
"Tiara!" suara itu membuat Tiara bangun. Dia menikmati pelukan hangat, dari tangan yang kokoh dan posesif bahkan Tiara sama sekali tidak boleh banyak bergerak kecuali bernapas.
"Pagi sayang," sapa Tiara dengan lembut. tangan Tiara terulur menyentuh pipi orang yang sangat berarti dalam hidupnya.
cup
tangan yang sibuk mengelus pipi mendapatkan kecupan hangat dari pemiliknya.
"Aku bermimpi sangat aneh, kamu pergi dan tidak akan pernah kembali," bisik Tiara.
"Tenang sayang, aku kembali, menepati janjiku untuk selalu menjagamu," bisik Banyu. Dia adalah Banyu, belahan jiwa yang begitu menentramkan hati Tiara.
"Ahhhh," Tiara tersenyum. Pipinya memerah karena pujian Banyu, dia memang kembali. untuk menepati banyak janji yang belum pernah dia tunjukkan.
"Kenapa sayang?" tanya Banyu.
"Bayi kita menendang, aduh dia iri sama Ayahnya, manja terus sama Bunda," ucap Tiara kemudian tertawa. Itu salah satu alasannya. selain tersipu malu. Karena sekarang Banyu menganggapnya berharga.
Genap empat bulan berlalu dengan indah karena sebuah keajaiban. keajaiban yang bisa di ciptakan oleh orang yang istimewa. Tidak akan terjadi tanpa perjuangan.
Flashback
Fenzo menyuruh Dokter untuk pergi, sedangkan Dave duduk terdiam di dalam ruangan.
"Semoga keajaiban datang," bisik Dave.
"Semoga keajaiban datang," ucap Fenzo menatap iba Adiknya yang menangis dalam pelukan Banyu.
Tiara masih berada dalam pelukan Banyu, membuka kain penutupnya.
"Bangunlah sayang," bisik Tiara.
"Lihat anak kita menendang-nendang ingin kamu berjuang," bisik Tiara.
Dave sedikit terlambat menyuntikkan serumnya.
Dua puluh menit berlalu dengan kesia-siaan.
Hingga dua menit lepas itu.
Deg deg deg
Banyu memiliki detak jantung lagi.
"Banyu! Banyu! Bangun sayang," bisik Tiara.
Banyu membuka mata lalu tersenyum kaku.
"Kau sangat jelek ketika menangis," desis Banyu. Tangannya terangkat menghampus airmata Tiara.
Tiara dengan cepat mengecup tangan Banyu.
"Jangan tinggalkan aku lagi," bisik Tiara.
Banyu mengangguk pelan.
Fenzo sengaja memanggil Dokter.
"Dia sangat sehat, sungguh keajaiban Tuhan sangatlah luar biasa," bisik Dokter.
"Terima kasih," ucap Tiara.
Dua hari setelahnya Banyu boleh pulang. Tiara teramat bahagia seiring perkembangan Bayinya yang sangat pesat.
Flashend.
Tiara sedang membuatkan sarapan untuk Banyu.
"Sayang aku malas pergi ke kantor," ucap Banyu.
"Kenapa?" tanya Tiara yang sibuk mengoleskan selai di atas roti.
"Kamu begitu cantik," bisik Banyu.
Mengecup ringan lehernya.
"Tadi malamkan sudah," bisik Tiara.
"Aku merindukanmu," ucap Banyu.
"Apakah kamu bertemu Mommy dan Daddy?" tanya Tiara.
"Yah... Daddy yang mendorongku keluar dari sana," bisik Banyu.
Tiara tersenyum, berjalan ke dapur hendak membuatkan suaminya Kopi.
Prangggg.
Suara itu membuat Banyu segera berlari melihat keadaan Tiara, Tiara mencengram wastafer dengan kuat sembari memegang perutnya.
"kenapa sayang?" tanya Banyu.
"Sakit sayang," desis Tiara.
"Ayo kita ke dokter," gumam Banyu, dengan cepat mengangkat Tiara.
Sesampainya di rumah sakit Dokter meminta Banyu untuk menemani Tiara.
"Istri anda mau melahirkan," ucap Dokter.
"Tolong Bantu saya tenangkan pasien," lanjut Dokter.
"Sakit... Banyu... Sakit," ucap Tiara.
