Me And Daddy

Me And Daddy
episode 22



Fenzo menatap luar jendela,  ada semburat rasa sepi yang tergambar jelas. Membuat dirinya benar-benar berusaha menyembunyikannya.


"Kamu kemana sayang... Sudah dua puluh tahun pergi meninggalkan aku, tanpa kepastian," gumam Fenzo.


"aku di sini sayang," desis Hany.


"Hmmm," gumam Fenzo.


"Sudah malam... Ayo kita makan malam," ajak Hany dengan bergelayut manja di lengan Fenzo.


Ada semburat rasa muak melihat manis palsu Hany, namun Fenzo dengan cepat merubah ruatnya yang dingin.


Kenzo makan seperti biasa. Steak daging, kentang goreng, salad dan menyantap buah apel kesukaanya.


"Sayang," panggil Hany.


"Iya," jawab Fenzo.


"Aku hamil," seru Hany.


Fenzo menatap Hany sesaat, "besok aku akan mengantarkanmu ke dokter untuk memastikan anak siapa yang kau kandung," setelah mengatakan itu Fenzo berdiri meninggalkan Hany yang kecewa.


'Kenapa kamu tidak percaya! Padahal aku ingin kau mengakuinya dan aku bisa menjadi pewaris satu-satunya Fenzo Grup,' batin Hany.


Hany memandang Fenzo yang berubah semenjak kejadian kemarin, Hany belum kapok, atau bahkan menyadari bahwa karma akan perbuatannya telah berlaku.


"Mungkin dia menyesal melukaiku kemarin," ucap Hany.


Fenzo sayup-sayup mendengarnya.


"Tidak ada kata menyesal dalam keadilan," gumam Fenzo.


"Tapi kau melukaiku! Kau selalu bilang aku yang paling berharga, jika iya, kenapa masih melukaiku?" Hany berteriak tidak terima.


"Apakah kau tidak terima? Kalau tidak suka pergilah, akan lebih mudah untukku menjalankan rencana selanjutnya," jelas Fenzo.


"Rencana selanjutnya?" tanya Hany.


"Mengakhiri seluruh penderitaanmu," jelas Fenzo.


Hany bungkam, bagaimana ini bisa terjadi padanya? Beberapa minggu yang lalu Fenzo terlihat begitu menyukainya. Hany langsung menjauh dari Fenzo. Kesal... Marah, geram dan ada banyak penyesalan yang menghantuinya.


Fenzo mendeal nomor seseorang,


"Selidiki Hany, aku mau laporanmu selesai dalam waktu 30 menit dari sekarang," ujar Fenzo lalu mematikan ponselnya.


"Kau sedang main-main dengan sekelompok buaya mematikan," gumam Fenzo.


Hany binggung, apa yang harus dia lakukan sekarang, 'Yah... Sebelum Fenzo membunuhku ada baiknya aku membunuh tiara terlebih dahulu, impas, pas, dendamku terbalas walau aku harus digerus racun mengerikan.' bisik hati Hany.


Malam semakin larut, Hany memutuskan untuk segera beristirahat karena besokbakan menjadi hari kebanggaan miliknya. Besok dendamnya akan padam dengan balasan meradang.


Hany tidak menemukan Fenzo di dalam kamar, memilih segera membaringkan tubuhnya, selama hampir 2 minggu, Fenzo memang jarang tidur di rumah. Dia lebih suka berada di perpustakaan membaca, atau menyelesaikan seluruh berkas penting yang akan membuatnya semakin tinggi.


Hany terlelap, mengarungi mimpi dan kepuasan yang berbeda malam ini.


####


Fenzo menatap layar laptopnya tanpa berkedip, mengamati satu persatu percakapan ponsel Hany. Betapa terkejutnya ketika mendengar suara seseorang yang baru dia dengan.


Fenzo langsung menghubungi nomor yang tertera namun sama sekali tidak tersambung, berkali-kali Fenzo menghubungi, namun hanya operator jaringan yang menjawab.


"Aku harus menemukan dia," ucap Fenzo.


Dengan sekali tekan Fenzo telah terhubung dengan beberapa anak buah handalnya.


"Cari gadis yang berhubungan dengan Hany, terakhir dia di letakkan di rumah sakit swasta milik Hany, namun pastikan semua aman," ucap Fenzo.


"Aku juga mau penawar serum sebanyak mungkin untuk membangunkan gadis itu," ucap Fenzo.


Langsung mematikan ponselnya.


