Me And Daddy

Me And Daddy
Episode 25



Keadaan Banyu semakin mengkhawatirkan. Membuat Dave secara terang-terangan mengirim dua bodyguard untuk terus menjaga Banyu. Kehilangan Banyu sama saja kehancuran juga bagiDave.


"Lagi dan lagi aku berpikir, Tiara sudah pulih dan datang mencarimu Banyu," gumam Dave. Dengan nada sendu.


###


Tiara teringat kejadian tadi pagi, saat dia pertama kali melihat wajah Banyu yang tersenyum ternyata itu adalah wajah Fenzo yang berjalan mendekatinya.


"Aduh... Kenapa aku bego banget sih, baru inget kalau Fenzo pengusaha licik yang kejam, aduh... Mati aku... Mati," gumam Tiara.


Berjalan modar-mandir sambil ngomong sendiri. Membuat beberapa bodyguard yang lewat menganggap Tiara tidak waras.


"Aduh... Aku malu... Beneran... Aku malu banget," gumam Tiara.


Hany datang menghampiri Tiara.


"Tiara," panggil Hany.


"Huum," jawab Tiara.


"Kamu mau maafin aku," ucap Hany.


Tiara menghela napas, "butuh waktu untuk itu semua," gumam Tiara.


Hany mengangguk, lalu bergumam pelan, "aku mengerti."


Tiara meninggalkan Hany, entah kenapa rasa sakit menyeruak saat Hany menatapnya dengan tulus nyatanya hanya modus. Tiara memang masih perduli, namun luka hati tidak akan sembuh sekali menyadari.


"Padahal aku ingin mengatakan bahwa Banyu sangat mencintaimu, bahkan dalam pengaruh serum perangsang yang pernah beberapa kali aku berikan, dia masih menjaga perasaanmu, walau sekali menamparmu karena aku mengatakan bahwa dirimu bermain gila dengan Dave."


Hany mengatakannya dengan nada sendu lalu kembali ke bawah, kamarnya kini adalah ruang pembantu biasa yang tidak memiliki fasilitas yang istimewa kecuali kamar mandi di dalam dan Ac rusak yang bunyinya tidak mengenakkan.


Berbicara tentang takdir, tidak akan ada kata adil jika kita yang menakarnya, namun bagi pencipta, apa yang terjadi itulah keadilan yang sejati.


Tiara terkejut karena entah sejak kapan dirinya terlelap di sofa ruang tengah, sepertinya semua lampu terlihat remang-remang. Lalu pelan terdengar langkah sepatu, dengan cepat Tiara menutup matanya.


"Baby, kenapa kau tidur disini," ucap Fenzo.


'Astaga... Bau anggur! Apakah Fenzo sadar dengan apa yang dia perbuat!' teriak Batin Tiara.


Fenzo dengan santai menggendong Tiara, membaringkannya di kamar nuansa merah maroon dengan sentuhan lantai cream dan beberapa perabotan berwarna putih.


Tiara pura-pura terkejut, "maaf mengejutkanmu," ucap Fenzo.


"Kau mabuk ?" tanya Tiara.


Fenzo menggeleng pelan.


"Aku hanya meminum 2 botol anggur, dan itu sama sekali tidak berguna untuk membunuh sebuah rasa yang terkubur lama," gumam Fenzo.


Tiara tersenyum, "aku dulu sempat hampir bunuh diri, dimulai dengan gantung diri di kamar mandi, di gagalkan seseorang yang aku pikir berharga nyatanya suka sementara," ucap Tiara.


"Aku juga pernah meminum obat keras, namun dengan cepat seseorang menolongku dan membawaku ke rumah sakit, dan beberapa kali aku pernah menyayat nadiku, namun perlahan aku sadar, dia tidak berharga lagi," lanjut Tiara. Fenzo meletakkan kepalanya di pundak Tiara.


"Hidup bukan perihal satu orang yang berharga, hidup adalah perihal menghargai masa bersama dan mengerti kala perpisahan telah tiba, memaksa tetap tidak ada gunanya, sempat terbesit aku ingin melupakan orang gila yang selalu menorehkan luka, karena ada seorang pangeran berhati malaikat datang membawa bahagia, perlahan aku sadar---," Tiara sengaja menghentikan ucapannya. Memandang Fenzo dengan tatapan kosong.


"Kenapa kamu tidak melanjutkannya," gumam Fenzo.


Tiara tersenyum simpul, "apakah kaku suka dengan ucapanku," gumam Tiara.


"Kaku? Arogant, angryBoy, apa lagi yang akan kamu katakan padaku?" tanya Fenzo.


"Ehm...ehem," Tiara berusaha mati-matian menahan tawa yang hampir saja meledak.


