
Setelah pergumulan panas yang terjadi berulang kali. Fenzo menatap Hany yang kelelahan.
"Aku mencintaimu," bisik Fenzo.
"Aku tau, maaf aku telah membuatmu kecewa," bisik Hany.
"Aku akan menghukum Tiara karena menyakitimu," bisik Fenzo.
"Jangan... Dia melakukan hal yang benar, bagaimana jika besok kita menjenguk Banyu," ucap Hany.
"Baiklah, jangan menghianati aku lagi," bisik Fenzo.
"Siap bos," ucap Hany.
'Terima kasih Tiara, berkat kamu aku mendapatkan cinta sejatiku,' ucap Hany dalam hati.
####
Tiara terlelap kurang nyaman di sofa panjang, semalam dia kekenyangan karena menghabiskan banyak makanan yang dia beli. Bahagianya ketika melihat Hany dan Fenzo menyatu, maaf adalah penghargaan yang pantas untuk mereka.
"Pagi sayang," sapa Tiara.
Mengecup pelan pucuk kepala Banyu, hingga detik ini belum ada kepastian tentang keadaanya. Dokter yang kemarin Tiara pecat sudah di ganti dengan dokter luar negeri, jauh lebih handal dibandingkan dokter yang lain.
"Aku akan secepatnya kembali," bisik Tiara.
Hari ini ada beberapa rapat besar yang harus Tiara hadiri sebagai pengganti Banyu, beberapa kali Dave mengatakan bahwa kekosongan kepemimpinan sungguh membuat perusahaan Banyu sangat sulit di kendalikan. Maka dari itu Dave menyuruh Tiara hadir sebagai pemimpin cadangan hingga Banyu sadar.
"Cepatlah bangun, aku tidak mau melahirkan tanpa kamu," bisik Tiara.
Tiara keluar ruangan Banyu, dan menghampiri Bodyguard yang sigap berdiri di depan pintu.
"Aku akan pergi, jangan berikan akses siapapun untuk masuk kecuali suster atau dokter," ucap Tiara.
"Baik Nyonya," jawab Bodyguard dengan santai.
Kali ini sekretaris Fenzo sudah tidak menemani Tiara lagi, karena perlakuan buruk Tiara yang hampir membuat Hany celaka. Akhirnya Fenzo menghukummya dengan menarik sekretarisnya.
Tiara mengendarai mobil sendiri, dia terbiasa melakukan apapun sendiri, bukan hal yang mudah tapi jika dilakukan dengan penuh keyakinan, pasti semua berjalan sesuai keyakinan.
"Selamat pagi Mis," sapa Sherin, sekretaris Dave yang di perintahkan untuk membantu Tiara.
"Pagi, apakah kau memesankan baju untukku rapat siang ini?" tanya Tiara.
"Tentu," jawabnya dengan tenang.
"Terima kasih, aku akan ganti baju dan persiapkan semua dengan matang, aku percaya padamu," ucap Tiara.
Langsung masuk ke dalam ruangan Banyu, untuk berganti baju juga sedikit berdandan.
Tok tok tok
"Masuk," ucap Tiara.
"Lama sekali Mis?" tanya Sherin.
"Maaf aku tidak bisa memakai semuanya," ucap Tiara.
Dengan cepat Sherin menghampiri Tiara dan memoles seluruh bagian wajahnya. Tiara yang cantik terlihat semakin cantik dam fresh.
"Anda sangat cantik Miss," bisik Sherin.
"Astaga, jangan sampai aku mencintaimu," ucap Tiara.
"Hehehe," Sherin tertawa renyah.
Mereka akhirnya menaiki mobil menuju sebuah gedung mewah, rapat besar dan terpenting akan segera Tiara hadiri. Di dalam mobil Tiara membolak-balikkan lembaran yang penuh dengan tulisan tentamg produk baru yang sedang Banyu kembangkan.
"Handphone otomatis?" tanya Tiara.
