Me And Daddy

Me And Daddy
Episode 11



Tiara meminta Sonya untuk menukar baju, ternyata Sonya memakai rompi anti peluru cukup tebal.


 


 


Tiara dengan santai memakai baju Sonya lalu menutup mulutnya dengan kain penutup kepala. Begitu juga Sonya, dia meminta Sonya memakai baju Tiara lalu menutup kepala Sonya.


 


 


"Kamu adalah Tiara," bisik Tiara.


 


 


Tanpa menunggu lama Sonya mengangguk, bak kerbau yang di cocok hidungnya. Sonya menuruti apapun perintah Tiara.


 


 


Tiara melupakan banyak hal tentang masalalunya, dunia gelap yang pernah dia selami hingga ke akar. Berujung dengan kematian atau bahkan pengunduran diri banyak pengusaha kelas kakap. Beberapa kali Tiara terlihat sangat tenang dan lihai dalam berkelahi.


 


 


"Di mana ruangan Sony?" tanya Tiara.


 


 


"Oh... nyonya Sonya, tuan Sony ada di atas seperti biasa," ucap pembantunya tanpa curiga.


 


 


Tiara hanya mengangguk, menyeret Sonya yang terdiam tak berdaya. Namun langkah Tiara terhenti ketika mendengar beberapa kali lenguhan.


 


 


"Siapa itu?" tanya Tiara.


 


 


"Itu adalah asisten Banyu, yang dengan bodohnya di jadikan tumbal untuk para bodyguard yang haus seks," jelas pembantunya.


 


 


"Bisakah aku membawanya?" tanya Sonya.


 


 


"Kemana?" tanya Pembantu.


 


 


"Aku sudah bosan dengan permainan lama, bukankah serum perangsang itu hanya mampu di hentikan dengan bersenggama atau dengan penawarnya satu banding tiga," ucap Sonya.


 


 


Pembantu itu hanya mengangguk. Membawa Hany yang setengah telanjang ke hadapan Tiara. Wajah Tiara menegang ketika Hany begitu kalap mata.


 


 


"Berapa dosis yang kalian gunakan?" tanya Sonya.


 


 


"Hanya sebotol," gumam Pembantunya.


 


 


Dengan santai Tiara yang menyamar menjadi Sonya menyeret kedua perempuan yang sama tidak berdaya.


 


 


"Hay Banyu," sapa Sonya dengan ceria.


 


 


"Sonya... akhirnya kau datang tepat waktu," gumam Sony.


 


 


Tiara mengangguk, sebenarnya sepanjang perjalanan menuju ruangan Sony, Tiara berhasil menyuntikkan obat penawar untuk Hany. Dan Tiara telah membuat kejutan besar untuk Sony. Bahkan tanpa Sony menyadari.


 


 


Sonya mulai merasakan panas berlebihan, tubuhnya menggeliat, "coba sentuh dia," ucap Tiara.


 


 


Sony menyentuh wanita yang sengaja kepalanya di tutup dan dia melenguh penuh dengan kehausan.


 


 


"Sonya!" teriak Sony saat mengetahui pasti bahwa mereka sedang bertukar peran.


 


 


"Sonya sayang... goda suamimu donx, suruh dia. Ngehamilin kamu," bisik Tiara.


 


 


Sonya mengangguk dengan cepat, lalu dengan langkah tegap menuju ke arah Sony yang berusaha menghindarinya.


 


 


"Biadap kamu Tiara!" teriak Sony.


 


 


Tiara membuka kain penutup matanya. "Biadab... yah.... kita sama," gumam Tiara.


 


 


Bleeeddduuuummm


 


 


Suara letupan yang lebih ke suara ledakan teramat besar berhasil membuat Sony menggeram. "Apa yang kau lakukan?"


 


 


Pertanyaan Sony membuat Tiara tertawa.


 


 


"Sudah waktunya kekuasanmu hilang, maaf... tapi kehancuranku adalah karenamu dan semua adalah ulahmu," gumam Tiara.


 


 


Banyu diam, tidak bisa berbuat apa-apa.


 


 


Hany yang mulai sadar melihat betapa besar usaha Tiara menyelamatkan mereka.


 


 


Bodyguard Sony dengan cepat menyerang Tiara. "Hany! Cepat selamatkan dirimu!" teriak Tiara.


 


 


"Banyu... Banyu!" teriak Tiara menyadarkan Banyu.


 


 


Blleeeddduuum


 


 


Bleeeddduuuummm


 


 


Bleeedduuumm


 


 


Tiga kali suara ledakan itu menggema, sepertinya ruang bawah tanah milik Sony telah lenyap. Tiara terluka cukup parah, namun berhasil melindungi area perutnya. Seluruh bodygoard terkapar, Sony dan sonya meneruskan senggama mereka dengan aman.


 


 


Hany menyelamatkan diri tanpa menunggu Banyu sadar.


 


 


"Banyu... sayang," bisik Tiara yang masih berjuang memapag tubuh banyu yang beratnya hampir dua kali lipat tubuhnya.


