Me And Daddy

Me And Daddy
extra part 1



Oooeeekkk ooeeekkk oeeekkk


Suara tangisan itu menggema di lantai dua rumah Banyu. Membuat Tiara terhenyak, langung duduk bersiap untuk menghampiri pangeran kecilnya.


"Sayang... Biar bibik aja yang urus," bisik Banyu yang masih ingin mendekap Tiara dalam pelukannya.


Maksud Banyu, mengingatkan bahwa seharian Tiara mengurus anaknya sendirian, tanpa bantuan bibik apalagi Baby sister yang sengaja dia ambil dari agen tenaga kerja.


"sayang, dia bayiku dan aku akan melakukan apapun untuk merawatnya," bisik Tiara.


Tiara meninggalkan Banyu yang termenung. "Tidak salah aku memilihmu sayang," desis Banyu.


Banyu mengikut Tiara yang sudah sejak tadi meninggalkannya.


Banyu Pov


'Bahkan tanpa make up sekalipun, dengan rambut ikat asal, kau terlihat begitu sangat cantik,' batinku.


Aku masih mengintip di balik pintu yang terbuka sejengkal, dengan gerakan lembut istriku yang belum aku sahkan namun telah memberiku seorang keturunan tanpa mengeluarkan payudaranya lalu membiarkan putraku meminumnya. Sungguh diluar sana ada banyak wanita yang takut payudaranya kendor karena harus memberikan ASI esklusif pada anaknya.


Sedang istriku dia rela tengah malam bangun, untuk sekedar menenangkan buah hatinya.


"apakah kau tidak ingin melihat tampannya ketika terlelap bahkan aku telah jatuh cinta padanya," bisik Tiara.


Aku terkejut namun dengan santai aku menutupinya, senyuman mengembang.


"Aku lihat kau tidak bisa di ganggu," gumamku, aku memeluknya.


"Terima kasih, atas apapun yang kau lakukan pada pria plin-plan sepertiku," bisikku.


"Karena aku yang bodoh ini mencintaimu," bisiknya dengan teramat lembut.


Aku adalah pria yang paling bahagia mendapatkan wanita yang begitu mudah memaafkan kesalahanku yang tidak bisa di tebus.


Dia melepaskan pelukannya.


"Lihat dia begitu tenang ketika aku yang ada di sampingnya," bisik Tiara.


"Apakah aku perlu membuat pintu khusus untukmu cepat ke sini," tanyaku.


"Aku enggak apa-apa kok, sekalian diet," bisiknya.


Diet... Jangan! Aku suka badannya yang lebih berisi, dari pada kurus seperti kemarin.


"Kau sangat cantik seperti ini," bisikku.


Blush


Rona merah muda membuatku tidak kuasa menahan gejolak ingin terus menggodanya.


"Apakah malam ini boleh? Aku sudah menahannya cukup lama, bahkan anak kita sudah bisa tengkurap," bisikku.


Tiara berjalan menjauh dariku.


"Resmikan aku dahulu," ucapnya lalu berjalan meninggalkanku.


Sebelum pergi aku sempatkan untuk mengecup anakku pelan. Ya... Dia sangat tampan, karena diriku juga tampan.


Tiara rupanya terlelap, bahkan sebelum aku mengatakan bahwa rencanaku banyak, apalagi tentang pernikahan kita.


Pagi ini aku sengaja pergi dengan meninggalkan secarik kertas.


Dear sayang...


Ayah pergi selama 1 minggu


Urusan mendadak, jaga dirimu. Lope you.


Banyu


Aku merencanakan banyak hal yang pertama adalah mencari baju penganti yang pas untuknya.


Aku sengaja langsung terbang ke Prancis menemui sahabat lamaku, aku memesan satu gaun istimewa hasil desainku semalam.


"Wah... Sejak kapan pria kaku bisa menggambar seperti ini," ejeknya.


"Nataline!" gumamku.


"Iya, aku akan mengubahnya menjadi sebuah gaun yang istimewa," bisik Nataline.


Aku sangat puas mendengarnya.


"Kau selalu yang terbaik," bisikku.


Setelah berpamitan, aku dengan segera mencari tempat yang pas untuk acara sakralku mengikat orang yang paling aku cinta.


Setelah memilah akhirnya aku menempatkan tempat paling indah, yaitu Villa yang cukup jauh masuk ke dalam hutan, hutan pinus yang begitu memukau, dengan pesta ala Twilight film yang pernah aku tonton saat Tiara masih berumur belasan membuatku teringat ucapannya.


"Aku ingin pernikahanku seperti mereka," ucapnya dengan semangat.


