
Seseorang sedang duduk dengan tenang, dengan Hany yang kebingungan karena matanya di sekap.
"Siapa kamu!" teriak Hany.
"Siapa aku? Pertanyaan atau sekedar pernyataan," ucap Seorang Pria. Sambil memegang paras Hany yang begitu cantik. Gadis desa yang lugu, namun sungguh bodoh jika dirinya mampu terkecoh.
"Kau lugu namun hanya mampu jadi benalu," bisik Seorang Pria itu membuat Hany berulang kali mengepalkan tangannya.
"Hati-hati anak muda, kau bisa kram jika mengenggam terlalu dalam," ucap Pria itu kemudian tertawa.
"Kau akan menyesal! Banyu akan datang menyelamatkan aku!" teriak Hany.
"Apakah kau akan merebut suami orang? Udah enggak laku? Atau benar-benar ingin membangun Image terburukmu," gumam Pria itu.
"Bos... kenapa enggak kita lucuti aja tubuhny seksinya," ucap anak buahnya.
"Kamu suka penipu kedok benalu? Ambil kalau mau," gumam Pria itu.
"Maaf bos," ucap mereka serempak mundur.
Pria itu tertawa iblis, telah lama dirinya mengincar Hany. Siapa yang tidak mengenal siapa Hang, pelacur lugu, yang melakukan segala cara untuk menipu dan terus saja begitu. Mungkin takdir telah memberikan kekuasaan yang nyata. Dengan santai Pria itu mengirim foto Hany di sekap dengan kedua tangan yang masih terikat sempurna.
"Apakah sudah datang pangeran berkudanya," gumam Pria itu.
"Belum, sepertinya pangeran berkuda telah bersanding dengan permaisuri yang berkuasa," setelah mengucapkan kata itu Pria yang ternyata mengenakan topeng itu tertawa.
Brruuuaakkkk
Suara itu mengejutkan semua orang yang ada di sana.
"Kau datang juga Banyu," ucap Sosok itu.
"Ya... apa yang kau lakukan padanya!" teriak Banyu.
"Hanya bermain-main," ucap Sosok itu.
"Apakah kau melupakan apa yang terjadi dengan Bayu?"
Pertanyaan itu sontak membuat Banyu menegang, ada rasa kaku yang tidak sempat menyeruak. Ada rasa rindu yang tak kunjung berarak.
"Bayu yang kau pikir hancur karena ulah Bella."
"Bayu yang kau pikir serakah karena harta."
"Bayu yang hancur karena kehilangan Milla."
"Bayu yang bunuh diri, karena kepergian Milla yang dia anggap sebagai takdir."
"Nyatanya hanya provokasi dari pihak yang paling kamu percaya."
Sosok itu tersenyum sesaat.
Banyu terpaku, menunggu kelanjutan pengakuan sosok Pria yang sama sekali tidak dia kenali.
"Apa yang ingin kamu katakan? Kenapa kau menghentikannya," geram Banyu.
"Apa sekarang dirimu mengakui, bahwa kejadian yang mengganjal itu terjadi berkali-kali."
"Aw!" teriak Hany.
Membuat Banyu dengan segera menghampirinya.
"Dia tawananku, apa yang akan kau lakukan," geram sosok yang tadinya ingin membuka sebuah teka-teki yang tidak kunjung di temukan keganjilannya.
"Lepaskan Hany," ucap Banyu.
"Bagaimana dengan istrimu," ucapan Sosok itu mengingatkan Banyu tentang seorang Tiara. Yang begitu ingin berjumpa dengan kedua orangtuanya. Namun sayang, mereka telah pergi meninggalkan semuanya, dengan cara yang tidak wajar.
"Dia sangat baik," ucap Banyu.
"Apakah kau yakin?"
Pertanyaan itu membuat Banyu terus menatapnya.
"Aku sangat yakin," ucap Banyu.
"Hany atau Tiara," geram Sosok yang ada di hadapannya.
"Keduanya," ucap Banyu.
"Egois."
"Bukankah pria memang cenderung egois, kenapa harus munafik dengan tidak mengakui kesalahan," ucapan Banyu membuat Sosok itu tertawa lepas.
"Tiara atau Hany! Kau tidak bisa memilih keduanya, mereka berhak di hargai," jelas sosok itu.
Perdebatan tidak kunjung membuat Banyu sadar. Dirinya tetap kekeh ingin mempertahankan keduanya.
Dengan santai Sosok pria itu menaggapi serangan Banyu, namun dirinya malas membalas dengan melukai Banyu.
