Me And Daddy

Me And Daddy
Episode 27



"Apakah ada obat penghilang ingatan," ucap Fenzo.


Dokter diam, menggeleng pelan. Sebenarnya ada serum untuk membuat Tiara lupa ingatan, namun bukan seorang Dokter jika menyarankan untuk melakukan hal yang sama sekali tidak peduli dengan keadaan pasiennya.


Fenzo menghempaskan tubuhnya kasar, bagaimana... Melihat Tiara yang begitu kekeh memanggil Banyu bahkan dalam keadaan seperti ini, membuat Fenzo pusing dan binggung. Pilihannya jatuh antara membiarkan Tiara seperti ini atau membiarkan dia bahagia bersama Banyu.


Fenzo mendeal nomor yang berada di salah satu kontak hpnya.


"Carikan informasi tentang Banyu, secepatnya," ucap Fenzo. Tanpa menunggu jawaban Fenzo mematikan teleponnya.


Dua jam kemudian Fenzo keluar dengan tenang. Tidak peduli hari menunjukkam pukul 3 dinihari.


Diskotik Fenzo adalah club baru miliknya, Fenzo masuk di sambut musik yang berdetum begitu keras.


"Hay," sapa seorang Pria tampan.


"Apa yang mau kamu omongin," ucap Fenzo.


"Informasi terakhir bahwa bisnis Banyu mulai bangkit karena bantuan Dave," ucap Pria itu.


"Ayolah informasi recehan yang kau berikan, sungguh membuang waktuku jutaan miliar," gumam Fenzo.


Pria itu tersenyum pelan lalu membisikkan banyak hal tentang Banyu, hampir 10 menit dia fokus menceritakan apa saja Informasi yang dia dapatkan.


Fenzo mengangguk dan langsung pergi meninggalkan Pria itu.


Sebelum pergi Fenzo melemparkan amplop coklat, "Kerja bagus," gumam Fenzo.


###


Tiara membuka matanya, lalu dengan pelan duduk dengan menyandarkan tubuhnya ke kepala ranjang.


"Banyu... Jemput aku," gumam Tiara.


"Jemput aku! Kamu janji bakalan jemput aku sekarang, tak apa jika kau hanya menginginkan anakku, yang pasti aku tetap bersamamu," ucap Tiara.


Fenzo melangkah dengan pelan bahkan tanpa suara menuju kamar Tiara, setelah penjelasan panjang lebar kali tinggi ternyata ada banyak hal yang Banyu lakukan untuk menyelamatkan Tiara. Di mulai dengan pemaksaan untuk mendonorkan darahnya padahal kondisinya sangat lemah. Hingga mendonorkan ginjalnya kepada Tiara.


Fenzo berjalan mendekati Tiara yang menangis.


"Apakah kamu masih bersikekeh umtuk bertemu dengan Banyu, dia sudah membuangmu," ucap Fenzo.


"Aku mencintainya," gumam Tiara.


"Bahkan jika kau kahilangan aku?" tanya Fenzo.


"Aku sudah kehilangan semuanya bahkan keperdulianmu padaku," jawab Tiara.


"Kamu sama sekali tidak kehilangan apapun," bisik Fenzo.


"Tidurlah, besok hari beratmu akan di mulai," lanjut Fenzo.


Tiara menahan tangan Fenzo, "boleh aku meminta satu permintaan untukmu atau padamu sebagai adik."


Fenzo mengerutkan keningnya.


"Apakah itu? Jika aku bisa pasti aku akan melakukannya," ucap Fenzo.


"Hentikan hobbymu mempermainkan perempuan sungguh hidupmu akan lebih mengerikan dari yang kamu bayangkan," ujar Tiara.


Fenzo menghela napas berat.


"Jika dia kembali, aku akan berubah seluruhnya," ucap Fenzo.


Setelah Fenzo lenyap dari pintu, Tiara menundukan kepalanya tadi.


"Apakah kamu masih berharap Mommy hidup kembali, kalian tetap berada pada jalur yang mengerikan bagai sepasang rel kereta yang satu tujuan namun sama sekali tidak bisa menyatu," ucap Tiara.


Sinar matahari, menerobos dengan pelan. Menembus tirai tipis. Tiara begitu menikmati cara terhangat untuk mengawali harinya.


"apakah ini hari yang membahagiakan," ujar Fenzo yang datang menemuinya.


"Iya... Aku sangat bahagia," ucap Tiara.


"Mandi lalu bersiaplah sarapan, jika butuh bantuan jangan sungkan, kau putri raja dan aku ayahnya," bisik Fenzo.


"Aku bisa sendiri," ucap Tiara. Berjalan lambat menuju kamar mandi.


###


Tiara keluar dengan menggunakan kemeja biasa dengan celana kulot panjang khas anak jaman sekarang.


