
Nb : Diharapkan baca, vote dan komen ya... Author pengen liat ekspresi kalian. Rencananya author mau kasih kalian kejutan. Heheh. Nanti, enggak sekarang.
Happy reading...
😍😍😍
Hany berjalan pergi meninggalkan adik kakak yang lebih mirip seperti sepasang kekasih.
"Fenzo! Please aku adikmu," gumam Tiara.
"Aku tau, tapi aku sudah bosan dengan Hany," ucap Fenzo.
Tiara terkejut. Bagaimana dengan ringan kakaknya mengatakan bosan? Dia telah menikah dan sebentar lagi mereka akan bahagia.
"Bosan? Kau pikir dia mainan untukmu?" tanya Tiara. Dengan menatap tajam ke arah Fenzo.
"Ya... Kau jangan bohong mengatakan bahwa Banyu adalah segalanya," ucap Fenzo. Tiara mengerutkan keningnya. Seraya tak percaya dengan ucapan Fenzo.
Dengan mudah Tiara mengangkat tanganya.
Plaaakkk
Hadiah dari Tiara, membuat ujung bibir Fenzo berdarah. Tiara tersenyum dingin.
"Benar rupanya gosip yang banyak beredar bahwa kau gila wanita," ucap Tiara. Memutar bola matanya jengah.
"Tidak sepenuhnya," gumam Fenzo. Masih dengan posisi yang sama.
"Tapi hampir sepenuhnya benar," ucap Tiara dengan sedikit penekanan.
"Tiara... Ini hanyalah permainan," bisik Fenzo.
"Maksudmu?" tanya Tiara.
"Rahasia," ucap Fenzo, lalu pergi meninggalkan Tiara.
Tiara menggeleng pelan, si pria tidak peka mungkin sedang belajar untuk peka. Walau nyatanya masih kurang peka. "Akan aku pastikan kau menyesal mempermainkan orang yang benar-benar jatuh ke pelukanmu."
Tiara mengeluarkan smarphonenya lalu menelpon Banyu.
Ttuuut
Tuuutt
Tuuuttt
Tuuuttt
"Maaf nomor yang anda tuju sedang berada di luar jangkauan."
"Kenapa enggak diangkat?" tanya Tiara.
"Sebenarnya seberapa penting urusannya sehingga tidak membangunkanku untuk menyiapkan banyak kebutuhannya," lanjut Tiara.
Tiara menyibukkan diri membersihkan taman, tangannya dengan terampil merangkai banyak bunga yang mulai tumbuh, ada yang berbunga dan merambat. Warna yang cerah membuat Tiara tersenyum dan melupakan banyak duka berkepanjangan.
####
Banyu tersenyum, melihat banyak foto yang telah berhasil dia dapatkan, sesuatu yang istimewa.
"Aku yakin pernikahan ini akan menjadi pesta yang paling sempurna," gumam Banyu.
Tiga hari dia berkeliling, mengabaikan telepon dari Tiara. Pastinya Tiara akan semakin marah mendapatkan sebuah kenyataan baru.
####
Aku menelpon karena mimpi buruk yang aku alami semalam. Ini masih terlalu pagi untuk menghubunginya, namun ketakutan mendorongku untuk memberanikan diri.
Tuuutt
Tuuuut
Tuuuttt
"Hallo," jawab seorang perempuan.
Aku terperangah, "Ha---lo," ucapku ragu.
"Maaf sedang berbicara dengan siapa?" tanyanya.
"Tiara," desisku.
"Sayang... Tiara telepon," ucap Suara itu lebih mirip dengan bisikan.
"Apa?" jawab Banyu.
"Tiara telepon," ucap wanita itu.
Hening.
Aku dengar samar-samar ada bisikan, sabar sayang, angkat dulu teleponnya nanti main lagi.
Tanganku belum mampu bergerak mematikan smartphone.
Jleeebbbb
Ada sembilu menyakitkan menusuk ke dalam hatiku, namun kupaksa airmata tidak mengalir hanya demi pria yang mengecewakanku lagi.
'aku tidak akan lemah,' gumam hatiku. Terus menyemangati diri, semua akan baik-baik saja.
Ada lenguhan kenikmatan dari wanita jalang bersama suamiku, tubuhku roboh seketika. Tanganku tak mampu lagi menahan smarphone untuk tetap berada di telingaku.
Praaanngggg
Ku lempar Smartphone sebagai pelampiasan emosiku yang sudah tidak bisa aku pendam.
"Kau bermain api denganku rupanya," geramku.
