
"Ada banyak hal yang membuat kita buta, mungkin juga menggila."
Cuplikan bahagia
"Tiara... gue sayang sama lo," teriakan dari microfon radio sekolahan sungguh membuah Tiara berjingkat kaget.
"Cie... cie Tiara," ejek Tania.
"Bukan aku kali ya," gumam Tiara.
"Lo enggak mau nih? Ini udah keseratus kalinya lo nolak dia lho," gumam Tania membuat Tiara membulatkan matanya.
"Aku nggak boleh pacaran sama siapapun," gumam Tiara.
"Lo udah dewasa Tiara... bukan anak kecil yang harus mereka jaga lagi!" teriak Tania.
"Gue bakal tetep nolak dia," gumam Tiara yakin.
"Lo enggak kasihan sama Dia?" Tanya Tania.
"Kalau kamu mau... ambil aja," gumam Tiara dengan pelan.
"Apa enggak sayang... lo bagikan ke oranglain?" tanya Tania.
"Tania... please... mood aku ancur banget lihat cowok kecakepan kayak dia enggak banget buatku," gumamku lalu pergi meninggalkan mereka.
Setelah meninggalnya Mommy, aku memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah. Usiaku masih terlalu mudah, kelas 3 SMA. Dengan modal keberanian dan juga kebencian teramat besar melihat Daddy yang gila perempuan. Aku ingat benar, kenapa Mommy meninggal, dia di dorong jatuh oleh pembantu yang masih telanjang, tubuhnya mengerikan. Badannya gemuk dan di penuhi lemak, masih cantikan Mommy yang rajin olah raga dan perawatan sekedarnya.
Daddyku tampan, jelas. Pengusaha kaya yang berhasil terbang berkat bantuan kerja keras tak kenal lelah Mommy. Memang benar, ketika kau di atas cobaan terbesarmu adalah Ego. Mommy yang setia menemani Daddy meninggal tepat di hadapanmu tanpa bisa aku menolongnya. Di racun sebelun akhirnya jatuh dari lantai dua. Aku saat itu memang tidak terlalu mengerti, namun semenjk itu juga harga diri Daddy di hadapanku lenyap.
Aku tinggal di petakan kecil apartement kumuh. Hidup dengan kemampuan dan mengasah keberanian sungguh membangkitkan gelora besar dalam hatiku. Gadis manja yang hampir saja tidak pernah bekerja keras, kini hilang menjadi gadis yang kuat.
"Mommy," gumamku, kala malam masih menghinggapi langit.
Mata sembab bahkan kadang bengkak bukan masalah yang besar untukku. Aku bekerja di sebuah kantor kecil, dengan gaji yang cukup untuk makan dan menyewa apartement. Terkadang aku bahkan harus menghemat demi banyak hal.
"Aku akan baik-baik saja," gumamku.
Selama ini aku belum pernah menemui Daddy atau anak buahnya. Biasanya jika aku pergi akan ada banyak pengawal yang mencariku, namun dengan posisi dan keberadaanku jauh dari kota. Mungkin mereka tidak akan menyangka.
Pagi ini aku sedang membersihkan kantor, ada foto Daddy di atas meja seorang Resepsionis.
"Hey... Babu! Ngapain lo lihat foto pengusaha kaya raya itu!" teriak Reni, Resepsionis yang mempunyai impian hingga ke langit.
"Maaf... Mbak," gumamku sopan.
"Maaf! Asal lo tau... Dia akan membeli perusahaan ini demi minang gue," teriak Reni sontak dadaku bergemuruh.
'Kenapa ini?' batinku.
"Owh... Semoga bahagia mbak, saya permisi," gumamku sopan.
Aku menunduk, melangkahkan kaki lambat, saat melihat foto Daddy. Suara desahan 2 tahun yang lalu terdengar kembali.
"Arrrrggggghhh!" teriakku.
"Tiara... Tiara! Lo kenapa?" Darren mendekatiku.
"Sepertinya aku kurang enak badan," gumamku.
"Tapi kita akan sibuk seharian," gumam Darren.
"Maaf Tuan," gumamku, aku tidak bisa bertahan lagi untuk saat ini.
"baiklah... Pulanglah," gumam Darren dengan pelan.
Aku melangkahkan kaki pergi, meninggalkan kantor dengan langkah seribu. Aku enggan mengingat lagi desahan itu, aku lelah jika harus menutupi semuanya sendiri lagi.
Sesampainya di rumah, aku menutup semua pintu dan jendela. Mematikan Handphone jadul yang memang tidak secanggih jaman sekarang, badanku terasa panas. Setelah mandi dan berganti pakaian aku terlelap dalam gelapnya suasana malam.