"Kamu sangat cantik," ucap Fenzo.


"dia memang sangat cantik," ucap Hanny.


"Sepertinya sebentar lagi ada yang rujuk nih," ejek Tiara.


Hany diam, sedangkan Fenzo menyahutnya dengan tenang ,"Tidak ada dua kali dalam hidupku, aku hanya mencintai sekali dan untuk orang yang istimewa."


Tiara langsung tertawa, "Playboy kena azab kali ya, kehilangan orang yang dia cintai dengan mudah."


"Aku semakin mencintaimu," gumam Fenzo menatap Tiara.


Hany terdiam, memang pantas jika bidadari seperti Tiara banyak yang menginginkannya.


"Baiklah... Aku lapar," ujar Tiara.


"Terima kasih Paman," ucap Tiara.


"Paman? Aku ini kakakmu bukan adikmu," ujar Fenzo.


"Hehehe... Tapi aku lebih pantas sebagai kakak," ujar Tiara.


Hany tersenyum, ternyata bahagia itu sesederhana tertawa, tidak ada hal yang lebih menguntungkan selain berbagi hal yang menarik.


###


Fenzo menunggu hampir 20 menit di mobil, sedangkan Tiara sedang membeli makanan kecil sebagai buah tangan menemui Banyu.


"Kenapa lama sekali?" tanya Fenzo.


"Aduh... Pak direktur yang baik, kau sudah berjanji untuk tidak mengkritikku seperti netizen yang sok pinter padahal belum tentu mengerti, ingat semua orang punya kelebihan dan kekurangan."


"Iya Bu Ceo," jawab Fenzo.


Dengan gerakan cepat Tiara mengacak-ngacak rambut Fenzo.


"Iya kakak yang bawel," dengus Tiara.


"Adikku sudah dewasa rupanya," ucap Fenzo.


Tiara tersenyum sumringah, ada beribu bunga yang mekar dalam hatinya, walau pada akhirnya Fenzo benar-benar tidak bisa mengatakan apapun tentang kondisi Banyu malam ini.


"Apakah Banyu sudah tau tentang kamu?" tanya Tiara.


"Belum," jawab Fenzo.


"Bagaimana jika dia mengira aku adalah selingkuhmu atau kamu adalah selingkuhanku," gumam Tiara khawatir.


"Tidak akan," gumam Fenzo.


"Kenapa kamu sangat yakin?" tanya Tiara.


"Jika tanpa keyakinan kamu tidak akan mengerti bahagia yang berhasil kau ciptakan," ujar Fenzo.


Tiara masih menatap Kenzo dengan tatapan heran.


"IQ mu sangat tinggi," ujar Tiara.


"Dan hatimu sangat murni, perpaduan yang pas bukan?" ujar Fenzo.


Tiara mencubit pinggang Fenzo dengan kuat.


"Aw!" teriak Fenzo.


"Apanya yang sakit?" tanya Tiara dengan nada mengejek.


"Hatiku," bisik Fenzo.


"Ada pisau enggak ya?" tanya Tiara.


"Ada di dasbor situ," ujar Fenzo.


Dengan santai Tiara mengambil pisau buah yang masih terbungkus rapi.


"Sini... Aku mau ngambil hatimu," ucap Tiara.


Fenzo menatap Tiara, dia tidak percaya dengan ucapannya, hingga membuat Fenzo tertawa.


"Tertawalah aku pasti juga akan bahagia," gumam Tiara.


Sudah 20 menit mereka mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi.


"Masih jauh?" tanya Tiara.


"Sebentar lagi," ucap Fenzo.


'Kok sepertinya aku pernah ke sini?' guman hati Tiara.


'Maafkan aku adik manis, aku tidak tega menyakitimu namun masih saja memaksaku untuk mencarinya,' ucap Hati Fenzo.


Akhirnya mereka sampai di depan rumah sakit sangat besar, ternyata rumah sakit Banyu sangat besar dan juga mewah.


"Tetap berada di sampingku," ucapĀ  Tiara mengenggam erat tangan Fenzo.


Tangannya terasa sangat berkeringat hingga Tiara melepaskan genggamannya karena tidak mau membuat Fenzo tidak nyaman.


Mereka akhirnya menaiki Lift, dengan segera Lift naik menuju lantai paling atas.


"Apakah Banyu sedang sibyj menbuat laporan rumah sakit?" tanya Tiara.


"Mari kita buktikan," ucap Fenzo.


Dengan langkah cepat Tiara mengimbangi langkah panjang Fenzo dan sampailah di depan sebuah kamar kaca.


"Ini dia," ucap Fenzo.


"Ba...Banyu!" teriak Tiara. Dirinya tidak mampu menahan diri langsung menangis, sepertinya perasaanya kali ini benar.


Fenzo dengan sigap menguatkan adiknya.