Me And Daddy

Me And Daddy
Episode 18



Tiara berulang kali berteriak. Sepertinya ada saat dimana dirinya berada di bagian bawah. Bahkan paling bawah, Dave menatapnya dengan iba.


"Lihatlah... balasan apa yang akan mereka dapatkan," gumam Dave.


Dokter menghampiri Dave.


"Bawa dia ke luar negeri, di sana akan banyak alat yang mampu membuatnya tenang," ucap Dokter.


"Baiklah... aku akan segera membawanya," Dave pergi meninggalkan dokter.


Tiara hanya terdiam, namun ketika dia berkata, tidak ada satu ucapanpun keluar bahkan beberapa kali pingsan.


Dave datang dengan setumpuk data, dua hari setelah dirinya menjemput Tiara Dave tidak pernah meninggalkannya barang sekali. Dia selalu di samping Tiara menjaga dan merawatnya sekuat yang dia bisa.


"Siapkan semuanya, Banyu sudah tau keberadaan Tiara, aku harus melindunginya, harus."


Dave dengan cepat masuk ke dalam kamar Tiara, menggendong Tiara dengan cepat. Mengabaikan Dokter yang sebenarnya ingin Banyu tau kondisi istri dan anaknya.


"Ingat jangan katakan apapun sama Banyu atau kau akan menyesal," gumam Dave. Melewati dokter yang dia tak berkutik. Penguasa selalu saja semaunya apalagi demi melindungi orang yang di anggapnya berharga.


Selang berapa lama Banyu datang dengan diam dan rahangnya terlihat mengeras. "Di mana jalang itu!" teriak Banyu.


Dokter tersentak hanya mampu diam.


"Katakan atau kau akan menyesal," geram Banyu.


Hany yang sengaja mengikutinya langsung meghampiri Banyu.


"Tenanglah sayang... dia sudah membuktikan bahwa anak yang dia kandung bukanlah anakmu," bisik Hany.


Banyu diam.


Dengan sekali sentak Banyu mendorong Hany hingga jatuh ke bawah. Mengaduh karena kesakitan. Hany sedikit heran dengan perlakuan Banyu, kenapa dirinya tidak bersikap lembut padanya.


"Enyahlah dari hadapanku jalang," geram Banyu.


"Aw... Banyu... aku juga hamil anakmu," geram Hany.


"Hamil? Kau bodoh apa gila? Aku bahkan tidak tertarik dengan benalu menjijikkan sepertimu," ucap Banyu. Dengan santai menyilangkan tangannya.


"Benalu? Aku melakukan segala hal untuk membantumu dan kau menganggapku benalu?" Bisik Hany. Wajahnya memerah karena menahan amarah.


"Yah... kau benalu yang selama ini menikamku," geram Banyu.


"Kau gila!" teriak Hany.


"Kau yang gila, dokter! Urus keadaan Hany hingga sadar," gumam Banyu. Lalu pergi meninggalkan Hany.


Jelas dokter kebingungan oleh ulah Banyu yang selalu saja berbuat semaunya sendiri. Hany terlihat senyum-senyum sendiri dan kemudian menangis. Hanya dalam jangka waktu kurang dari 5 menit Hany kemudian berteriak-teriak tidak karuan.


"Benar apa yang aku katakan, Hany mengalami gangguan jiwa," geram Banyu.


Dia begitu marah karena kecerobohannya hingga membuat Tiara pergi jauh dari sisinya. Menyesal? Bagaimana mungkin dirinya tau rasa sakitnya penyesalan sebelum mengalami kehilangan selamanya.



Tiara Pov


Aku sakit! Tolong aku! Apa salahku! Apa salahnya kenapa kau menyiksaku? Kenapa kau membenciku ! Aku istrimu harusnya lebih berharga dari pada dia sekretarismu. Jerit hati Tiara.


Plaaakkkk


Tamparan itu membuatku terperangah. Mataku buram. Aku menahan sakit teramat sangat sejak tadi. Ingatan semu menghantuiku, bersama seribu sembilu menghujamku tanpa henti sekali sentak, bahkan beberapa detik yang lalu aku berlutut, karena sakit sejak beberapa puluh detik menghujamku dan dengan sok kuatnya diriku menahannya.


Aku tidak sadarkan diri. Kedua pipiku mati rasa, namun masih bisa sedikit, sangat sedikit terasa cengkraman.


Apakah ini yang dia bilang Prioritas?


Apakah ini yang di katakan paling berharga?


"Dave... dave... dave," entah berapa kali aku memanggilnya. Pria yang mengatakan padaku bahwa mungkin saja Banyu mempunyai cara sendiri untuk melindungiku. Namun katanya selalu meleset dia menyakitiku, menorehkan luka mendalam yang akhirnya meninggalkan lubang kelam yang begitu menyakitkan.