Sherin mengangguk pelan.
"Apakah aku bisa?" tanya Tiara sedikit gugup.
"Jika Tuan Banyu saja sanggup kenapa anda tidak?" bisik Sherin.
'Ya... Aku melakukan ini demi Banyu, semata-mata karena dirinya, usia kehamilannya masih belum terlalu besar hingga memudahkanku bergerak cepat, cepatlah bangun sayang,' gumam Tiara dalam hati.
Mereka akhirnya sampai, disebuah gedung pencakar langit, gedung termahal ke 6 di dunia, dengan desain mewah bahkan pembangunannya menyedot dana milyaran rupiah.
"Waw indah," gumam Tiara.
"Anda belum pernah kemari?" tanya Sherin.
Tiara menggeleng.
"Aku hanya cinderella yang baru menemukan pengerannya," bisik Tiara kemudian tersenyum.
Rapat ternyata di hadiri banyak pengusaha kaya yang begitu serakah.
"Dia... Surya, serakah yang beberapa hari yang lalu resmi membuka bisnis batu bara ilegal," jelas Sherin.
"Dia Damian, pemilik Bar termewah dengan cabang ratusan di seluruh dunia," bisik Sherin.
Lagi-lagi Tiara mengangguk.
Tiara mulai menjelaskan tentang sistem Handphone tanpa sibuk membawanya, bahkan hanya dengan deteksi jentikan jari, alat itu mampu memanggil seseorang yang dia maksud. Bukan hanya sidik jari dan facelock, handphone ini di lengkapi dengan GPS tanpa bisa di matikan, bahkan tanpa menggunakan data paketan, Wifi atau sejenisnya.
Tepuk tangan yang gemuruh terdengar saat Tiara berhasil menjelaskan Proyeknya. Banyak perusahaan besar yang siap membeli saham perusahaannya.
"Selamat Tiara," ucap Dave.
"Semua ini tidak akan semudah ini tanpa bantuanmu," ucap Tiara.
"Karena aku perduli padamu," gumam Dave.
"Kau temanku," bisik Tiara.
Tiba-tiba telepon Tiara berdering.
"Hallo,"
"Siapa Tiara? Siapa yang menelponmu?" tanya Dave.
Tiara menggeleng cepat.
"Kau memecatkanku kini giliran aku menghancurkanmu," ucap suara itu.
"Kau tidak akan bisa melakukan apapun," ucap Tiara santai.
Dokter yang ingin menuntut balas itu mematikan ponselnya, tidak berapa lama dia menelpon video call, lalu menunjukkan beberapa bodyguardnya yang tergeletak tidak berdaya.
Tiara tersenyum pelan, "Kau hanya menggertakku," gumam Tiara.
Dengan santai Dokter berjalan memasuki ruangan, lalu mendekati Banyu,
"Ini adalah Suamimu, apakah kamu lupa?" tanya Dokter yang sengaja Tiara pecat.
"Dia suamiku," gumam Tiara.
Tangan Tiara mengambil kertas lalu menulis dengan cepat,
"Segera pergi ke rumah sakit, Banyu dalam bahaya sementara aku mengecohnya dari sini, kamu panggil Fenzo. Mintakan serum yang aku buat di ruang bawah tanah malam kemarin, kalian berpencar."
"Jangan berpikir ada yang bisa menyelamatkanya," ucap Dokter.
"Tidak," gumam Tiara.
"Aku sudah melunasinya bahkan sebelum kau tau bahwa aku perduli," ucap Tiara.
"Tapi dia tetap meninggal, maka dari itu kau harus kehilangan Banyu," ucap Dokter.
"Tidak... Kau tidak berhak membunuhnya," ucap Tiara lalu mematikan teleponnya.
10 menit, dengan mengendarai zig zag kecepatan tinggi akhirnya Tiara sampai di rumah sakit milik Banyu. Setelah menaiki Lift dan berlari mendekati ruangan Banyu.