"Ehmm... Ehem, namun aku sadar, bahwa dia berhak memperbaiki dirinya, memberi kesempatan kedua untuk memperbaikinya," gumam Tiara.


"Apakah kau percaya dengan ucapanku dan penjelasanku," gumam Fenzo.


Tiara mengangguk pelan.


"eh tunggu, maafkan aku tadi pagi berteriak mengatakan bahwa kau adalah ayah dari anakku, sebenarnya kata itu bukan buat kamu," ucap Tiara.


"Kau menamparku sehingga harga diriku turut terluka," gumam Fenzo.


"Maaf," ucap Tiara menundukkan kepalanya.


"Apakah kau mudah meminta maaf?" tanya Fenzo.


"Kata itu begitu familiar saat aku merasa bersalah," gumam Tiara.


"Percayakah kau padaku, jika aku adalah kakak kandungmu?" tanya Fenzo.


"Tentu tidak," ucap Tiara.


"Kenapa?" tanya Fenzo.


"Karena ibuku hanya memiliki aku," gumam Tiara.


"Dari mana kau tau?" tanya Fenzo.


"Dari mereka, katanya kedua orangtuaku meninggal saat melindungi aku," ucap Tiara.


"Dan aku tercampakkan karena mereka mementingkan dirimu," ujar Fenzo.


"Maafkan aku," bisik Tiara. Kali ini dia menangis, merasakan betapa menderitanya seorang anak yang dibedakan dari yang lainnya.


"Tidak masalah, aku tenang kau di sampingku," gumam Fenzo.


"Kita besok jalan-jalan menggunakan mobil jadi bangunlah lebih pagi," gumam Fenzo lagi, kemudian terdengar napas beraturan yang membuat Tiara mengerti.


"Kamu pasti kesulitan menghadapi semuanya," gumam Tiara yang dengan pelan menepuk pundak Fenzo.


"Dave adalah orang yang pertama mengajari aku arti cinta, namum bahtera terindahku hanya untuk Banyu, walau bodoh jika aku kembali padanya," gumam Tiara.


"Dave akan mendapatkan wanita paling sempurna lebih dariku," gumam Tiara.


Setelah 15 menit berjalan cepat.


Tiara dengan pelan membaringkan Fenzo, melepaskan sepatunya, lalu menutupinya dengan selimut. Dia tersenyum dalam tidurnya.


"Daddy and Mommy salah jika mengabaikan kasihmu yang kaku namun abadi untukku," gumam Tiara.


Tiara memilih terlelap di sofa lagi, memang sangat tidak nyaman, tapi Tiara takut jika seranjang Fenzo bisa saja gila lansung menyetubuhinya.


####


Hany berulang kali mengipaskan tangannya, sepertinya Acnya rusak sehingga yang keluar hawa panas bukan hawa dingin yang seharusnya. Terdengar suara tikus yang berkeliaran dan nyamuk yang mengadakan pesta besar-besaran.


Kenyamanannya hilang tergantikan dengan kenyataan yang tidak mengenakkan.


####


Tiara bangun karena suara pintu terbuka, ternyata Fenzo telah bangun dari tidurnya.


"masih malam... Kenapa bangun Bang?" tanya Tiara.


"Jangan berharap lebih! Sungguh aku sangat membencimu," gumam Fenzo.


"Maksudmu? Apa salahku lagi?" tanya Tiar.


"Kamu yang tidak sadar atau lupa?" geram Fenzo. Kali ini ekspresinya berubah, ada aura dingin yang menyelimutinya.


"KAU SANGAT MIRIP DENGAN MOMMY," ucap Fenzo dengan kata penuh penekanan.


"Karena aku anaknya," ucap Tiara.


"Bukan... Bukan itu alasannya," ucap Fenzo.


"Lalu apa? Apa kesalahanku lagi? Apakah aku bukan bagian dari keluarga yang kau katakan semalam? Apakah kau berbohong padaku, apakah...apakah dalam mimpimu terbayang banyak luka? Atau bahkan beberapa saat yang lalu ada yang menjelaskan padamu banyak hal?" tanya Tiara bangkit. Lalu berjalan mendekati Fenzo.


"Karena aku mencintai Mommy teramat dalam," desis Fenzo


Bleedddaarr


Terasa ada petir yang menyambar tubuh Tiara hingga roboh ke lantai tidak berdaya. Airmatanya jatuh, "Mommy? Kamu mencintai Mommy? Apakah kamu yang menghancurkan hubungan Mommy dan Daddy?" tanya Tiara.


"Ya... Aku yang memaksanya melakukan apapun yang aku mau," desis Fenzo.


Plaaakkkk


Plaaakkkk


"kau tidak tau diri!" teriak Tiara berjalan keluar dari kamar.


Nb : Cerita gado2 aja lebih menggoda☺☺☺ jangan lupa komennya yah.... aku sudah berjuang guys