"Hany... Jika kau bermain denganku, maka kemenanganku akan di hiasi dengan tangisan darah darimu," geram Fenzo.


###


Pagi menjelang begitu cepat, Hany terkejut ketika melihat jam menunjukkan pukul 10 pagi.


"Astaga! Aku harus menyaksikan hancurnya Tiara," ucap Hany.


Plaaakkkk


Sebuah tamparan mendarat dengan sempurna.


"Apa yang kau lakukan pada gadis yang bernama Tiara itu?" tanya Fenzo.


"Aku tidak melakukan apapun," gumam Hany berbohong.


Fenzo menarik rambut panjangnya, lalu dengan kuat mencengkram kedua pipinya dengan tangannya. Hingga Hany tidak bisa mengucapkan apapun.


"Sayang... Jangan sampai wajah cantikmu hancur karena air keras ini," ucap Fenzo.


Meninggikan air keras racikannya sendiri, ada penghancur jelas ada juga penawarnya.


"Jangan... Jangan... Ku mohon jangan," ucap Hany dengan suara tidak jelas.


"Apanya yang jangan!" teriak Fenzo.


"Jangan hancurkan wajahku," jawab Hany.


"Baiklah... Kau bilang sedang hamil anakku, mari kita buktikan, aku belum menyentuhmu saat kita belum resmi menikah, sekitar 3 minggu yang lalu," gumam Fenzo menyentak Hany dengan kasar. Jatuh ke atas kasur yang empuk.


Fenzo diam-diam mencari gadis yang sedang di manfaatkan Hany, Hany berpikir bahwa Fenzo sedang takut kehilangannya. Anggapan yang begitu bodoh, bagaimana mana mungkin orang yang takut kehilangan menampar seseorang yang dia sayangi hanya karena masalah sepele.


Hany mengirim pesan kepada suster dan dokter bawahannya. Meminta mereka untuk segera membunuh anak Tiara. Secepatnya, tanpa menunggu lagi.


Belum ada balasan dari salah satu mereka, hingga Hany dan Fenzo sampai di sebuah rumah sakit besar milik Fenzo. Tidak ada yang berani di suap, melawan atau bahkan berbuat curang karena jika mereka berani Fenzo yang turun tangan tanpa banyak memberitahu alasan.


Beep beep


Ponsel Fenzo bergetar.


"langsung masuk temui dokter aku akan segera menyusul, orang jerman ingin membicarakan masalah bisnis fashionku di sana," ujar Fenzo.


"aku ingin bersamamu," gumam Hany.


"Aku tidak suka bantahan," geram Fenzo. Dengan cepat Hany berjalan menuju ruangan yang Fenzo maksuf, tamparan tadi masih terasa panas dipipi, cengkraman kuat tadi juga cukup nyeri. Untuk Hany menutup merahnya pipi dengan Foundation yang cukup tebal.


Fenzo terlihat sangat serius, Hany yang berada cukup jauh darinya menatap terus dengan heran. Namun akhirnya dia masuk ruangan kandungan di sambut dua perawat dan satu dokter.


"Bisakah anda berbaring?" tanya Dokter.


Hany hanya mengangguk pasrah.


Dokter melakukan pekerjaannya dengan baik. Satu jam, pemeriksaan Hany, keluar dari ruangan mendapati Fenzo sedikit menegang.


"Apa kata dokter?" tanya Fenzo.


"Aku belum mendapatkan kejelasan," jawab Hany.


Tanpa berniat mengaja Hany, Fenzo langsung berjalan masuk ke ruangan Fenzo.


"Apakah... Anda tau? Bahwa Nyonya hamil dua bulan?" tanya Dokter yang begitu hapal dengan Fenzo langsung mengatakannya.


"Aku yakin, hubunganku dengannya masih sekitar 3 minggu jalan," jelas Fenzo.


"Bagaimana kau mau mengelak, dia anakmu!" geram Hany.


"Anak? Anakku? Kau tau pernikahan kita masih 3 minggu, sebulan minggu depan," ucap Fenzo.


"Aku tidak menyangka kau seperti ini," ucap Hany hampir menangis.


Fenzo menatap dokter, meminta kejelasan. Namun beberapa saat kemudian Fenzo memilih keluar dengan nada sedikit geram. Fenzo terlihat malas menatap Hany yang masih menangis. Mengetik sesuatu lalu mengirimkan ke dokter kandungan.


Apa yang kamu lakukan di masa lalu, itu yang kamu terima di masa depan. Ingat karma adalah karma, ketetetapan bukan lagi penawaran.