
"Ada banyak hal yang membuat kita buta, mungkin juga menggila. beberapa sisi akan terlihat biasa namun perlahan mampu mematikan rasa."
"Tiara... gue sayang sama lo," teriakan dari microfon radio sekolahan sungguh membuah Tiara berjingkat kaget.
"Cie... cie Tiara," ejek Tania.
"Bukan aku kali ya," gumam Tiara.
"Lo enggak mau nih? Ini udah keseratus kalinya lo nolak dia lho," gumam Tania membuat Tiara membulatkan matanya.
"Aku nggak boleh pacaran sama siapapun," ucap Tiara.
"Lo udah dewasa Tiara... bukan anak kecil yang harus mereka jaga lagi!" teriak Tania.
"Gue bakal tetep nolak dia," ucap Tiara yakin.
Dia sangat ingat janji yang pernah dia katakan sebelum Mommy benar-benar terkubur dalam tanah. salah satunya adalah tidak ingin memiliki pria yang spesial.
"Lo enggak kasihan sama Dia?" Tanya Tania.
"Kalau kamu mau... ambil aja," kata Tiara dengan pelan.
"Apa enggak sayang... lo bagikan ke oranglain?" tanya Tania.
"Tania... please... mood aku ancur banget lihat cowok kecakepan kayak dia enggak banget buatku!" teriak Tiara. Dirinya lalu pergi meninggalkan Tania. beberapa waktu lalu memang Tiara di tembak cowok terganteng di sekolahan, lagi dan lagi Tiara menolaknya. Demi janji. Demi ketenangan Mommy yang harus dia jaga hingga detik-detik napasnya terhenti sekalipun.
Setelah meninggalnya Mommy, Tiaea memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah, yang megahnya bak istana negeri dongeng namun ini nyata. Pilar-pilar menjulang tinggi berwarna putih gading, halaman yang luas, mobil yang beraneka ragam. Usianya masih terlalu mudah, kelas 3 SMA. Dengan modal keberanian dan juga kebencian teramat besar melihat Daddy yang gila perempuan. Tiara masih sangat mengingat dengan jelas, kenapa Mommy meninggal, penyebabnya adalah didorong jatuh oleh pembantu yang masih telanjang, tubuhnya mengerikan. Badannya gemuk dan di penuhi lemak, masih cantikan Mommy yang rajin olah raga dan perawatan sekedarnya. Tiara bersyukur saat ini dia masih bisa hidup tanpa mengemis uang Daddynya.
Daddy Tiara sangat tampan, bahkan di usianya yang menginjak 40an dia masih terlihat sangat bugar. Pengusaha kaya yang berhasil terbang berkat bantuan dan kerja keras tak kenal lelah Mommy. Memang benar, ketika kau sudah berada dipuncang paling atas cobaan terbesarmu adalah Egomu sendiri. Mommy yang setia menemani Daddy meninggal tepat di hadapan Tiara tanpa bisa ditolong olehnya. Gadis itu sama sekali belum mengerti saat itu namun Daddy berkhianat, maka saat itu juga harga dirinya sebagai seorang ayah yang pantas di hormati oleh anaknya lenyap tanpa sisa.
Dia tinggal di petakan kecil apartement kumuh. Hidup dengan kemampuan dan mengasah keberanian sungguh membangkitkan gelora besar dalam hatinya. Gadis manja yang hampir saja tidak pernah bekerja keras, kini hilang menjadi gadis yang kuat. Siapa yang menyangka dia bahkan sangat peduli dengan sesama. Beberapa kali dia terlihat berbagi, walau sekedar sebungkus roti.
"Mommy," gumamnya, kala malam masih menghinggapi langit. Ada banyak sinar terang menyinari kota, dia berada di lantai sepuluh, sebenarnya tempat itu adalah gudang, namun dengan sewa murah meriah, membuat Tiara menyulapnya menjadi tempat paling nyaman setelah pulang seharian bekerja keras.
Mata sembab bahkan kadang bengkak bukan masalah yang besar baginya.Bekerja di sebuah kantor kecil, dengan gaji yang cukup untuk makan dan menyewa tempat itu. membuat dirinya berusaha menekan keinginannya, membeli baju, membeli makanan enak, atau sekedar bermain di sebuah taman hiburan malam terdekat.
"Aku akan baik-baik saja," gumamnya.
