
Akhirnya aku terlelap di sisi halte. Lapar tak tertahankan membuat tubuhku lemah dan kemudian tidak sadarkan diri.
Aku membuka mata, aroma obat yang menusuk indra penciumanku, dan pandangan putih tepat memenuhi mataku. "Apakah aku sudah kembali?" tanyaku perlahan.
"Apakah aku mati?" gumamku pelan.
"Tenanglah... kau harus kuat," bisik Daddy. Sosok yang aku yakini lebih kaya dari Daddy-ku yang sesungguhnya.
"Kenapa kamu datang lagi? Apakah belum cukup kau melukaiku dan menyakiti atau aku pikir kaulah orang yang memisahkan Mommy dan Daddy-ku hanya demi kekayaan."
"Aku bahkan belum sempat mengatakan yang sesungguhnya. Bahwa Daddy-mu berhutang banyak padaku dan kamu adalah jaminannya selama ini."
"Apakah aku termasuk barang berharga?" pertanyaan itu sontak membuatku termenung sesaat.
"Bagi mereka kamulah yang berharga, hingga nyawa mereka dengan mudah melayang hanya demi menyelamatkanmu," jelasnya.
"Memang berapa jumlahnya?" tanyaku memberanikan diri.
"100 Milyar, atau mungkin lebih," ucapnya dengan santai.
"Untuk apa uang sebanyak itu?" tanyaku.
"Daddy-mu tidak bekerja, mommy-mu ingin menjadi orang kaya, makannya mereka berani berhutang padamu, dan kamu tau kenapa aku tidak akan melepaskanmu."
"Sial, aku menghindarimu padahal diriku berhutang padamu, bagaimana aku melunasinya, uang sepertinya bukan alasan utama bagimu menemuiku, gembel yang sudah siap menjadi pemulung," gumamku.
"Kau milikku," ucapnya yakin.
"Aku adalah barang?" Tanyaku.
"Yah... kau adalah milikku baru semuanya akan kembali seperti semula." Ucapnya.
"Bisakah aku memikirkan sejenak, sebelumnya aku belum pernah menceritakan bahwa aku memiliki tunangan dan bulan depan kami akan segera menikah."
Penjelasanku, membuatnya terdiam sesaat.
Kemudian dia mendekatiku, "aku pastikan dia hilang secepat mungkin."
"Siapa sebenarnya kamu?" tanyaku.
"Aku kembaran Daddy-mu, namaku Banyu Abhimata Adipratama, dan Daddy-mu, Bayu Abhimata Adipratama."
"Panggil aku Ben," gumam Banyu.
"Jauh banget sama nama aslinya," gumamku.
"Banyu... boleh aku manggil kamu gitu?" tanyaku pelan.
Dadaku terasa sesak, pusing menyeruak menguasai hati yang kembali tersengak. Apa gerangan yang terjadi padaku.
"Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Banyu. Sepertinya dia tau bahwa dadaku terasa sangat nyeri.
"Berapa usiamu?" tanyaku.
"Mungkin 40 tahun," jawabnya dengan santai.
"Apakah masih bisa menghamili wanita?" tanyaku.
"Jelas aku masih normal," gumamnya dengan santai. Sesaat dadaku sesak, bagaimana aku bisa ceroboh, bahkan aku lupa kapan terakhir aku menstruasi.
"Semoga aku tidak hamil anakmu," gumamku.
"Cara untuk melunasi hutang-hutangmu adalah hamil dan melahirkan anak kembar untukku," gumam Banyu.
"APA?" Teriakku.
"Ayoo kita pulang," ucap Banyu.
"Jangan sekarang, aku masih sangat lemah," gumamku parau.
"Kau hamil, makannya kau lemah," bisik Banyu membuatku terkejut.
"Bagaimana ceritanya aku bisa hamil? Bahkan kita baru melakukannya kemarin, dua hari yang lalu," gumamku.
"Itulah kenyataanya,"gumamnya.
Astaga kecerobohan apa lagi yang aku lakukan. Bagaimana ketika masa ini terjadi sesuatu padaku, aku sempat membaca di internet bahwa orang hamil sangat cerewet, lalu bagaimana dengan aku? Siapa yang akan mengerti posisiku?
Aku terdiam sejenak.
"Apakah kita akan menikah?" tanyaku.
Dengan cepat Banyu menggeleng, "Aku telah memiliki tunangan," gumamnya.
Aku berusaha duduk, memandangnya dengan tatapan tak menentu, aku bahkan lupa bagaimana wajah terakhir Daddy dan Mommyku.