Tapi aku teringat kembali pada masa ketika aku pergi , dia sama sekali tidak mencariku, aku melihat jelas, bahwa dirinya mempunyai rahasia, tapi aku hanya ingin sayangi aku. Berjuang untuk menutupi luka harus siap berkurung dalam kubangan lumpur derita yang berkepanjangan. Dan aku telah mempersiapkan hati untuk kuat berada di sekitarnya, berada dalam lubang besar yang gelapnya tidak karuan.


Ada yang datang, aku mendengar suara langkah, aku berpikir bahwa dia akan menyelamatkanku. Bukan,  ternyata kedua pembantuku yang dengan pelan membangunkanku. Maaf aku tidak bisa mengucapkan apapun lagi.  sakit yang teramat sangat juga badan yang mengigil membuatku harus menahan lagi dan lagi sendiri. Aku bahkan tidak menyadari bagaimana aku bisa bersikap baik pada mereka. Mereka yamg telah menusuk hatiku yang penuh dengan sayatan tanpa bekas namun terasa begitu sakit. Maafkan aku... maafkan aku... kalian baik tapi aku tidak berdaya membuat kalian tenang. Terima kasih telah membantuku. Ucapku dalam hati


Beberapa saat kemudianya aku mendengarkan Dave berulang kali memanggilku, namun dengan enggan aku mengingatnya. Bahkan ada beberapa hal Klise yang berputar menyiksaku bagai kaset rusak. Mengiang terus bahkan ada suara-suara yang membuat aku benar-benar gila.


Nggiiinnngggg


Suara itu lebih parah dari yang terjadi tadi, benar-benar ada dua jiwa yang akan memperebutkan diriku dan suara nyaring itu adalah awalan yang menandakan


"Sebenarnya siapa aku?" Hanya kata itu yang mampu aku ucapkan berulangkali.


Sama sekai tidak ada  yang menjawanb yang ada hanya kegelapan, sebenarnya apa yang terjadi padaku.


'Tiara... Tiara...!" teriakan itu lebih memekan telingaku.


Siapa Tiara? Itulah pertanyaanku kali ini.


Saat ini entah kenapa aku sangat menikmati rasa kelam dan juga gelap dunia ini. Aku tidak butuh dunia lain lagi. Cukup di sini bersama istana yang indah, awan gelap serta puluhan bunga Tulip yang berwarna warni menghiasi taman.


"Jika kamu baik? Kamu akan mencariku, meminta maaf padaku atau setidaknya tolong buat aku diam dengan seribu maaf darimu tanpa henti," ucapku sambil menatap senja yang hilang warnanya karena di telah awan hitam.


Dengan kedua tangan kututup mataku, aku merasa tubuhku melayang, dengan cepat aku membukanya. 'aku tidak akan kembali dengan pria yang sama sekali tidak pernah ada di sampingku, aku tidak akan pernah memaafkan pria yang telah menancapkan sembilu dalam hatiku.'


Sepertinya aku akan sangat lama berada di sini, dengan santai aku berjalan mendekati istana. Di sini aku tinggal berkecukupan hingga anak cucuku tujuh turunan.



Dave dengan khawatir berjalan mondar mandir di depan pintu ruangan gawat darurat. Sebenarnya kondisi Tiara berada di luar Zona dalam artian dia bisa di katakan sudah meninggal. Namun dengan tegas Dave mengatakan mampu membayar berapapun bahkan mampu mencari pendonor organ apapun yang di butuhkan Tiara.


Dokter akhirnya berjuang dan selama dua jam belum ada tanda-tanda bahwa Tiara akan bangun lebih cepat dari perkiraannya.


Dave menghubungi skretaris kepercayaan.


"Hancurkan Banyu, secepatnya," ucap Dave.


"Tapi Tuan, sebentar lagi Hany akan langsung menghancurkan Banyu," ucap Andi.


"Apakah ada sesuatu yang tidak aku ketahui?" tanya Dave.


"Iya... Banyu memasukkan Hany ke dalam rumah sakit jiwa dan dengan santai mengatakan bahwa Hany adalah jalang juga benalu yang harus di musnahkan."


"Apa? Wah... berita yang berkembang pesat," gumam Dave.


"Maka dari itu, biarlah Hany yang bertindak, kita tinggal mendorong bahkan mematik api saja," ucap Andi.


Dave mematikan ponselnya. Dokter datang menghampirinya dengan wajah yang sulit di artikan, begitu lelah dan banyak penyesalan.


Dokter menatap Dave seolah memberi isyarat bahwa Dave harus ikut dengannya. Dengan langkah cepat Dave mengikuti Dokter dari belakang. Dave mengikutinya.


"Sayang aku akan menyelamatkanmu dan Banyu akan menyesal saat dia tau bahwa kau bahagia berada di sampingku."


 


 


 


 


 


Nb : maaf enggak bisa bls komentar kalian, terima kasih atas doa dan harapannya, semoga karya penulis amatir ini mampu memuaskan imajinasi kalian. Jika ada kurang lebihnya saya meminta maaf ini hanya hiburan semata.