Selama ini diabelum pernah menemui Daddy atau anak buahnya. Biasanya jika pergi akan ada banyak pengawal yang mencarinya, namun dengan posisi dan keberadaanku jauh dari kota. Mungkin mereka tidak akan menyangka. Sungguh kebetulan yang menyenangkan, jauh dari orangtua bukan sesuatu yang harus dia takuti. Meski bukan hal baik untuk di jadikan contoh nanti.
Pagi ini dia sedang membersihkan kantor, ada foto Daddy di atas meja seorang Resepsionis. "Dia masih saja tampan," gumamnya pelan.
"Hey... Babu! Ngapain lo lihat foto pengusaha kaya raya itu!" teriak Reni, Resepsionis yang mempunyai impian hingga ke langit.
"Maaf... Mbak," gumam Tiara, dia menunduk sopan. ini adalah pekerjaan satu-satunya yang tersisa, jadi untuk beberapa waktu, emosinya harus tertahan sepenuhnya.
"Maaf! Asal lo tau... Dia akan membeli perusahaan ini demi minang gue," teriak Reni. Tiara tersenyum hangat.
"Owh... Semoga bahagia mbak, saya permisi," ucap nya dengan suara masih sopan. tangannya masih berjuang membersihkan lantai yang sedikit kotor, biasanya dia akan meninggalkan tempat itu setelah benar-benar bersih. Perusahaan ini menjunjung tinggi kebersihan dan juga kejujuran. Tiara berjalan memjauh dari ruangan itu. dia merasa ada sesuatu yang ingin keluar dari dalam hatinya. sesuatu menyakitkan yang harusnya hilang, namun kembali seperti sembilu yang enggan pergi.
Tiara jongkok di pojok ruangan, memegang dada sebelah kiri yang begitu nyeri. Airmatanya jatuh berurai membasahi pipinya.
"Tiara... Tiara! Lo kenapa?" Darren mendekatinya. dia heran melihat Tiara yang ceria berubah menjadi diam dan cengeng.
"Sepertinya aku kurang enak badan," alasan yang logis. Tangannya dengan cepat menghapus air mata yang masih menetes.
"Apakah perlu saya antar?" tanya Darren.
Tiara menggeleng pelan, tentu dia menolak, sebenarnya dia tau bahwa Darren ingin dia menerima cintanya. namun Tiara menolak dengan alasan sudah di jodohkan oleh kedua orangtuanya.
"Pak, hari ini akan sangat sibuk, apakah tidak lebih baik jika anda bertahan di sini, ini hari penting perusahaan kita," ucap Tiara dengan lembut.
"Tapi, kau harus pulang dengan aman," ucap Darren.
"saya akan baik-baik saja," ucap Tiara.
"Saya pergi dulu," pamit Tiara. kakinya melangkah menuju ruangan khusus karyawan dia mengambil tas lalu menukar bajunya.
Darren terlihat khawatir terus memperhatikan Tiara, pandangan Tiara mengabaikannya. Untuk apa memberikan harapan kalau itu hanyalah sekedar harapan palsu.
"Kau akan mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dariku," gumam Tiara.
kakinya melangkah pergi dengan cepat, dia akan pergi ke halte terdekat untuk naik Bus. terlalu lelah berjalan siang hari, selain panas, jarak yang di tempuh terasa sangat jauh. Dirinya sampai di depan sebuah bangunan tua yang tingginya 10 lantai. memang letaknya masih di dalam kota besar namun saat memasuki rumah itu hawa dingin dan tenang seakan menyambutnya.
Dia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, membiarkan perutnya bernyanyi, matanya mencari tempat tersunyi. kali ini dia aman, mampu menghindari seseorang yang selama ini tidak ingin dia temui, Daddy.
Tok tok tok
Pintu di ketuk dengan tidak sabaran.
Tiara yang tidur tanpa busana bergegas mengenakan baju. Dia memang lebih suka tidur dengan mengenakan celana dalam dan bh saja lalu menutupi tubuhnya dengan selimut tebal.
"Siapa?" Tanya Tiara dengan pelan.
"Daddy," Tiara menghentikan gerakan tangannya, memakai baju. Dia terkejut
"KAU MEMBUNUH IBUKU! MOMMYKU! UNTUK APA KAU DATANG KE SINI. MESKIPUN AKU MISKIN SEKARANG TAPI AKU TIDAK AKAN KEMBALI," teriak Tiara dengan histeris.
"Sayang... biarkan Daddy masuk," ucap Pria itu dengan amat sangat menyesal.
"ENGGAK... DADDY PASTI MEMBAWA ANAK BUAH MENJENGKELKAN ITU... TIARA UDAH BERUSIA 20 TAHUN," teriak Tiara.
