Me And Daddy

Me And Daddy
Episode 7



"Hany... jika terjadi sesuatu siapkan pengacaran dan bukti rekaman CCTV atas penyiksaan yang terjadi, dan pastikan Bella akan hancur, sehancur-hancurnya debu bersama Sony," gumam Banyu saat berada semobil dengan Hany.


"Tapi pak... saya yakin bahwa Bella telah melaporkan Anda dan rekan bisnis kita bagaimana?" tanya Hany.


"Apa yang perlu ditakutkan, jika mereka ingin lepas perjanjian sebelum kontrak selesai, maka setengah perusahaan mereka akan menjadi milikku," gumam Banyu.


"Bagaimana anda bisa seyakin itu? Bisa saja mereka berbohong atau balik menuduh bapak melakukan tindakan penipuan," ucap Hany.


Hany tergolong baru bekerja dengan Banyu, karena sebenarnya Ibunya Tiaralah yang menjadi asisten Banyu sejak masih merintis. Banyu lebih suka sekretarisnya dahulu, walaupun ibunya Tiara sudah menikah namun kinerjanya lebih cepat dan tangkas.


"Perjanjian itu jelas di saksikan oleh banyak orang, bahkan aku membawanya ke pengadilan agar yakin, lagian apa yang aku berikan pada perusahaan mereka sangatlah setimpal dengan imbalan itu, termasuk Bella."


"Bella? Apakah dia juga punya perusahaan?" tanya Hany.


"Bellaria parfum, adalah anak cabang dari perusahaan besar yang berinduk pada perusahaan Banyu," gumam Banyu dengan tenang.


Hany lega, setidaknya dalam waktu dekat ini dirinya bisa terus membiayai ibunya yang menderita gangguan mental. Tidak tanggung-tanggung, Banyu dengan senang hati membantunya membiayai seluruh biaya rumah sakit dengan sistem potong gaji. Bisnis is bisnis.


"Dengan membantu Bella, Sony bisa saja kehilangan lebih banyak dari yang dia bayangkan, karena benalu tetap akan menjadi benalu, di manapun dan kapanpun dia tumbuh."


Banyu memang sengaja menurunkan sopirnya, mengantar Hany pulang, karena rapat berlangsung hingga pukul 7 malam.


Beep beep beep


"Hallo," jawab Banyu.


"Maaf Tuan... kami terpaksa menelpon Anda, istri anda...," belum selesai dokter mengatakannya. Banyu langsung banting setir menuju rumah sakit.


Hp yang ada di genggamanya langsung di letakkan di atas dasbor mobil.


"Loh pak... rumah saya kan lurus pak, bukan belok ke sini," ucap Hany.


"Ada masalah penting, aku harus menurunkanmu di mana?" Tanya Banyu.


"Saya bisa pulang sendiri," gumam Hany.


"Kita ke rumah sakit, sesampai di sana Sopirku akan mengantarmu pulang," ucap Banyu yang fokus menyetir mobil yang dengan kecepatan tinggi menyelinap di kesibukan dan kemacetan kota.


15 menit kemudian, Banyu sampai di rumah sakit.


Menghampiri bodyguardnya,


"Tolong, antarkan Hany," gumam Banyu, tanpa menunggu lama Bodyguard itu masuk ke dalam mobil untuk mengantarkan Asistem bosnya.


"Di mana rumahnya neng?" Tanyanya.


"Jalan mawar, no 231," ucap Hany dengan tenang.


Mobil pergi meninggalkan rumah sakit. Di dalam mobil Hany tersenyum, dia mengerti apa yang dirasakan tuannya.



Banyu yang terlihat sedikit kacau segera masuk ke dalam Lift, kebetulan tempat atau kamar Tiara berada di lantai 7, ruangan inap sekaligus apartemen miliknya.


"Apa yang terjadi?" tanya Banyu.


Dokter terdiam, menundukkan kepala.


"Anda boleh melihatnya sendiri," ucap dokter mempersilahkan Banyu masuk.


"Kami sudah berusaha semampu kami," lanjut Dokter.


Rahang Banyu menegang, "jangan anggap remeh dengan kemampuan, bahkan ketika tubuhmu mampu memiliki sakit yang berlebihan, maka kau akan mengerti apa artinya kemampuan."


Banyu meninggalkan Dokter yang diam membatu, untuk sekian kalinya seorang dokter kalah telak di hadapan sang pemilik rumah sakit.


Dengan langkah pelan Banyu mendekati Tiara, menyentuh pelan Pipi Tiara yang kelihatan sedikit gembul.


Tiara membuka mata, "siapa?" tanya Tiara dengan pelan.


"Tiara?" Panggil Banyu.


"Maaf... aku enggak kenal siapa Tiara," gumam Tiara dengan nada kebingungan.


