
Banyu dengan santai mengganti seluruh kode kunci rumahnya. Bahkan kunci brankas yang ada di kamarnya. Dia sangat hapal bagaimana Bella yang licik akan menghancurkan seluruh usahanya dengan mencuri berkas penting yang ada di dalam rumahnya. Bahkan uang milyaran rupiah ada di sana, namun sayang dia tidak akan terperdaya oleh Bella lagi. Cykup sekali dia pernah jatuh, sebenarnya bukan dirinya, Bayulah yang benar-benar hancur karena permainan Bella. Selama ini Banyu diam karena itu kesalahan Bayu sendiri. Bukan masalah berapa banyak, namun karena kecerobohan Bayu, seperti menggali kuburnya sendiri.
"Bagaimana keadaanya?" tanya Banyu saat dokter baru saja keluar dari ruang Tiara do rawat.
"Jika anda memilih, yang selamat, Ibunya atau anaknya?" tanya Dokter.
"Aku hanya mau keduanya, kandungannya harus selamat juga," gymam Banyu.
"Saya sedikit ragu, mengingat bahwa kandungan Tiara baru saja berumur beberapa hari," ucap Dokter.
"Aku yakin, kamu pasti mengerti pilihanku," gumam Banyu.
Dokter mengangguk pelan. Lalu Banyu mulai menyusun rencana untuk menghancurkan karir Bella yang tidak seberapa.
"Aku hanya membalas perbuatanmu padaku, bukan kesalahanmu padaku," gumam Banyu.kemudian tersenyum datar.
Rumah pinggir hutan yang lama tidak dia huni, memang sangat sepi, bahkan hanya ada satu satpam dan dua orang maid yang sering terlelap kelewatan.
Dokter keluar setelah tiga jam memperjuangkan keselamatan Tiara.
"Bagaimana keadaan mereka?" tanya Banyu.
"Mereka selamat," ucap Dokter dengan lega.
"Terima kasih... aku yakin bahwa kamu mengerti apa keinginanku," ucap Banyu. Menepuk pelan pundak dokter.
"Mohon bersabar, karena anda belum boleh menjenguk, menunggu dia sadar dulu," ucap Dokter sebelum akhirnya pergi meninggalkan Banyu.
"Tidak masalah," gumam Banyu. Matanya menatap lekat kondisi Kiara. Terbaring lemah tidak berdaya, dengan selang infus, bantuan pernapasan dan juga beberapa alat medis penunjang kehidupannya melekat.
"Semoga perjuanganmu tak sia-sia," ucap Banyu.
Dengan tegas, dia memerintahkan empat bodyguard untuk menjaga depan kamar Kiara. Keyakinannya semakin kuat ketika Bella gagal mendapatkan apa yang dia incar. Diam-diam Banyu memperhatikan Bella melalui CCTV yang terpasang di penjuru rumahnya.
"Ada kalanya... kamu harus benar-benar menderita," gumam Banyu.
Bella berlari dari ruangan satu ke yanglainnya. Mencari di mana letak kamar rahasia milik Banyu yang menyimpan banyak harta karun. "Di mana sebenarnya Iblis itu menaruh seluruh uangnya."
Bella masih terus mencari hingga pagi menjelang, beberapa pembantu yang sibuk membersihkan rumah Banyu heran dengan apa yang dia lakukan.
"Cantik... ngetop, eh tukang ngrebut laki orang," gumam Pembantunya.
"Huum, awas ya... hukum karma berlaku dengan amat sangat impas," gumam temannya.
Mereka menuju taman samping rumah. Betapa terkejutnya melihat ular yang mati tertebak.
Mereka berlari mencari tukang kebun, yang dengan senang hati membantu membuang bangkai ular. "Jelaslah banyak ularnya, wong pagarnya rusak dan juga dekat hutan."
"Gimana sih... enggak biasanya asa ular mati saat kami hendak membersihkan kebun," ucap Minem.
"Iya ih... ngagetin banget... kenapa juga harus ada ular saat kita masuk, untuk udah nati, kalau belum jadi kita yang mati," jelas Minah.
"Apaan sih... Tuan semalam menyelamatkan istrinya, dari pada Nyonya yang mati. Mendingan kalian."
"Awas ya... nanti enggak kami kasih jatah makan," ancam Minah.
"Hoalah Jo... Tejo... pelakor gitu apanya yang mau di awasi," gumam Minah.