Kali ini aku telah mencari banyak dekorasi tentang pesta taman yang indah untuknya.


Ponselku bergetar, sebenarnya sejak tadi, dan ini masih di atas pesawat membuatku dengan cepat mengabaikannya. 'Maafkan aku sayang,' desisku pelan


#####


Pov Tiara


"Oh... Tuhan aku bahagia, aku sangat bahagia, bagaimana mungkin si kaku mau mengakui kesalahannya begitu dalam, hingga membuatku blushing," batinku.


Mataku baru saja terbuka dan aku tidak menyadari bahwa dirinya tidak ad di sampingku. 'Kemana dia? Sepertinya dia tidak akan pergi sepagi ini,' batinku.


" Bryan Abhimata Adhipratama," panggilku. Dia adalah anakku, lebih tepatnya buah cintaku dengan Banyu.


Aku sama sekali tidak ingin bangun, berharap mimpi indah semalam datang kembali.


Aku mendengar suara tangisan, "Bryan," desisku.


Aku langsung bergegas ke kamarnya, mengikat rambutku asal dan mengendongnya.


"Apa sayang," bisikku pelan.


"Apakah haus?" gumamku lagi.


Aku segera duduk dan memposisikan tubuhku dengan nyaman, lalu mengeluarkan payudaraku, dengan rakus Bryan meminumnya. Tak lupa aku menutupinya dengan handuk kecil, aku ingat saat Bryan masih kecil dengan santai Dave masuk ke dalam kamar, untung saat itu posisiku menghadap keluar jendela, jadi hanya sebagian lengan atas yang terlihat.


Setelah itu Fenzo dengan cepat masuk dengan alasan merindukan keponakannya yang tampan. Aduh aku sebenarnya binggung, kenapa mereka selalu saja memperebutkan aku. Padahal mereka tau bahwa aku adalah istrinya Banyu.


"Pagi Honey," sapaan itu membuatku sedikit terkejut.


"Fenzo," gumamku.


"Apakah sudah makan?" tanyanya.


"Anakku masih minum keluarlah sebentar, aku akan menyusul nanti," ucapku.


"Aku lebih nyaman di sini," gumamnya.


'Oh Tuhan sekali lagi aku sungguh sangat muak dengan sikap pria ini, dia beneran kakakku atau jelmaan mantanku,' ucapku dalam hati.


"Apakah Hany baik-baik saja?" tanyaku.


"Iya, dia sudah kembali bekerja," ucapnya.


"Bekerja dan dengan bodohnya kamu mengizinkannya, harga dirimu hilang ya? Aku yakin harta kamu enggak akan habis bahkan ketika kamu punya anak tujuh sekalipun," terangku.


Dia hanya mengangguk.


"Astaga! Aku benar-benar heran denganmu," lanjutku.


"Heran kenapa?"tanyanya.


Aku membenarkan bajuku, kali ini Bryan bangun dan sudah kenyang, dengan pelan aku mengangkatnya lalu menepuk pelan punggung Bryan agar bersendawa.


"Tampan," sapanya.


"Iya aku tau anakku sangat tampan," bisikku.


Aku membiarkan Baby sister memandikan Bryan sementara aku juga harus membersihkan diri sebelum membicarakan banyak hal kepada si iblis satu ini.


20 menit


Aku keluar dari kamar dalam keadaan fresh.


"Eh... Aku hanya akan mengatakan jemput istrimu, bawa dia pulang dan katakan jangan pernah mengizinkannya bekerja, kalau tidak, sekali lagi jangan katakan aku Tiara jika tidak mampu membuatmu hilang kendali," ucapku.


Aku berjalan menuruni tangga meninggalkan Fenzo yang tersenyum kaku.


"Ayolah... Aku membiarkan dia bahagia dengan caranya," sanggah Fenzo.


"Ayolah... Aku tidak bodoh lagi, pergi dan bawa Hany kesini," ucapku.


Fenzo masih terpaku.


"Sekarang!" geramku, dengan sedikit melirik tajam ke arahnya.


Tanpa menunggu dua kali Fenzo langsung pergi meninggalkanku. Jangan panggil aku seorang Tiara singa jika aku tidak bisa menakhlukkan macan gila seperti mereka.


####


Setelah kejadian itu, keesokan harinya Fenzo datang bersama Hany yang begitu cantik.


Tiara sedang memandikan Bryan, membuat Fenzo dengan cepat menghampirinya, "pagi Honey," bisiknya.


"Astaga! Kau bersama istrimu dan aku adikmu," ucap Tiara.


Membuat Fenzo tertawa renyah, sedangkan Hany menatapnya dengan iri.


Nb: Komen ya jangan lupa