
Hany berjalan sempoyongan, rupanya luka dalam batinnya masih mengangah berdarah, "Apakah aku menyukai Fenzo?" gumamnya sembari memegang bagian hatinya yang nyeri luar biasa.
Akhirnya dia sampai di halte bus, jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Dua jam dia berjalan dari rumh Fenzo sampai di sini.
"Aku akan berakhir di sini," gumam Hany. Duduk tenang di kursi halte, dengan lampu yang kurang terang.
###
Tiara mondar-mandir tidak karuan, entah apa yang terjadi hatinya tidak kunjung tenang, akhirnya dengan berat hati dirinya harus meninggalkan Banyu sendirian.
Saat keluar ruangan, ada empat orang bodyguard dan satu wanita.
"Mau ke mana Non?" tanya Lisa, sekretaris kepercayaan Fenzo.
"Aku pengen beli makanan, tapi juga pengen keluar menghirup udara segar," ucap Tiara.
Lisa mengangguk, seolah mengerti.
Lalu berjalan mengikuti Tiara, namun pada saat itu juga Tiara menghentikan langkah, "Lisa... Biarlah aku pergi bersama supir," gumam Tiara.
"Baik Non, tapi jangan lama-lama karena Tuan Fenzo bukan orang yang tepat untuk berdebat," ucap Lisa.
Tiara hanya mengangguk pelan, "Aku memahaminya."
Setelah turun menggunakan Lift, Tiara langsung masuk ke mobil, "Pak... Ke Pekan Raya," ucap Tiara.
Letak antara Pekan Raya dengan rumah Fenzo cukup dekat, di sana ada banyak cemilan yang menggiurkan bahkan buka 24 jam.
Saat Tiara sedang memilih banyak makanan, entah kenapa dia mengambil beberapa botol susu segar, bukan hanya itu saja. Apa yang dia beli bukan yang pedas bahkan cenderung manis.
"Sudah Non?" tanya Sopir.
"Sudah," gumam Tiara.
Mobil melaju untuk kembali namun tanpa sengaja Tiara melihat keluar dari jendela. Melihat seorang wanita yang duduk di halte horor dengan diam.
"Pak berhenti," ucap Tiara.
Sopir tidak mendengarkan Tiara.
"Aku bilang berhenti!" teriak Tiara.
"Maaf Tuan Fenzo melarang Anda turun di sembarang tempat," ucap Supir.
"Hentikan mobilnya atau aku lompat," geram Tiara.
Supir dengan diam menghentikan mobilnya.
"Hany!" teriak Tiara.
Dan benar apa yang Tiara lihat, tengah malam Hany berada di halte dengan menenteng koper. "Apakah kamu di usir?" tanya Tiara.
Hany menggeleng.
"Masuklah ke mobil, biar supir yang membawa kopermu," gumam Tiara.
"Tidak Tiara, aku tidak mau kembali bersama orang yang sama sekali tidak menghargai keberadaanku," tolak Hany, mengalihkan pandangannya. Menyembunyikan airmata yang hampir tumpah.
"Apakah Fenzo menyakitimu lagi?" tanya Tiara.
Hany dengan cepat menggeleng, "Tidak... Dia sangat baik padaku."
"Benarkah? Aku tau seperti apa Fenzo, dia suka merendahkan orang yang menghianatinya tanpa sisa, dia akan terus seperti itu berharap mereka sadar, dirinya teramat kecewa," ucap Tiara. Akhirnya memilih duduk di samping Hany.
"Aku memang salah dan aku banyak salah," sanggah Hany.
"Apakah kamu pikir aku tidak pernah salah? Apakah kau pikir hatiku seperti malaikat? Aku juga sama sepertimu, hanya manusia biasa," gumam Tiara.
"Banyu membutuhkanmu," ucap Hany.
"Fenzo juga membutuhkanmu," bisik Tiara.
"Dia akan mendapatkan yang terbaik, kau tidak akan tau jika hanya menduga saja, aku di hadapannya begitu hina," gumam Hany.
"Kau salah!" teriak Tiara.
"Aku salah... Aku yang bersalah... Please katakan saja aku bersalah, katakan bahwa kau benar-benar bersalah," ucap Hany.
