Me And Daddy

Me And Daddy
Episode 21



Di sebuah gedung yang sudah tidak terpakai. Ada sepasang kekasih yang berpelukan mesra.


Si wanita terlihat begitu cantik terbalut dengan gaun merah, dengan rambut tergerai indah. Dengan senyum manis, wanita itu menatap pria tampan yang memakai pakaian lengkap.


"sayang," desis wanita itu.


"Apa yang kau inginkan?" ucap Pria itu membenarkan letak dasinya.


"Aku butuh banyak uang," ucap Wanita itu.


"Uang? Apakah bulananmu membeludak hingga kau meminta tambahan, bahkan aku yakin kemarin sangat cukup untukmu," gumam Pria itu.


"Aku kemarin membeli tas brand dengan harga yang fantastis, bahkan tidak cuma satu," ucap Wanita itu yang memonyongkan bibirnya tanda merajuk.


"Baiklah...baiklah... Aku akan mentransfernya nanti," gumam Pria itu lalu pergi meninggalkan Wanita dengan senyum penuh kemenangan.


"sebentar lagi aku akan memiliki perusahaan Bayu dan Milla," teriak Hany dengan lantang.


Wanita itu adalah Hany yang sedang merayu pengusaha kaya untuk mendapatkan banyak uang, peralatan miliknya tidak cukup canggih untuk menembus pertahanan perusahaan mereka.


Tidak lama kemudian Hany mendapatkan telepon.


"Iya... Bagaimana si gadis lugu yang bejat itu?" tanya Hany.


'Dia sudah tidak berdaya, apakah saya harus terus memberikan obat tidur itu? Dan dokter hampir saja ketahuan memalsukan dokumen dirinya.'


"Aku sungguh tidak mau tau... Aku membayar mahal untuk ini dan aku sama sekali tidak mau menerima kegagalan atau yang lebih parah kekalahan."


'Tapi Nyonya... Dokter sudah terlihat sangat ketakutan, dia selalu berkata, tugasnya menolong bukan berbohong bahkan menodong.'


"Sudah bosan hidup rupanya," geram Hany.


'Mungkin, aku juga tidak tau, beberapa kali aku melihatnya murung dan ketakutan,'


"Apakah kau pikir menjauh dariku semudah berhenti bekerja, kontrak denganku adalah selamanya, jika sekali saja menghianati maka mati adalah cara terbaik."


Hany mematikan ponselnya, rencananya memang berjalan dengan sangat mulus. Bahkan dia yakin seorang Dave tidak akan sadar dengan apa yang dia lakukan. Diam-diam, Hany membayar banyak orang untuk mrnghancurkan Banyu perlahan. Tiara adalah cara ampun yang memang dia yakini aman.  Sejak dua minggu yang lalu, Hany memang menyuntikkan secara tidak langsung obat, atau serum.


Pelumpuh otak, tidak terlihat, terasa apalagi tanpa reaksi berlebihan. Hany merogoh kocek dalam, satu pak serum hampir seharga satu tas mahal yang dia miliki. Dan kini Hany memesan obat penggugur kandungan, agar ketika Tiara sadar perpecahan terbesar yang telah dia rencanakan berhasil.


Hany pergi meninggalkan gedung tua, di mana dia sering bertemu pacar-pacarnya di belakang Fenzo yang terlihat sangat tenang.


Hany langsung menuju perusahaan Banyu. Lalu naik Lift dan sampailah diruang DirUt.


"Sebentar lagi... Dendamku akan terbayarkan dengan lunas dan lebih impas, aku bangga bisa menggulingkan Banyu, pria serakah yang membunuh satu-satunya keluargaku," ucap Hany.


"Ini terjadi karena proyek di Kalimantan, jika saya Herman tidak pergi bersama mereka, aku tidak akan kehilangan dia... Aku tidak mau kehilangan dia!" teriak Hany.


Dendam memang selalu saja mengerikan, panasnya bara lebih mudah membakar jiwa dibandingkan pedasnya ucapan.


Tidak ada yang tau bagaimana menghilangnya Herman. Sebenarnya Banyu telah menggerahkan banyak orang untuk mencari Herman karena bagaimanapun juga dia termasuk tanggungjawab terbesarnya.


Setelah kehilangan Herman, Hany sungguh mulai menggila. Ada banyak hal yang tidak pernah ditunjukan Hany.


Flashback.