Banyu mengangkat tubuhku, keluar dari ruangan inap menuju mobil. Dan aku masih diam terpaku.
Ponsel jadulku berdering sejenak lalu mati.
"Aku tidak tau," gumamku pelan.
"Kau tidak ingin mengangkatnya?" ucap Banyu.
"Diam dan pergilah, aku lebih suka kau dingin dari pada hangat yang menyebalkan," gumamku.
Banyu diam, dan aku tenang.
Berusaha menerima kenyataan bahwa aku adalah wanita murahan. Mudah di cumbui seorang laki-laki. Hanya karena stres aku berubah menjadi pecandu minuman keras, padahal aku terlihat lugu dan polos.
Mobil melaju dengan kecepatan luar biasa, membelah kota, melewati perumahan, mall, terminal hingg sampailah di sebuah hutan.
Aku diam memandang sisi kiri dan kanannya. Hutan yang basah namun tenang. Damai dan tidak akan ramai kecuali kala ada acara perkemahan.
Hingga entah sejak kapan aku terlelap. Mungkin karena di luar hujan turun semakin deras atau karena aku juga malas mengatakan apapun pada pria aneh di sampingku.
"Mimpi indah," bisiknya, lalu dengan pelan mengecup keningku.
Aku mungkin akan di bawa ke tengah hutan. Rumah persembunyian yang aman. Agar tunangannya tidak tau di mana keberadaanku dan tidak menganggu perkembangan kehamilanku.
Aku berusaha menyamankan tubuhku walau nyata tidak nyaman sama sekali. Hingga aku terlelap semakin dalam.
"Bereskan rumah," ucap Banyu.
Menggendong seorang wanita lemah yang terlelap.
Dengan lembut meletakkannya di atas kasur, lalu meninggalkan ruangan itu.
"Aku yakin tadi ada yang mengikutiku, jadi jangan ada yang boleh masuk ke rumah."
Banyu masuk ke dalam kamarnya sendiri, membersihkan badannya, kemudian terlelap. Sepertinya dia sudah cukup tersiksa beberapa hari ini tidak tidur dengan layak.
Tiara bangun, sedikit terkejut akibat mimpi terpeleset.
"Aduh... aku di mana lagi?" Tanya Tiara.
Perlahan dia turun dari tempat tidur, sepertinya hari sudah mulai sore. Tiara membuka jendela paling besar yang berada di kamar itu. Lalu menatap pepohonan yang sedikit kemerahan karena terpaan senja.

"Indah," gumam Tiara.
"Tidak seindah dirimu," bisik Banyu. Entah sejak kapan berada di belakang Tiara.
"Maaf... aku menganggumu," gumam Tiara.
"Aku tidak merasa di ganggu olehmu," bisik banyu.
"Ini rumah siapa?" Tanya Tiara sedikit kaku.
"Rumahku, kamu akan tinggal di sini untuk banyak hal yang telah aku pertimbangkan," jelas Banyu.
Tok tok tok
Ketukan pintu membuat Tiara mengalihkan pandangannya dari senja beralih ke pintu.
"Masuk," gumam Banyu.
Ceklek
"Sayang... kau sudah seminggu sulit aku temui," ucap seorang wanita cantik yang langsung memeluk dan bergelayut manja di sisi Banyu.
"Bella... apakah kau lupa ucapanku terakhir ketemu," ucap Banyu.
"Sayang... kamu bercanda kan?" Ucap Bella.
"Aku serius," gumam Banyu.
"Tapi pertunangan kita telah di laksanakan dan pernihakan hampir selesai persiapannya," jelas Bella.
"Akan aku lunasi semuanya," gumam Banyu.
"Ini bukan masalah uang sayang, ini masalah bayi dalam kandunganku," jelas Bella. Membuat Tiara terkejut, ada rasa nyeri ulu hati yang berkepanjangan.
"Hamil?" tanya Banyu.
"Ya... aku hamil anak kamu!" teriak Bella.
"Lahirkan anak itu dan berikan padaku, aku akan memberimu banyak uang dan ketenaran," gumam Banyu.
Deg
Dada Tiara sontak seperti berhenti berdetak.
Tanpa mengatakan sepatah katapun, Tiara berjalan meninggalkan kamar itu. Dia benar-benar tidak tahan mendengar percakapan mereka. Pikirannya kalang-kabut banyak hal buruk yang menghantuinya tanpa bisa di jeda lagi.
Sesampainya dirinya di lantai bawah, kakinya menuju taman yang tidak terawat. Senyum mengembang, tangannya mulai mencabuti rumput liar yang menutupi banyak bunga di sana. "Aku akan merawat kalian," gumam Tiara.