Dengan cepat Tiara menangkup wajah Hany dengan tangannya. "Kesalahan Fenzo lebih parah, dia membunuh bayimu, maka imbalan yang pas adalah dia harus menikah dan hidup selamanya bersamamu."
"Dia tidak pantas menerima hukuman dariku," sanggah Hany.
"Ayolah... Aku lelah berdebat dengan Hany yang lemah, ayo kita buktikan siapa yang akan menang, ketakutanmu atau percayaku," ajak Tiara.
"PAK! JANGAN SIBUK REKAM, ATAU AKU BANTING SEKALIAN AKU BUNUH DIRIMU KALAU BERANI MENGIRIMKAN PADA FENZO!" Tiara berteriak dengan lantang. Membuat sopir terkejut dan hampir saja menjatuhkan hpnya.
"Iya Non," jawab Pak supir.
"Masukkan koper ke bagasi dan kita pergi ke rumah Fenzo," geram Tiara.
Hany melangkah ragu.
"Kalau kamu ragu, pasti kamu kehilangan," bisik Tiara. Dengan senyum merekah mereka akhirnya masuk mobil.
Mobil melaju dengan kecepatan tinggi, "Apakah kamu sudah makan?" tanya Tiara.
Hany tersenyum, "aku baik-baik saja," gumamnya.
Dengan santai Tiara membuka susu yang dia beli tadi, dan sepotong roti, "Mau disuapi atau makan sendiri?"
Hany diam.
Dengan gerakan cepat Tiara memotong roti menggunakan tangan, lalu mendekatkan ke mulut Hany.
"Makanlah... Aku tidak menaruh racun pada makanan ini," ucap Tiara.
Hany membuka mulutnya, ada bulir permata menetes di sudut matanya.
"Maafkan aku Tiara... Aku... Aku... Aku telah banyak bersalah padamu, aku telah banyak mengubah jalan hidupmu, karena aku kehilangan semuanya, keluargamu, martabatmu dan banyak lagi."
Hany mengatakan itu sembari menangis.
"Itu sudah takdir, biarkan Tuhan yang mengatur, aku telah banyak belajar untuk ikhlas, walau masih sulit bahkan terasa sakit, aku masih berjuang," bisik Tiara. Sembari memeluk Hany. Tidak ada kejahatan yang sulit di maafkan ketika kita, hati dan jiwa mengatakan yang sebenarnya. Bahwa sejatinya manusia penuh salah dan dosa.
Mobil terparkir di depan rumah Fenzo.
Jam menunjukkan pukul 23.00 WIB.
"Fenzo sepertinya belum pulang," ujar Hany.
"Dia sedang gila karena memendam perasaan terlalu lama," gumam Tiara.
Setelah keluar dari mobil, Tiara dan Hany langsung menuju ke lantai atas.
"Sayang... Apakah kau sangat merindukanku," ucap Fenzo.
"Kakak! Aku sudah besar dan tidak mungkin merindukan pria tidak peka sepertimu," ujar Tiara.
Hany terus menunduk di belakang Tiara.
"Ternyata kau memanfaatkan ketulusan dan kebaikan adikku, cih... Jalang tidak tau diri," ucap Fenzo.
Plaaakkkk
"Hentikan hinaanmu itu," geram Tiara.
"Kau apakan adikku hingga dia lupa caranya menghargaiku," ucap Fenzo.
"Ini bukan perintah darinya, ini adalah kemauanku," ucap Tiara.
Fenzo menatap Hany dengan tatapan benci teramat sangat.
"Jangan munafik, bilang saja kau sudah jatuh cinta padanya," ucap Tiara.
"Aku tidak pernah mencintai pelacur," ucap Fenzo.
"Pelacur? Oh... Baiklah dia hanya sebatas pelacur bagimu," ucap Tiara.
Dengan gerakan cepat dirinya menelpon sopir, Bodyguard dan satpam rumah Fenzo. Dan sekarang mereka tengah berkumpul di ruangan lantai atas bersama Fenzo.
Tiara mengeluarkan sesuatu dari kantongnya, ternyata obat lengkap dengan jarum yang masih steril.
