
Tiara melihat dari balik Tirai lantai dua, akan ada pesta megah nanti malam, terlihat banyak mobil hilir mudik keluar masuk gerbang. Pesta taman di tepi hutan, memakai beberapa pohon pinus yang asri untuk menyejukkan suasanya.
Tiara sudah buta, dia tidak perduli seberapa sakit hatinya kali ini. Kepastian utama adalah terus berada disamping anaknya.
"Sayang, Bryan jangan tiru ayahmu yang seperti itu ya," bisik Tiara.
Pov Tiara.
Aku melihatnya dengan jelas bahwa akhirnya aku kehilangan Banyu lagi, dia lebih mengutamakan wanita bodoh yang berani merebut suami orang. Ingin aku lari! Ingin aku mengutuk menyumpah serapahi mereka. Namun sekali lagi aku berada pada ujung tandu yang mengerikan, ada ribuan bahkan ratusan tombak yang siap mengantarkanmu pada kematian yang nyata.
Perempuan seperti apa aku ini, dua kali tersakiti namun masih bertahan berjuang disisi. Siapa aku ini. Malaikat atau iblis yang tidak tau diri.
Berulangkali tersakiti masih bertahan hingga detik ini, aku beberapa kali mencoba kabur, bahkan dengan cara yang mengerikan, aku sembunyi di dalam bagasi mobil saat perawat membawa anakku imunisasi namun sayangnya aku tertangkap dan sekarang aku di kurung bersama anakku di dalam kamar ini.
"Kau hanya boleh keluar saat acara tiba," ucap Banyu, aku melihat jelas rahangnya menegang menahan emosi yang hampir memberontak ingin keluar.
Aku hanya diam. Enggak menatap manik hitam yang semakin membuatku masuk kedalam pesonanya.
Bryan terlalu kecil untuk aku tinggalkan sendirian, ibu mana yang tega meninggalkan buah hatinya dalam keadaan yang penuh ancaman sekalipun. Begitu juga denganku, aku tidak akan melepaskan Bryan walau kelak Banyu menyuruhku pergi, aku tidak akan mau.
Tok tok tok
Ketukan pintu menyadarkan lamunanku.
Aku menatap pintu ternyata yang masuk Banyu dan Bella.
"Apakah kami menganggu," tanya Bella.
"sangat," jawabku dingin.
"Kami hanya ingin kamu hadir di pesta kami, nanti akan ada perias datang untuk membantumu berbenah diri, untuk sementara kamu bisa menggunakan kamar tamu untuk membersihkan diri," jelas Bella.
"Ya... Aku sudah menyiapkan baju dan perlengkapannya, Fenzo, Hany, Dave semua setuju untuk datang," ucap Banyu.
Aku hanya mengangguk pelan.
Melangkahkan kaki meninggalkan mereka yang tersenyum bahagia.
Saat memasuki kamar sebelah aku merasa ada aroma mawar menyeruak, serasa dadaku kembali sesak. Teringat bahwa aku dan Banyu sering mandi berdua dengan menggunakan sabun beraroma mawar yang pekat.
"Aku tidak suka aroma mawar," gumamku.
"Tapi kata Tuan Banyu, anda sangat menyukainya," jawab seorang maid.
"Aku tidak suka," geramku.
"Ini atas kemauan Tuan Banyu, beliau bilang, kalau anda menolak mungkin kejadian buruk akan menimpa anak anda, Bryan," gumam Maid tanpa ekspresi.
Astaga betapa geramnya aku padanya, pemilik dada bidang yang dahulu kokoh, ah bukan dahulu tepatnya beberapa hari yang lalu begitu hangat kini bagai dinding beku yang siap membunuhku dengan rasa dingin berkepanjangan.
Aku hanya diam, bahkan ketika ketiga orang maid membuka bajuku dan membersihkan seluruh tubuhku. Mataku mulai enggan menuruti hati yang tersayat-sayat pedih.
30 menit, acara ritual mandiku selesai, rasanya lebih baik aku mandi sendiri, mungkin hanya memerlukan 20 menit saja.
Aku di tuntun menuju depan cermin dengan memakai handuk, cukup panjang untuk menutupi bagian tubuh yang tidak seharusnya terekspos.
"Apakah aku harus dandan?" tanyaku.
