
Tiara memejamkan mata. Angin menerpa rambutnya yang sepinggang dengan posesif.
Tiinnnnn
Tiiinnn
Suara klakson mobil menyadarkan Tiara, bahwa kakinya melangkah dari trotoar pinggir jalan menuju tengah jalan yang cukup senggang.
Cciiittrr
Decitan ban mobil bergesekan dengan aspal panas membuat Tiara diam memaku. Tidak percaya dengan apa yang terjadi dengan dirinya.
"Kau gila ya! Mau bunuh diri bilang! Biar aku tabrak sekalian!" teriakan itu menggema saat pemilik mobil dengan kasar membuka dan menutup pintu mobilnya.
"Maaf," gumam Tiara.
"Apa... maaf? Kalau maaf bisa ngebuat orang di penjara keluar dengan gampang, aku baru percaya," ucap Pria itu membuat Tiara mulai berani menatapnya.
"Heh... kau... cowok merepet aja kerjaannya, kalau memang minta ganti rugi, bilang... berapa duit," geram Tiara.
"Dan satu lagi, para koruptor tanpa minta maaf dengan tulus bisa keluar dengan mulus," lanjut Tiara.
"Jika memang kau mau membunuhku, kenapa injek pedal rem, sekalian pedal gas aja, shittt!" teriak Tiara membuat Pria di hadapannya terpaku.
"Tiara," ucap Pria itu.
"Maaf aku enggak kenal siapa kamu dan aku enggak butuh kenal sama cowok hobby merepet enggak jelas kek KAMU," geram Tiara. Dengan langkah cepat meninggalkan Pria yang terus menatapnya.
"Kamu lupa sama aku," gumam Pria itu. Suaranya parau, dengan cepat mengikuti langkah Tiara dengan mengendarai mobil sport miliknya. Jarak di atur sedemikian rupa, berharap Tiara tidak menyadari keberadaannya.
Mual yang Tiara rasakan mulai berkurang, mungkin karena bertambahnya usia kehamilan serta Tiara belum mampu mengontrol emosi.
"Siapa sih SKSD sama aku, ganteng sih, tapi gimana yah...," gumam Tiara.
Kakinya berhasil memasuki pintu Mall besar.
Tiara memandang ke samping kanan dan kiri secara bergantian, mencari makanan yang mampu menggoyang lidahnya.
"Mie petir?" gumam Tiara.
"Mbak... mie Petirnya satu, sama Hot chocolate," ucap Tiara.
"Aku juga mbak, samain pesenannya," ucap seseorang yang berdiri tepat di belakang Tiara.
"Sebagai permintaan maafku, aku yang traktir," ucap Pria yang berdiri di belakangnya.
"Beneran?" tanya Tiara.
"Iya," jawab Pria itu.
"Mbak... aku tambah semua makanan dan minumannya tambah dua lagi ya," ucap Tiara.
"Apa aja mbak?" tanya Pelayan.
"Sosis bakar jumbo, dua porsi jadikan satu, steak ayam, tiga porsi jadikan satu, apalagi ya...," Tiara melirik sesaat ke arah pria yang berdiri tenang di sampingnya.
"Kentang gorengnya, tiga porsi, udah itu dulu mbak," ucap Tiara dengan santai meninggalkan kasih.
"Berapa mbak?" tanya pria itu.
Kasir menunjukkan nota yang baru saja keluar dari mesin. "Pakek ini aja," gumam pria itu menyerahkan kartu kredit.
Tiara diam membisu, sebentar lagi senja akan datang, mungkin di atap gedung ini senja akan terlihat sangat indah. Sebenarnya tujuan utama Tiara datang ke Mall adalah melihat senja. Aroma jingga yang ingin dia nikmati sendiri.
Pria itu berjalan mendekati Tiara.
"Kenalin, aku Dave," gumamnya.
"Baiklah... aku Tiara Om," ucap Tiara dengan wajah polos.
Tiara mengelus pelan perutnya.
"Apakah sudah sangat lapar?" tanya Dave.
"Enggak om, biasalah akukan habis jalan, jadi agak sakit," gumam Tiara asal.
Padahal ada detakan berlebihan dari bayi yang dia kandung.
"Silahkan," ucap pelayan menyajikan seluruh pesanan.
Tanpa menoleh lagi Tiara langsung menyantap semuanya dengan samangat. Dave tersenyum melihatnya.
"Tunggu," ucap Dave membuat Tiara memandangnya.