Hany duduk di tepi jendela. Rumah reot yang hampir roboh sama sekali bukan alasan gadis kecil yang terus menatap bintang sembari menangis.


"kenapa... Penguasa selalu semaunya, membiarkan aku sendirian duduk di sini tanpa kamu, Ayah Bunda telah lama pergi... Aku sendiri," gumam Hany pelan.


Tok tok tok


Ketukan pintu sungguh menganggu masa berdukanya.


Dengan langkah lemah dia membuka pintu.


"Dengan adiknya Herman, maaf Mbak... Saya sangat menyesal tidak bisa menemukan keberadaannya, bahkan hingga kini saya sama sekali tidak berhenti mencarinya," jelas Banyu langsung menjelaskan kepada Hany.


"kau sengaja membunuhnyakan! Kata Bang Herman kau sesuka hatimu, sama seperti Bayu yang menyebalkan itu," teriak Hany.


"Herman akan kembali jika kau ingin, dan kau mungkin hanya persinggahan," ucap Banyu.


Setelah kepergian Banyu, Hany menangis, dunianya benar-benar runtuh. "aku mencintaimu," gumam Hany.


###


Beberapa hari kemudian Hany menemukan foto ibunya di kamar Herman. Ada banyak analisa yang dia terima.


"apakah ini bebanmu sehingga kamu pergi?" tanya Hany.


Akhirnya Hany berubah, wanita anggun ini ingin menuntut balas atas ketidakadilan atas kakaknya yang begitu dia cintai. Kakak angkat yang telah merebut hatinya 10 tahun yang lalu. Yang terlihat kasar namun begitu lemah lenbut di hadapannya.


Hany akan membuktikan bahwa Herman sama sekali tidak bersalah. Dirinya adalah korban. Dan korban selalu saja kalah dan hukum orangkaya.


Setelah cukup lama bekerja di tempat Banyu, Hany berhasil memalsukan beberapa data, namun tentu saja Banyu diam-diam menertawakan usaha Hany. Dan kini waktu Hany adalah menghancurkan Banyu.


###


Banyu hanya bisa bernapas, belum mampu mengangkat tangan bahkan hanya membuka mata tidak sangguh. Andi berhasil memasang CCTV di seluruh penjuru, begitu juga kamar Tiara. Tidak akan pernah ada yang tau apa masalah besar yang akan mengguncang sepasang Ayah-Bunda yang belum menikah ini.


Dave sibuk dengan banyak tumpukan File, ternyata Hany yang licik masih belun mau mengakui  bahwa data yang dia miliki palsu. Namun bukan seorang Dave jika tidak tau bagaimana menerbangkan lawan lalu menjatuhkannya dengan sekali sentak.


"hal yang luar biasa sempurna," gumam Banyu.


###


Hany berjalan memasuki pekarangan rumah, "kenapa ramai gini ya," ucap Hany.


Banyak mobil mewah yang terparkir di halaman, banyak bodyguard dan beberapa satpam yang diam.


Hany melangkahkan kaki menuju dalam rumah. Ada suara musik yang berdengung, sepertinya akan ada pesta.


"hay sayang," ucap Fenzo.


"Iya... Aku capek mau mandi dulu," ucap Hany langsung berjalan menuju kamar.


Fenzo sengaja mengikutinya,


"Apa-apaan ini, aku baru saja menikah dan ada cewek lain yang memanjakan suamiku," ucap Hany.


Ada luka terngagah yang tersiram air garam, perih.


Tok tok tok


"Hany, KELUAR!" teriak Fenzo.


"Sebentar," ucap Hany.


"SEKARANG!" teriak Fenzo.


Beberapa menit kemudian Hany keluar.


Plaaakkk


Setelah menampar Hany, Fenzo menjambak rambut Hany dengan kasar.


"Aku tidak pernah menerima penolakan, jika aku bilang sekarang... Ya sekarang enggak ada kata menunggu dalam kamusku," ucap Fenzo.


"lepasin... Sakit, aw... Aduh... Lepasin," ucap Hany.


"Kamu ngerti apa enggak?" tanya Fenzo.


Hany hanya mampu mengangguk


Kenzo dengan kasar mencengkram rahang Hany. "Jangan pernah merasa aku adalah milikmu, nyatanya aku masih milik semua wanita yang masih aku cap sebagai milikku," bisik Fenzo lalu pergi meninggalkan Hany yang menangis.