Me And Daddy

Me And Daddy
Extra part 4



_ada adegan 21++ belum cukup umur silahkan minggir. Mengingatkan ya....


Kalau mau kritik dan saran boleh banget, mau emosi boleh banget, mau marah boleh banget. Kuy berbagi bahagia.              ~_~      ʕ•ε•ʔ


*****


Tiara terlihat begitu kesal bagaimana tidak, seharusnya dia duduk atau makan, belum juga dia berhasil kini harus menelan pil pahit bahwa lima atau sepuluh menit lagi tidak akan ada kesempatan bagi Tiara untuk merebut Banyu.


'Aku baik-baik saja,' batin Tiara.


Mantra yang tidak henti Tiara ucapkan untuk menguatkan langkahnya, tangg berhasil Tiara lewati dengan posisi berada dibelakang Bella.


Deg deg deg


Ada detak jantung yang enggan terhenti saat melihat Banyu sangat tampan berbalut jas berwarna hitam.


Tiara begitu anggun dengan gaun yang teramat mewah.


Saat kakinya hendak melangkah menuju karpet merah. Bella menghentikan langkahnya lalu berbalik tempat, Tiara berada di depan.


Harmoni mengalun merdu dari Band yang berada tidak jauh dari pelaminan, Tiara kebingungan hanya berdiri terdiam.


"Nyonya silahkan lanjutkan langkahnya, Tuan telah menunggu anda," bisik Bella sembari menyerahkan bunga pengantin yang sejak tadi dia pegang.


"Apa maksudmu?" tanya Tiara. Sambil berjalan melangkah menuju Banyu.


Sejak tadi Banyu tidak hentinya tersenyum lebar.


"Anda bisa bertanya setelah selesai acara," bisik Bella.


"Aku benar-benar heran, apakah aku adalah wanita bodoh yang begitu mudah di jadikan permainan," geram Tiara. Masih dengan senyum lembut tak pernah lepas.


"Anda bahkan wanita istimewa yang membuat Tuan mampu meluangkan waktunya hanya untuk mendesain gaun sendiri," gumam Bella.


Percakapan terputus karena Bella menyerahkan tangan Tiara ke Banyu.


"Will you marry me?" bisik Banyu, membuat Tiara menatapnya.


"No, I don't want to marry you," gumam Tiara.


Semua orang disana tampak kecewa dengan jawaban Tiara. Batin mereka 'apa susahnya mengatakan iya, jangan terlalu banyak drama yang membosankan lagi


"Why?" tanya Banyu.


"I'm not a game after it's broken you put it in again, it's too disgusting," bisik Tiara.


"Sorry, I just want to give you something special on the day we are together forever," bisik Banyu. Menangkup kedua pipi Tiara. Mata mereka beradu, menjalin rindu yang terpancar jelas dari kedua pasang mata mereka.


"Surprise?" tanya Tiara.


"Well, you know darling, the most wonderful surprise is when you can't even forget things," bisik Banyu. Tiara memejamkan mata menikmati sensasi luar biasa dalam hatinya.


"But you make me cry, again and again, I'm sick," desis Tiara.


Puluhan pasang mata memperhatikan tanpa berkedip, ada banyak wanita jalang kurang kerjaan yang berbisik tidak mengenakan. Bahkan ada yang beberapa diantara mereka yang geram dan dengan bangga mengatakan, 'aku akan mengatakan iya.'


"I promise not to, so will you marry me?" bisik Banyu dengan pelan mengecup tangan Tiara.


"No ... I won't refuse again," bisik Tiara l.


"Really, seriously?" gumam Banyu.


"Sure, because I've become yours," jawab Tiara.


Banyu langsung memasangkan cincin kejari manis Tiara. Lalu mengajaknya menaiki altar pernikahan untuk acara sakral yang sangat mereka nantikan.


Fenzo memeluk erat Hany, " Kau tau, alasan kenapa aku tidak akan pernah melepaskanmu," bisik Fenzo.


"karena kau tidak mau membuat Tiara bersedih," gumam Hany.


"Itu salah satunya, yang paling utama adalah karena kau adalah milikku," jawan Fenzo.


Hany hanya tersenyum singkat.


Tiara dan Banyu telah resmi menjadi sepasang suami istri. Lewat tengah malam acara selesai. Mereka sedang duduk di ruang tamu. Meneguk anggur hingga mereka berjalan limbung, hanya Tiara yang masih sadar sepenuhnya.


Fenzo telah memejamkan mata bersama Hany dalam pelukannya. Bella terdiam sejak tadi dan Banyu hanya tersenyum memandang Tiara.


Tiara yang waspada hanya diam tanpa berani menatap Banyu.