"Dokter... Operasi saja... Tolong operasi saja," ucap Banyu.
Tiara dengan cepat menggeleng, "Aku takut," bisik Tiara.
"Tahan ya sayang...," Bisik Banyu.
"Tarik napas... Keluarkan pelan-pelan," ucap Dokter.
"Tahan... Tarik napas... Tahan... Keluarkan,"
"Dokter... Dokter... Mau keluar," ucap Tiara.
"Eeeeeeggggghhhhhh," Tiara mengejan dengan sekuat tenaga.
"Oooeeeekkkkk.... Oooeeeekkk,"
"Selamat Bayi Anda sempurna," ucap Dokter.
"Selamat Bunda, Ayah sayang sama bunda," bisik Banyu mengecup wajah Tiara tanpa sisa.
"Tahan ya Ayah, tiga bulan, enggak dapat jatah," bisik Tiara.
Banyu mengangguk pasrah.
Bahagia itu adalah keajaiban dan keajaiban itu adalah perjuangan, sama seperti kisah Tiara yang penuh airmata namun menuai bahagia yang tiada ujungnya.
Banyu melihat putranya yang terlelap dalam pelukan Tiara. Begitu nyaman dan tenang.
"Apakah kamu sudah menginginkan adik lagi?" tanya Banyu.
"Jangan... Bunda mau besarin kamu dengan penuh kasih sayang dulu baru memikirkan adik," ucap Tiara.
"Aku mau," bisik Banyu.
Tok tok tok
Fenzo dan Hany tiba-tiba membuka pintu setelah mengetuknya.
"Selamat ya Tiara," bisik Hany.
Tiara mengangguk, "Terima kasih," bisik Tiara.
"Apakah Banyu jahat padamu, jika iya, aku akan memberikan pelajaran untuknya," ucap Fenzo.
"Tenang... Sepertinya singa dalam diriku sudah mulai bangun," ucap Tiara.
Hany tersenyum dengan bahagia.
"Maafkan aku telah membuatmu dalam posisi yang sulit, tapi tanpa aku melakukan itu aku yakin si enggak peka satu ini tetap aja egois," ucap Tiara.
"Aku tau kau selalu punya cara untuk membuat siapapun mengerti arti hubungan," bisik Hany.
Tiara mengangguk.
Fenzo berjalan mendekati Tiara lalu mengecup pelan pucuk kepalanya. "Selamat ya sayang, perjuanganmu tidak sia-sia," bisik Fenzo.
Banyu sedikit memandang tajam ke arah Fenzo.
"Why, this my girl," gumam Fenzo.
"Dia istriku," ucap Banyu.
Dave dengan khawatir langsung masuk ke dalam ruangan lalu memeluk Tiara. "Apakah ada yang sakit? Banyu menamparmu? Apakah dia gila?" tanya Dave.
"Apaan sih kalian, aku masih berdiri di sini berjuang setengah mati masih juga enggak di hargai," gumam Banyu.
Mereka semua tertawa. Banyu memang baperan, sangat mudah cemburu apalagi melihat Fenzo atau Dave memberi perhatian lebih pada istrinya. Secara Pria mana yang mau berbagi dengan siapapun terlebih orang yang sangat dekat dengan istrinya.
"Dia milik kita bersama," ucap Fenzo.
"Enak aja... Dia milikku, dia hanya Milik Banyu!" teriak Banyu.
"Hehehe... Awas kalau lepas akan ku jadikan dia milikku," bisik Dave. Membuat Banyu mengenggam erat tangan Tiara.
"Aku tidak sebodoh itu," gumam Banyu yakin.
'Aku akan menjaganya dengan nyawaku, karena aku sadar dia yang berharga,' gumam Banyu dalam hati.
'*Tidak akan pernah sekalipun aku menyia-nyiakan kesempatan terindah yang Tuhan berikan padaku, bahkan tidak akan ada lagi kesempatan untuk Dave maupun Fenzo mendapatkan Tiara. dia mililki dan selamanya akan menjadi milikku.' tekad Banyu dalam hati.
dia tidak akan kalah dengan rasa kasihan seperti sebelumnya. kebahagiaan lengkap sangat cukup untuk dia nikmati kali ini*.
End
**tunggu ekstra partnya ya
maaf jika ceritanya seperti gado-gado aku masih berlajar**.