Me And Daddy

Me And Daddy
Episode 28



Pov Tiara


Mukaku terasa kaku, entah berapa banyak airmata yang tumpah dari sudut-sudutnya. Aku mengenggam tangan Banyu erat-erat berharap ada keajaiban datang atau Tuhan bermurah hati menyatukan kami kembali. Fenzo terus menatapku, membuatku sungguh tidak nyaman.


"Pergilah... Aku akan menjaga dia sepanjang waktu," ujarku.


"Bagaimana jika terjadi apa-apa denganmu dan anakmu?" pertanyaan itu sontak membuat terdiam sejenak.


"Aku akan baik-baik saja," gumamku.


"Kata siapa? Kau sejak tadi belum berhenti menangis, tangisanmu hanya akan membuatnya tertekan," ujar Fenzo, sembari menyilangkan tangannya.


"astaga! Aku bahkan tidak percaya punya kakak yang sama sekali tidak peka," gerutuku.


Fenzo hanya tersenyum datar.


"makan dulu," ucap Fenzo.


"Aku tidak lapar," ujarku dengan sedikit mengerucutkan bibirnya. Entah kenapa beberapa hari setelah aku sadar, ada hasrat ingin sedikit di manja.


"Mau apa Pizza atau nasi padang, nasi goreng, bakso, mie ayam eh kalau ini kayaknya jangan dulu deh," ujar Fenzo.


"Aku maunya Mie ayam jika tidak, aku bakalan ngambek sekarang," ancamku.


Tok tok tok


Ketukan pintu mengejutkan Fenzo. Ruangan Banyu yang standart tinggi sungguh sangat nyaman, ada sofa yang cukup besar cocok untuk tempat tidur darurat.


"Apakah kau memanggil seseorang?" tanyaku.


"Iya... Sebentar," ucap Fenzo.


Dia keluar, lima menit kemudian diam masuk dengan beberapa kotak makanan.


"Makanlah," ucap Fenzo.


"Aku mau mie ayam," ujarku.


"Bukan aja dulu, kamu akan tau seberapa besar PEKAKU dengan dirimu," ucap Fenzo. Dengan gaya sok Cool membenarkan kerah stelan jasnya.


Aku memutar bola mataku, tuhan sabarkan aku menghadapi pria yang kehabisan obat ini. Doaku dalam hati.


"Mie ayam, mie bledekz, mie lidi," ujarku dengan semangat.


Tanpa menatap aku langsung melahap semuanya tanpa menunggu jeda. Mungkin memang benar, cara ampuh untuk bahagia adalah berjuang, tidak boleh mengeluh apalagi pasrah.


"Aku pasti kuat," gumamku kemudian.


Fenzo menepuk pundakku, "Aku yakin adikku sangat kuat," bisik Fenzo.


Aku mengangguk setuju.


####


Tidak terasa usia kehamilanku menginjak 4 bulan, kandunganku sehat dan mulai bergerak, sungguh aku bahagia.


Banyu sama sekali belum sadar, bahkan dokter menyarankan padaku untuk membiarkannya tenang. Seperti kali ini saat  aku di panggil ke ruangannya.


"Kenapa?"


"Apakah anda sudah memikirkannya? Sungguh tidak baik menunda pekerjaan yang sangat mulia."


Tanganku mengenggam erat.


"Aku tidak setuju."


"Kenapa?"


"Usahamu yang harus di perhitungkan, kamu seorang dokter yang harusnya menyelamatkan nyawa."


"Aku sudah berusaha,"


"Berusaha? Mana usahamu, bahkan hingga detik ini suamiku masih berjuang matian-matian untuk bertahan dan kau mematahkan harapan."


"Jika dia ingin membuka mata, apa susahnya tinggal buka mata," ucap Dokter dengan sangat Ringan.


"Lagian itu karma untuknya karena dahulu membunuh saudara kembarnya," lanjut Dokter.


"Makannya jangan suka merebut harta oranglain," ucap Dokter itu.


Sungguh aku masih berusaha bertahan untuk diam.


Dengan ekspresi sedingin mungkin aku berdiri, menyilangkan tanganku dan menatapnya dalam diam.


"Apakah kau berani memecatku? Hahaha... Hahaha... Hahah," ujar Dokter itu sembari tertawa.


Aku tersenyum singkat," Maaf orang yang tidak punya Etitude yang baik tidak berguna untuk kami, kamu hanya akan mengotori kesucian rumah sakit yamg di bangun oleh Mommy dan Daddyku, dengarlah baik-baik, aku anak mereka tentu aku sudah tau kebusukanmu sejak awal," ucapku lalu menjauhkan tubuhku dari ruangan busuk itu.


Dokter terlihat mematung tidak percaya.