Tok tok tok
Pintu di ketuk dengan tidak sabaran.
Tiara yang tidur tanpa busana bergegas mengenakan baju.
"Siapa?" Tanya Tiara dengan pelan.
"Daddy," Tiara menghentikan aktifitasnya.
"KAU MEMBUNUH IBUKU! MOMMYKU! UNTUK APA KAU DATANG KE SINI. MESKIPUN AKU MISKIN SEKARANG TAPI AKU TIDAK AKAN KEMBALI," teriak Tiara dengan histeris.
"Sayang... biarkan Daddy masuk," ucap Pria itu dengan amat sangat menyesal.
"ENGGAK... DADDY PASTI MEMBAWA ANAK BUAH MENJENGKELKAN ITU... TIARA UDAH BERUSIA 20 TAHUN," teriak Tiara.
"Sayang... tenangkan dirimu," pria itu terlihat tidak berdaya.
Brrukkkk
Pria itu terjatuh, namun suaranya tidak keras hingga Tiara berpikir bahwa pria itu telah pergi.
"Sudah dua tahun aku meninggalkan rumah mewah yang bagiku lebih hina dari sampah," gumam Tiara.
"MAAF," desis Ayahnya.
"Maaf enggak akan mengembalikan Mommy, maaf enggak akan menyembuhkan luka dalam hati. Dan maaf hanyalah kata murahan yang mudah diucapkan," gumam Tiara.
Tiara meringkuk kembali terlelap, seperti biasa dia akan mengabaikan ayahnya. Dan keesokan paginya, samua berjalan seperti biasa.
"Mommy, aku sayang kamu," bisik Tiara. Kemudian terlelap masuk ke dalam alam mimpi.
Hingga keesokan paginya.
TOK TOK TOK
"Nak... buka pintunya! Ada pria pingsan di luar kamarmu!" teriak bibik samping rumah Tiara.
Tiara tinggal dalam petakan apartemen yang sederhana.
Ckik cklik
"Siapa?" tanya Tiara.
"Eh... Daddy!" teriak Tiara terkejut.
"Tolong bawa masuk, aku akan merawatnya dengan cepat," gumma Tiara.
Tetangganya dengan cepat menggendong Daddy ke dalam kamar.
Setelah berterima kasih dan meminta maaf karena merepotkan Tiara menutup pintunya.
"Daddy,"bisik Tiara.
"Astaga... demam," gumam Tiara, baju yang Daddy-nya kenakan basah kuyup.
Semalam memang ada hujan sangat deras dari sore hingga subuh.
"Maafkan aku... maafkan aku... maafkan aku," desis Daddy.
Tiara berusaha membuka baju Daddy. Hingga tidak ada busana yang melekat di tubuhnya. Kemudian mengambil baju ganti lalu mengenakannya dengan susah payah.
"Kira... Kira," gumam Daddy bangkit dari tidurnya. Lalu mencengkram erat Tiara.
Tangannya dengan lembut menekan payudara Tiara yang montok. Bibirnya melumat bibir Tiara.
"AKKHHHH," Tiara mendesah.
"Daddy... stop!" Teriak Tiara.
"AKHHH," desahan yang keluar dari mulut Tiara membuat kejantanan milik ayahnya berdiri tegak.
Plaakkkkkk
"KAU SELALU SEMAUMU," geram Tiara.
Deg deg deg
Tiara yang berlari masuk ke kamar mandi, merasakan dadanya berguncang hebat. Rasa yang benar-benar aneh.
"Apakah aku harus memaafkannya," gumam Tiara.
Aku membuka bajuku, menyiram tubuhku dengan air dingin. Entah bagaimana Daddy bisa tau bahwa pintu kamar mandiku sama sekali tidak tertutup sempurna.
"Sayang! Honey Daddy Rindu," bisikan itu sungguh sangat lembut.
Tangan kokohnya menyingkap pelan bibir vaginaku. Mempermainkan dengan pelan namun pasti.
"Ahhhh... No Daddy," gumamku.
"Please... No Daddy!" teriakku.
Daddy semakib gencar mengocok kemaluanku, entah kenapa rasanya sangat nikmat. Apakah karena aku baru pertama melakukannya?.
"Ahhhh... Daddy!" teriakku.
Lidah Daddy menjilat bagian titik-titik sensitifku, tangannya meraih buah dada jumboku.
"Hentikan," gumamku lemah.
"Atau aku akan membuatmu menyesal, yah mungkin bunuh diri," ucapanku.
Daddy menghentiken aktifitasnya.
"Tidak sayang... Jangan tinggalkan Daddy," bisik Daddy langsung memelukku.
"Aku masih perawan, jadi jangan nodai aku," gumamku. Sebelum akhirnya pingsan.