Me And Daddy

Me And Daddy
Episode 15



Dalam mengambil langkah Tiara lebih mengharapkan ketenangan jiwa di bandingkan dengan gemuruh harta. Seperti kali ini, dirinya menikmati secangkir kopi dengan sarapan yang telah di hantarkan beberapa pelayan. Sepertinya bukan masalah besar untuk Dave, mentraktir Tiara berkali-kali.


 


 


Setelah Tiara puas akhirnya dia berkeliling ke seluruh penjuru hotel lalu terpaku pada sebuah taman nan indah.


 


 


"Aku baru ingat bahwa taman itu adalah milik kita," ucap Tiara.


 


 


Tiara telah siap untuk pergi meninggalkan hotel sebelum akhirnya Dave datang dengan sejuta harapan.


 


 


Tiara menikmati matahari yang belum lama terbit. Duduk di sisi halte, menunggu bus yang entah akan membawanya ke mana.


 


 


"Tiara!" panggilan itu membuat Tiara dengan cepat menoleh tanpa bisa menghindar lagi.


 


 


"Ehn Hany, gimana kabarnya?" ucap Tiara masih dengan senyum manis.


 


 


"Aku dan Banyu baik-baik aja," ucap Hany dengan keadaan yang jauh lebih baik.


 


 


"Owh syukurlah, aku harus menemui seseorang dulu," gumam Tiara. Banyu datang menghampiri mereka berdua dengan langkah tegas. Hany langsung memeluknya dengan posesif.


 


 


"Semoga langgeng ya," gumam Tiara.


 


 


Tiara sama sekali tidak mau memandang Banyu, untuk apa mengharapkan seseorang yang sama sekali tidak ingin mengenggam barang sekali.


 


 


Banyu diam, menatap Tiara, ada rindu bercampur khawatir. Dengan gerakan sekali sentak dirinya berhasil melepaskan pelukan Hany. Lalu menarik Tiara masuk ke dalam mobilnya.


 


 


"Hany... urus kantor seperti biasa," ucap Banyu.


 


 


Tiara yang tersentak, dirinya justru tidak mau ini terjadi. Baginya sia-sia,  hidup dalam lingkupan Banyu hanya menyisahkan luka baru yang lebih menyakitkan dari bayangan sebenarnya.


 


 


Sepanjang perjalanan Banyu hanya diam, Tiara melihat ke samping jendela datar. Dengan pelan tangan Tiara mengusap perutnya yang mulai berdetak kencang.


 


 


"Sakit?" tanya Banyu dengan pelan.


 


 


"Tidak," Tiara menjawabnya dengan datar.


 


 


Banyu membawa mobilnya semakin cepat, ternyata dirinya mengajak Tiara ke rumah sakit. "Apakah kau akan membunuhku?" tanya Tiara.


 


 


"Tentu saja tidak, aku hanya ingin melihat kondisi bayiku," ucap Banyu.


 


 


Tiara diam, dia sama sekali tidak ingin mengatakan apapun hal yang baginya tidak perlu di katakan. Mengemis perhatian, menangis, atau mungkin menampar Hany adalah pembalasan yang pas, namun kali ini Tiara tidak melakukannya barang sekali.


 


 


Dokter dengan bahagia menyambut Tiara dan Banyu, setelah mengobrol ringan akhirnya Dokter meminta Tiara untuk berbaring.


 


 


"Apakah sakit?" tanya Dokter ketika menekan perut bagian bawahnya pelan.


 


 


"Sedikit," ucap Tiara.


 


 


"Apakah ada keluhan?" tanya Dokter.


 


 


"Tidak," jawab Tiara.


 


 


"Jangan terlalu cepat jalannya, mereka juga bagian dari dirimu," ucap Dokter.


 


 


"Baiklah, terima kasih sarannya," ucap Tiara.


 


 


Tidak ada ekspresi apapun yang di tunjukkan wajah Tiara. Yang ada hanya rasa malas dan muak dengan sandiwara ini.


 


 


Setelah selesai menerima resep dan menebus obatnya, Banyu tidak mengatakan apapun. Ternyata kehamilan Tiara sudah berusia 2 bulan, bagaimana bisa?


 


 


Tiara menghela napas, "kapan kamu akan menikahi Hany," gumam Tiara.


 


 


"Kenapa kau bertanyaan tentang urusan yang sama sekali bukan urusanmu," ucap Banyu.


 


 


"Owh... ternyata benar, aku bukanlah yang pertama, aku hanyalah formalitas bukan lagi prioritas," gumam Tiara.


 


 


"Kamu adalah Prioritasku," gumam Banyu.


 


 


"Prioritas yang turun pangkat menjadi formalitas?" Sanggah Tiara. Ada sorot mata kecewa yang secepatnya Tiara lenyapkan. Karena dirinya bukan Hany yang suka dikasihani.


 


 


"Kita bicarakan di rumah," ucap Banyu.