"Aku sama sekali enggak ingin menyiksamu, tapi bagaimana lagi? Gara-gara keluarga besar kalian, Mommy meninggal," gumam Tiara.
Brrukkkk
Pria itu terjatuh, namun suaranya tidak keras hingga Tiara berpikir bahwa pria itu telah pergi.
"Sudah dua tahun aku meninggalkan rumah mewah yang bagiku lebih hina dari sampah," gumam Tiara.
"MAAF," desis Ayahnya.
"Maaf enggak akan mengembalikan Mommy, maaf enggak akan menyembuhkan luka dalam hati. Dan maaf hanyalah kata murahan yang mudah diucapkan," kata Tiara. Dia benae-benar tidak bisa mengontrol dirinya lagi.
Tiara meringkuk kembali terlelap, seperti biasa dia akan mengabaikan ayahnya. Dan keesokan paginya, samua berjalan seperti biasa.
"Mommy, aku sayang kamu," bisik Tiara. Kemudian terlelap masuk ke dalam alam mimpi.
Hingga keesokan paginya.
TOK TOK TOK
"Nak... buka pintunya! Ada pria pingsan di luar kamarmu!" teriak bibik samping rumah Tiara.
Tiara tinggal dalam petakan apartemen yang sederhana.
Ckik cklik
"Siapa?" tanya Tiara.
"Eh... Daddy!" teriak Tiara terkejut.
"Tolong bawa masuk, aku akan merawatnya dengan cepat," ucap Tiara. Membuka pintu lebar-lebar lalu membiarkan banyak orang masuk ke dalam kamarnya.
Tetangganya dengan cepat menggendong Daddy ke dalam kamar.
Setelah berterima kasih dan meminta maaf karena merepotkan Tiara menutup pintunya.
"Daddy,"bisik Tiara.
"Astaga... demam," gumam Tiara, baju yang Daddy-nya kenakan basah kuyup.
Semalam memang ada hujan sangat deras dari sore hingga subuh. Dan tempat Tiara berada di gedung paling atas, keluar dari pintu kamarnya langsung terlihat langit tanpa atap.
"Maafkan aku... maafkan aku... maafkan aku," desis Daddy.
Tiara berusaha membuka baju Daddy. Hingga tidak ada busana yang melekat di tubuhnya. Kemudian mengambil baju ganti lalu mengenakannya dengan susah payah.
"Kira... Kira," gumam Daddy bangkit dari tidurnya. Lalu mencengkram erat Tiara.
Tangannya dengan lembut menekan payudara Tiara yang montok. Bibirnya melumat bibir Tiara.
"AKKHHHH," Tiara mendesah.
"Daddy... stop!" Teriak Tiara.
"AKHHH," desahan yang keluar dari mulut Tiara membuat kejantanan milik ayahnya berdiri tegak.
Plaakkkkkk
"KAU SELALU SEMAUMU," geram Tiara.
Deg deg deg
Tiara yang berlari masuk ke kamar mandi, merasakan dadanya berguncang hebat. Rasa yang benar-benar aneh.
"Apakah aku harus memaafkannya," gumam Tiara.
Aku membuka bajuku, menyiram tubuhku dengan air dingin. Entah bagaimana Daddy bisa tau bahwa pintu kamar mandiku sama sekali tidak tertutup sempurna.
"Sayang! Honey Daddy Rindu," bisikan itu sungguh sangat lembut.
Tangan kokohnya menyingkap pelan bibir vaginaku. Mempermainkan dengan pelan namun pasti.
"Ahhhh... No Daddy," gumamnya.
"Please... No Daddy!" teriaknya.
Daddy semakin gencar mengocok kemaluannya, entah kenapa rasanya sangat nikmat. Apakah karena Tiara baru pertama melakukannya? jelas saja dia tidak tau bagaimana rasanya, dia terlalu lugu untuk tau itu.
"Ahhhh... Daddy!" teriak
Lidah Daddy menjilat bagian titik-titik sensitif, tangannya meraih buah dada jumbo milik Tiara.
"Hentikan," gumamnya lemah.
"Atau aku akan membuatmu menyesal, yah mungkin bunuh diri," ucapanku.
Daddy menghentiken aktifitasnya.
"Tidak sayang... Jangan tinggalkan Daddy," bisik Daddy langsung memelukknya
"Aku masih perawan, jadi jangan nodai aku," gumamku. Sebelum akhirnya pingsan. Daddy menggendongnya, menidurkannya dalam dekapannya.
"Mimpi indah sayang," bisik Daddy. Mereka terlelap mengarungi mimpi yang sama.