"Makannya pelan-pelan," gumam Dave. Sambil mengelap bagian bawah bibir Tiara dengan menggunakan tangannya.
Dengan cepat menjauhkan wajahnya dari tangan Dave. Lalu memakan makanan di hadapannya dengan lahap namun lebih pelan.
"Sedapp," ucap Tiara saat berhasil meneguk coklat panas.
Piring di hadapannya licik tanpa sisa, tinggal makanan milik Dave yang masih setengah lagi.
"Baiklah... aku harus pergi dan terima kasih atas traktirannya," ucap Tiara. Saat hendak pergi Dave sengaja menahan tangannya.
"Aku akan mengantarmy pulang," ucap Dave.
"Maaf... om, aku masih banyak urusan jadi tolong, jangan menawarkan madu yang menggirukan," gumam Tiara.
"Madu?" tanya Dave.
"Setelah ini aku akan berbelanja, jika anda ikut otomatis Atm anda yang akan menjadi madu yang menggiurkan bagiku," ucap Tiara.
"Bukan masalah," jawabnya.
"Itu masalah buat aku," gumam Tiara.
"Apapun akan aku belikan," gumam Dave dengan yakin.
Tiara menghela napas, "maaf tapi aku harus pergi."
"Aku ikut," ucap Dave.
"Enggak boleh."
"Pokoknya aku ikut," ucap Dave.
"Enggak boleh, pokoknya kamu enggak boleh ikut, titik enggak pakek koma apalagi tanya bahkan seru. Pokoknya enggak boleh."
Tiara menyentak tangan Dave dan pergi menjauh darinya.
Dave atau nama aslinya Davendra Arkaintara. Cowok kelahiran indo, dengan wajah khas Asia-Eropa, hidup mancung, tegap, ganteng, kulit putih dengan lesung pipit di kedua pipinya. Menambah manis yang menggiurkan saat memandang wajahnya.
Namun Tiara sama sekali tidak tertarik hanya sekedar memandangnya.
Setelah aman Tiara berjalan menuju Lift yang akan membawanga ke lantai terakhir.
"Sebentar lagi senja," gumam Tiara dengan bahagia.
Ketiadaan Banyu sama sekali tidak mengubah letak bahagia Tiara. Walau sendirian dia mampu mendapatkan apa yang dia inginkan, hanya bermodalkan berani dan yakin. Dengan bangga Tiara mengelus perutnya. "Tanpa Ayahmu, bunda akan tetap bahagia demi kamu sayang," gumam Tiara.
Ting
Lift berada di lantai paling atas, Tiara keluar dengan senyum sumringah, matanya memandang sedikit kagum dan senang. Cahaya jingga yang merah hampir mirip darah, berpadu dengan kuning keemasan, sungguh senja yang sangat unik baginya.
"Senja selalu saja menghiburku," gumam Tiara.
"Karena senja adalah Mutiara."
"Dan mutiara terindahku hanya kamu."
Ada suara yang menganggu Tiara. Namun dengan cepat Tiara menepisnya.
"Hantu mah tetep hantu, datang sesuka hati, pergi bikin jantung mati," ucap Tiara bagai mantra yang paling aman.
"Aku bukan hantu, aku Dave."
Tiara menghela napas.
"Astaga! Gendruwo dari mana ini! Lepas atau kelaparan," gerutu Tiara.
"Masa iya, ganteng banget gini di sangkah gendruwo," ucal Dave.
"Huum, mengerikan tau," ucap Tiara. Duduk menatap langit yang memerah. Menelan siang yang cerah.
"Bagaimana kalian bisa kehilangan jejak Tiara!" teriak Banyu.
Brruuaakkkk
"Maaf Tuan, tapi kami mencari GPS namun hpnya ternyata di buang di tempah sampah," ucap Seorang bodyguard.
Datang segerombolan Bodyguard membisikkan sesuatu.
"Apa... ternyata musuh mulai tau tentang Hany," geram Banyu.
"Lenyapkan seluruhnya," lamjut Banyu.
"Dan kalian... cari Tiara dan jangan kembali jika kalian tidak berhasil membawa Tiara pulang, aku tidak mau anakku hilang, aku mau Tiara kembali," ucap banyu. Tanpa menunggu jawaban dia pergi meninggalkan beberapa bodyguard yang tampak lesu karena kelelahan. Tidak ada kata menyerah di kamus Banyi, apapun yang harus dia lindungi maka harus berada di dekatnya, dia harus merasa nyaman walau terkadang harus merasakan sakit berlebihan.