"Nama kamu Tiara," ucap Banyu.


"Namaku? Tiara?" tanya Tiara tidak percaya.


Banyu meninggalkan Tiara yang kebingungan.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Banyu. Dokter sedikit ketakutan dengan Wajah Banyu.


"Sebenarnya dari awal Tiara telah mengalami amnesia, bahkan karena beberapa kali kecelakaan  berakibat fatal untuk dirinya sendiri," ucap Dokter.


"Lakukan apapun agar dia kembali," gunan Banyu.


"Apakah selamanya?" tanya Banyu.


"Mungkin untuk sementara, tapi bagaimana kami menjelaskan tentang kondisi kehamilannya," ucap dokter.


"Apakah harus aku?" tanya Banyu.


"Iya... karena anda adalah rumah paling tenang untuknya saat ini, tolong dijaga emosinya, karena bisa jadi emosi memaksakan diri mengingat semuanya."


Penjelasan Dokter terngiang jelas dalam ingatan Banyu.


"Aku bahkan lupa bagaimana bersikap manis," gumam Banyu.


Beepp beep beep


Hp Banyu berdering


Sony Calling...


"Hallo," jawab Banyu.


"Kamu ada di mana?" tanya Sony dengan khawatir.


"Aku ada di sini, ada perlu apa," gumam Banyu dengan tenang.


"Kenapa kau tenang, padahal sebentar lagi kehancuranmu datang," ucapan Sony, membuat Banyu diam sejenak.


"Baiklah, aku sedang sangat sibuk membenahi rumah hutanku, untuk mempersiapkan banyak hal," gumam Banyu. Tanpa menunggu jawaban Sony, Banyu mematikan Hpnya.


Banyu membuka pintu dengan pelan. Melihat Tiara yang menunggu, Banyu tersenyum lembut.


"Pagi sayang," sapa Banyu.


Membuat Tiara mengerutkan keningnya, "pagi? Ini bukan pagi lagi Om, ini udah malam," gumam Tiara.


Banyu menggaruk kepalanya, padahal tidak gatal sama sekali. "Ehm... mungkin aku terlalu bersemangat, hingga tidak menyadari bahwa hari sebenarnya masih malam."


"Tidurlah," gumam Tiara.


"Lalu dirimu mau pergi?" tanya Banyu saat melihat Tiara berusaha berdiri.


"Aku tau kamu sangat lelah, kantung matamu terlihat semakin lebar, mungkin aku akan duduk di sana, sementara kamu berbaring di sini," ujar Tiara. Sambil menepuk pelan kasur miliknya nya yang masih kosong.


"Baiklah, aku akan tidur di sana bersamamu," ucap Banyu. Dengan santai melepas jas birunya, melonggarkan dasi yang dia kenakan, dan membuka beberapa kancing baju kemejanya."


"Eitsss, mau ngapain," gumam Tiara, menutupi tubuhnya dengan kedua tangannya.


"Mau tidur," ucap Banyu.


"Apa? Ehm... ya sudah," gumam Tiara, pipinya mulai memerah karena salah tingkah.


Banyu membaringkan tubuhnya di samping Tiara yang sibuk dengan pikirannya sendiri. "Om... kamu keluargaku?" tanya Tiara.


"Aku suamimu," gumam Banyu.


"Huh, aku enggak percaya," gumam Tiara.


"Kenapa? Apakah aku terlihat sangat buruk?" tanya Banyu.


"Kamu lebih pantas jadi Ayahku, oh iya di mana ayah dan Bunda," gumam Tiara.


"Mommy dan Daddymu sudah meninggal," gumam Banyu.


"Apa... beneran, pantas aku merasa sendirian," gumam Tiara.


"Kamu masih punya aku," gumam Banyu.


Tiara menatap Banyu yang terlelap, "kamu adalah satu-satunya alasanku untuk kembali, jangan jadikan kamu adalah salah satu alasan aku ingin mati."


Banyu terperangah, bagaimana bisa Tiara mengucapkan kalimat yang begitu menyakitkan untuk hatinya. "Aku tidak akan menjadikanmu alasan, aku menjadikanmu tempat persinggahan yang tidak akan pernah tergantikan," bisik Banyu.


Mengecup kening Tiara, kemudian mengelus pelan, perut Tiara yang masih rata. "Jaga bayi kita ya sayang," bisik Banyu.


Tiara sedikit terkejut.


"Bayi?" tanya Tiara.


Banyu mengangguk pelan.


"Bayi kita akan semakin menguatkan, bahtera rumah tangga yang barus saja kita bina," jelas Banyu.


Tiara sedikit terharu, dengan pelan mengecup pipi Banyu, "aku percaya, kamu adalah suamiku," bisik Tiara.


Bulan dan bintang bersinar terang, menemani dua insan yang sedang dalam permainan takdir yang membingungkan.