
Tok tok tok
Pintu di ketuk dengan tidak sabaran.
Tiara yang tidur tanpa busana bergegas mengenakan baju.
"Siapa?" Tanya Tiara dengan pelan.
"Daddy," Tiara menghentikan aktifitasnya.
"KAU MEMBUNUH IBUKU! MOMMYKU! UNTUK APA KAU DATANG KE SINI. MESKIPUN AKU MISKIN SEKARANG TAPI AKU TIDAK AKAN KEMBALI," teriak Tiara dengan histeris.
"Sayang... biarkan Daddy masuk," ucap Pria itu dengan amat sangat menyesal.
"ENGGAK... DADDY PASTI MEMBAWA ANAK BUAH MENJENGKELKAN ITU... TIARA UDAH BERUSIA 20 TAHUN," teriak Tiara.
"Sayang... tenangkan dirimu," pria itu terlihat tidak berdaya.
"Aku sama sekali enggak ingin menyiksamu, tapi bagaimana lagi? Gara-gara keluarga besar kalian, Mommy meninggal," gumam Tiara.
Brrukkkk
Pria itu terjatuh, namun suaranya tidak keras hingga Tiara berpikir bahwa pria itu telah pergi.
"Sudah dua tahun aku meninggalkan rumah mewah yang bagiku lebih hina dari sampah," gumam Tiara.
"MAAF," desis Ayahnya.
"Maaf enggak akan mengembalikan Mommy, maaf enggak akan menyembuhkan luka dalam hati. Dan maaf hanyalah kata murahan yang mudah diucapkan," gumam Tiara.
Tiara meringkuk kembali terlelap, seperti biasa dia akan mengabaikan ayahnya. Dan keesokan paginya, samua berjalan seperti biasa.
"Mommy, aku sayang kamu," bisik Tiara. Kemudian terlelap masuk ke dalam alam mimpi.
Hingga keesokan paginya.
TOK TOK TOK
"Nak... buka pintunya! Ada pria pingsan di luar kamarmu!" teriak bibik samping rumah Tiara.
Tiara tinggal dalam petakan apartemen yang sederhana.
Ckik cklik
"Eh... Daddy!" teriak Tiara terkejut.
"Tolong bawa masuk, aku akan merawatnya dengan cepat," gumma Tiara.
Tetangganya dengan cepat menggendong Daddy ke dalam kamar.
Setelah berterima kasih dan meminta maaf karena merepotkan Tiara menutup pintunya.
"Daddy,"bisik Tiara.
"Astaga... demam," gumam Tiara, baju yang Daddy-nya kenakan basah kuyup.
Semalam memang ada hujan sangat deras dari sore hingga subuh.
"Maafkan aku... maafkan aku... maafkan aku," desis Daddy.
Tiara berusaha membuka baju Daddy. Hingga tidak ada busana yang melekat di tubuhnya. Kemudian mengambil baju ganti lalu mengenakannya dengan susah payah.
"Kira... Kira," gumam Daddy bangkit dari tidurnya. Lalu mencengkram erat Tiara.
Tangannya dengan lembut menekan payudara Tiara yang montok. Bibirnya melumat bibir Tiara.
"AKKHHHH," Tiara mendesah. inilah yang dia takutkan, ini yang paling dia tidak inginkan. hal-hal yang berbau dengan rasa kasihan.
"Daddy... stop!" Teriak Tiara. tubuhnya berusaha mendorong Daddy, pria kekar yang terus saja kehilangan kendali.
"AKHHH," desahan yang keluar dari mulut Tiara membuat kejantanan milik ayahnya berdiri tegak. Tiara sangat menyadari itu, hingga membuat dirinya berusaha lebih keras.
Plaakkkkkk
"KAU SELALU SEMAUMU," geram Tiara.
Deg deg deg
Tiara yang berlari masuk ke kamar mandi, merasakan dadanya berguncang hebat. Rasa yang benar-benar aneh. Rasa yang baru terjadi.
"Apakah aku harus memaafkannya," gumam Tiara. Sambil menyandarkan tubuhnya ke sisi tembok.
"Yah, aku sudah tenang, jangan pernah datang lagi, kau tidak akan pernah mendapakan apapun." gumam Tiara. dia memejamkan mata membiarkan bulir airmatanya jatuh, lagi dan lagi luka yang membuatnya terjatuh.
ketika semua baru saja di mulai, kadang otak memikirkan banyak hal apalagi tentang akhiran, namun kita, awalan dan akhiran hanyalah dua perbedaan yang sama saja menyakitkan. aliran air selalu saja sesuka hati, datang dan pergi, singgah atau tak kembali, itulah pilihan yang harus dia hadapi.