku! Tapi aku mencintainya dan dia mencintaiku! Apakah salah! Lalu di mana letak kesalahannya yang lagi-lagi membuatku meratapi! Teriak batin Tiara.
"Hoekk....hoekkk," Tiara dengan cepat berlari ke kamar mandi. Dia tidak perlu, memperdulikan jalang dan penghianat itu terlalu lama.
Perutnya melilit sakit, mual menghinggapi hingga panas di tenggorokannya. Belum lagi rasa pusing yang luar biasa menyerang, bulir-bulir permata jatuh, membasahi pipinya yang belum tersentuh air.
"Hoeeekk...Hoeekkk,"
Tiara memuntahkan semua makanan yang ada di perutnya hingga lemas.
Matanya terus mengalir, cairan bening, hatinya terasa sakit.
"Hooeekk... hoekk,"
Tiara muntah lagi, kali ini yang keluar bukan lagi makanan, melainkan cairan kekuningan dengan rasa teramat pahit.
Tok tok tok
"Tiara!" teriak Banyu dari luar.
"Kamu kenapa! Buka pintunya," ujar Banyu.
Tiara diam mematung
Membiarkan rasa sakit menyeruak, berubah menjadi airmata yang tidak bisa di bendungnya. Tubuhnya jatuh pelan ke lantai.
"Tiara!" teriak Banyu.
Dengan cepat Tiara menghapus airmatanya, dengan usaha yang tidak mudah Tiara berdiri menyandar. Berusaha terlihat baik-baik saja, mungkin keputusan yang tepat.
Ceklek
Dengan lemah, dia membuka pintu.
Banyu dengan cepat memeluk Tiara.
"Jangan lakukan lagi," bisik Banyu.
Tiara tersenyum pelan.
"Aku baik-baik saja, mungkin bayinya ingin aku terlelap lagi, boleh aku meminum obat tidur," gumam Tiara.
"Tidak!" tegas Banyu.
"Aku lemas," desis Tiara. Suaranya kini begitu lemah.
"Tidurlah, Hany sedang menghangatkan susu segar untukmu," bisik Banyu, menggendong Tiara ke dalam kamarnya.
"Baiklah," gumam Tiara.
Banyu dengan sabar membenarkan letak bantal Tiara.
"Terima kasih, boleh tolong ambilkan novel itu," tujuk Tiara di atas rak kecil ada beberapa novel usang.
"Kamu suka baca?" tanya Banyu.
Banyu berdiri, mengambilkan buku yang Tiara maksud, lalu menyerahkannya.
"Silahkan, minum susunya," ucap Hany saat menyerahkan segelas susu hangat.
"Terima kasih," gumam Tiara. Dengan senyum manis dia menerima susu pemberian Hany.
"Apakah ada yang sakit?" tanya Hany.
Tiara menggeleng cepat, "mungkin karena hamil muda, jadi ada aroma aneh langsung mual," jelas Tiara.
Hany sedikit terkejut.
"Kakak... mana suaminya?" tanya Hany, spontan Banyu melirik pelan ke arahnya.
"Sayang... apakah dia baru bekerja denganmu?" tanya Tiara dengan bergelayut manja di lengan Banyu.
"Dia istri saya," tegas Banyu. Dia begitu yakin padahal pernikahan sama sekali belum pernah mereka lakukan.
Hany tersenyum kecut, harapannya untuk mendapatkan uang lebih untuk kepentingan berobat sang Ibu kandas di tengah jalan. Hany hanya mempunyai harapan kecil, yang sengaja dia labuhkan pada diri Banyu yang terlalu sempurna. Tampan, kaya dan hangat. Namun pada akhirnya dia patah hati, hancur harapannya karena Banyu sudah memiliki Tiara
"Saya permisi," pamit Hany. Sedikit gemetar karena menahan airmata.
Setelah kepergian Hany, Tiara mengerutkan keningnya, "apakah dia membutuhkan biaya? Sepertinya dia sedang kebingungan," gumam Tiara.
"Aku sudah melunasi semua biaya rumah sakit ibunya," gumam Banyu.
"Yakin?" tanya Tiara.