Ttiiiiiiiiiiiiittttt
Bunyi nyaring itu membuat Tiara terpaku tidak berdaya.
"APA YANG KAU LAKUKAN! DASAR TIDAK TAU DIRI, KU PASTIKAN KAU MENYESAL," geram Tiara.
Buuuggg
Buuugggg
Buggg
Tiga kali tonjokan kuat milik tangan kecil Tiara, Dokter itu pingsan tidak berdaya.
"Dokter! Dokter!" teriak Tiara sembari memencet tombol darurat yang ada di dalam ruangan Banyu.
Dokter datang dengan peralatan tidak berapa lama Dave datang bersama Fenzo.
Tiara luruh, diam, hanya menangis.
"Dia... Dia membunuh suamiku," bisik Tiara.
"Tidak... Tidak...! Aku tidak mau kehilangannya," ucap Tiara.
"Dave masuklah," ucap Fenzo.
"Kamu tidak akan kehilangannya," bisik Fenzo.
"Suara itu... Suara itu... Suara itu!" teriak Tiara.
Fenzo memeluk Tiara dengam lembut, memberi kenyamanan yang ekstra untuk Tiara.
"Aku akan menceritakan bahwa kau menjadi sangat sadis di hadapanku," bisik Fenzo.
"Hiks... Hiks...hiksss,"
Tiara masih terus menangis, dua jam Dokter tidak kunjung keluar. Tiara masih terus meneteskan airmatanya.
"Anakku, panggil ayahmu pulang, dia harus menemanimu, dia akan menyambutmu," bisik Tiara. Dengan suara parau.
Dokter keluar dengan menundukkan kepalanya.
"Bagaimana? Apa yang terjadi?" tanya Tiara.
"Maaf, Tuan Banyu telah meninggal sekitar dua menit yang lalu," ucap Dokter.
"Tidak!" teriak Tiara dengan histeris.
Dengan langkah cepat Tiara mengunci pintu ruangan Banyu.
"Sayang, bisakah aku mengatakan kembalilah, jangan buat aku seperti ini," gumam Tiara.
Sesekali menghampus airmata yang membuat kabur pandangannya.
"Sayang... Jangan buat aku seperti ini," bisik Tiara yang telah berdiri di sampingnya.
"Aku menciptakan serum penuh kenangan untukmu kembali."
-
Hikssss
-
Hiks
-
Hiks
-
Hiks
-
Hiks
-
Hiks.
Tiara terus menangis di samping tubuh Banyu yang hanya terdiam.
****
Banyu Pov
Malam ini aku melihat dia. Bayu yang bahagia bersama istrinya Mila.
"Ayo... Ikut saja bersama kami," ujar Bayu.
"Kamu akan bahagia di sini," sahut Mila.
"Bagaimana dengan Tiara?" tanyaku pelan.
"Kau egois mana pantas untuk anakku," gumam Milla.
"Sayang...," bisik Bayu.
"Biarlah... Dia harus ikut bersama kita," gumam Milla.
Entah kenapa Bayu berlari mendorongku. Dan aku masuk ke dalam dunia yang gelap.
Pekat
Sangat gelap
Aku bahkan sulit bernapas.
'Tiara jangan sedih... Ku mohon berbahagialah... Sebab aku... Sebab aku mungkin tidak akan bisa melihat senyummu setelah ini, kamu memang Mutiara terindah dalam hidup seorang Banyu yang hampa.'
"Tidak akan ada yang bisa menggantikanmu dalam hatiku."
"Jika Tuhan menyatukan kita kembali, aku akan menebusnya, aku akan membuatmu bahagia, tapi,"
"Tapi kenapa aku tak kunjung menemukan cahaya....!"
"Kenapa dunia semakin gelap,"
"Semakin gelap!"
"pengap."
"Tiara"
"Tiara! Jangan tinggalkan aku istriku,"