Benar, Banyu mengendong Tiara yang masih menggunakan baju pengantin lengkap.


"Sayang, aku bisa sendiri," gumam Tiara.


"Aku merindukanmu," bisik Banyu. Melangkahkan kaki menaiki tangga, setelah tangga paling atas tanpa menunggu lama Banyu mencium bibir Tiara dengan rakus.


Banyu masih berusaha membawa Tiara masuk ke dalam kamar utama miliknya.


Brakkk


Pintu dibanting dengan cukup keras.


Tanpa menunggu lagi, Banyu langsung menurunkan Tiara lalu membuka baju pengantinnya.


"Banyu... Sabar, ini agak susah," gumam Tiara.


15 menit Tiara dan Banyu membuka baju milik Tiara beserta perhiasan yang melekat di tubuh Tiara.


Sisa pakaian dalam dan sepatu, Banyu sepertinya sengaja tidak melepasnya. Dengan santai melepas baju dan celananya sendiri.


Dengan lembut membaringkan Tiara lalu mencium bibir Tiara dengan mbruntal, setelah puas, Banyu langung melahap leher Tiara tanpa sisa, penuh cupangan cinta yang besok akan terlihat bekas merah. Perlahan menuruni dua gundukan yang terlihat lebih berisi dibandingkan biasanya.


Banyu masih menciumi tubuh Tiara semakin ke bawah. Dan tangan Banyu mempermainkan milik Tiara.


"Hhhh... Ehmmmm, aaahhh," desah Tiara.


"Nikmatilah sayang," gumam Banyu.


"Hhhmmm... Aahhhh, ehhhh, mmmmm," gumam Tiara. Sembari mengatur napasnya yang terlihat ngos-ngosan.


Banyu mencium, mencecap, menyedot bibir bagian bawah milik Tiara, membuat Tiara melengguh nikmat, sekaligus menggeliat geli.


Posisi berubah menjadi 69, sesekali Banyu melenguh nikmat, karena lumatan bibir Tiara.


"Ooohhhh, ooohhhh," desah Banyu.


"Oh... Banyu, please **** me," desis Tiara yang rupanya hampir organsme.


"Ah... Ah... Owh... Ah," desahnya semakin menggila.


Hingga masing-masing, menelan ****** ***** milik lawannya.


Tiara terlihat masih menikmati sisa-sisa kenikmatan sementara Banyu telah mengarahkan kenjantanannya ke lubang istimewa milik Tiara.


"Hhhhh, ahhhh,oooowwwwhhh, aaahhh," desah Tiara saat dengan sengaja Banyu menggesek-gesek kenjantanannya ke bibir bawah Tiara.


"Owhhh.... Ahhh... Owwwhhh... Ahhh," desah Tiara berulang kali saat Banyu menggenjot dengan ritme yang pelan. Kemudian berangsur-angsur menambahkan kecepatannya.


"Ohhhh, aahhhh, ooowwwhhhh, ssssshhhh owwwhhhh," desah mereka.


"Owwwhhh, Banyu, owwwhhhh se...di...kit... Lagi!" ucap Tiara.


"Tahan...sebentar, aku juga," ucap Banyu menambah ritme genjotan mencari kepuasan sendiri.


"Owhhhh, aaahhhhh," desah Tiara.


Banyu menambah kecepatan.


Creeettt creeettt creeet


Cairan hangat keluar secara bersamaan.


Banyu menjatuhkan tubuhnya di atas Tiara. Tersenyum penuh kepuasan.


Pergumulan panas mencari kepuasan itu masih berlanjut hingga fajar terbit.


Mereka akhirnya terlelap.


Pagi datang, namun kamar Banyu dan Tiara masih terlihat gelap karena gorden jendela tebal yang masih tertutup rapat. Tiara masih enggan membuka mata, pergumulan panas sungguh membuat tubuhnya merasa lelah.


Banyu ternyata terlelap di atas perut Tiara.


"apa yang kau lakukan?" tanya Tiara.


"aku ingin mendengarnya berbicara," bisik Banyu.


"Astaga Bryan masih kecil, aku tidak mau punya anak lalu membuat Bryan iri," ucapku.


"Dia tidak akan iri, percaya padaku," bisik Banyu.


Tiara menggeleng pelan.


Tiara takut, Bryan masih berumur 4 bulan, mana mungkin dia akan hamil lagi, sama saja mengurangi kasih sayang yang harusnya di dapatkan Bryan sepenuhnya.


Banyu bangkit menuju kamar mandi, "tidak usah kekantor karena hari ini ada sidang besar," gumam Tiara.


Banyu hanya tersenyum, lenyap di balik pintu kamar mandi.