Setelah melepaskan tali yang mengikat tubuh Hany. Dengan cepat Hany berhamburan memeluk Banyu. "Jangan tinggalkan aku malam ini, aku takut mereka datang lalu memperkosaku," bisik Hany.
"Mari kita pulang ke rumahku, ada Tiara yang akan menemanimu,"bisik Banyu.
"Tiara... yah ini semua karena Tiara," ucap Hany.
Banyu terus menatapnya Hany.
"Apa yang kau katakan tentang istriku," geram Banyu.
"Sadarkan pak... dia bukan istrimu, dia adalah orang amnesia yang penyakitan berharap menjadi istrimu," ucap Hany.
"Seorang Banyu atau Ben tidak akan mau bersanding dengan Tiara, anak seorang pelacur jalanan yang mempengaruhi seorang Bayu, hingga membangkang perintah kedua orangtuanya," bisik Hany.
Tangan Banyu mengepal.
Ada dendam lama yang membara lagi.
"Apakah kau yakin?" tanya Banyu.
"Kalau kamu tidak percaya, pulanglah dan lihat siapa yang sedang tidur bersama Tiara," bisik Hany.
Dengan cepat Banyu mengajak Hany pulang ke rumah.
Perjalanan memang memakan banyak waktu.
'Kau akan tau sebenarnya kehancuran apa yang membuatmu benar-benar lupa, aku bahkan ragu kau masih mempercayaiku setelah pria misterius dengan jelas mengarahkan tuduhan padaku, nyatanya dirinya masih sangat mempercayaiku, kebanggaan yang tidak akan pernah aku lupakan,' bisik Hati Hany.
'Aku harus segera melindungi Tiara, dj milikku, tidak ada yang boleh memilikinya selain aku,' ucap Hati Banyu.
Tiara tampak gelisah, kepergian Banyu sungguh menyisahkan banyak tanda tanya besar. Kekhawatiran yang melebihi kehilangan dirinya terpancar jelas.
"Non... sudah malam kok belum tidur?" tanya Inah.
"Eh... Bik Inah, ini aku lagi nungguin Banyu, entah kenapa perasaanku enggak tenang," ucap Tiara.
"Istirahat Non, kasihan dedek Bayinya, Tuan biasanya akan pulang jam 12 malam mungkin sedang ada metting penting," ucap Minah.
"Mana mungkin! Dia sangat tau bahwa mana prioritas atau mana formalitas," ucap Tiara.
"Tuan sejak kemarin memang sangat binggung, keadaan Hany sungguh membuatnya bimbang, belum lagi Nyonya yang pergi tanpa meninggalkan pesan saat di bandara," lanjut Minah.
Saat mengingat kejadian itu ada rasa sakit yang menyeruak, Tiara memejamkan mata menahan airmata yang hampir saja jatuh.
Minah pergi begitu saja, setelah mengatakan betapa kacaunya Banyu saat melihat Hany menangis.
"Arrrgggghhh!" Teriak Tiara sambil memegang kepalanya.
Sakit seperti hantaman bola beton tepat mengenai kepalanya.
"Arrrggghhhh!" teriak Tiara sendirian.
Siapa yang akan menolongnya? Dia berada di lantai dua yang sepi dan juga cukup luas. Sedangkan Minah sudah cukup lama pergi.
Terdengar suara deruman mesin mobil, Tiara diam, berjuang untuk tidak berteriak lagi. Dia memilih duduk di atas lantai.
Langkah menggema antara hi heels dan sepatu bersautan menaiki anak tangga dengan terburu-buru.
"Tiara," panggil Hany.
Dengan usaha ekstra, Tiara tersenyum dengan lembut,"Hany," desis Tiara.
Dengan cepat Banyu menghampirinya.
"Apa yang kau lakukan di sini!" teriak Banyu.
Tiara terpaku diam, menahan sakit yang semakin sering menghantam kepalanya.
"Aku... aku tidak mengerti," desis Tiara.
"Apakah kau menyembunyikan banyak pria di sini!" teriak Banyu dengan amarah membara
Deg
"Apa yang kau katakan?" tanya Tiara.
"APA YANG AKU KATAKAN!" teriak Banyu dengan cepat menghampiri Tiara.
Plaaakkkk
Tamparan tangan Banyu mendarat tepat di pipi Tiara.
"Arrrrrggghhhh," teriak Tiara.
Sebelum akhirnya pingsan, jatuh ke lantai, sudut pipi Tiara mengeluarkan darah, dengan memerah pipinya karena kuatnya tamparan Banyu.