 


 


Tiara membuka pintu mobil, lalu mendudukan Banyu, kemudian, dirinya lari ke kursi kemudi. Waktu yang tersisa hanyalah dua menit untuk keluar dari kobaran besar milik Sony. Kehancurannya telah sampai. Itu semua karena keserakahannya sendiri.


 


 


Tiara menahan erangan, mencabut peluru yang sejak kapan bersarang di bagian lengan kanannya.


 


 


"Arrrhhhhggg," teriak Tiara.


 


 


 


 


"Apa ada yang sakit?" tanya Banyu.


 


 


Mereka telah berada di halaman villa. Namun Tiara tidak mempunyai tenaga lagi untuk mengangkat Banyu, tubuhnya yang mengucurkan banyak darah dan keringat. Sedang berjuang melawan sakit yang berlebihan.


 


 


"JIKA INI ADALAH AKHIRNYA.... MAKA JADIKANLAH AKHIR YANG BAHAGIA," bisik Hati Tiara.


 


 


Ini adalah awalan untuk sebuah hubungan yang belum pasti. Cobaan yang hanya bisa di lewati dengan perjuangan dan pengorbanan tiada henti.


 


 



 


 


Berulang kali Banyu mengernyitkan matanya. Ada sinar silau yang menganggu tidurnya. Memaksa dirinya untuk bangun dan melihat apa yang sedang terjadi.


 


 


Saat matanya terbuka, ada sesosok wanita dengan bibir memutih memejamkan mata.


 


 


"TIARA," teriak Banyu. Dia baru menyadari bahwa Tiara bersimbah darah.


 


 


Dengan langkah cepat Banyu keluar dari mobil, lalu membuka pintu kemudi untuk mengangkat Tiara.


 


 


"Jangan pergi," bisik Tiara pelan.


 


 


Mata Banyu lebih terkejut melihat Hany yang diam menangis.


 


 


Namun Banyu lebih memilih menyelamatkan Tiara terlebih dahulu, dibandingkan dengan bertanya pada Hany tentang apa yang terjadi.


 


 


Dengan telaten Banyu membuka seluruh pakaian Tiara. Ada beberapa bagian tubuhnya yang robek, yang paling parah adalah luka di lengan kanan, bekas tembakan.


 


 


Banyu yang dahulu pernah menjabat sebagai dokter dengan cekatan membersihkan luka Tiara. Lalu menjahit beberapa luka yang sekiranya butuh untuk di jahit. Setelah semuanya selesai Banyu mencoba melihat memalui USG apakah bayi Tiara baik-baik saja atau Tidak.


 


 


Betapa terkejutnya Banyu. Bayi dalam kandungan Tiara bahkan begitu sehat.


 


 


"Syukurlah," gumam Banyu. Setelah selesai menyelimuti tubuh Tiara.


 


 


Banyu turun, dengan pakaian yang berbeda untuk bertanya pada Hany tentang apa yang terjadi.


 


 


"Hany," panggil Banyu.


 


 


Hany menatapnya.


 


 


"Di mana seluruh pelayan kita?" tanya Banyu.


 


 


Hany menunjukkan ruangan pintu besar. Banyu dengan cepat membukanya. Dan mereka semua tergeletak bersimbah ciaran putih seperti susu yang hampir mengering.


 


 


"Apa yang terjadi?" tanya Banyu.


 


 


"Serum perangsang," gumam Hany.


 


 


"Apakah kau juga...," belum sempat Banyu mengatakannya.


 


 


Hanya mengangguk lalu berhamburan ke pelukan Banyu. Hany menangis.


 


 


"Hampir," gumam Hany.


 


 


"Maksudnya?" tanya Banyu.


 


 


"Aku hampir saja seperti mereka jika Tiara terlambat datang," gumam Hany.


 


 


"Bagaimana keadaan Tiara?" tanya Hany.


 


 


"Dia hanya butuh istirahat, bayinya juga sangat sehat," gumam Banyu.


 


 


Hany mengeratkan pelukannya.


 


 


Tiara mematung.


 


 


Obat bius yang Banyu berikan hanya berefek beberapa saat untuk dirinya.


 


 


Pandangan yang sungguh tidak ingin dia lihat, harus terus dia tatap tanpa mengelak lagi.


 


 


Tiara luruh, ada rasa utuh yang kemudian runtuh.


 


 


Banyu memeluk Hany dengan erat. Sedangkan dirinya yang berjuang mati-matian di biarkan berbaring sendirian.


 


 


"Apakah kau mencintainya?" gumam Tiara.


 


 


Matanya masih terpaku pada sosok Banyu, Hany masih terus menangis, membuat Banyu dengan berat hati membiarkannya terlebih dahulu.


 


 


Tiara, tidak mampu berbuat apa-apa. Dengan pelan mengelus perutnya yang masih rata.


 


 


"Sayang... kuatkan bunda ya, jangan buat bunda sedih apalagi berpikir untuk pergi jauh dari bunda," gumam Tiara.


 


 


Dengan langkah setengah menyeret, Tiara kembali ke ranjang. Namun saat tangannya berpegangan pada meja.


 


 


Pyyaaarrr


 


 


Sebuah vas bunga tanpa sengaja tersenggol oleh tangannya dan pecah berhamburan.