Aku menangis. Menumpahkan segala yang ada dalam hatiku. Aku pikir kebahagiaan akan datang setelah pengorbanan panjang. Tapi ternyata tidak, kebahagiaan itu tak kunjung datang hingga badai muncul lagi.
Adilkah?
Adilkah untukku?
Pencipta yang mengatur nyatanya selalu meramu kepedihan dan menghadirkan badai baru yang lebih menghancurkan.
Aku mendengar sayup-sayup Bryan menangis.
Aku berlari langsung merengkuhnya, sepertinya dia tau aku sedang sangat terluka, tangannya mengelus pelan rambutku, seraya mengatakan bahwa Bunda selalu kuat dan akan selalu begitu.
Waktu ku habiskan bersama Bryan dengan melupakan Banyu, aku berusaha mengerti bahwa diriku tidak sempurna, aku hanya wanita biasa yang sama sekali tidak tau bagaimana cara berdandan yang benar.
"Tiara," suara itu membuatku terkejut.
Malam ini Banyu pulang, namun yang membuatku sakit adalah sosok wanita yang menggelayut manja dilengannya, 'aku bahkan tidak pernah mengumbarnya di depan umum,' desisku.
Aku menatap Banyu dengan tajam seolah meminta penjelasan.
Namun ada sesuatu yang terngiang dalam ingatanku.
"Ingat Tiara, pria itu tidak akan mudah setia hanya dengan satu wanita, aku maupun Banyu, kita sama, kau akan mengerti apa maksudku," bisikan yang Fenzo lontarkan sebelum benar-benar jauh dariku.
"Ada apa," tanyaku datar.
"Kami mau minta izin," desis Banyu.
"Minta izin?" tanyaku, masih terus menatap Banyu tanpa berkedip.
"Iya... Banyu melakukan kesalahan, hingga aku hamil, dan kau harus mengizikan kami untuk menikah," ucap Wanita itu.
"Bella, jangan berkata kasar pada istriku," ucap Banyu.
"Istri? Bahkan kau belum menikahiku secara sah, aku hanya melahirkan anakmu, lalu tinggal sebagai wanita simpanan dirumahmu," gumamku. Nada dingin sudah melekat pada setiap kata yang aku ucapkan.
"Hey... Kau dibilangi baik-baik ngelunjak ya," teriak wanita yang dia sebut dengan nama Bella.
"Ehm, maaf aku bukan siapa-siapa," gumamku.
Berjalan meninggalkan mereka.
"Aku akan segera pergi bersama Bryan, oh iya... Satu langkah kakiku meninggalkan rumah ini, kalian tidak akan bisa menemukanku lagi," gumamku.
Dia selalu berpikir bahwa wanita polos ini tidak akan pernah mampu mengeluarkan ancaman. Sekarang akan aku buktikan, bahwa wanita jelek yang sering mereka permainan berubah menjadi singa yang siap menerkam.
"Tidak! Aku tegaskan sekali lagi, ketika kakimu melangkah menjauh dari rumahku, maka Bryan akan tetap berada di sini dan kamu tidak akan pernah bertemu dengannya," ucap Banyu.
Dia berjalan pergi meninggalkanku.
"Ingat, ucapan Banyu selalu saja terjadi, ini undangan pernikahan kami," ucap Bella menyerahkan undangan begitu indah sayangnya nama Bella dan Banyu.
"Ah... Mungkin Cinderella kalah dengan Putri bangsawan kaya," gumamku.
Aku muak! Aku benci! Tapi demi anakku, aku harus tetap berada disini, dia rupanya mempermainkan aku lagi, aku ingin menghubungi Fenzo dan menceritakan semua, aku tau tanggapannya sangat singkat.
'Pulanglah, kekayaanku cukup jika hanya untuk menghidupimu, membuatmu tenang atau bahkan mendirikan perusahaan yang jauh lebih jaya dari milik Banyu.' tanggapan yang aneh sebagai seorang kakak.
Jika aku menghubungi Dave. Maka semua bantuan dari perusahaannya akan ditarik. Bersama aku yang berubah pangkat menjadi Nyonya Dave.
Pilihan yang membingungkan atau aku yang binggung harus memilih yang mana.
Astaga! Aku harus menyusui anakku!
Dengan langkah cepat aku menuju ke kamarnya.
Aku tersenyum, bahagiaku hanya miliknya. Karena dia kesucian yang belum ternoda.
"Maafkan bunda sayang, bunda akan mempertahankanmu sampai kapanku, hingga tidak perduli seberapa sakitnya penderitaan ini," bisikku.
Tangannya menyentuh pipiku, ada rasa damai, dialah penawar yang sesungguhnya untuk luka tiada habisnya.