"Kau akan baik-baik saja," bisik Tiara.
Sembari menancapkan suntik ke leher Hany.
"Obat apa yang kau berikan?" tanya Fenzo.
"Lihat saja dan kau akan mengerti," gumam Tiara yang masih berada di dekat Hany.
Fenzo dua langkah mendekati Tiara. "Obat apa yang kau berikan," ucap Fenzo.
"Obat perangsan, yang ini ramuanku sendiri, hampir 50 persen tidak sadarkan diri 80 persen menimbulkan kematian dan hanya butuh waktu 2 menit untuk melihat reaksinya," ucap Tiara.
Fenzo melihat Hany yang mulai tidak nyaman.
"Jika kau mencintainya, selamatkan dia," ucap Tiara.
"Jika tidak, mereka bisa menyetubuhi Hany demi kesembuhan dan nyawanya," sahut Tiara.
"Kau memang selalu tau kelemahanku," ucap Fenzo.
"Karena aku adalah bagian darimu," ucap Tiara.
"Ahhhh... Ahhh... Panas... Tiara... Ti...ar...a," ucap Hany.
"Pa...na...s hhh... Hhhh... Panas Tiara," ucap Hany.
"Katakan bahwa kau mencintai Fenzo," ucap Tiara.
"Katakan," lanjut Tiara.
"Ya... Ya... Ak...aku... Menc...cin...ntainya! Aku sungguh....sungguh, mencintainya," ucap Hany.
Fenzo tidak percaya dengan pengakuan Hany.
"Aku hitung dari 1 sampai 10, jika kamu mengabaikan Hany yang sudah terangsang, maka aku akan memberikannya pada mereka," gumam Tiara.
"Mulai dari sepuluh!" ujar Tiara.
-
-
-
-
-
-
-
"Sembilan!"
-
-
-
"Delapan!"
-
-
-
-
"Berarti kamu beneran enggak peka," ucap Tiara.
"Tujuh!"
Tiara masih memandang Hany yang kelihatan hampir hilang ke sadaran. Hingga ada sopir yang hendak melangkah.
"Jika kau melangkah, aku pastikan kau kehilangan pisang kebanggaanmu," ucap Tiara. Membuat dirinya menghentikan langkahnya.
"Enam!"
-
-
-
-
"Lima!"
"Fenzo kamu normalkan atau jangan-jangan penyuka sesama lagi?"
"Empat!"
-
-
-
-
-
"Astaga! Aku beneran berpikir kamu enggak normal," gumam Tiara.
-
-
-
"Ahhh... Ahhh... Tiara... Help me!" teriak Hany.
Tiara membiarkan Hany merabai tubuhnya sendiri.
"Tiga!"
"Masih ketinggian ego yah," ujar Tiara.
"Dua!"
"Astoge! Beneran pinter dalam bisnis bodoh dengan perasaan,"
"Sa...tu!" teriak Tiara.
"Kalian... Siap-siap ya," ujar Tiara.
"Waktu habis ya, tawaran batal,"
Tanpa memperdulikan ucapan Tiara, Fenzo langsung menggendong Hany menuju ke dalam kamar.
Namun saat melewati Tiara, "Aku akan perhitungkan ini," desis Fenzo.
"Aku menantinya," ucap Tiara.
Setelah Fenzo dan Hany berada di dalam kamar.
"Kalian kembali bekerja, jaga rahasia kalau tidak kalian dan keluarga akan mati di tangan Fenzo," ucap Tiara.
Mereka bubar dengan kecewa, ikan besar yang hampir mereka santai akhirnya di ambil sang penguasa.
"Tiara di lawan," ucap Tiara sambil mengeluarkan serum penawar dari saku kirinya.
"Kalian hanya perlu sedikit dorongan dan tantangan untuk bisa saling menghargai," gumam Tiara.
Membiarkan dua insan yang di mabuk cinta menikmati malam panjang yang begitu jalang.
Cinta bukan hanya risalah kata tanpa makna. Sejatinya cinta adalah dia kala sama terluka, paham kala sama gila, dendam kala sama kehilangan.