Banyu mengangguk.
"Apakah kamu berencana untuk menikah dengannya, mungkin setelah ibunya sambuh, kau akan meminang putri kesayangannya," tanya Tiara.
Matanya masih menelusuri novel yang ada di genggamannya.
"Cukup dirimu," bisik Banyu.
"Benarkah? Atau itu jawaban untuk dirinya juga," bisik Tiara. Tiara mengingat jelas, ciuman maut yang mereka lakukan tadi.
"Aku meyakini bahkan apa yang aku katakan padamu, belum pernah aku lontarkan pada orang lain," gumam Banyu.
"Semoga benar," sanggah Tiara.
Dengan pelan meneguk susu yang ada di hadapannya.
"Apakah tidak punya remahan biskuit coklat?" tanya Tiara.
"Aku akan mengambilkannya untukmu," ucap Banyu langsung beranjak dari tempat duduknya. Menuju dapur mini yang tak jauh letaknya dari kamar itu.
Ternyata mereka sedang dalam perjalanan menuju Korea, dengan menaiki pesawat pribadinya, Banyu mengajak Tiara. Dirinya takut, Tiara akan shock ketika melihat suaminya tidak ada di sampingnya. Dan yang paling Banyu takutkan adalah, Tiara akan melakukan hal sembrono yang membahayakan anak dalam kandungannya.
Banyu mengambil sebungkus biskuit Oreo lalu menyerahkannya ke Tiara.
"Terima kasih," ucap Tiara saat menerima sebungkus Biskuit itu. Dengan cepat membukanya, lalu memasukkan beberapa potong ke dalam susu hangatnya.
"Ehmm... nikmat," gumam Tiara.
"Apakah ada mie instan," ucap Tiara.
"Sayang... jangan banyak makan mie instan," ucap Banyu.
"Sayangkuh... anak kita yang minta," rajuk Tiara.
"Tidak boleh," tolak Banyu.
"Please," bisik Tiara.
"Itu tidak ada gizinya, kamu lupa, setelah makan mie ayam kemarin, hampir saja terluka karena kamu memasukkan banyak micin ke dalamnya," ujar Banyu.
Tiara menudukkan kepalanya.
Ada permata jatuh pelan, dari dua matanya.
"Maafkan aku," desis Tiara.
Lalu dia membenarkan bantal dan menutup wajahnya dengan selimut.
Banyu akhirnya berbaring di sampingnya.
"Aku tidak mau kau eh kalian terluka karena aku membebaskanmu," bisik Banyu.
Tiara yanga mengangguk lemah, tanpa banyak berkata, Banyu langsung memeluk tubuh Tiara yang ada di dalam selimut.
"Terima kasih telah menjagaku," gumam Tiara.
"Sudah menjadi tugasku," ucap Banyu.
"Pesawat akan mendarat lima menit lagi, mohon kenakan sabuk pengaman demi keselamatan," ucap seorang Pilot.
Banyu dengan kuat memegang tubuh Tiara, guncangan dan dengungan suara mesin sungguh membuat penumpang mual dan pusing.
Dan akhirnya setelah perjalanan panjang mereka berhasil menapakkan kaki di Korea Selatan.
"Indah," gumam Tiara.
"Apanya?" tanya Banyu.
Dengan santai Tiara menunjukkan segerombol artis korea yang baru saja turun dari pesawat. Mereka seperti boneka sempurna yang Tuhan ciptakan untuk di pandang.
"Apakah kau akan meminta mereka menikahimu?" Tanya Banyu.
Tiara tersenyum dengan lembut, "boleh aku mencobanya."
"Tidak."
"Kenapa?"
"Karena Tiara hanya untuk Banyu."
"Apakah Banyu hanya milik Tiara?"
"Tentu saja."
"Sungguh, tapi aku lihat lebih tampan mereka?"
"Aku yang nyata sedangkan mereka hanya replika."
"hmmm"
Tiara memeluk lengan Banyu dengan erat. Seakan menandakan bahwa 'pria ini hanya milikku.'
Sementara Hany berjuang melupakan kejadian gila di pesawat tadi.