"Kalau sampai dia lolos, maka kalian yang akan menanggung, aku enggak ikutan," ucap Mang Tejo. Lalu memulai pekerjaannya.
Banyu memang menyuruhnya untuk membersihkan taman yang hampir tiga tahun di biarkan terbengkalai. Untuk apa, menghidupkan taman itu sama saja membuka kenangan tentang sebuah kisah yang hongga kini melukai Banyu.
"Tumben... Tuan menyuruhmu membereskan taman ini, aku masih ingat tiga tahun yang lalau, Tuan marah-marah meminta kita membakar taman ini," ucap Minah.
"Hoalah Minah... namanya juga orang kaya, mau ngapain yang terserah dia... yang penting, kita dapat duit," ucap Minem.
"Iya udah... Nem... ayo bersihkan darah di dalam, pasti Nyonya trauma, kalau Tuan tau pasti kita di pecat," gumam Minah.
"Ayolah... mumpung masih pagi, makin banyak rejeki," gumam Minem. Meninggalkan Mang Tejo yang sibuk menyibak semak belukar yang begitu tebal. Walau sebagai sudah di cabuti Tiara sesungguhnya itu belum seberapa, mengingat rumah kaca yang cukup luas. Memang kalau malam terlihat begitu kecil, lama terbengkalai maklum saja jika keadaanya lebih mirip hutan.
Banyu memang tidak pernah lagi datang, semenjak Prahara besar yang terjadi tiga tahun yang lalu. Perpecahan, kehancuran dan juga permusuhan masih mendarah daging hingga waktu tak berarti lagi.
Bella pergi tanpa menghasilkan apapun. Hanya tersisa bara dendam yang sulit untuk padam dan dia tau kelemahan Banyu adalah gadis yang rupanya hamil itu.
Banyu masuk ke kantor walaupun semalaman dia tidak tidur. Keadaan Tiara sungguh sangat mengkhawatirkan setelah tiga kali kejang tanpa sebab. Namun tidak tersirat kesedihan dan kekacauan di matanya. Dirinya tetap tampan dengan setelan jas biru, yang sepertinya di jahit pas untuknya.
"Bagaimana keadaan kantor?" Tanya Banyu saat melihat Hany menghampirinya.
"Ada beberapa rapat yang harus anda hadiri, walaupun masih membahas masalah Bella yang sekarang berada dalam lindungan Sony," jelas Hany.
"Sony? Cepat sekali dia mendapatkan pohon baru, dasar parasit," gumam Banyu dengan tenang.
"Baiklah... atur jadwalnya dan kau harus ikut nanti," ucap Banyu. Sesaat sebelum masuk ke dalam ruangan.
Banyu mempelajari banyak hal, berbisnis adalah jalan utama kesuksesan baginya. Tidak ada yang mengerti bagaimana halusnya permainan Banyu dalam mengelabuhi lawannya. Tidak tanggung-tanggung, di usianya yang menginjak 35 tahun dia berhasil bekerja sama dengan banyak perusahaan besar. Usahanya sungguh bukan isapan jempol belaka, segala teknologi yang dia kembangkan dengan pelan, rapi dan melebihi harapan kerap menimbulkan pertanyaan. Bagaimana sempurnanya dirinya.
Jam 9 tepat Banyu sampai di ruang rapat dengan di temani Hany sekretarisnya.
"Selamat datang, Ben...," sapa Sony. Mereka berjabatan tangan.
"Sony," ucap Banyu dengan pelan.
"Kali ini akan menjadi hari yang berat bung," gumam Sony dengan bangga.
"Hariku lebih berat dari yang kau bayangkan," jawab banyu.
"Kau begitu sempurna, mana mungkin pernah menghadapi hari yang berat," Sanggah Sony.
"Owh... terima kasih pujiannya, aku senang kau mengakui bahwa diriky terlalu sempurna," ucap banyu.
Banyu menyadari, semenjak tadi Sony memancing dirinya untuk bercerita atau menceritakan tentang apa yang dia alami beberapa hari ini.
Rapat di mulai dengan keadaan tenang. Banyu tetap waspada walaupun keadaan selalu mengecohnya. Hingga saat sesi terakhir, Bella datang, menangis di pelukan Sony. Disaksikan banyak rekan bisnis Sony, Bella dengan terang-terangan menuduh Banyu menghamili serta menyiksanya.
"Drama yang sungguh memikat," gumam Banyu sebelum akhirnya pergi meninggalkan rapat itu. Karena memang rapat telah usai.