 


 


"Boleh... tapi sungguh, aku butuh kepastian bukan hanya kepalsuan seperti ini," gumam Tiara.


 


 


"Kau adalah Istriku, selamanya," gumam Banyu.


 


 


 


 


"Anggap saja hubungan kita sangat berharga," ucap Banyu.


 


 


Tiara menghela napas, "jika kamu memang mencintai aku? Maka kamu akan mencariku! Tidak akan ada tempat untuk Hany masuk ketika kamu telah menutup pintu! Aku bahkan heran, Hany akan menghancurkanmu jika kamu tidak berhati-hati."


 


 


"Apakah kau cemburu hanya pada Hany? Sosok gadis yang jelas jauh dari kata sempurna?" ucap Banyu, kemudian tertawa.


 


 


Tiara menghela napas, ada rasa sesak yang ingin segera di akhiri.


 


 


Setelah mobil terparkir sempurna Tiara dengan cepat membuka pintunya, tanpa menunggu Banyu membukakannya. Dengan langkah pasti Tiara menuju taman dalam rumah yang tempo hari pernah dia bersihkan.


 


 


"Indah," gumam Tiara.


 


 


"Apakah kamu suka?" tanya Banyu.


 


 


"Suka atau tidak aku, apa urusanmu, sama dengan, bahagia atau terluka, kamu akan tetap egois," gumam Tiara.


 


 


Banyu menangkup kedua pipi Tiara.


 


 


"Aku telah memilihmu, bahkam jika kau membutuhkan nyawaku, akan aku korbankan sekarang juga," bisik Banyu.


 


 


Tiara memejamkan mata, "jika kau serius, maka buktikan, aku tidak mau diam-diam kau dan Hany bercumbu bahkan ketika aku mengandung anakmu," bisik Tiara.


 


 


Dengan cepat menarik kepalanya, lalu mulai menyusun bunga, mengabaikan Banyu yang terus saja mengerutkan keningnya.


 


 


"Apakah kau berpikir bahwa aku menyukai Hany?" tanya Banyu.


 


 


"Aku harap juga tidak, tapi sayangnya semua bukti membuktikan sebarapa JAHADnya dirimu," gumam Tiara.


 


 


Ada sebuah aroma yang begitu kuat.


 


 


Hoooeeekkk hoooeeekkk


 


 


Tiara langsung berlari ke kamar mandi, sarapan pagi ini sia-sia.


 


 


"Apakah ada yang salah?" tanya Banyu. Dengan sabar memijit leher Tiara.


 


 


"Pergi," gumam Tiara.


 


 


"Tidak," jawab Banyu.


 


 


"Pergi!" teriak Tiara. Dengan kuat Tiara mendorong Banyu dan mengunci pintunya.


 


 


"Tiara... Tiara... bukan pintunya... Tiara!" teriak Banyu dari luar.


 


 


Tiara memuntahkan seluruh makanan yang dia makan tadi pagi, "padahal seharian kemarin aku sama sekali tidak mual," gumam Tiara.


 


 


Setelah selesai Tiara membuka pintu, Banyu dengan cepat memeluknya. "Apakah aku telah menyia-nyiakan kesetiaanmu," ucap Banyu.


 


 


"Kamu mempermainkan perasaanku dan Hany? Apakah kamu pikir kami akan terlihat sangat baik? Mungkin juga kamu aku mampu... aku ingin mencari sosok yang lebih nyaman darimu," gumam Tiara.


 


 


Tiara meninggalkan Banyu yang terpaku, Tiara amnesia atau sengaja melupakan semuanya. Bahwa hubungan mereka salah dan juga hal terlarang, walaupun berbalas mungkin tidak akan seindah yang mereka bayangkan. Banyu beberapa kali mengabaikan panggilan HPnya.


 


 


Lalu dengan malas mengangkat.


 


 


"Pak... tolong aku!" teriakan itu membuat Banyu segera berlari menuju mobil. Tiara menghela napas, kau terlalu buta jadi mudah di permainkan modus bukan lagi ketulusan.


 


 


Akhirnya Tiara membereskan Tamannya, menyusun tanaman melupakan banyak kenangan tentang Banyu. Hal yang paling dia jaga adalah kesehatan anaknya. Dan naluri seorang ibu selalu ingin melindungi anaknya apapun yang terjadi. Setelah puas Tiara tersenyum manis.


 


 


"Indah sekali Nyonya," ucap Inem saat melihat batapa ajaibnya tatanan Tiara.


 


 


"Mbak terlalu berlebihan," gumam Tiara.


 


 


"Beneran Nyonya, bagus banget taman ini, berkat kemahiran tangan Nyonya," sambung Minah.


 


 


"Bik... udah selesai masak? Aku lapar," ucap Tiara.


 


 


"Udah Nyonya, silahkan makan, biar dedek bayinya tetap sehat," ucap inem. Membuat Tiara tertawa.