"Tentu, anda harus berdandan, tuan Banyu berpesan untuk membuat Anda tampil lebih cantik," jelas Maid.
"Bukankah yang seharusnya tampil lebih cantik adalah Bella," gumamku.
"Bella juga sedang di rias di ruangan khusus, dengan Chaterine," jelas Maid.
Chaterine seorang perias yang sangat terkenal, sekali make up, biasa dibayar dengan patokan harga yang cukup fantastis.
Aku hanya mengangguk pelan.
"Berapa lama riasnya, Bryan belum meminum susuku," gumamku.
"Jangan terlalu menor," ucapku. Melihat aku sangat berbeda.
"Anda sangat cantik," ucap Maid.
"Kalau aku cantik, akan ada banyak pria yang berebutan," gumamku.
"Aku yakin akan ada banyak pria yang rela meninggalkan pasangannya demi anda," gumam Maid yang sibuk memoles wajahku.
Benar-benari amazing, wajahku yang biasanya tanpa polesan apapun, kini penuh polesan namun terlihat natural dan sangat pas.
"selesai, tolong bantu dia untuk memakai bajunya," ucap Maid itu lalu pergi meninggalkan kamarmu.
Baju? Baju seperti apa yang pantas aku kenakan, aku berpikir baju seputih saju, dengan banyak motif namun masih terlihat glamour sangat cocok untuk penampilanku malam ini.
Astaga! Gaun seindah ini? Bagaimana mungkin gaun istimewa ini untukku.
"Apakah ini gaunku?" tanyaku.
"Iya... Tuan Banyu meminta saya membantu anda memakaikan baju ini," ucap Maid.
"Sangat indah," gumamku.
Tiga orang membantuku mengenakan baju itu, lalu menata rambutku dan memberikanku sepatu berwarna senada.
"Ini pesta pernikahan Banyu dan Bella kenapa aku merasa, akulah pengantin yang sebenarnya?" gumamku.
"Anda bisa duduk sebentar, Nyonya Bella yang akan menjemput Anda," ucap Maid lalu bersiap meninggalkan kamar itu.
Ini sepertinya kamar yang sering digunakan Hany kala menginap dirumah Banyu, tercium samar bau parfum khas miliknya.
Mataku enggak berhenti menatap diriku dari pantulan cermin, "Cantik, tapi kenapa kamu masih terus mencari yang sempurna," gumamku.
Aku masih berjuang menahan airmataku, aku ingin mencari pria lajang kaya yang mau menikah denganku, mungkin dengan Dave yang terlihat lembut dan mengerti bagaimana posisiku.
Satu jam berlalu, ternyata senja mulai datang, bergantian malam yang temaram.
"Lama sekali," gumamku.
Ceklek
Pintu terbuka dan muncullan Bella dengan menggunakan baju tak kalah mewah.
Terlalu terbuka, namun cukup membuat mataku terpaku sesaat.
"Kau bertugas pengganti ibuku, aku dan Banyu belum menjelaskan semuanya, kau harus mengantarkanmu menuju altar belakang," jelas Bella. Posisinya menyedakepkan tangan dengan tenang.
"Aku tidak sudi," tolakku.
"Benarkah? Kau tidak sudi, maka kematian anakmu adalah imbalan yang pas," ucap Bella. Tidak ada nada ancaman namun ada semburat senyum licik. Aku benar-benar muak melihat senyumannya.
"Kenapa kau tidak menyewa seseorang saja untuk menjadikannya ayahmu," ucapku.
"Terlalu intim dan aku takut dimanfaatkan," jelas Bella.
"Cepatlah, jangan uji kesabaranku, karena aku bukan orang yang sabar," geram Bella.
Terpaksa, aku melangkahkan kakiku menuju tangga, jika bukan karena anakku Bryan aku yakin tanganku akan terulur.menjatuhkannya. Dan dengan senyum licik aku akan berkata bahwa dia sudah bosan hidup dengan Banyu. Aku ingin sekali saja Banyu kehilangan orang yang dia sayangi, dan dia merasakan apa yang aku rasakan saat ini. Dan untuk kedua kalinya aku tidak akan bodoh seperti ini untuk memaafkannya. Aku akan tersenyum manis lalu pergi meninggalkannya.
Tapi bisakah itu benar-benar terjadi, atau hanya sekedar ilusi dalam fiksi. persetan dengan hati yang tersakiti.
end pov Tiara