"Jangan remehkan amarah orang diam,"


Fenzo lama tidak pernah menemuiku lagi, hanya beberapa bodyguard dan asistennya yang datang memberikan baju ganti atau sekedar makanan.


"Aku yakin... Kamu pasti akan kembali, jika kembali jangan menyakiti lagi, karena mungkin maafku telah hilang bersama sepinya hati," ujarku, sembari mengenggam tangannya. Kadang jika bayi dalam kandunganku bergerak, dengan cepat aku menarik tangannya, lalu membiarkan tangannya berada di atas perutku.


Malampun tiba entah kenapa aku memimpikan Mommy, lagi dan lagi.


Dalam mimpiku.


"Sayang... Selamat ya kamu pasti akan bahagia, sebenarny Fenzo hanyalah anak Mommy, Mommy menikah dengan Daddy saat Fenzo masih belum mengerti hubungan kami,"


"Tapi kenapa kamu membedakannya?"


"Karena memang kami sangat mudah mengambil perasaan kamu,"


"Lalu bagaimana dengan dia? Apakah kalian pikir aku akan bahagia, aku sungguh kasihan dan menyalahkan diriku, lihat banyak yang menderita, bagaimana dengan Hany yang buta akan kekuasaan akan balas dendam?"


Aku sungguh tidak pernah berpikir bahwa ibuku akan tersenyum bangga.


"Tugasmu untuk menyatukan mereka," ucap Daddy.


"Tugasku adalah membangunkan Banyu,"


"Banyu akan bangun ketika kamu bahagia,"


"Apakah aku belum bahagia? Atau aku harus pura-pura bahagia di hadapannya, berlaku munafik demi kebanggaan seperti kalian!"


Sungguh semuanya keluar sekarang, inilah yang terjadi pada keluargaku, dendam, amarah, ketidak adilan, egois dan juga gila akan kekuasaan membuat semuanya benar-benar buta.


"aku pergi," gumamku.


Aku memaksa diriku sendiri membuka mata, memutuskan mimpi yang bagiku sudah tidak ada gunanya lagi.


"Tugas," geramku.


"Biarkan mereka mendapatkan apa yang mereka mau," ucapku.


Tittt tiitt tiittt


Bunyi alat itu seakan sangat menenangkan untukku, bagai alunan musik klasik yang sangat memukau.


Ti tit tit tit tit


Suaranya seirama dengan detak jantung yang aku rasakan. Dengan pelan aku naik di atas ranjang milik Banyu, aku rinfu pelukan hangatnya. Aku rindu rasa cemburu yang diam-diam membangkitkan amarahnya. Aku rindu sikap plin plan dan rasa penyesalan yang mendalam miliknya.


"Banyu cepatlah sadar," bisikku kemudian terlelap dalam pelukannya.


###


Hany berusaha mati-matian untuk keluar dari rumah Fenzo, dia merasa sangat menyesal dengan apa yang dia lakukan kemarin, namun dia juga tidak suka dijadikan tawanan untuk tikus nakal yang sempat menggigit ujung jari tangannya hingga kukunya patah.


"Kau mau kemana," ucap Fenzo saat melihat Hany mengendap-ngendap keluar.


"Aku mau pulang ke rumah," ucap Hany.


"Rumahku sudah aku sita, rumah yang mana lagi," ucap Fenzo.


"Rumah ibuku di dekat kuburan,atau mungkin aku akan menggali kuburan untukku tidur," ucap Hany.


"Kau bisa bekerja? Sebagai pelayan," gumam Fenzo.


"Lebih baik aku pergi dari pada harus melayani pria tidak berperasaan sepertimu," ucap Hany.


Masih ada semburat sesak yang menyeruak tenang dalam hatinya, anak yang tidak berdosa telah menjadi korban untuk sebuah keegoisan dan kemunafikan. Lalu hubungan mana lagi yang harus Hany pertahankan dalam istana yang penuh penyiksaan ini.


"Aku pergi dan jangan halangi aku, tenang saja aku hanya mengambil barangku sendiri, tanpa uang sekalipun aku bisa hidup, sudah menjadi tanggung jawabku untuk menebus semua kesalahan dengan mengalah, jaga Tiara baik-baik karena permata yang langka terlihat biasa, nyatanya mempunyai nilai istimewa," ucap Hany.


Berjalan menenteng tas besar meninggalkan rumah Fenzo. Padahal hari sudah mulai malam.


Fenzo terlihat menatap Hany, tersenyum datar lalu pergi ke kamarnya. Besok dia harus melihat sendiri kondisi adiknya.


Tbc (doakan author lancar hapalan bahasa yang, biar tetep boleh buat cerita🙏🙏🙏🙏❤❤😢